LOGIN"Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.
Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas. Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam. Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…" Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras. "Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan. "Maverick," ucap Maverick terdengar sedikit kesal. Maverick mencengkeram rahang Julia pelan, namun cukup terasa membuat perempuan itu sedikit mendongak. "Ulangi. Dengan benar." ".. M-Maverick," ucap Julia, kali ini terdengar lebih jelas. Barulah Maverick tersenyum tipis. Namun itu bukan senyum yang terasa nyaman, melainkan senyum puas dari seseorang yang merasa kembali memegang kendali. "Good girl," gumam Maverick. Tangannya perlahan menyusuri sisi wajah Julia. Julia hanya mengangguk perlahan, tak berani membantah. Hening menyelimuti mereka kembali, namun kali ini atmosfernya berubah. Terasa lebih tegang dan berat. Maverick kembali menggerakkan pinggulnya, menghujam tubuh Julia dengan cukup kuat. --- Tubuh Maverick akhirnya jatuh lelah di samping Julia, napasnya masih memburu, keringat membasahi kulitnya. Ruangan terasa sunyi, hanya suara napas mereka berdua yang tersisa. Sesaat ia memejamkan mata, lalu menoleh ke samping. Maverick menatap Julia yang terbaring diam dengan mata terpejam, wajah perempuan itu pucat dengan sisa-sisa air mata yang belum sempat mengering. Napasnya pelan, seperti menahan sesuatu di dada. Maverick menyampirkan lengannya, menarik tubuh lemah itu ke pelukannya. Julia tak melawan, atau mungkin tak sanggup. Di dalam gelap, Maverick menatap wajah itu cukup lama dalam diam. Ada sesuatu yang muncul di dalam dirinya. Bukan rasa bersalah, tetapi ketertarikan yang terasa aneh dan mengakar. "Apa yang kamu lakukan padaku…" gumamnya pelan, matanya tak lepas dari wajah Julia. "Cuma kamu yang bisa membuat aku hilang kendali seperti ini." Jari-jari Maverick menyentuh lembut pelipis Julia. Ada keheningan yang aneh menggantung di udara. Malam itu, wajah lelah itu tersimpan kuat dalam ingatan Maverick. Julia, adalah perempuan yang mampu mengacaukan batasnya sendiri. Dengan gerakan perlahan, Maverick menarik tubuh Julia lebih dekat lagi. Dada mereka rapat, napas perempuan itu terasa menyentuh kulitnya. Lalu tanpa banyak suara, Maverick membenamkan wajahnya di ceruk leher Julia, menghirup aroma samar yang tertinggal di kulitnya, mencoba menghafalnya, memilikinya dalam ingatan. Diam-diam ia bergumam sangat pelan, seolah pada dirinya sendiri, "Kamu milikku…" Tak lama, napasnya mulai tenang, tubuhnya mengendur. Dan dalam pelukan yang terasa salah itu, Maverick akhirnya tertidur. Tanpa tahu, bahwa malam itu bukanlah akhir. Namun awal dari obsesi yang semakin dalam. --- Julia terbangun dengan kepala berat, pelipisnya berdenyut, dan tenggorokannya terasa kering. Bau alkohol dan parfum laki-laki masih samar terasa di udara. Matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang masuk dari celah tirai hotel. Begitu ia sadar sepenuhnya, tubuhnya kaku. Ia merasakan dinginnya udara menyentuh kulit yang nyaris tak tertutup kain. Selimut melorot sampai pinggang, memperlihatkan bekas-bekas kemarin malam yang samar di sekujur tubuhnya, namun cukup untuk membuat perutnya terasa mual. Julia memutar kepalanya, menatap Maverick yang masih tertidur telentang di atas ranjang, tubuhnya sepenuhnya terekspos tanpa sehelai kain pun. Dada bidangnya bergerak naik turun perlahan, seirama dengan napas tenangnya. Tato jam rusak di dada kirinya tampak jelas, seolah jadi saksi bisu atas malam yang ingin Julia lupakan. Wajah