author-banner
Rose
Rose
Author

Novels by Rose

Duda Pilihan Ayah

Duda Pilihan Ayah

Perjodohan?! Entah Naya termasuk beruntung atau buntung? Tiba-tiba sang ayah menjodohkannya dengan laki-laki yang usianya terpaut cukup jauh darinya. Apalagi laki-laki itu sudah pernah menikah sebelumnya. Dan ternyata, laki-laki yang akan dijodohkan dengannya itu adalah mantan atasannya yang tegas, dingin, dan juga tertutup, karena sifatnya itu Naya memilih mengundurkan diri. Hanya untuk menghindari laki-laki itu. Lalu, bagaimana nasib pernikahan mereka? Apakah Naya kembali menghindari seorang Dewangga Aditama?
Read
Chapter: 150 :D
Dewangga menatap Soedrajat dalam diam. Matanya menelusuri wajah tua itu—keriput di ujung mata, tubuh yang kini tampak rapuh, dan sorot mata yang menyimpan sesal mendalam. Di usianya yang sudah senja, seharusnya Soedrajat bisa menikmati hidup dengan tenang. Tapi tidak—ia masih harus menanggung beban dari kesalahan masa lalu, dan barangkali... ibunya benar. “Di usia setua itu, siapa pun pantas hidup dalam damai,” batin Dewangga. Dewangga menarik napas dalam, lalu akhirnya bersuara. Suaranya rendah, namun terdengar jelas dan tegas. “Sejak sudah memaafkan kakek.” Kata-kata itu sederhana, tapi menampar sunyi yang menggantung di ruangan. Soedrajat mendongak, matanya langsung basah. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya—hanya sorot mata yang mengucap lebih banyak dari sekadar terima kasih. Dewangga melanjutkan, menatap sang kakek dengan tatapan tenang. “Mungkin... rasa marah dan kecewa itu belum sepenuhnya hilang. Tapi seperti yang saya bilang waktu itu, saya ingin menjalani
Last Updated: 2025-05-16
Chapter: 149
“Kenapa kalian datang ke sini?” tanya Dewangga dingin, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak.Suasana siang itu yang awalnya tenang seketika berubah saat ia melihat siapa yang berdiri di hadapannya—Rian dan Kakek Soedrajat.“Mas…” suara lembut Kanaya memecah ketegangan. Ia baru saja datang dari arah dapur, membawa senyum hangat di wajahnya. Dengan langkah tenang, ia berdiri di samping suaminya.“Rian, Kakek… silakan masuk,” ujar Kanaya sopan sambil membuka pintu rumah lebih lebar, mengabaikan ketegangan di wajah suaminya.Dewangga menoleh cepat ke arah Kanaya, tatapannya penuh tanya. “Apa maksud kamu, Kanaya?”Kanaya mengelus lengan suaminya dengan lembut, berusaha menenangkannya. “Mas, aku tahu kamu kaget… tapi percayalah, ini semua demi kebaikan.”Ia bisa merasakan ketegangan di tubuh suaminya. Ekspresi wajah Dewangga sudah lama tak sedingin ini. Tapi Kanaya tahu, bukan amarah yang sedang meledak—melainkan luka lama yang kembali digores.“Mas, kita bicara di dal
Last Updated: 2025-05-16
Chapter: 148
Ibu dan anak itu akhirnya sampai di kantor Dewangga. Kai berjalan sambil menggenggam tangan Kanaya erat, wajahnya berseri-seri karena tak sabar ingin bertemu sang ayah.Namun, ketenangan lobi kantor langsung pecah oleh teriakan nyaring yang begitu familiar."Kaiii!!"Kanaya langsung menghela napas panjang, nyaris berdecak kesal. Itu lagi...Dari balik meja resepsionis, muncullah seorang wanita dengan setelan kerja rapi namun ekspresi lebay yang tak pernah berubah—Citra.Seperti roket, ia berlari ke arah mereka dan langsung memeluk Kai erat-erat seolah sudah bertahun-tahun tak bertemu.“Aunty kangeeenn banget sama kamu, Kai!” serunya sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke pipi bocah itu.Padahal, terakhir mereka bertemu… baru minggu lalu.“Aunty, Kai nggak bisa napas…” gerutu Kai, wajahnya cemberut setengah sebal, setengah pasrah.“Maaf, Sayang. Aunty terlalu kangen,” ujar Citra sambil terkekeh, masih menciumi pipi bulat Kai yang kini sudah mulai memerah.“Wah, sekarang udah pake se
Last Updated: 2025-05-16
Chapter: 147
