author-banner
Cleo Voltra
Cleo Voltra
Author

Novel-novel oleh Cleo Voltra

Adik Cantik Kesayangan Tuan Muda

Adik Cantik Kesayangan Tuan Muda

Terhimpit masalah finansial membuat Aluna terpaksa menerima tawaran Tuan Henry. Dia harus bersandiwara menjadi Acitra, putri Tuan Henry yang telah meninggal, demi mengobati luka batin istrinya. Namun, menjadi Acitra ternyata tak semudah yang Aluna bayangkan. Tinggal di rumah keluarga Tuan Henry membuatnya harus berhadapan dengan Galandra, putra sulung Tuan Henry yang sejak awal menolak kehadirannya dan berulang kali berusaha menyingkirkannya dari rumah. Satu hal yang tidak pernah Aluna perhitungkan adalah jatuh cinta kepada seseorang yang sejak awal tahu bahwa dirinya hanyalah seorang penipu. Namun, semakin keras mereka saling menolak, semakin sulit pula perasaan yang tumbuh di antara keduanya untuk diabaikan. Namun, bagaimana jika suatu hari penyamarannya sebagai Acitra terbongkar? Akankah kebohongan yang menyatukan mereka justru berakhir menjadi alasan yang memisahkan mereka?
Baca
Chapter: 15 - Waktu Untuk Bernapas
Ternyata, orang yang mencengkeram pergelangan tangannya adalah Bi Asri.Aluna langsung mengembuskan napas lega. Setidaknya orang di hadapannya bukanlah orang yang paling ingin dia hindari."Eh, Bi Asri. Bikin kaget aja," kata Aluna sambil mengusap dadanya."Hehe, maaf, Non." Bi Asri tersenyum kecil. "Saya mau mengantarkan ini. Disuruh Tuan."Wanita itu kemudian menyodorkan sebuah kotak makan kepada Aluna.Aluna menerimanya dengan bingung. "Ini apa, Bi?""Tuan bilang Non belum makan. Jadi, makanan Non sengaja dipisahkan dan Tuan menyuruh saya mengantarkannya ke kamar," jelas Bi Asri.Aluna terdiam sejenak. Ternyata Tuan Henry menyadarinya.Tadi dia memang hanya memakan puding. Bukan karena tidak lapar, tetapi karena Galandra terus mengganggunya dengan menyodorkan udang."Terima kasih banyak, ya, Bi. Aku memang sedikit lapar, hehe." Aluna menatap kotak makan di tangannya, lalu tersenyum haru."Dimakan dulu, Non. Kalau butuh sesuatu, tinggal panggil saya." Bi Asri tertawa kecil. Tanganny
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Chapter: 14 - Sebuah Ujian
Sebelum Tuan Henry sempat mengatakan apa-apa lagi, Nyonya Livia sudah lebih dulu mengajaknya berbicara tentang berbagai hal yang ingin dilakukan setelah tiba di rumah.Melihat hal itu, Galandra kembali mendekat dan berbisik di telinga Aluna. "Jangan senang dulu. Aku masih punya banyak urusan denganmu."Aluna mengepalkan tangan di atas pangkuannya.Dia tidak menjawab. Lebih baik diam daripada membuat masalah di dalam mobil.Perjalanan yang seharusnya terasa biasa saja justru terasa seperti perjalanan paling panjang yang pernah Aluna lalui seumur hidupnya.Hingga akhirnya, setelah beberapa waktu, mobil mulai memasuki halaman kediaman.Di teras rumah, sejumlah pekerja sudah berdiri berjajar untuk menyambut kedatangan mereka.Begitu mobil berhenti, beberapa pekerja langsung membukakan pintu.Tuan Henry turun lebih dulu, disusul Nyonya Livia, Galandra, kemuduan Aluna.Gadis itu buru-buru mengambil posisi di samping Nyonya Livia. Dengan begitu, dia tidak perlu berdiri terlalu dekat dengan G
Terakhir Diperbarui: 2026-09-19
Chapter: 13 - Tak Ada Ketenangan
Ternyata sosok yang berdiri tidak jauh darinya adalah Adnan dan Gio.Keduanya bahkan langsung berlari menghampiri Aluna begitu menyadari keberadaannya."Lun, mau ke mana?" tanya Adnan setelah berhenti di hadapannya. Pandangannya kemudian beralih kepada pria yang berdiri di samping Aluna.Aluna sempat terdiam karena tidak menyangka akan bertemu mereka di sini."Oh, iya. Kenalin dulu." Aluna segera menunjuk Tuan Henry. "Beliau atasanku di tempat kerja."Kemudian Aluna memperkenalkan Adnan dan Gio. "Pak, ini Adnan, teman masa kecilku. Dan yang ini Gio, adikku."Adnan mengangguk sopan. "Halo, Pak."Gio juga ikut menyapa, "Halo, Pak."Tuan Henry tersenyum dan membalas sapaan mereka. "Halo semuanya."Setelah itu, Aluna kembali menatap Gio dan berkata, "Oh, iya, Gio. Beberapa hari ke depan Kakak mungkin gak bisa pulang dulu."Gio langsung mengerutkan dahi. "Lho? Kenapa, Kak?""Kakak harus ikut pelatihan di tempat kerja.""Oh ...." Gio mengangguk pelan.Aluna kemudian menjelaskan bahwa dia b
