Se connecterHinaan dan cemoohan terus berdatangan pada Zoya dan suaminya, Dewangga, yang bekerja sebagai tukang parkir. Bahkan anak mereka juga menjadi sasaran ejekan dari teman-temannya. Tidak hanya tetangga, keluarga Zoya sendiri pun berusaha memisahkan mereka karena merasa malu. Tekanan yang diterima membuat Zoya frustrasi, tetapi cintanya pada Dewangga membuatnya tetap bertahan. Ia yakin suaminya adalah pria yang baik dan jujur, meskipun seluruh dunia meremehkan mereka. Ketika keadaan sudah tak tertahankan dan Zoya hampir menyerah, tiba-tiba Dewangga menunjukkan sisi yang tak pernah orang lain lihat—sisi yang mengubah segalanya. Orang-orang berpangkat tinggi mulai menghormatinya, bahkan menuruti perintahnya tanpa banyak tanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Dewangga? Rahasia apa yang selama ini Dewangga sembunyikan dari Zoya?
Voir plusLiela stares at the test result in disbelief, her ears ring as Amanda’s voice comes as if through water–
“Congratulations Luna, the heir to the Blood Oak pack is five weeks old. In PERFECT condition. You are going to be a Mom!”
The only thing going through Liela’s mind is: Thank God her gynaecologist also happens to be her best friend, otherwise she won’t even have a chance to keep this a secret.
She has to keep it a secret, at least until she can figure everything out.
How could she be pregnant? The Alpha doesn’t want one, and he has done all the precautions he could. So how could she be pregnant?!!! Liela can’t even pinpoint exactly which time went wrong because it happened many times more than usual recently. But that doesn’t matter now.
The question Liela needs to answer now is: what to tell Alpha Tarum.
Does she even tell him? If she just takes care of the abortion herself, then he doesn’t have to know.
After all, he is not in the pack right now. He is out there looking for HER, as always.
“You don’t look too happy,” Amanda cups Leila’s face worriedly, “are you alright?”
Is she alright? She hasn’t been, not a day since she married Tarum. More accurately, not a day since Carmela died for her. Carmela was supposed to be his Luna, not her. She was the one who the rogues took. If only she had died like fate wanted for her, but no, Carmela took her place, and her life has broken into pieces since that day.
She lost her best friend, the whole pack deems her stealing the Luna’s title from Carmela. And did she? The Alpha never believed that Carmela really died, and he spends all his spare time out there looking for Carmela.
Even if she stole, she stole only an empty title.
“I’m fine…” Leila forces a smile, “Too…exciting, the news is.”
“I totally understand!” Amanda squeezes Leila’s hand firmly, her eyes too genuine for Leila to look at, “You and the Alpha have been trying for over two years now! The whole pack was starting to worry! I know how much pressure you were under, I totally do.”
Yeah, Amanda doesn’t understand, at all.
Leila smiles faintly at her innocent friend. It’s the Alpha’s responsibility to bring an heir to the pack, so they have been putting up the image of trying hard at it. Otherwise the pressure would be on him.
What sarcasm! She not only carries a problem in her womb, but also has to accept people congratulating her for it with a smile.
“The Alpha’s joy is going to be over the roof when he gets the news. After two years, he finally has a scion, now he can feel like a true Alpha,” Amanda replies, already daydreaming about the seven day banquet, customary to celebrate the birth of a new Alpha.
“Hmm, about that,” Leila takes a deep breath and cuts in before Amanda dreams all the way to when the baby is born, “I want to bring Alpha the news myself, so before that…”
“I understand!” Amanda laughs, patting Leila’s hand, “Not a word out of my office until you brief your dear husband! Trust me!”
Amanda is THE gossip of the pack, but Leila has to trust her this time. As if she has any other option.
“Amanda, we have been waiting for this for too long, and I just want it to be perfect, can you understand?” Leila takes a deep breath, saying the smooth lie she has been practising for the past two years, “Not just to the Alpha, okay? Not a word, to ANYONE–”
“Who’s in there? She has been talking forever!” A woman’s sharp voice comes through the closed door, obviously loud on purpose for them to hear.
Leila glances at Amanda worriedly before she stands up. This should just be a “routine check-up”, people would get suspicious if they take too long.
“Don’t shush me! The Luna title doesn’t give her the right to be a bitch!” The woman continues her sassy comments, “If she could get pregnant, she would have in the past two years!”
“The rumour is that the moon goddess sealed her womb because the title doesn’t belong to her.”
“That serves her right! She stole the title from her friend! One that saved her damn life! I’d be too ashamed to live if I were her–”
Leila opens the door calmly and the hallway falls into an awkward silence. The sassy woman halts her words, too, but not before she shoots Leila a mean glare. Leila glares back, and the woman bares her neck under the pressure of her Luna’s aura.
Leila normally avoids conflicts like this. She deems all her suffering the way to redemption because she knows she can never repay Carmela. But these people don’t get a say when they have little idea what happened. Even if she doesn’t care about her own reputation, Leila can’t allow them to discuss the Alpha like this behind his back.
“You do not–” Leila doesn’t get to finish.
“What’s going on here?!” A cold, dominant voice rises before echoing the hallway, attracting everyone’s attention.
Leila shoots her head up, frozen at the man striding over. Alpha Tatum. The youngest Alpha to have taken the title in the history of their pack. The man with a face that breaks every girl’s heart, and the body of a Greek god.
Leila's heart skips a beat.
The sassy woman already melts on the seat, legs shaking as well as her lips. Leila frowns at her before she walks up to the Alpha.
“What are you doing here–”
Before Leila could even finish, Alpha Tarum already passed as if not even noticing her. His rough shout piercing the hallway: “Where the hell are all the damn doctors?! Get me a doctor, now!”
Leila has never seen the man being this hasty. He is always calm, the living symbol of reason. Nothing makes him lose his cool.
Following the Alpha are four men carrying a stretcher, and on there lies a woman with a sickly beauty on her face. She is soundly sleeping and doesn’t seem to be in any critical situation.
And Leila understands it now. With her head buzzing for what she just seen, she understands only one thing now:
Carmela is back. Finally, he found her.
[Baik, Mas.]Setelah mengirim pesan balasan kepada Mas Dewangga, aku meletakkan ponsel di atas meja dan kembali menyendok bakso terakhirku. Kuaduk kuah yang sudah mulai dingin sebelum akhirnya kuhabiskan dengan cepat. Saat aku mendongak dan menoleh, mata kami beradu. Alex menoleh padaku dan tersenyum. Aku membalasnya, meski agak canggung. Sepertinya dia juga sudah selesai makan.Beberapa detik kemudian, Alex bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke arahku."Sudah selesai?" tanyanya.Aku mengangguk. "Sudah.""Kalau begitu, kita bayar dulu," katanya sambil mengisyaratkan menuju meja kasir.Kami berjalan berdampingan. Sekilas, aku sempat melirik ke pojok ruangan. Mas Dewangga masih duduk di sana. Tatapannya menusuk ke arahku, penuh makna. Dia sedikit mengangguk, seperti memberi isyarat agar aku terus menjalankan rencana ini. Aku buru-buru menoleh ke depan sebelum Alex menangkap gelagatku.Saat aku hendak menyodorkan uang ke kasir, Alex menahan tanganku."Biar saya saja yang bayar," ucap
Aku dan Alex pun akhirnya berjalan menuju restoran. Tak lupa juga aku memberi kode pada orang suruhan Mas Dewangga untuk mengikuti kami, sambil terus menjaga jarak tentunya.Langkah kaki kami terdengar teratur di sepanjang trotoar yang teduh. Alex berjalan di depanku. Aku sengaja mengambil jarak yang cukup jauh karena aku tidak ingin dekat-dekat dengan pria ular sepertinya."Jika bukan karena misi, aku tidak mau melakukannya. Mas Dewangga, tolong aku, huhuhu," batinku sembari meremas ujung pakaian yang membuatnya sedikit kusut."Setelah dari sini, kita hanya perlu belok ke kiri," katanya tiba-tiba. "Tempatnya tidak terlalu ramai, tapi makanannya enak. Saya biasa ke sana kalau sedang bosan dengan catering kantor."Aku hanya mengangguk kecil meski Alex tak dapat melihatnya. Begitu berbelok, kami tiba di depan restoran dengan papan nama bergaya klasik. Kaca depannya memperlihatkan interior sederhana bergaya semi-rustik dengan dominasi kayu dan lampu gantung hangat.Kami pun masuk. Suara