Siang itu, matahari bersinar hangat, dan angin berembus pelan membawa aroma pohon-pohon rindang di halaman sekolah. Kanaya duduk di bangku panjang tak jauh dari gerbang, menanti putranya yang sebentar lagi pulang.“Nay.”Sebuah suara familiar memanggil namanya. Kanaya menoleh, dan benar saja—Rian berjalan mendekat dengan senyum menyebalkan yang khas.“Ketemu lagi, kita,” ujarnya ringan, seolah pertemuan itu adalah takdir yang menyenangkan.Kanaya mengangkat alis. “Ngapain lo di sini?”Rian menunjuk ke seberang jalan. “Kebetulan kafe di depan situ, itu punya gue. Tadi dari jendela lihat ibu-ibu cantik duduk sendirian, jadi gue samperin deh.”Kanaya menoleh sejenak, melihat kafe minimalis bergaya modern yang belum lama ia sadari keberadaannya.“Sejak kapan lo buka tempat itu?” tanyanya, masih dengan nada datar.“Baru semingguan, sih,” jawab Rian sambil menyerahkan satu cup kopi ke tangannya. “Caffè latte. Favorit lo, kan? Tenang aja, nggak gue racunin.”Kanaya menatap cup itu dengan ali
Last Updated: 2025-05-16
Chapter: 146
Malam itu, udara terasa lebih dingin, sisa hujan yang turun sore tadi masih membekas di langit. Setelah menidurkan Kai di kamarnya, Kanaya menyusul suaminya ke ruang kerja dengan secangkir teh hangat di tangannya."Mas," panggilnya lembut, berdiri di ambang pintu.Dewangga yang tengah sibuk dengan berkas di meja kerjanya menoleh. “Ya?” gumamnya, sedikit terkejut, namun segera tersenyum ketika melihat Kanaya membawa teh hangat untuknya.Kanaya melangkah masuk, meletakkan secangkir teh di meja kecil di dekat sofa tempat Dewangga biasa duduk.Dewangga bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekat, dan duduk di samping Kanaya. Mereka duduk diam, menikmati keheningan yang terasa nyaman. Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Dewangga belum banyak berbicara. Rasa cemas dan bingung masih terlihat jelas di wajahnya, dan Kanaya tidak ingin memaksanya berbicara sebelum ia siap."Bagaimana keadaan Kakek kamu?" tanya Kanaya pelan, sambil menatap suaminya.Dewangga menghela napas panjang, mengu
Last Updated: 2025-05-16
Chapter: 145
Setelah kepergian Dewangga, Soedrajat hanya bisa terpaku. Matanya tak lepas menatap pintu yang kini tertutup, seolah menelan sosok cucunya bersama seluruh luka masa lalu yang belum sempat terobati.“Andai saja aku tak egois... mungkin Dewangga tak akan tumbuh dalam bayang-bayang kebencian,” lirihnya. Air mata menuruni pipi tuanya, pelan tapi pasti, membasuh kesombongan yang selama ini ia pelihara.“Maafkan Kakek, Nak... pasti berat sekali jadi kamu,” ucapnya lagi. Suaranya serak, nyaris tak terdengar, tapi penuh penyesalan. Sosok yang selama ini ia tolak dan curigai, ternyata darah dagingnya sendiri.Benar adanya, penyesalan memang selalu datang terlambat.Tak lama, Rian masuk. Ia sempat melihat Dewangga pergi dengan mata yang nyalang penuh luka. Tapi pemandangan yang membuatnya tercekat adalah kakeknya, orang sosok yang selalu tegar, angkuh dan kuat itu kini menangis terguncang di atas ranjang rumah sakit.“Kek…” panggil Rian pelan. Ia melangkah cepat, lalu memeluk kakeknya erat. Sat
Last Updated: 2025-05-16
Terpaksa Menikahi Atasanku

Terpaksa Menikahi Atasanku

Seminggu sebelum hari bahagianya, Latisha justru dihadapkan pada pengkhianatan paling menyakitkan, calon suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Segala persiapan pernikahan yang telah disusun dengan rapi mendadak berubah menjadi kekacauan. Undangan sudah tersebar, gedung telah dipesan, dan ibunya sama sekali menolak mendengar kata "batal"—karena semua sudah siap, seratus persen tanpa celah. Saat Latisha berada di ambang putus asa, tawaran tak terduga datang dari pria yang tak pernah ia bayangkan "Menikahlah dengan saya." Sagara—atasan yang dikenal dingin, logis, dan nyaris tak tersentuh. Bukan cinta yang ia tawarkan, melainkan sebuah kesepakatan. Pernikahan tanpa rasa, sekadar untuk menyelamatkan reputasi dan menghindari tekanan keluarga. Namun, akankah sebuah pernikahan yang dimulai tanpa cinta bisa bertahan? Atau justru, perasaan itu akan tumbuh... di antara kebisuan dan kebersamaan yang tak direncanakan?