Terakhir Diperbarui: 2026-09-18
Chapter: 12 - Rencana Untuk Sandiwara yang Baru
Perasaan Aluna semakin tidak tenang ketika dokter melangkah mendekati ranjang pasien Nyonya Livia."Bagaimana keadaan Anda hari ini, Nyonya?" tanya dokter itu ramah."Sudah jauh lebih baik," jawab Nyonya Livia.Dokter itu kemudian memeriksa kondisi Nyonya Livia. Dia mengecek tekanan darah, denyut nadi, serta beberapa tanda vital lainnya sebelum mencatat hasil pemeriksaan pada lembar rekam medis.Setelah selesai, dokter tersebut menoleh kepada Tuan Henry dan berkata, "Kondisinya sudah cukup stabil. Kalau tidak ada keluhan lain, hari ini sudah diperbolehkan pulang.""Benarkah, Dok?" Nyonya Livia langsung tersenyum lebar.Dokter itu mengangguk. "Benar, tapi tetap harus banyak beristirahat dan rutin mengonsumsi obat yang sudah diberikan."Akhirnya aku boleh pulang!" Nyonya Livia tampak begitu senang. Dia kemudian menoleh pada suaminya dan Aluna secara bergantian.Aluna yang ditatap langsung oleh Nyonya Livia segera memasang senyum. Dia bahkan berusaha membuat wajahnya terlihat seceria mun
Terakhir Diperbarui: 2026-09-17
Chapter: 11 - Firasat Buruk
Galandra terus berjalan mendekat hingga akhirnya lelaki itu berhenti tepat di hadapan Aluna. Tanpa diduga, lengan kekarnya merangkul bahu Aluna dan membawanya mendekat ke ranjang pasien. Aluna sontak menegang. Meski begitu, dia tetap mengikuti tarikan Galandra tanpa banyak melawan. "Akhirnya kamu datang juga, Cit," kata Galandra lembut. Suara lembut itu justru membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Halo, Ma. Maaf Acitbbaru datang," ujar Aluna basa-basi sambil berusaha melepaskan rangkulan Galandra. Namun, lelaki itu malah semakin erat mencengkeram bahunya, seolah tidak berniat melepaskannya barang sedetik pun. "Tidak apa-apa," jawab Nyonya Livia dengan senyum hangat. "Yang penting kamu sudah datang." Aluna tersenyum kecil mendengarnya. Sebelum sempat mengatakan apa-apa lagi, Tuan Henry tiba-tiba merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. "Sebentar. Papa mau keluar dulu untuk mengangkat telepon." Aluna, Galandra, dan Nyonya Livia refleks mengangguk bersamaan. Tuan Hen
Terakhir Diperbarui: 2026-09-16
Chapter: 10 - Pertemuan yang Tak Disangka
Keesokan paginya, Aluna kembali bersiap untuk pergi ke rumah sakit.Setelah memastikan semua keperluannya sudah dibawa, dia keluar dari rumah. Gio sudah berangkat sekolah lebih dulu sehingga pagi itu Aluna pergi seorang diri.Baru beberapa menit berjalan dari rumah, dari kejauhan, Aluna tiba-tiba melihat seseorang yang terasa tidak asing.Gadis itu memperlambat langkahnya. "Adnan?"Lelaki itu berhenti tepat di samping gadis itu. Matanya langsung berbinar ketika melihat Aluna."Lun?" sapanya."Hai! Kamu mau ke mana?" tanya Aluna basa-basi."Baru selesai isi bensin. Kamu sendiri mau ke mana?" tanya Adnan.Aluna mengangguk. "Oh. Aku mau ke rumah sakit.""Jenguk Nenek?" tebak lelaki itu."Iya, betul.""Kalau begitu, sekalian aku antar, ya," tawar Adnan sambil menepuk jok motornya, meminta Aluna untuk naik.Aluna menggeleng. "Gak perlu. Rumah sakitnya juga gak jauh kok.""Semakin cepat sampai, semakin baik. Jadi kamu bisa menghemat waktu."Aluna masih terlihat ragu. "Yakin gak ngerepotin?"
Terakhir Diperbarui: 2026-09-15
Suami Tukang Parkirku Ternyata Tajir Melintir

Suami Tukang Parkirku Ternyata Tajir Melintir

Hinaan dan cemoohan terus berdatangan pada Zoya dan suaminya, Dewangga, yang bekerja sebagai tukang parkir. Bahkan anak mereka juga menjadi sasaran ejekan dari teman-temannya. Tidak hanya tetangga, keluarga Zoya sendiri pun berusaha memisahkan mereka karena merasa malu. Tekanan yang diterima membuat Zoya frustrasi, tetapi cintanya pada Dewangga membuatnya tetap bertahan. Ia yakin suaminya adalah pria yang baik dan jujur, meskipun seluruh dunia meremehkan mereka. Ketika keadaan sudah tak tertahankan dan Zoya hampir menyerah, tiba-tiba Dewangga menunjukkan sisi yang tak pernah orang lain lihat—sisi yang mengubah segalanya. Orang-orang berpangkat tinggi mulai menghormatinya, bahkan menuruti perintahnya tanpa banyak tanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Dewangga? Rahasia apa yang selama ini Dewangga sembunyikan dari Zoya?
Baca
Chapter: Terbangun di Ruangan Asing
[Baik, Mas.]Setelah mengirim pesan balasan kepada Mas Dewangga, aku meletakkan ponsel di atas meja dan kembali menyendok bakso terakhirku. Kuaduk kuah yang sudah mulai dingin sebelum akhirnya kuhabiskan dengan cepat. Saat aku mendongak dan menoleh, mata kami beradu. Alex menoleh padaku dan tersenyum. Aku membalasnya, meski agak canggung. Sepertinya dia juga sudah selesai makan.Beberapa detik kemudian, Alex bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke arahku."Sudah selesai?" tanyanya.Aku mengangguk. "Sudah.""Kalau begitu, kita bayar dulu," katanya sambil mengisyaratkan menuju meja kasir.Kami berjalan berdampingan. Sekilas, aku sempat melirik ke pojok ruangan. Mas Dewangga masih duduk di sana. Tatapannya menusuk ke arahku, penuh makna. Dia sedikit mengangguk, seperti memberi isyarat agar aku terus menjalankan rencana ini. Aku buru-buru menoleh ke depan sebelum Alex menangkap gelagatku.Saat aku hendak menyodorkan uang ke kasir, Alex menahan tanganku."Biar saya saja yang bayar," ucap
Terakhir Diperbarui: 2025-07-25
Chapter: Pria yang Mencurigakan
Aku dan Alex pun akhirnya berjalan menuju restoran. Tak lupa juga aku memberi kode pada orang suruhan Mas Dewangga untuk mengikuti kami, sambil terus menjaga jarak tentunya.Langkah kaki kami terdengar teratur di sepanjang trotoar yang teduh. Alex berjalan di depanku. Aku sengaja mengambil jarak yang cukup jauh karena aku tidak ingin dekat-dekat dengan pria ular sepertinya."Jika bukan karena misi, aku tidak mau melakukannya. Mas Dewangga, tolong aku, huhuhu," batinku sembari meremas ujung pakaian yang membuatnya sedikit kusut."Setelah dari sini, kita hanya perlu belok ke kiri," katanya tiba-tiba. "Tempatnya tidak terlalu ramai, tapi makanannya enak. Saya biasa ke sana kalau sedang bosan dengan catering kantor."Aku hanya mengangguk kecil meski Alex tak dapat melihatnya. Begitu berbelok, kami tiba di depan restoran dengan papan nama bergaya klasik. Kaca depannya memperlihatkan interior sederhana bergaya semi-rustik dengan dominasi kayu dan lampu gantung hangat.Kami pun masuk. Suara
Terakhir Diperbarui: 2025-07-05
Chapter: Ajakan Makan Siang Bersama
Seperti biasa, pagi ini aku berangkat ke toko kue seperti kemarin. Tentunya untuk melancarkan misi yang tengah kulakukan dengan suamiku.Toko tampak berjalan normal seperti kemarin. Beberapa pelanggan datang silih berganti, dan para karyawan—termasuk Nara—sibuk melayani sambil sesekali melempar senyum ke arahku. Meski suasananya terlihat wajar, aku tahu sebagian besar dari mereka bukan pelanggan biasa. Beberapa dari mereka adalah bagian dari skenario yang sudah disusun Mas Dewangga.Jam demi jam berlalu, dan tanpa terasa waktu sudah mendekati jam makan siang. Aku mulai merasa suntuk, bukan karena pekerjaannya, tetapi karena suasana yang terlalu aman dan monoton. Saat itulah muncul ide di benakku untuk keluar sebentar, mencari udara segar, dan mungkin mencari sedikit inspirasi."Nara, aku akan keluar sebentar, tolong jaga toko, ya," pintaku pada Nara sebelum keluar."Biar saya temani Anda ya, Bu," tawar Nara, tangannya bergerak untuk melepaskan celemek, tetapi aku buru-buru menahanny
Terakhir Diperbarui: 2025-05-28
Chapter: Kejutan Tengah Malam dan Umpan Pagi Hari
Sesampainya di rumah, aku langsung turun dari mobil setelah dibukakan pintu oleh sopir pribadi yang tadi menyamar menjadi pelanggan di toko. Aku mengangguk singkat sebagai ucapan terima kasih, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Aku mengedarkan pandangan ke ruang tamu, dan sesuai dugaan, Mas Dewangga belum tiba.Daripada diam, aku memilih naik ke kamar dan merebahkan diri di sofa panjang sambil membuka buku bacaan yang belum sempat kuselesaikan. Sesekali aku mengelus perutku, sambil membayangkan raut wajah Mas Dewangga nanti saat tahu 'permainanku' dengan Alex tadi berhasil.Satu jam berlalu.Suara pintu kamar terbuka, membuatku refleks menoleh. Dan di sana Mas Dewangga berdiri dengan napas agak memburu. Matanya langsung mengunci pandangan ke arahku. Aku tersenyum, meletakkan buku di atas meja, lalu bangkit berdiri.Mas Dewangga melangkah cepat menghampiriku. Belum sempat aku bersuara, tubuhku sudah dipeluk erat olehnya."Mas!" Aku spontan memukul pelan punggungnya. "Perutku, Mas!
Terakhir Diperbarui: 2025-05-11
Chapter: Jebakan Manis Seorang Istri
Sebelum Alex bicara lagi, Nara datang dengan nampan berisi kopi dan kue red velvet pesanan milik Alex.Pria itu menyesap kopi pahitnya yang baru datang. Tatapannya tak lepas dariku, seolah sedang menilai celah dari setiap kata dan ekspresi yang kutunjukkan."Saya mengerti perasaanmu, Bu Zoya," katanya pelan. "Terkadang laki-laki itu semakin banyak tekanan, semakin suka memendam. Bukannya tidak sayang, tapi mereka merasa harus tangguh, harus kuat ... sampai-sampai lupa bagaimana cara terbuka pada istrinya sendiri."Aku diam, seolah larut dalam kata-katanya."Hanya saja, hati-hati juga ... jangan sampai Bu Zoya terlalu menunggu seseorang yang bahkan mungkin sudah tidak seperti dulu lagi," lanjutnya. "Dewangga itu ... saya sudah mengenal dia cukup lama. Dia pandai menyembunyikan sesuatu, bahkan dari orang terdekatnya."Aku menunduk, pura-pura menelan ucapan itu."Kalau Bu Zoya terus menunggu Dewangga terbuka, takutnya Bu Zoya makin sakit sendiri. Mungkin Anda perlu mulai berpikir untuk m
Terakhir Diperbarui: 2025-05-07
Chapter: Menebar Umpan
Pagi itu, setelah selesai sarapan, Mas Dewangga mengantarku ke toko kue. Sepanjang jalan, dia terus mengingatkanku untuk berhati-hati, bahkan dia sampai turun dari mobil dan mengantarkanku ke depan toko."Kalau ada apa-apa, langsung kabari," pesannya lagi.Aku mengangguk. "Iya, Mas. Aku akan baik-baik saja. Fokus jaga saham perusahaan, ya."Dia tampak ragu sejenak sebelum akhirnya memelukku dan berjalan kembali ke mobil. Begitu mobilnya menjauh, aku menarik napas panjang dan membuka pintu toko."Naraaa," panggilku pelan.Suara langkah cepat mendekat, lalu muncullah Nara dengan celemek bermotif stroberi tergantung di pinggang."Bu Zoya!" serunya ceria sambil memelukku. "Bu Zoya, saya rindu!"Aku tertawa pelan. "Aku juga rindu kalian." Nara melepaskan pelukannya dan berkata, "Bu Zoya jangan bekerja sampai kelelahan. Ibu cukup diam dan memantau saja, oke?"Aku mengangguk mengiyakan. "Iya, Nara. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang berat.""Bagus! Saya sudah diberi tahu oleh Pak Dewangg
Terakhir Diperbarui: 2025-05-04
Anda juga akan menyukai
Married Young
Married Young
Romansa · Nur Hikmah
15.9K Dibaca
Terpikat Pesona Ayah Temanku
Terpikat Pesona Ayah Temanku
Romansa · CeliiCaaca
15.9K Dibaca
Dokter Tampan Pemikat Wanita
Dokter Tampan Pemikat Wanita
Romansa · Aldrich Candra
15.9K Dibaca
Gadis Nakal Milik CEO
Gadis Nakal Milik CEO
Romansa · Bluemoongirl
15.8K Dibaca
JERAT CINTA SANG RENTENIR
JERAT CINTA SANG RENTENIR
Romansa · Manda Azzahra
15.8K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status