Seperti biasa, pagi ini aku berangkat ke toko kue seperti kemarin. Tentunya untuk melancarkan misi yang tengah kulakukan dengan suamiku.Toko tampak berjalan normal seperti kemarin. Beberapa pelanggan datang silih berganti, dan para karyawan—termasuk Nara—sibuk melayani sambil sesekali melempar senyum ke arahku. Meski suasananya terlihat wajar, aku tahu sebagian besar dari mereka bukan pelanggan biasa. Beberapa dari mereka adalah bagian dari skenario yang sudah disusun Mas Dewangga.Jam demi jam berlalu, dan tanpa terasa waktu sudah mendekati jam makan siang. Aku mulai merasa suntuk, bukan karena pekerjaannya, tetapi karena suasana yang terlalu aman dan monoton. Saat itulah muncul ide di benakku untuk keluar sebentar, mencari udara segar, dan mungkin mencari sedikit inspirasi."Nara, aku akan keluar sebentar, tolong jaga toko, ya," pintaku pada Nara sebelum keluar."Biar saya temani Anda ya, Bu," tawar Nara, tangannya bergerak untuk melepaskan celemek, tetapi aku buru-buru menahanny
Sesampainya di rumah, aku langsung turun dari mobil setelah dibukakan pintu oleh sopir pribadi yang tadi menyamar menjadi pelanggan di toko. Aku mengangguk singkat sebagai ucapan terima kasih, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Aku mengedarkan pandangan ke ruang tamu, dan sesuai dugaan, Mas Dewangga belum tiba.Daripada diam, aku memilih naik ke kamar dan merebahkan diri di sofa panjang sambil membuka buku bacaan yang belum sempat kuselesaikan. Sesekali aku mengelus perutku, sambil membayangkan raut wajah Mas Dewangga nanti saat tahu 'permainanku' dengan Alex tadi berhasil.Satu jam berlalu.Suara pintu kamar terbuka, membuatku refleks menoleh. Dan di sana Mas Dewangga berdiri dengan napas agak memburu. Matanya langsung mengunci pandangan ke arahku. Aku tersenyum, meletakkan buku di atas meja, lalu bangkit berdiri.Mas Dewangga melangkah cepat menghampiriku. Belum sempat aku bersuara, tubuhku sudah dipeluk erat olehnya."Mas!" Aku spontan memukul pelan punggungnya. "Perutku, Mas!
Sebelum Alex bicara lagi, Nara datang dengan nampan berisi kopi dan kue red velvet pesanan milik Alex.Pria itu menyesap kopi pahitnya yang baru datang. Tatapannya tak lepas dariku, seolah sedang menilai celah dari setiap kata dan ekspresi yang kutunjukkan."Saya mengerti perasaanmu, Bu Zoya," kata
"Baiklah. Jadi ...." Mas Dewangga menarik napas. "Aku dan Pak Arwin sepakat untuk membiarkan Alex terus berjalan dengan rencananya. Kita pura-pura tidak tahu apa-apa."Aku mengernyit. "Maksudnya ... kamu akan membiarkan dia terus merusak reputasimu, Mas?""Bukan 'membiarkan', tapi mengarahkan. Kita
"Eh, Mas. K-kamu belum tidur?" tanyaku, berusaha terdengar setenang mungkin agar suamiku tak curiga jika aku sedikit menguping pembicaraannya barusan."Belum. Tadi aku menerima telepon dulu." Mas Dewangga berjalan mendekat ke arahku dan memelukku, kemudian berkata, "Ayo kita tidur. Sudah larut mala
"Zoya, ada apa?" tanya Mas Dewangga di sampingku tiba-tiba.Suara suamiku membuatku sedikit tersentak. Aku menelan ludah sebelum mengangkat telunjuk, menunjuk ke arah trotoar di luar jendela mobil. "Mas, lihat itu ..." bisikku.Mas Dewangga mengikuti arah telunjukku, lalu tiba-tiba tubuhnya menega






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentairesPlus