Mag-log inHinaan dan cemoohan terus berdatangan pada Zoya dan suaminya, Dewangga, yang bekerja sebagai tukang parkir. Bahkan anak mereka juga menjadi sasaran ejekan dari teman-temannya. Tidak hanya tetangga, keluarga Zoya sendiri pun berusaha memisahkan mereka karena merasa malu. Tekanan yang diterima membuat Zoya frustrasi, tetapi cintanya pada Dewangga membuatnya tetap bertahan. Ia yakin suaminya adalah pria yang baik dan jujur, meskipun seluruh dunia meremehkan mereka. Ketika keadaan sudah tak tertahankan dan Zoya hampir menyerah, tiba-tiba Dewangga menunjukkan sisi yang tak pernah orang lain lihat—sisi yang mengubah segalanya. Orang-orang berpangkat tinggi mulai menghormatinya, bahkan menuruti perintahnya tanpa banyak tanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Dewangga? Rahasia apa yang selama ini Dewangga sembunyikan dari Zoya?
view more[Baik, Mas.]Setelah mengirim pesan balasan kepada Mas Dewangga, aku meletakkan ponsel di atas meja dan kembali menyendok bakso terakhirku. Kuaduk kuah yang sudah mulai dingin sebelum akhirnya kuhabiskan dengan cepat. Saat aku mendongak dan menoleh, mata kami beradu. Alex menoleh padaku dan tersenyum. Aku membalasnya, meski agak canggung. Sepertinya dia juga sudah selesai makan.Beberapa detik kemudian, Alex bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke arahku."Sudah selesai?" tanyanya.Aku mengangguk. "Sudah.""Kalau begitu, kita bayar dulu," katanya sambil mengisyaratkan menuju meja kasir.Kami berjalan berdampingan. Sekilas, aku sempat melirik ke pojok ruangan. Mas Dewangga masih duduk di sana. Tatapannya menusuk ke arahku, penuh makna. Dia sedikit mengangguk, seperti memberi isyarat agar aku terus menjalankan rencana ini. Aku buru-buru menoleh ke depan sebelum Alex menangkap gelagatku.Saat aku hendak menyodorkan uang ke kasir, Alex menahan tanganku."Biar saya saja yang bayar," ucap
Aku dan Alex pun akhirnya berjalan menuju restoran. Tak lupa juga aku memberi kode pada orang suruhan Mas Dewangga untuk mengikuti kami, sambil terus menjaga jarak tentunya.Langkah kaki kami terdengar teratur di sepanjang trotoar yang teduh. Alex berjalan di depanku. Aku sengaja mengambil jarak yang cukup jauh karena aku tidak ingin dekat-dekat dengan pria ular sepertinya."Jika bukan karena misi, aku tidak mau melakukannya. Mas Dewangga, tolong aku, huhuhu," batinku sembari meremas ujung pakaian yang membuatnya sedikit kusut."Setelah dari sini, kita hanya perlu belok ke kiri," katanya tiba-tiba. "Tempatnya tidak terlalu ramai, tapi makanannya enak. Saya biasa ke sana kalau sedang bosan dengan catering kantor."Aku hanya mengangguk kecil meski Alex tak dapat melihatnya. Begitu berbelok, kami tiba di depan restoran dengan papan nama bergaya klasik. Kaca depannya memperlihatkan interior sederhana bergaya semi-rustik dengan dominasi kayu dan lampu gantung hangat.Kami pun masuk. Suara
Seperti biasa, pagi ini aku berangkat ke toko kue seperti kemarin. Tentunya untuk melancarkan misi yang tengah kulakukan dengan suamiku.Toko tampak berjalan normal seperti kemarin. Beberapa pelanggan datang silih berganti, dan para karyawan—termasuk Nara—sibuk melayani sambil sesekali melempar senyum ke arahku. Meski suasananya terlihat wajar, aku tahu sebagian besar dari mereka bukan pelanggan biasa. Beberapa dari mereka adalah bagian dari skenario yang sudah disusun Mas Dewangga.Jam demi jam berlalu, dan tanpa terasa waktu sudah mendekati jam makan siang. Aku mulai merasa suntuk, bukan karena pekerjaannya, tetapi karena suasana yang terlalu aman dan monoton. Saat itulah muncul ide di benakku untuk keluar sebentar, mencari udara segar, dan mungkin mencari sedikit inspirasi."Nara, aku akan keluar sebentar, tolong jaga toko, ya," pintaku pada Nara sebelum keluar."Biar saya temani Anda ya, Bu," tawar Nara, tangannya bergerak untuk melepaskan celemek, tetapi aku buru-buru menahanny
Sesampainya di rumah, aku langsung turun dari mobil setelah dibukakan pintu oleh sopir pribadi yang tadi menyamar menjadi pelanggan di toko. Aku mengangguk singkat sebagai ucapan terima kasih, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Aku mengedarkan pandangan ke ruang tamu, dan sesuai dugaan, Mas Dewangga belum tiba.Daripada diam, aku memilih naik ke kamar dan merebahkan diri di sofa panjang sambil membuka buku bacaan yang belum sempat kuselesaikan. Sesekali aku mengelus perutku, sambil membayangkan raut wajah Mas Dewangga nanti saat tahu 'permainanku' dengan Alex tadi berhasil.Satu jam berlalu.Suara pintu kamar terbuka, membuatku refleks menoleh. Dan di sana Mas Dewangga berdiri dengan napas agak memburu. Matanya langsung mengunci pandangan ke arahku. Aku tersenyum, meletakkan buku di atas meja, lalu bangkit berdiri.Mas Dewangga melangkah cepat menghampiriku. Belum sempat aku bersuara, tubuhku sudah dipeluk erat olehnya."Mas!" Aku spontan memukul pelan punggungnya. "Perutku, Mas!
Mas Dewangga mulai menceritakan masalahnya, sementara aku mendengarkan dengan saksama, jemariku mengelus punggung tangannya dengan lembut. Ada ketegangan di wajahnya yang tak bisa Mas Dewangga sembunyikan, seolah kata-kata yang hendak diucapkannya begitu berat. Sesekali dia menarik napas dalam, se
Mas Dewangga pergi tanpa menjelaskan apa pun, meninggalkanku sendirian di ruang tamu. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke kamar dengan perasaan khawatir, kesal, sekaligus sedih. Aku memutuskan untuk beristirahat di sana sambil menunggu suamiku yang entah kapan dia akan pulang.***Aku duduk te
"Bu Zoya?" tanya pria itu sambil tersenyum tipis. "Kenapa berhenti di sini? Ada masalah?"Aku ragu sejenak, lalu menjawab, "Mobilnya mogok, Pak Alex."Dia turun dari mobilnya, menghampiriku dengan langkah santai. "Butuh bantuan? Saya bisa antar," tawarnya.Aku menggeleng cepat. "Tidak perlu. Sopir
Beberapa menit setelah Mas Dewangga keluar dari kamar, aku memutuskan untuk berendam di bathtub. Kata itu selalu terdengar elegan, meskipun kenyataannya aku hanya ingin menenggelamkan diri dalam air hangat untuk mengusir beban pikiran. Suara gemericik air yang mengisi bathtub membuat suasana kamar m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore