Share

Jejak di Hidungku

Penulis: Ruimoraa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 18:56:57

Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick.

Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.

Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?

Suara notifikasi mengagetkan Maverick, sebuah bug report masuk. Rupanya ia salah melakukan commit kode di proyek internal ValenNet. Termasuk hal remeh, namun bukan levelnya untuk bisa lalai seperti ini.

Pintu tiba-tiba terbuka tanpa suara ketukan, sosok Arga kini bersandar di pintu ruangannya. "Lo kenapa?"

"Ga papa," jawab Maverick cepat sambil membetulkan baris kodenya.

"Tadi commit lo error. Lo gak pernah miss kayak gitu."

Maverick menghela napas pelan. "Kepala lagi penuh."

"Lo sakit? Biar gue yang kerjain," ucap Arga seraya melangkah masuk.

Maverick melirik sekilas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Benerin aja. Gue kurang tidur." Bohong. Maverick tidur cukup sebelumnya. Namun kepalanya tak berhenti memutar ulang momen semalam.

Arga akhirnya keluar dari ruangan, mengatur agar kesalahan yang Maverick buat dapat selesai sesegera mungkin. Maverick menatap langit-langit, lalu menunduk, jari-jarinya mengetuk meja. Pikirannya berdesakan satu sama lain, berdesir antara sadar dan denial. Ia menoleh ke arah tembok di depan, seolah bisa menembusnya.

Ini bukan hanya penasaran. Tanpa sadar, obsesi kecil di benak Maverick mulai tumbuh. Tembok di kantornya tak cukup membatasi rasa ingin tahunya. Ia mulai menghitung menit, berharap ada alasan untuk keluar dan sekadar melihat, sekadar memastikan Julia masih di sana.

---

Julia mengetuk pelan pintu ruang kerja Maverick sebelum membukanya sedikit. "Maaf mengganggu, tuan Maverick. Saya membawa dokumen presentasi untuk besok," ujarnya sopan seraya melirik Maverick dan Arga yang tengah berdiskusi di meja utama.

Maverick yang awalnya menunduk ke layar laptopnya, mendongak pelan. Begitu matanya menangkap Julia, pupilnya membesar sepersekian detik. Seketika udara di sekitarnya terasa berubah. Tubuhnya menegang namun ia cepat menurunkan pandangan, menyamarkan gejolak yang meletup di dalam dirinya. Suaranya tetap datar membalas Julia, "Masuk."

Julia melangkah masuk, meletakkan map hitam berisi dokumen di atas meja dengan senyum sopan seperti tak terjadi apa-apa.

Seolah malam itu hanyalah ilusi bagi Maverick. Seolah tubuh mungil itu tak pernah gemetar di bawah cengkeramannya.

Julia menundukkan kepala sejenak untuk pamit, namun belum sempat melangkah menjauh, Arga memanggil namanya. "Lia, kamu ikut duduk aja. Kita lagi bahas rundown acara peluncuran produk minggu depan, kamu perlu tahu buat atur jadwal Presdir."

Maverick hanya mengangguk singkat. Wajahnya tenang, namun jemarinya mencengkeram pena dengan tekanan lebih. Kini Julia duduk, sedikit menjauh hingga ke ujung meja. Ia membuka tablet kerjanya, siap untuk mencatat.

Mereka mulai membahas sistem baru yang sedang dikembangkan, produk perangkat lunak berbasis AI untuk efisiensi analisis data logistik klien korporat. Arga mempresentasikan progres divisi teknis, termasuk kendala pengujian modul integrasi.

Sementara Arga bicara, Julia fokus mengetik, mencatat waktu meeting klien besar, kebutuhan revisi materi presentasi serta deadline pengumpulan feedback teknis yang perlu dikawal. Sesekali Arga menyebut tanggal dan Julia segera mengonfirmasi ulang sambil membandingkan jadwal Maverick di tabletnya.

Julia juga mengingatkan bahwa dokumen legal proyek sudah ditandatangani kemarin sore dan salinannya telah dikirim ke bagian hukum. Hal kecil namun krusial, yang membuat Arga dan Maverick tak perlu pikir dua kali soal administratif. Setiap kali Julia bicara, ada jeda kecil di mana kepala Maverick sedikit miring, nyaris tak terlihat, seolah menyimpan kalimat-kalimat Julia di memorinya.

Beberapa menit kemudian, ponsel Arga bergetar membuat fokus terpecah. Arga mengintip layar, lalu menoleh pada Maverick. "Sorry, Mav. Ini dari klien DuraTech. Urgensinya tinggi, jadi apa boleh kalau-"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Maverick segera memotong dan menunjuk arah pintu dengan gerakan dagunya. "Sana angkat di luar."

