LOGINArum Hadibrata tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan utang, ia menerima tawaran pernikahan dari Saka Valenbrand, Presiden Direktur Savera Holdings, pria dingin yang nyaris tak tersentuh oleh siapapun. Bagi Saka, pernikahan ini bukan soal cinta. Ini murni strategi. Arum hanyalah bagian kecil dari rencana besarnya. Namun semua menjadi rumit ketika Arum dengan segala kesederhanaan, ketulusan, dan kepolosannya perlahan merobek dinding yang sudah lama ia bangun. Di tengah panasnya dunia bisnis, ancaman kompetitor dan konflik internal, Saka dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa perempuan yang selama ini ia pandang sebelah mata justru menjadi satu-satunya alasan mengapa ia mulai melihat rumah sebagai tempat untuk pulang. Namun, ketika masa lalu yang kelam, pengkhianatan, dan rahasia mulai terungkap, mampukah keduanya bertahan? Ataukah pernikahan ini hanya akan menjadi bagian dari strategi… yang akhirnya menjadi senjata makan tuan?
View MoreLangit sore menyaput jingga tipis di atas atap rumah megah bergaya klasik modern itu. Sebuah mobil Mercedes Benz hitam mengilap berhenti tepat di depan gerbang utama. Dari dalamnya, turunlah seorang pria muda dengan jas hitam pas badan membalut tubuhnya, wajahnya datar, dingin dan penuh tekanan.
Saka Valenbrand, anak sulung keluarga Valenbrand yang baru kembali dari Eropa setelah bertahun-tahun mengurus cabang bisnis keluarga. Langkah sepatu kulit pria itu memantul nyaring di lantai marmer rumah yang mengilap. Setiap pelayan yang melihatnya langsung menunduk, menahan napas, seolah kehadirannya membawa badai. Tanpa banyak bicara, ia melangkah melewati pelayan yang membungkuk memberi salam. "Selamat datang, tuan Saka—" "Kopi di meja kerja saya dalam lima menit," ucapnya datar tanpa menoleh. Pelayan itu hanya mengangguk, menahan napas karena takut melakukan kesalahan sekecil apa pun. Saka melewati ruang tamu, matanya sempat menyapu hiasan dinding marmer, chandelier kristal yang menggantung elegan di langit-langit setinggi tujuh meter, dan sofa kulit yang disusun rapi. Ia menapaki tangga dengan sepatu kulit mengilap yang memantulkan cahaya. Saat itulah ia mendengar percakapan samar dari ruang kerja di samping lorong. "Kala, papah yakin keluarga Hadibrata akan menerima kamu dengan baik. Anak gadisnya juga anak baik-baik," ucap Dharma terdengar meyakinkan. "Aku ga peduli! Siapapun anak dari keluarga itu, aku ga akan menerima perjodohan ini! Lagipula aku kan pernah bilang, kalau aku punya perempuan yang aku cintai, nanti aku kenalkan, kok!" tolak Sekala, adik tiri Saka. Saka berhenti. Rahangnya mengeras, lalu tanpa mengetuk, ia membuka pintu ruang kerja papahnya dan masuk begitu saja. "Waw, lihat betapa beratnya pembicaraan ini, sampai-sampai wajah adik kesayanganku jadi merah padam seperti ini," ledek Saka, membuat Sekala menatapnya dengan tajam. "Saka?!" Dharma perlahan berdiri, terkejut melihat kepulangan putranya yang tiba-tiba. "Kenapa kaget begitu, pah? Papah ga suka aku pulang?" tanya Saka santai, yang dengan cepat mendapat gelengan kepala panik dari Dharma. "Bukan begitu, Saka. Tapi seingat papah, seharusnya penerbangan kamu kan lusa, papah belum menyiapkan banyak hal untuk kamu di rumah," jelas Dharma. Lelaki paruh baya itu berjalan mendekati Saka dan memeluknya. "Selamat datang kembali, putraku," ucap Dharma dengan lembut. Saka tak menyahuti, ia melepaskan pelukan Dharma dan beralih menatap Sekala. "Yah, dan karena aku sudah di sini, sepertinya aku sudah siap untuk menikah," ucapnya dengan tegas. Mendengar itu, nampak binar kekhawatiran dalam sorot mata Dharma. "Kamu yakin, Saka?" "Kenapa papah begitu khawatir melepas aku untuk menikah? Aku tetap bisa bekerja dengan baik bahkan setelah menikah. Dan lagi, umurku lebih matang untuk menikah ketimbang bocah ingusan itu." Merasa muak dengan omongan kakak tirinya, Sekala menghentakkan kakinya dan melenggang keluar dari ruang kerja Dharma. "Jangan begitu, kenapa sih kalian ribut terus... Kalian sudah dewasa, lho." Dharma menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Aku kan cuma becanda, dia aja yang baperan," sahut Saka dengan santai. "Papah tenang aja, perjodohan ini akan berjalan dengan mulus. Dan aku sendiri yang akan menghubungi keluarga Hadibrata untuk mengabari keputusan ini." Dharma menatap putranya dengan tatapan penuh rasa curiga, ia sangat tahu jika putranya itu sangat membenci keluarga Hadibrata. Lantas, mengapa ia dengan mudahnya menawarkan diri seperti itu. "Saka, kamu... tidak berniat untuk berbuat macam-macam pada keluarga itu, kan?" tanya Dharma hati-hati. Saka tersenyum lalu tertawa menimpali kecurigaan Dharma. "Jangan khawatir, pah. Aku tau apa yang harus aku lakukan," balasnya santai. Saka berbalik tanpa menunggu balasan berikutnya dari Dharma, ia membuka pintu ruang kerja Dharma yang sebelumnya tertutup dan keluar dari sana. Ia meraih ponsel yang berada dalam saku celananya, lalu dengan mantap menekan nomor seseorang dan menghubunginya. --- Setelah mengasah otak sejak pagi di kampus, ditambah rapat organisasi yang memuakkan, akhirnya Arum kembali menginjakkan kakinya di rumah. Ia melepas sepatu dan kaos kaki yang sudah seharian ia gunakan kemudian menatanya dengan rapi ke dalam rak sepatu. Langkahnya kini terhenti di ruang tamu, lebih tepatnya di hadapan orang tuanya yang sedang duduk di sofa untuk mencium punggung tangan keduanya. "Akhirnya kamu pulang juga, ayo cepet bantu ibu beresin rumah. Piring di dapur belum dicuci, makan malamnya juga habis, kamu bisa masak sendiri, kan? Ada telur tuh di lemari," ucap Dewi setelah Arum mencium punggung tangannya. Sembari berusaha tetap tersenyum, Arum mengiyakan perkataan ibu tirinya dan melangkahkan kakinya menuju kamar untuk berganti pakaian sekaligus membersihkan dirinya. Setelah selesai, Arum pergi menuju dapur dan membuka lemari yang biasa digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti telur, mie instan dan lain-lain. Ia mengambil sebutir telur dan menggorengnya. Sambil menggoreng, sesekali matanya melirik pada Sarah, adik tirinya yang kini ada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Mereka sedang melihat pakaian-pakaian baru yang kemarin baru saja mereka beli di mall. "Oh ya, baju buat Arum mana?" tanya Satya, ayah Arum. Tangannya bergerak mencari sesuatu di tumpukan baju. Melihat itu, Dewi meliriknya dengan tatapan sinis. "Ga ada! Lagian bajunya Arum kan udah banyak!" sahut Dewi dengan ketus. "Bukan gitu, Arum kan mau ketemu calonnya, masa ga pakai baju baru," timpal Satya membuat Dewi mengembuskan napas kesal. "Duh! Udah deh, mas! Arum itu cuma ketemu sama calon suaminya, ga perlu lah pakai baju yang bagus! Lebay banget! Udah ah, ayo sayang kita lihat bajunya di kamar aja!" ajak Dewi pada putrinya, Sarah. Mereka mengambil pakaian yang berserakan lalu membawanya ke kamar. Arum yang dapat mendengar percakapan tersebut menghentikan aktivitasnya yang sedang menuangkan kecap ke atas nasi. Ia berjalan perlahan menghampiri ayahnya lalu duduk di samping pria paruh baya itu. "Ayah, aku salah denger, kan? Apa maksud ayah dengan calon suami?" tanya Arum dengan penuh penekanan, ia tidak ingin jika hal itu adalah benar. "Iya, Rum. Ayah belum sempat bilang sama kamu, ini rencananya ayah mau ngasih tau kamu. Begini... um…." Ucapan