lelaki itu tampak damai, sama sekali tak mencerminkan badai yang baru saja menghantam Julia. Napasnya memburu. Satu tangan menutupi dada, satu lagi meraih pakaian yang berserakan di lantai, dress yang ia kenakan semalam, bra yang tergulung, celana dalam yang entah bagaimana bisa sampai dekat sofa. Ia pakai semua dengan tangan gemetar. Pandangan matanya tajam menusuk Maverick. Rasa benci, jijik, kecewa, marah, semua menjadi satu. Julia berkeliling mencari kartu akses kamar, dan akhirnya menemukan kartu itu di bawah meja kecil dekat minibar, tergeletak begitu saja. Julia memungutnya cepat-cepat, lalu tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu dan keluar. --- Maverick menggeliat pelan di atas ranjang, nyawanya belum sepenuhnya kembali alias masih setengah sadar. Tangannya meraba pelan, berniat menarik sosok di sebelahnya untuk dipeluk. Tapi yang didapat hanya dinginnya seprai kosong. Mata Maverick terbuka perlahan, menatap sebelahnya yang kosong. Ia sempat diam, masih malas bergerak dan berpikir mungkin perempuan itu berada di kamar mandi. Namun setelah beberapa detik, Maverick bangkit, mengucek matanya, lalu berjalan perlahan ke kamar mandi seraya menguap pelan, tubuhnya masih tanpa mengenakan apapun. Namun di sana kosong, tak ada siapa-siapa. Sorot matanya berubah tak lagi malas dan santai, namun berubah menjadi tajam dan penuh perhitungan. Ia menatap sekeliling kamar. Tak ada sepatu, tak ada tas, dress yang tadi malam berserakan juga sudah tidak ada. Maverick mendengus pelan. "Beraninya kamu pergi duluan sebelum aku bangun..." gumamnya, suaranya berat dan agak serak. Saat Maverick kembali ke ranjang dan menarik selimut, pandangannya jatuh pada sebuah benda kecil di sisi bantal. Sebuah kalung dengan rantai tipis namun kokoh, terbuat dari titanium hitam matte dengan sebuah liontin kecil berbentuk perisai tergantung di ujungnya, cukup untuk menyimpan satu huruf yang terukir di tengahnya, M. Ia meraih kalung itu, membolak-balik seraya memperhatikan dengan dahi mengerut. Maverick pernah memiliki kalung yang sama seperti ini, bertahun-tahun lalu sebelum ia berikan pada seorang gadis kecil yang dengan berani membantunya melarikan diri dalam tragedi penculikan. Maverick diam. Jantungnya berdetak agak cepat sekarang. ".. Jangan-jangan… Ah, ga mungkin." Maverick menggelengkan kepalanya, yakin jika perempuan semalam bukanlah anak yang selama ini ia cari. Maverick turun dari ranjang, masuk ke kamar mandi dan segera bersiap untuk berangkat ke kantor. --- Kamar hotel itu masih menyisakan aroma semalam. Tirainya setengah terbuka membiarkan cahaya pagi menembus masuk, membentuk garis terang yang melintasi seprai kusut dan lantai penuh sisa kekacauan. Maverick berdiri di depan cermin, menggulung lengan kemejanya dengan rapi, wajahnya datar meski sorot matanya menunjukkan sisa samar-samar kelelahan. Pintu kamar diketuk, lalu terbuka. Arga yang masuk seraya membawa dua gelas kopi menghela napas ketika mencium udara yang bercampur dengan bau alkohol. "Pagi. Gue kira lo masih tidur. Sarapan di mobil aja, ya?" Langkah Arga terhenti ketika matanya menyapu kondisi kamar. Sofa terlihat jelas bergeser, salah satu sandarannya miring. Bantal berserakan, selimut kusut, dan seprai tampak tercabik di ujung. Bahkan karpet ikut tergeser dari tempatnya. ".. Lo mimpi dikejar setan, Mav?" celetuk Arga yang masih memperhatikan kondisi kamar. "Serius, kamar lo kayak abis perang dunia ketiga." Maverick hanya mendengus kecil, tetap fokus memasang dasi. Arga berjalan lebih dalam, melirik ke arah kursi yang jatuh, beberapa botol bir di sudut ruangan, dan seprai yang