Arga diam sepersekian detik, wajahnya nampak bingung karena biasanya Maverick tak suka jika rapat terganggu. Arga menghela napas lalu bertanya lagi untuk memastikan. "Beneran boleh?"

"Iya, udah sana cepet!" titah Maverick seraya mengangguk cepat. Matanya sekilas melirik Julia.

Arga mengangguk, lalu berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, Arga sempat menoleh sedikit dengan rasa curiga, tumben sekali Maverick yang biasanya galak soal disiplin rapat, kali ini malah memberikan izin semudah itu.

Udara di ruang kerja terasa lebih berat dari biasanya setelah Arga keluar. AC menyala seperti biasa, suara mesin server terdengar samar dari dalam sistem internal, namun bagi Julia, dunia seolah menyempit.

Dan Maverick, seperti hewan buas yang dilepas dari kandangnya, berdiri dari kursinya tanpa sepatah kata pun. Langkahnya pelan tapi pasti menuju ke sisi meja di mana Julia duduk. Julia refleks berdiri dengan canggung.

Maverick berdiri dengan postur yang sulit diabaikan. Tubuhnya tinggi, bahu lebarnya terbalut jas hitam rapi, otot-otot halus dapat terlihat meski tersembunyi di balik kain. Wajahnya tegas dengan rahang kuat, garis tulang pipi tajam dan mata yang selalu menyiratkan ketegasan sekaligus misteri.

Saat lelaki itu melangkah mendekat, Julia merasakan detak jantungnya tak karuan, seolah dihadapkan pada sosok laki-laki yang nyaris sempurna, tetapi juga sedikit menakutkan. Tubuhnya yang besar dan aura maskulin yang kuat membuat Julia seketika merasa kecil dan rentan.

Maverick menyandarkan satu tangan ke meja belakang Julia, memerangkapnya di antara tubuh dan kayu mahoni itu. Wangi mint dari tubuh Julia mengusik, namun Maverick tetap berbicara nyaris tanpa emosi, justru karena ia sedang menahan semuanya.

Tanpa aba-aba, Maverick menarik pergelangan tangan Julia yang masih memegang tablet. Tarikan itu cukup kuat membuat Julia terhuyung pelan ke arahnya.

Maverick sedikit memiringkan kepala, matanya turun menatap bagian leher Julia, lalu kembali menatap matanya langsung. ".. Kamu ganti parfum?"

Julia dengan wajahnya yang kini memerah buru-buru menarik tangannya, namun Maverick semakin mengeratkan genggamannya. "Tuan... saya-"

"Kamu tahu?" potong Maverick cepat, suaranya nyaris hanya desisan membuat Julia bergidik. "Bukan hanya suaramu yang aku ingat semalam, tapi juga wangimu yang hangat. Aku hapal setiap aroma di tubuhmu, wangimu semalam masih menempel di kepalaku. Parfum woody itu menempel di bantalku, bajuku, bahkan di kulitku."

Maverick mendekat setengah langkah, matanya menatap Julia lebih dalam. "Tapi kamu mencoba menutupi itu dengan mint. Kenapa?”

Julia membuka mulut, namun tak ada suara yang keluar. Maverick menunduk sedikit, suaranya terdengar makin dalam. "Jangan lari dari sesuatu yang sudah kamu mulai, Lia. Aku benci bermain setengah hati."

Julia mencoba mundur, namun Maverick semakin mendekat. Mata lelaki itu menatap lurus, lalu menunduk sedikit ke arah leher jenjang milik Julia. Melihat pergerakan mencurigakan Maverick, tangan Julia dengan refleks menahan lengan besar itu, berusaha tetap menjaga jarak, "Tuan! Saya tidak mengerti apa yang tuan katakan! Tolong jangan-"

Tak membiarkan Julia menyelesaikan perkataannya, serta tak memberi ruang untuk kabur, Maverick menyandarkan wajahnya ke leher Julia. Hidungnya menyusuri pelan sisi leher Julia, menghirup aroma tubuhnya dengan sangat dalam, seolah ingin mengukirnya ke dalam ingatan.

Julia tersentak, tangannya mendorong dada bidang Maverick. Namun cengkeraman lelaki itu justru semakin menguat. Julia menahan napas ketika Maverick mendekat ke telinganya, lelaki itu tersenyum kecil, namun tatapannya tajam menatap Julia.

"Kamu pikir aroma mint bisa menutupi jejak semalam? Kamu pikir itu cukup untuk berpura-pura ga pernah terjadi apa-apa?" Suara Maverick semakin rendah, semakin mengintimidasi.

Julia semakin panik, mencoba menarik tangannya kembali, namun Maverick semakin mendekat, menghirup sekali lagi aroma di lehernya, lebih dalam, lebih pelan. Seakan itu adalah candu yang ia rela larut di dalamnya.

"Aku lebih suka yang kemarin...." bisiknya pelan di kulit Julia, suara rendahnya nyaris seperti desahan.

Akhirnya Julia berhasil mendorongnya cukup keras hingga Maverick bisa mundur. Maverick diam untuk sepersekian detik. Tangan yang tadinya menggenggam Julia masih menggantung di udara sebentar, seolah otaknya masih tak percaya bahwa dia ditolak... lagi.

Ia menatap Julia lama, sudut bibirnya perlahan terangkat. Senyuman yang tipis namun penuh dengan pesan, terasa menyeramkan seakan ia menikmati penolakan itu. "Semakin kamu lari, semakin menarik kamu jadinya," katanya pelan, nyaris seperti ancaman yang manis.

Maverick berdiri tegak, membenarkan kerah jasnya dengan tenang, lalu kembali ke kursinya seperti tak terjadi apa-apa.

Dan tepat saat itu, pintu terbuka. Arga kembali masuk masih dengan ponsel di tangannya. "Mav, pihak DuraTech minta jadwal pertemuan ulang. Katanya ada revisi teknis di prototype."

"Bicarakan dan atur itu nanti dengan sekretaris. Kita lanjutkan pembahasan sebelumnya," ucap Maverick datar. Ekspresinya kembali netral seperti tak ada yang terjadi.

Arga mengangguk paham. Ia menoleh menatap Julia yang terlihat sedikit gelisah, wajahnya bahkan pucat. Kening Arga mengernyit penasaran. "Kamu oke, Lia?" tanyanya.

Julia menoleh lalu mengangguk kecil. "Ga papa, pak. Saya cuma… sedikit pusing." gumamnya, mencoba tersenyum tipis.

Arga mengangguk pelan, namun matanya jelas menyimpan tanya. "Kamu perlu istirahat dulu?" tawar Arga kemudian.

Julia menggelengkan kepalanya seraya menjawab dengan cepat, "Saya masih bisa lanjut kerja, pak."

Maverick tak berkata apa-apa, hanya menatap layar laptop di hadapannya. Namun di bawah meja, jari-jarinya masih menggenggam udara kosong, seakan masih mengingat hangatnya pergelangan tangan Julia yang baru saja ia lepaskan.

Ia tak benar-benar berhenti berpikir tentang leher itu, tentang bau mint sialan itu. Tentang bagaimana tubuh perempuan itu diam namun bergetar dalam cengkeramannya.

Dan Maverick tahu, ia semakin menginginkan perempuan ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Dalam Jangkauannya

    Besoknya di kantor, Maverick tampil seperti biasa. Gagah, berwibawa, namun dengan sorot mata yang berbeda. Tatapannya ke arah Julia terasa lebih dalam, seperti ada lapisan intensitas tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh Julia sendiri. Terkadang lelaki itu berdiri di pintu ruangannya, tampak seperti meninjau aktivitas sekitar, padahal matanya fokus hanya ke satu titik, Julia. Ia sengaja berdiri di sana lebih lama, memperhatikan cara Julia mengatur rambut, mengetik, bahkan sekadar mengambil pulpen.Julia yang duduk di meja luar ruang presdir, mengetik laporan dengan tenang, meski dadanya terasa sesak. Bukan karena tugas yang berat, namun karena ia sadar, ia sedang diawasi. Saat ia mengangkat kepala, mata mereka sering sekali bertemu. Tatapan itu membuat Julia menegang. Ia buru-buru kembali fokus ke layar komputer, pura-pura tak terganggu. Suasana kantor terasa semakin aneh bagi Julia. Maverick mungkin tak pernah terang-terangan, namun selalu hadir di radius terdekatnya. Di teng

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kamu Punya Nyali untuk Pergi?

    Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."Maverick berhenti menulis. Ujung penanya terhenti di atas kertas, tidak bergerak. Nadanya datar namun ada sedikit ketegangan terselip. "Berdua doang?""Iya," jawab Arga tanpa curiga. "Biar dia ga kaku juga kerja di sini. Kasihan kan, anaknya kayaknya canggung banget."Maverick tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresinya yang tetap dingin. Namun sebenarnya, darahnya mendidih."Ngapain juga harus berdua? Emang harus sambil makan siang? Kenapa ga ngobrol di sini aja??"Mata Maverick sempat melirik jam d

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Jejak di Hidungku

    Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick. Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?Suara

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Wajah yang Tak Asing

    Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maver

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Malam yang Mengubah Segalanya

    "Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas.Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam.Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…"Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras."Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan."Maverick," ucap Maverick terdengar

  • Dalam Jerat Tuan Maverick    Kesalahan yang Menggoda

    Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan. "Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup."Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status