Satya terjeda, raut wajahnya nampak bingung hendak menjelaskan mulai dari mana. "Kenapa, yah?" Arum menyentuh lengan Satya, membuat pandangan lelaki paruh baya itu kini sepenuhnya menatap dirinya. "Kamu tahu, kan? Kalau dalam beberapa bulan terakhir perusahaan lagi dalam masalah dan kita hampir bangkrut?" Arum mengangguk dengan raut wajah serius, ingin tahu apa kalimat berikutnya yang akan Satya ucapkan. "Beberapa hari lalu lawan bisnis kita tiba-tiba menghubungi ayah, dia menawarkan bantuan berupa modal untuk memperbaiki masalah kita ini, dan dia juga mengatakan akan menganggap lunas semua hutang yang pernah ayah pinjam dari dia. Tapi…." Arum mengerutkan keningnya, mulai menebak alur cerita berikutnya. ".. Dia ingin ayah menyerahkan salah satu putri ayah untuk dijadikan sebagai istri keduanya." Arum melepas pegangan tangannya pada Satya, ia menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan mata tak percaya mendengar apa yang Satya katakan barusan. ".. Jadi maksudnya, ayah jual aku?" Arum diam sebentar memperhatikan wajah panik Satya, lalu beranjak hendak meninggalkan lelaki itu. Tak ingin Arum pergi tanpa persetujuan, Satya memegang tangan Arum dan menahan gadis itu untuk pergi. "Dengar ayah dulu, Rum. Ga ada yang salah dengan sebuah perjodohan, banyak kok yang berakhir bahagia, walau usia yang terpaut jauh sekalipun. Percaya sama ayah, kamu akan bahagia dengan calon kamu ini. Selain itu, masalah ayah juga jadi berkurang, kan? Lakukan ini demi ayah, ya?" bujuk Satya dengan raut wajah memelas. "Ayah juga ga bisa membiarkan Sarah yang menikah dengan lelaki tua itu, Rum. Dia baru setahun lalu lulus SMA dan masih sangat muda, kasihan dia," lanjut Satya membuat Arum membulatkan matanya. Lalu apa bedanya dengan Arum yang hanya berbeda dua tahun dengan Sarah, begitu pikir Arum. Mau dipikir dan ditolak berapa kalipun, Arum tau, ia tak akan bisa menolak atau lari dari masalah ini. Mau tidak mau, ia harus mengiyakan apa yang Satya inginkan. Dengan terpaksa, Arum mengangguk mengiyakan permintaan Satya. Melihat itu lantas membuat senyuman terukir lebar di wajah Satya. Tanpa memastikan bagaimana perasaan putri sulungnya setelah pembicaraan itu, Satya berdiri dan meraih ponselnya yang berada di atas meja lalu menelepon seseorang dengan girang, sepertinya itu adalah pihak yang akan segera memberinya uang dalam jumlah besar. Arum tersenyum pahit lalu berlalu meninggalkan Satya menuju kamar miliknya. Sesampainya di dalam kamar, Arum mengunci pintu dan merebahkan dirinya di atas kasur. Mood-nya hancur seketika memikirkan apa yang baru saja ia bicarakan dengan ayahnya, bahkan nasi yang sudah ia siapkan di dapur pun ia tinggal begitu saja. Matanya terpejam, lalu bulir air mata jatuh begitu saja. Pikirannya berkecamuk membayangkan harus menghabiskan sisa hidupnya bersama orang asing yang bahkan mungkin sebaya dengan ayahnya. Bayang-bayang Sekala kini muncul memenuhi kepala Arum. Ia menghela napas berat lalu tersenyum pahit ketika memikirkan bahwa lelaki yang sudah Arum kagumi sejak satu tahun lalu itu memanglah bukan jodohnya. Arum menenggelamkan kepalanya pada bantal kesayangan yang selalu menemani tidurnya, lalu menangis dengan isakan yang berusaha ia tahan.Langit sore masih menyisakan rona jingga saat mobil Saka melaju pelan memasuki rumah. Sepanjang jalan, pikirannya bukan penuh soal pekerjaan. Bukan juga soal meeting atau deadline. Melainkan tentang satu kalimat yang ia dengar beberapa hari lalu."Kalau saya punya pacar, itu namanya selingkuh. Dan saya benci perselingkuhan."Saka mendecih pelan, satu tangan menggenggam erat ponselnya, satu lagi menekan pelipisnya. "Ngapain juga dipikirin," gumamnya kesal pada diri sendiri. Namun kalimat itu kembali mengambang di kepalanya, mengusik lebih keras dari biasanya.Saat tiba di rumah, Arum sudah berdiri di depan pintu, menyambutnya seperti biasa dengan wajah tenang dan senyum tipis. Tangan perempuan itu meraih tas kerja Saka tanpa banyak bicara. "Selamat datang, tuan."Saka sempat memperhatikan sebentar, lalu mengangguk singkat. Ia memberikan isyarat pada Arum untuk membantu melepas jasnya, lalu langsung naik ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Namun setelah air membasahi tubuhnya pun
Saka meletakkan nampan berisi piring kosong di atas meja di dekat sofa, lalu duduk di kursi samping ranjang Arum. Tangannya terlipat di depan dada, matanya kosong menatap lantai. Sesekali, ia melirik Arum yang sedang mencoba ponsel baru pemberiannya."Terlalu tenang... Bagaimana bisa dia menyentuh bibir saya dan menjilat jarinya seperti itu?? Jangan-jangan...." batin Saka tak tenang, ia mulai menerka-nerka.Pandangan Saka naik menatap Arum, keningnya berkerut. ".. Kamu punya pacar, ya?" tanyanya tiba-tiba, nada curiga menyusup tanpa ia sadari.Arum berhenti menggulir layar, menoleh perlahan dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba nanya itu?""Ya tanya aja," jawab Saka ketus. Ia berpura-pura cuek, namun matanya menelisik.Belum sempat Arum menjawab, Saka lebih dulu membuka mulutnya tanpa sadar, mengeluarkan kecurigaannya selama ini. "Kamu kan setiap hari dikawal Nico, menurut kamu dia gimana? Ganteng ga? Saya lihat kalian sering ngobrol."Arum tersenyum kecil, lalu menghela napas. "Kenapa ja
Saka tiba di rumah sakit hampir tengah malam, ia masuk ke ruang rawat Arum dengan langkah berat tapi mantap. Pintu dibuka perlahan, dan cahaya lampu remang menyambut sosok Arum yang masih terbaring lemah. Wajahnya tenang, matanya terpejam, entah sedang tidur atau belum tersadar. Saka menarik kursi jaga, lalu duduk di samping ranjang Arum. Nico yang sedari tadi setia menemani turut serta duduk dengan tenang di sofa. Tanpa menoleh menatap Nico, suara Saka yang lelah terdengar memanggil nama Nico."Udah malam, kamu bisa pulang dan istirahat. Ga usah nungguin di sini, lagian kamu udah nemenin saya seharian," kata Saka kemudian. Nico menggeleng cepat. "Ga papa, saya di sini aja ikut jagain. Siapa tau nanti tuan perlu—""Pulang, Nico," potong Saka dengan nada tegas, namun ada lelah yang terasa dari suara itu. "Kalau ada apa-apa nanti saya hubungi. Lagipula... Arum juga pasti ga akan senang kalau kamu sampai kecapekan."Nico sempat menoleh pada Arum, ada keraguan di matanya. Namun akhirnya
"Arum!" Suara Nico gemetar. Ia turun dengan hati-hati namun cepat, menghindari minyak dan pecahan kaca agar tidak terpeleset. Setelah sampai di samping Arum, ia memeriksa wajah Arum yang pucat dan tak sadarkan diri. Dengan penuh kelembutan, Nico mengangkat kepala Arum, jari-jarinya merapikan helai rambut yang berantakan di wajah. "Arum, hei... kamu dengar saya??"Nico mengusap punggung Arum dengan lembut, memeluknya erat agar rasa dingin dan kesakitan sedikit terobati. "Harusnya saya memang ga ninggalin kamu sendiri, Rum..." gumamnya menyesal.Nico membuka kenop pintu lantai 11, lalu bersiap mengangkat Arum dengan hati-hati. Namun belum sempat melangkah keluar, suara Saka terdengar memanggil namanya dari puncak tangga lantai 12. "Tuan, segera ke lantai 11 lewat lift atau tangga biasa! Jangan turun ke sini!" ucap Nico sedikit berteriak, lalu melangkah keluar melalui tangga darurat lantai 11.Mata Saka membulat karena terkejut ketika sempat melihat Arum yang lemas dalam gendongan Nico


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.