hampir lepas dari ranjang. Arga mendekat ke ranjang dan dengan iseng menyingkap selimut kusut. Pandangannya langsung membeku saat melihat bercak merah samar di seprai itu. Seketika ekspresinya berubah serius. ".. Mav?" Maverick masih tenang, ia menarik ujung dasinya lalu merapikan kemejanya. "Hm?" Arga diam sesaat sebelum kembali melanjutkan. "Semalam lo... bawa perempuan ke sini?" Maverick mengangguk pelan. Arga mendekat, nada bicaranya mulai naik. "Lo serius? Mav, lo itu... lo ga pernah nyentuh perempuan sembarangan! Bahkan waktu dijebak cewek-cewek itu lo tetep jaga diri! Kenapa semalam lo..." "Gue gak tau," potong Maverick dengan nada rendah. "Gue cuma... ga bisa berhenti." Arga menggeleng pelan, menatap sahabatnya dengan campuran kaget dan kecewa. "Kenapa lo ga hubungi gue aja semalam? Kalau lo ngerasa lagi desperate atau kacau, kenapa harus ke mereka? Kenapa bukan gue? Lo tau mereka selalu berusaha menghancurkan dengan cara begini, kan?!" Maverick diam beberapa detik, lalu menunduk mengambil jasnya. "Udahlah, udah kejadian juga. Ayo berangkat," ujar Maverick seraya mengambil kopi yang Arga bawa. Mereka pun melangkah keluar dari kamar, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.Besoknya di kantor, Maverick tampil seperti biasa. Gagah, berwibawa, namun dengan sorot mata yang berbeda. Tatapannya ke arah Julia terasa lebih dalam, seperti ada lapisan intensitas tak kasatmata yang hanya bisa dirasakan oleh Julia sendiri. Terkadang lelaki itu berdiri di pintu ruangannya, tampak seperti meninjau aktivitas sekitar, padahal matanya fokus hanya ke satu titik, Julia. Ia sengaja berdiri di sana lebih lama, memperhatikan cara Julia mengatur rambut, mengetik, bahkan sekadar mengambil pulpen.Julia yang duduk di meja luar ruang presdir, mengetik laporan dengan tenang, meski dadanya terasa sesak. Bukan karena tugas yang berat, namun karena ia sadar, ia sedang diawasi. Saat ia mengangkat kepala, mata mereka sering sekali bertemu. Tatapan itu membuat Julia menegang. Ia buru-buru kembali fokus ke layar komputer, pura-pura tak terganggu. Suasana kantor terasa semakin aneh bagi Julia. Maverick mungkin tak pernah terang-terangan, namun selalu hadir di radius terdekatnya. Di teng
Ruangan kerja Maverick siang itu terasa lebih hening dari biasanya. Arga duduk di seberang meja, sambil membahas laporan mingguan. Selesai urusan, Maverick sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan tanpa menoleh. "Si sekretaris baru... siang ini dia ngapain?"Arga yang sedang berdiri sambil merapikan dokumen, menjawab dengan santai, "Siang ini gue ajak makan siang bareng. Sekalian mau gue jelasin detail kerjaannya, apa aja yang harus dia urus tiap harinya."Maverick berhenti menulis. Ujung penanya terhenti di atas kertas, tidak bergerak. Nadanya datar namun ada sedikit ketegangan terselip. "Berdua doang?""Iya," jawab Arga tanpa curiga. "Biar dia ga kaku juga kerja di sini. Kasihan kan, anaknya kayaknya canggung banget."Maverick tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresinya yang tetap dingin. Namun sebenarnya, darahnya mendidih."Ngapain juga harus berdua? Emang harus sambil makan siang? Kenapa ga ngobrol di sini aja??"Mata Maverick sempat melirik jam d
Lantai atas gedung Stonewell Technology selalu sunyi. Monitor menyala di meja, kode dan data real-time terus mengalir di layar, serta aroma kopi premium sudah menjadi bagian dari atmosfer. Namun hari ini, fokus Maverick terpecah oleh seseorang di luar ruangannya. Julia duduk di meja resepsionis eksekutif, tepat di depan ruang kerja Maverick. Maverick memijat pelipisnya, berpikir mengapa tak sejak lama ia mengganti tembok ruangannya dengan kaca, jika begitu ia dapat melihat Julia kapanpun ia mau. Ruang kerja yang tertutup rapat itu seakan menjadi kotak pengurung pikirannya. Biasanya fokusnya tajam, namun pagi ini entah mengapa layar monitor terasa kabur, dan tumpukan dokumen terasa lebih berat dari biasanya. Pikirannya terus melayang ke luar, ke seseorang yang kini hanya terpisah satu tembok darinya.Maverick yakin perempuan semalam itu Julia. Caranya menghindar pagi ini, diamnya, semua semakin memperkuat keyakinan itu. Tapi kenapa harus diam? Kenapa seolah tak terjadi apa-apa?Suara
Langkah Maverick memasuki lobi kantor langsung menarik perhatian semua yang ada di sana. Aura pria itu begitu dominan, seperti gelombang kekuatan yang mengalir tanpa perlu ia berteriak. Tatapan tajam dan sikap percaya diri yang nyaris mengintimidasi membuat ruangan yang luas itu seakan menyusut. Para pegawai, terutama wanita, tak bisa menahan pandangannya, terpesona sekaligus sedikit waspada.Di belakang Maverick, Arga melangkah dengan cara yang berbeda. Aura Arga lebih hangat dan mudah didekati, namun tetap ada kekuatan di balik kelembutannya. Senyumnya yang tulus dan sikapnya yang rendah hati membuat suasana jadi sedikit lebih ringan. Ia bukan hanya sebagai ajudan, tapi juga pelindung sekaligus teman yang bisa diandalkan.Maverick dan Arga melangkah menuju kantor presiden direktur, sebuah ruangan besar yang berada di lantai paling atas. Di dalam, ada meja kerja besar berdesain modern, kursi kulit hitam yang kokoh dan rak buku yang rapi dengan koleksi dokumen dan barang pribadi Maver
"Ohh... God... Kenapa mereka ga pernah bilang rasanya bisa senikmat ini," erang Maverick, menyadari betapa nikmatnya penyatuan yang ia rasakan saat ini.Julia mencengkeram punggung Maverick dengan kuat, air mata dan keringat bercampur menjadi satu membasahi wajahnya. Maverick mengangkat kepalanya, lalu mengecup ujung mata Julia yang berair. Laki-laki itu dengan santai mengibas-ngibaskan rambutnya yang mulai lembab, membiarkan helaian gelap itu terurai bebas.Maverick menyandarkan dahinya ke pundak Julia, napasnya masih terasa berat dan panas, namun ada senyum tipis di bibirnya. "Panggil namaku, Lia…" bisiknya rendah, serak dan dalam.Julia yang masih setengah sadar dan terbuai, menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memanggil. ".. Martin…"Maverick menghentikan gerakan pinggulnya, ia mengangkat kepalanya dan menatap Julia dengan tajam, rahangnya mengeras."Apa?" Julia membuka matanya perlahan ketika suara itu terdengar dingin, tegas dan menekan."Maverick," ucap Maverick terdengar
Julia menggigit bibir bawahnya, tangannya mengepal, berusaha tetap tegar. "Sepertinya ada salah paham di sini, aku bukan perempuan bayaran seperti yang kamu maksud!" ucap Julia seraya berusaha melepaskan pelukan Maverick darinya.Maverick menghela napas pendek, ia menghirup aroma parfum dari belakang telinga Julia yang menguar samar. Terasa hangat, woody dan memabukkan. "Aneh," ucap Maverick pelan, "Perempuan lain, ketika ada di posisi kamu saat ini, mereka akan langsung memulai permainan. Mereka suka ketika aku begini. Tapi kamu…"Mata tajam Maverick melirik wajah Julia, menelusuri ketegangan di rahang perempuan itu, menelusuri sorot penuh amarah dan ketakutan di mata perempuan itu. ".. Kamu membuatku penasaran."Maverick sedikit memiringkan kepala, mengamati Julia seolah mencoba membaca pikirannya. Julia kembali mencoba melepaskan diri, namun tenaganya jauh dari kata cukup."Aku bisa membayar dua kali, tiga kali, ah bahkan sepuluh kali lipat dari yang teman-temanku berikan, tapi...