Read
Chapter: BAB 93
Rosalia baru saja melangkah keluar dari ruang makan ketika suara Atmaja menghentikan langkahnya.“Rosalia.”Ia menoleh. “Hm?”“Duduk. Saya ingin bicara.”Nada suara Atmaja terdengar biasa, nyaris tanpa tekanan. Namun entah mengapa, Rosalia justru merasakan sesuatu yang berbeda. Selama bertahun-tahun, setiap percakapan yang berpotensi berubah menjadi pertengkaran selalu dihindari Atmaja. Lelaki itu lebih memilih diam, mengalah, atau meninggalkan ruangan ketika Rosalia mulai membawa nama Hana dan Latisha ke dalam pembicaraan mereka. Tetapi malam ini, Atmaja tidak pergi. Ia justru menunggunya.Rosalia berjalan mendekat dan duduk di sofa. Tatapannya mengarah pada suaminya yang duduk di seberang. “Tentang apa?”Atmaja tidak langsung menjawab. Kedua tangannya bertaut di atas lutut, sementara pandangannya tetap tertuju kepada Rosalia. Tatapan itu membuat perempuan tersebut perlahan merasa tidak nyaman.“Mas mau membicarakan Latisha lagi?”“Bukan.”Rosalia mengangkat alis.“Saya mau membicara
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: BAB 92
“Pah, tolong kali ini Papa yang turun tangan.”Alfian menatap ayahnya lekat-lekat. Suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar jauh lebih tegas daripada biasanya. Atmaja yang sejak tadi berdiri di dekat jendela akhirnya berbalik. Wajahnya tampak lelah, sementara ponsel yang berada di tangannya bahkan sudah lama tidak ia perhatikan.“Apa yang bisa Papa lakukan, Al?” tanyanya pelan.“Banyak. Atau setidaknya lebih banyak daripada saya.”Atmaja menghela napas panjang lalu berjalan menuju meja kerjanya. Ia duduk perlahan dan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Papa sudah mencoba bicara dengan Mama.”“Dan Mama berhenti?”Atmaja terdiam.Alfian mengangguk kecil. Ia sudah tahu jawabannya. “Saya tahu Papa sudah berusaha menghentikannya. Tapi setiap kali Papa mundur karena tidak ingin keadaan semakin buruk, Mama justru mencari cara lain untuk melanjutkan semuanya.”“Al…”“Saya tahu dia ibu saya, Pa.” Alfian menarik napas, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Saya tahu bagaimana Mama. Tapi say
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: BAB 91
“Semua sudah selesai, Mas.”Daniel mengembuskan napas panjang sebelum meletakkan beberapa map di atas meja kerja Sagara. Satu per satu laporan itu disusun rapi di hadapannya—dokumen penyelesaian sengketa tanah, hasil pemeriksaan legal, hingga laporan terbaru mengenai proyek Dirgantara.Sagara menarik salah satu map dan membukanya. Matanya bergerak cepat membaca beberapa halaman terakhir sebelum akhirnya menutup kembali dokumen tersebut.“Bagaimana proses terakhirnya?”“Sudah beres secara hukum. Pihak yang mengajukan keberatan juga sudah tidak punya dasar untuk melanjutkan tuntutannya.” Daniel bersandar sebentar pada kursinya. “Tapi saya masih penasaran, Mas.”Sagara mengangkat pandangan.“Kenapa akhirnya Mas memilih jalur hukum?”Pertanyaan itu membuat Sagara diam sejenak.Sejak awal, ia memang tidak ingin membawa sengketa tersebut ke pengadilan. Baginya, proses hukum akan memakan waktu, tenaga, dan berpotensi membuat proyek yang sudah hampir rampung semakin tersendat. Ia sempat memil
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: BAB 90
“Ada perlu apa Anda meminta saya datang ke sini?”Suara Alfian terdengar tenang ketika ia tiba di salah satu restoran ternama yang sengaja dipilih Sagara untuk pertemuan mereka. Tatapannya menyapu ruangan sejenak sebelum akhirnya berhenti pada pria yang telah lebih dulu menunggunya.Sagara mengangkat wajah dari cangkir kopi di hadapannya. Senyum tipis terbit di bibirnya, tenang dan sulit dibaca.“Silakan duduk.”Tidak ada basa-basi berlebihan. Tidak ada nada mengintimidasi. Namun, ketenangan Sagara justru membuat suasana di antara mereka terasa lebih serius.Alfian menarik kursi di hadapan Sagara lalu duduk dengan sikap tegak. Ia menatap pria itu beberapa detik, seolah sedang membaca maksud di balik pertemuan ini.Sebenarnya, tanpa perlu Sagara menjelaskan pun, Alfian sudah bisa menebaknya. Pasti ada alasan mengapa seorang Sagara Alverio Dirgantara memilih bertemu dengannya secara langsung.“Anda pasti tahu siapa saya,” ujar Sagara kemudian. Nada suaranya terdengar ramah, tetapi tetap
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: BAB 89
Sagara baru saja tiba di rumah ketika aroma harum dari arah dapur langsung menyambutnya. Aroma rempah yang begitu familiar membuat langkahnya seketika berbelok menuju sumbernya.Begitu sampai di dapur, bibir Sagara melengkung membentuk senyum lebar.Di hadapannya, Latisha tampak sibuk berkutat dengan peralatan masak. Punggung kecilnya bergerak kesana-kemari, sesekali tangannya mengaduk masakan yang sedang dimasaknya.Tanpa ingin mengganggu, Sagara melangkah mendekat.Namun, alih-alih hanya berdiri di belakangnya, kedua lengannya melingkar begitu saja di pinggang Latisha.Latisha tersentak kecil. Namun, sedetik kemudian, senyum hangat mengembang di wajahnya."Kok udah pulang?"Sagara menyandarkan dagunya sebentar di bahu Latisha, menikmati kehangatan istrinya setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Aroma rempah yang memenuhi dapur semakin membuat lelahnya terasa luruh."Pekerjaan saya sudah selesai," ujar Sagara lembut. "Entah kenapa hari ini rasanya pengin cepat-cepat pulang. Tern
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: BAB 88
Latisha tengah berbelanja kebutuhan bulanan. Belakangan ini suaminya bekerja begitu keras hingga hampir tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Karena itu, malam ini Latisha ingin memberinya sedikit kejutan sederhana, memasakkan makanan kesukaannya.Ia sedang memilih beberapa bahan makanan ketika tanpa sengaja seseorang berjalan dari arah berlawanan.Bruk!Tubuh mereka bertabrakan. Beberapa kantong belanja yang dibawa Latisha terlepas dari tangannya dan jatuh berserakan di lantai."Aduh, maaf, Mbak. Saya nggak sengaja."Pria itu segera berjongkok, membantu memunguti barang-barang Latisha yang berjatuhan. "Mbak nggak apa-apa?"Latisha ikut berjongkok, lalu tersenyum kecil."Saya nggak apa-apa, Mas. Terima kasih, ya, sudah bantu merapikan."Pria itu terdiam.Tangannya yang semula sibuk memunguti belanjaan mendadak berhenti. Jemarinya membeku di atas sekotak susu yang baru saja ia ambil dari lantai.Tatapannya terpaku pada wajah Latisha, seolah sedang memastikan bahwa perempuan di ha
Last Updated: 2026-09-06
You May Also Like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status