Ghea, Izinkan Suami Sampahmu Menceraikanmu
Terbangun sebagai karakter suami sampah di novel ‘Pembalasan Istri yang Teraniaya’ adalah kutukan bagi Rayyan Danendra.
Dalam novel tersebut, ia berperan sebagai karakter villain utama yang menyebabkan kematian putri kecil mereka. Takdirnya berakhir tragis di tangan istrinya, sang protagonis utama, Ghea Niskala.
Demi mengubah plot novel, Rayyan yang biasa dipanggil Ray, berencana memperbaiki hubungannya dengan Ghea agar bisa bercerai secara baik-baik.
Harusnya rencana itu mudah.
Tetapi, ketika kebebasan di depan mata, wanita yang ia kira rapuh tiba-tiba berbisik, “kau pikir … setelah kau memberikanku kehangatan, kau bisa pergi begitu saja, Sayang?”
Mata Ray terbelalak. “Ah!”
Read
Chapter: Bab 22: Cobaan BaruKegelisahan kembali menghantui Ray saat malam menjelang. Jika sebelumnya di rumah orang tua 'Rayyan' ia terpaksa berbagi ranjang dengan Ghea karena keadaan, kini situasinya berbeda. Tidak ada orang tua yang mengawasi mereka.Ini pertama kalinya Ray resmi bermalam di rumah kecil itu setelah bertransmigrasi ke dunia novel ini.Setelah mengamati lingkungan sekitar, ia menyadari suasananya benar-benar buruk. Meski botol-botol alkohol dan pecahan vas(sisa kekacauan saat ia baru bertransmigrasi) sudah dibersihkan tadi siang, rumah itu tetap terasa sesak dan berbau apak. Ini pertama kalinya Ray merasa benar-benar miskin. Seburuk-buruknya nasib saat diusir keluarga pamannya di kehidupan pertama, ia setidaknya masih punya sebuah apartemen peninggalan orang tuanya yang luput dari perhatian pamannya. Tetapi tempat ini? Sungguh jauh dari kata layak huni."Hidup ini sungguh menyebalkan." Lagi-lagi, Ray mengatakan hal itu.Ray menghela napas panjang. Ia memikirkan sisa uang dari menggadaikan motor
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Bab 21: Momen Manis di Tengah KrisisSetelah mandi dan sarapan kilat, Ray segera bersiap. Hari ini mereka harus kembali ke rumah mereka sendiri. Bus menjadi pilihan paling realistis, meski Ray tahu itu bukan ide yang bagus mengingat Alea baru sembuh. Tetapi, apa boleh buat? Ia harus berhemat.Ray hanya bisa menghela napas panjang saat melihat kondisi bus yang menuju ke arah rumah mereka."Aduh, penuh sekali. Biarkan aku yang menggendong Alea," kata Ray. Tanpa menunggu jawaban Ghea, ia segera menyambar Alea ke dalam gendongannya. Selain agar Alea aman, hal ini dilakukan agar Ghea bisa memegang handle grip dengan leluasa tanpa terganggu beban tambahan.Ghea hanya diam membisu saat mengikuti langkah Ray masuk ke dalam bus. Tangan kirinya mencengkeram tas besar berisi pakaian, sementara tangan kanannya meraba-raba besi di langit-langit bus, mencari pegangan. Tetapi, ternyata tidak ada yang tersisa untuknya.Ray melirik ke arah Ghea dan menundukkan kepala, berbisik di telinga perempuan itu, "Ghea, kamu bersandar saja padaku.
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Bab 20: Berjalan di Atas Lapisan Kaca Tipis"Aku akan membunuhmu kalau bergerak."Deg!Ray teringat dengan jelas bab terakhir novel 'Pembalasan Istri yang Teraniaya'. Ghea, yang sudah bangkit, akhirnya membalas dendam dengan membunuh tokoh antagonis 'Rayyan Danendra', lalu jasadnya habis dimakan ikan piranha. Kata-kata yang barusan diucapkan Ghea sangat identik dengan dialog Ghea sebelum ia menghabisi nyawa 'Rayyan' yang asli.'Gawat. Benar-benar gawat,' pikir Ray dengan napas yang mulai tidak teratur.Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Kesimpulan mengerikan mulai terbentuk di kepalanya: Ghea mungkin belum melupakan balas dendamnya. Semua kebaikan yang ditunjukkan Ray kemarin, mulai dari membawa Alea ke rumah sakit hingga bersikap baik pada Ghea, mungkin belum cukup untuk meyakinkan perempuan itu kalau dia serius untuk berubah.'Dia masih menyimpan niat membunuh itu jauh di lubuk hatinya. Ghea yang sekarang adalah bom waktu. Jika aku salah langkah sedikit saja atau jika aku membiarkan suasana ini menjadi cang
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Bab 19: Sensasi Panas yang MerambatTiba-tiba ....Tes.Ray merasakan sebuah sensasi panas merambat di hidungnya. Sesuatu yang cair dan hangat mulai mengalir turun dengan cepat."Ray?" Ghea membelalakkan matanya, terkejut melihat cairan merah yang keluar dari hidung Ray."A-ah ... tunggu, Ghea. Aku ...." Ray menutupi hidungnya dengan telapak tangan, tapi Ghea sudah melihatnya.Ghea segera bangkit duduk, godaan yang tadi ia tunjukkan untuk menguji Ray seketika menghilang, digantikan oleh ekspresi bingung yang campur aduk. "Kamu mimisan? Kenapa tiba-tiba ….”"Aku tidak apa-apa! Sungguh!" seru Ray dengan suara sengau karena menekan hidungnya. Ia segera melompat turun dari kasur, hampir tersandung kakinya sendiri."Ini ... ini pasti karena hawa dingin saat tidur di lantai tadi! Ya, benar! Pembuluh darahku pasti kaget dengan perubahan suhu!"Ray mengoceh tidak karuan sambil menutupi hidungnya dengan telapak tangannya. Ia merasa sangat bodoh. Bagaimana bisa seorang produser dingin yang sering menolak banyak penyanyi cantik ju
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 18: Tidur Bersama"Ah ... maafkan aku."Hanya itu yang bisa dikatakan Ray setelah mengetahui fakta mengejutkan lainnya. Tidak perlu membantah karena apa yang dilakukan pemilik tubuh asli memang keterlaluan dan dia sebagai orang yang masuk ke tubuh 'Rayyan' yang harus memperbaiki satu per satu masalah yang ditimbulkan olehnya. Dan kalau dipikir-pikir, baru kali ini Ray benar-benar berbagi kamar dengan Ghea setelah malam-malam panjang yang mereka lalui di rumah sakit. Karena itulah, ia baru tahu kalau Ghea dan Alea sering tidur di lantai, sementara 'Rayyan' tidur di kasur dengan nyaman."Aku menghampirimu karena ingin bilang: kamu tidur saja di atas ranjang. Lantainya keras dan dingin. Nanti kamu sakit," tambah Ray dengan wajah serius.Ghea menatapnya dari atas ke bawah dengan ekspresi curiga."K-kenapa?" tanya Ray dengan gugup karena terus diperhatikan.Ghea tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Ray dengan sorot mata yang sulit diartikan."Kenapa?" Ghea mengulang pertanyaan Ray dengan tawa hambar
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 17: Meyakinkan KembaliSetelah makan siang selesai, Ghea membantu Bu Ayu merapikan meja makan, sementara Alea diminta untuk beristirahat kembali di kamar. Namun, saat Ray hendak berdiri untuk membantu, Ghea menahan lengannya."Ikut aku sebentar ke halaman belakang," ucap Ghea dingin, meski matanya tak lagi setajam sebelumnya.Ray mengangguk patuh. Ia mengikuti Ghea menuju halaman belakang yang dekat dengan kebun kecil milik ayahnya. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membawa aroma tanah basah dan dedaunan segar.Ghea berbalik, melipat tangannya di dada. "Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kamu mainkan, Ray. Apakah ini cara baru untuk memeras uang dari Papa? Atau kamu sedang terlibat masalah besar dengan rentenir sehingga kamu berakting jadi 'anak baik' agar kami melindungimu?"Ray menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak sedang bermain peran, Ghea. Apa yang kukatakan di taman belakang rumah sakit itu benar: aku pasti berubah. Dan aku tidak butuh uang Papa. Aku hanya ... baru sadar kalau aku hampir k
Last Updated: 2026-04-12