author-banner
Ershita
Ershita
Author

Novel-novel oleh Ershita

Selir Ke-7

Selir Ke-7

Nihara Xuyue, wanita misterius yang jatuh dari celah dimensi, dituduh penyusup dan dijadikan Selir ke-7 Kaisar Tian Yanzhou. Tak seorang pun tahu, di balik senyum lembutnya tersembunyi kekuatan yang mampu mengguncang langit, Petir Sutra Ketiadaan. Ia bukan sekadar selir, melainkan Saint King dari Alam Ketiadaan. Demi misi rahasia, ia harus menyembunyikan identitasnya, berpura-pura lemah, dan bertahan di tengah kecemburuan Permaisuri serta enam selir lainnya yang ingin menghancurkannya. Namun ketika darah mulai tertumpah dan kekuatan gelap dari Alam Dewa turun, dunia akhirnya menyadari satu kebenaran: “Jangan sentuh Selir Ke-7. Ia adalah kematian yang berwujud keindahan.” Dalam cinta dan kehancuran, siapakah yang akan tetap berdiri di puncak langit?
Baca
Chapter: Bab 26. Jebakan di Taman
Malam itu taman dipenuhi asap tipis, uap dari lentera bercampur bau hangus yang menempel pada batu.Xuyue berdiri di tepi kolam, menggenggam tongkat, kalung Kaisar di lehernya mengingatkan tanggung jawab, potongan pita di tangannya menuntut jawaban.'Ada yang memancing dari dalam,' pikirnya. 'Bukan hanya membakar bukti, mereka ingin memancing reaksi.'Kaisar muncul, wajahnya mengeras. "Apa yang terjadi?""Seseorang mencoba menghancurkan bukti. Seorang pelayan menyelamatkan kotak bertanda stiker lingkar bercabang. Ruilan diketahui mengunjungi kolektor itu semalam.""Tangkap siapa saja yang pergi dari sana malam ini," perintah Kaisar. "Dan cari Ruilan, jangan hancurkan dia tanpa bukti, tapi kurung sampai kita tahu kebenaran."'Kaisar memilih langkah hati-hati,' batin Xuyue. Ia menelusuri pita di tangannya, merasakan jejak resin yang biasa dipakai melapisi barang sebelum dikirim. 'Ada bengkel yang meracik tanda ini.'Penggeledahan terkoordinasi dimulai. Tim Xuyue menemukan sisa tali terp
Terakhir Diperbarui: 2026-10-03
Chapter: Bab 25. Persahabatan Palsu Retak
Penyelidikan ke pelabuhan barat baru dimulai ketika pagi menarik Xuyue kembali ke istana, namun beban malam sebelumnya belum juga lepas dari pundaknya.Di lehernya, kalung Kaisar bergetar samar setiap kali Jiwa Ketiadaan menyentuh nada-nada asing, pengingat, bukan pelindung mutlak.'Kepercayaan itu rapuh,' batinnya. 'Di istana ini, sebuah senyum bisa menjadi belati yang dibungkus pita.' Pikirannya tertambat pada satu nama yang paling tak ia duga, Zhao Ruilan, sahabat yang menutupi pisau dengan tepian tangan.Ruilan muncul di ambang pintu seperti biasa, anggun, mata yang selalu tampak prihatin. "Xuyue, kau terlihat lelah. Mari minum teh sebelum kau pergi."'Ia selalu tahu kapan menampakkan kebaikan,' pikir Xuyue. Ia menerima undangan bukan karena lengah, tapi karena strategi, saksi yang diawasi juga butuh jeda agar tidak jadi pusat kecurigaan. "Baik. Sebentar saja."Mereka duduk menghadap taman kecil. Ruilan menuangkan teh. "Kau melakukan pekerjaan luar biasa kemarin. Mengejutkan betap
Terakhir Diperbarui: 2026-10-03
Chapter: Bab 24. Bayangan Gelap
Malam menyelimuti istana dengan kain hitam yang rapat. Angin membawa bau asin yang samar, jejak pelabuhan masih bergaung di udara.Xuyue berdiri di ambang paviliun, tangan bersandar pada tongkat tersembunyi, merasakan Jiwa Ketiadaan berdenyut menunggu isyarat. Di taman, bayangan bergerak dengan pola, dengan jarak yang diukur.'Mereka tak lagi mengincar sekadar panji,' bisiknya dalam hati. 'Mereka mencari celah yang kutup semalam, atau mencari yang baru.'Dua sosok melesat dalam sunyi di sudut taman, membawa benda berukir lingkar bercabang. Satu sosok lebih tegap, topengnya dihiasi garis merah seperti noda darah kering.Di aula, Kaisar menerima laporan terakhir, tangannya mengepal di gagang tombak. "Tingkatkan ronda di sisi selatan," perintahnya. "Jangan biarkan barang apa pun lewat tanpa pemeriksaan."Xuyue meninggalkan aula diam-diam. Di dekat kolam, sebuah bayangan meloncat dari atap, menaruh panji kecil ke sebuah pilar.Xuyue menutup jarak, bukan dengan lari, tapi dengan gerak yang
Terakhir Diperbarui: 2026-10-03
Chapter: Bab 23. Hadiah Kaisar
Pagi itu istana bergerak dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya, seolah setiap orang menahan napas agar tidak mengusik benang-benang halus yang baru saja dirapikan.Xuyue berjalan melewati koridor, tongkat ketiadaan tersembunyi di balik lengan, merasakan setiap sapuan angin seperti pesan kecil yang lewat.Pasar sudah diperiksa kembali, pengait yang terpasang dibawa, cakram-cakram yang sudah mati dihancurkan.Namun ada sesuatu yang lain, suatu dorongan dari dalam Kaisar, sebuah urgensi yang mengendap di antara kata-katanya belakangan ini.Di aula utama, lentera-lentera diletakkan lebih rapat, memberi bayangan yang rapi.Kaisar menunggu dengan wajah yang tak berubah. Di tangannya tergenggam sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam, diikat pita tipis yang berwarna gelap hampir seperti tinta.Ketika Xuyue melangkah masuk, Kaisar berdiri, menatapnya lama dengan mata yang menyiratkan ribuan percakapan yang belum diucapkan.Di sudut ruangan, Leluhur duduk tanpa memandang, namun jemari
Terakhir Diperbarui: 2026-10-02
Chapter: Bab 22. Kecantikan yang Membunuh
Cahaya hijau itu menetes perlahan dari celah kecil di langit-langit, lalu menjalar seperti tinta yang dicelup ke air.Gumpalan halus merayap menuruni udara dan menyentuh ujung rak bambu, getarannya menular, membuat serat kayu bergetar seolah ada nyawa kecil yang berjalan di antara daun.Yuan Xia menjerit, suaranya terbelah menjadi nada panik yang membuat dua komandan melesat ke depan, tetapi Xuyue mengangkat tongkat satu kali, isyarat kecil yang menahan langkah mereka.'Tenang,' batinnya. 'Semuanya bergerak sesuai rencana kecilku, namun tidak semestinya ada cahaya itu.'"Yang Mulia!" teriak salah satu komandan. "Apa itu?"Xuyue menjawab tanpa mengalihkan matanya dari pintu kecil yang terbuka. "Jangan serang dulu. Kita belum tahu apa yang keluar." Suaranya datar, dipenuhi otoritas yang tidak memaksa namun membuat ruang memilih menurutnya.Ia merasakan jejaring halus yang baru terbentuk di atas kepala, simpul-simpul kecil yang menyentuh benang-benang lain di langit-langit.'Mereka menco
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Chapter: Bab 21. Rahasia yang Terselubung
Pagi merayap lewat kisi-kisi jendela, mengangkat bau lembut dari batu yang basah dan kelopak plum yang jatuh. Taman telah dipulihkan, lentera diganti, jejak retakan menghilang menjadi garis tipis yang tidak menuntut perhatian.Namun udara tetap memegang sisa malam seperti memori yang enggan dilupakan. Xuyue duduk di aula kecil yang menghadap kolam teratai, jemarinya menyentuh tepi meja teh tanpa minum.'Jangan tinggalkan garis yang bisa diikuti,' batinnya. "Diam harus tetap diam."Langkah tenang terdengar dari koridor. Kaisar memasuki paviliun tanpa rombongan, hanya satu komandan berjaga di luar. Wajahnya jernih dan tegang sekaligus. Ia menatap Xuyue dan berhenti di tepi tikar."Keadaan taman sudah dipulihkan," katanya pelan."Panji disimpan di gudang inti. Simpul-simpul yang kau tanam tak terlihat oleh pengawal." Ia menarik napas tipis. "Namun ada satu hal. Dayang baru dari paviliun barat mencoba keluar sebelum fajar.""Yuan Xia," jawab Xuyue tanpa ragu.Kaisar mengangguk. "Ia ketaku
Terakhir Diperbarui: 2026-10-01
Legenda Semesta Beladiri

Legenda Semesta Beladiri

Terlahir dengan bakat luar biasa, LIAR menciptakan seni beladirinya sendiri dari penggabungan Seni Kultivator dan Seni Pendekar di bawah bimbingan dua orang praktisi hebat.Ia bertekad melawan takdir demi menuntut keadilan untuk orang tuanya yang menjadi buronan dari Alam Dewa hingga Alam Suci. Akankah Liar berhasil menjadi Legenda di semesta yang penuh kekacauan...?
Baca
Chapter: 35. Rubah Tua Yang Malang
Tetua Pertama yang melihat Liar ada di samping Gagak Jiwa tampak tersenyum lega karena orang yang bisa menjadi sumbel malapetaka sudah kembali."Syukurlah Tuan Muda Liar sudah kembali dalam keadaan selamat, tetapi siapa lelaki paruh baya tampan di sampingnya?" batin Tetua Pertama."Tetua Pertama, lelaki itu adalah si Gagak Jiwa. Beri tahu para Tetua yang masih lurus untuk tidak memprovokasi binatang iblis yang bersama bocah beku itu.." ujar Leluhur Pertama melalui transmisi suara.Tetua Pertama tampak mengangguk mengerti dan mengirimkan suaranya melalui transmisi suara kepada beberapa Tetua. Sementara Tetua Agung yang sedari tadi bersembunyi di lipatan dimensi menjadi gemetaran melihat Liar masih hidup dan kembali bersama bintang iblis paling menakutkan."Keparat! Bocah sialan itu kenapa masih hidup dan terlihat baik - baik saja bahkan datang bersama bintang iblis yang Leluhur Pertama saja kesulitan menghadapinya..." batin Tetua Agung.Jantungnya tiba - tiba berdegub kencang saat Liar
Terakhir Diperbarui: 2024-09-30
Chapter: 34. Terobosan Gagak Jiwa
Liar mengitari batu bulat kehijauan itu dengan sedikit mengedarkan kekuatan jiwanya. Dan seketika batu bulat besar itu merespon dengan bergetar dan mulai melayang hingga satu kaki serta memancarkan aura kekacauan dan aura kematian yang sangat pekat membuat Liar merasa sangat gembira."Tuan Muda, selubungi batu itu dengan kekuatan jiwamu dan tariklah masuk ke dalam lautan energi dantianmu.." ujar pecahan jiwa tua tiba - tiba.Tanpa menunggu instruksi berikutnya, Liar menyelimuti batu bulat kehijauan itu dengan kekuatan jiwanya dan meletakan batu itu di dalam dantianya. Liar pun mengambil sikap Lotus dan memasuki lautan energinya untuk melihat ada reaksi apa yang akan di timbulkannya.Dan benar saja, energi gabungan dari seni Kultivasi dan seni Pendekar tiba - tiba bergetar dan berputar sangat cepat.WUUUUNNG!SIIIUUTT!BUUUZZ!Batu bulat kehijauan itu terhisap ke dalam pusat energi milik Liar dan sekarang berada di tengah pusat energi itu seolah - olah menjadi intinya. Hal itu membuat
Terakhir Diperbarui: 2024-09-30
Chapter: 33. Pecahan Jiwa Misterius
BUUUZZZ!Liar bersama Gagak Jiwa dihempaskan begitu melewati portal dunia rahasia hingga nyaris terjerembab."Tempat apa ini Senior?" tanya Liar sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh area yang terjangkau oleh pandangannya."Ini dunia rahasia yang aku sendiri tidak tahu namanya meski sudah menguasai tempat ini selama ribuan tahun. Aku akan mengantar Tuan ke suatu tempat yang selalu gagal aku masuki.." jawab Gagak Jiwa penuh semangat.Namun pembawaan Liar yang sangat dingin hanya terlihat biasa saja mendengar penjelasan Gagak Jiwa. Mereka pun menuju tempat yang dimaksud oleh Gagak Jiwa. Setelah terbang selama dua jam akhirnya mereka sampai di sebuah bukit batu yang berwarna hitam kelam.Liar tampak terkejut saat merasakan energi jiwa yang luar biasa terpancar dari sebuah celah sempit yang ada di sisi bukit. Dengan tenang Liar mendekati celah itu meskipun Gagak Jiwa melarangnya namun dia tetap melangkah dengan mantap.SWWOOOSSHH!Tiba - tiba serangan jiwa yang sangat mengerikan meng
Terakhir Diperbarui: 2024-09-30
Chapter: 32. Ancaman Senjata Makan Tuan
Gagak Jiwa melakukan serangan demi serangan main - main penuh kegembiraan disertai tawa mengejek yang tidak pernah berhenti."Hahahahah! Ayo manusia - manusia sombong dan penuh iri dengki, di mana kesombongan kalian sebelumnya?" ejek Gagak Jiwa sambil terus menyerang.Pan Liang merasa sangat kesal meskipun menyadari dia tidak akan mampu meski hanya menghadapi kekuatan main - main Gagak Jiwa. Namun rasa egois dan angkuh yang sudah membatu dalam hatinya membuat dia lupa daratan dan memandang tinggi dirinya sendiri."Ayo gunakan formasi tempur kita! Aku yakin bisa membuat gagak sialan ini terluka!" teriak Pan Liang kepada teman - temannya.Mereka pun membentuk formasi tempur yang selama ini mereka banggakan dalam pertarungan berkelompok. Mereka bergerak dinamis saling silang menyusun serangan yang memang sedikit berhasil membuat Gagak Jiwa kerepotan. Akan tetapi dengan kecepatannya, Gagak Jiwa mampu membalikkan keadaan.Setiap kibasan tongkat Gagak Jiwa terus mereduksi kesadaran jiwa Pan
Terakhir Diperbarui: 2024-09-15
Chapter: 31. Percobaan Mematikan
"Wooii bocah udik! Jangan sombong dan pamer di depanku!" hardik Pan Liang penuh amarah."Ooohh.. sudah sampai kalian. Heeii... senior Pan, apa masalahmu hingga terlihat sangat marah? Aku hanya istirahat sambil menunggu kalian.." jawab Liar sambil tersenyum mengejek.Pan Liang semakin meradang melihat ejekan Liar secara terang - terangan dan bersiap untuk menyerangnya namun di cegah oleh teman - temannya. Pan Liang awalnya sempat berontak namun akhirnya menyadari ucapan teman - temannya dan memilih untuk diam.Liar sendiri hanya menatap tajam mereka dengan tatapan yang sangat dingin. Dan sebagai pelampiasan kekesalannya, Liar mengetuk batu tempatnya tiduran dengan jari telunjuknya.BLAAARR!Batu besar itu pun hancur berkeping - keping membuat teman - teman Pan Liang terkejut dengan wajah pucat. Sementara Pan Liang sendiri merasa jantungnya berdebar keras namun tetap bersikap sombong dan angkuh."Apa kita hanya akan mematung di tempat ini saja? Kapan kita akan sampai di tempat tujuan...
Terakhir Diperbarui: 2024-09-15
Chapter: 30. Dukungan Tetua Pertama
Liar sengaja tidak mengejar binatang iblis spiritual yang terpental namun mengeluarkan pedang bobrok yang kini terlihat lebih mengerikan. Seluruh bilahnya yang berwarna hitam pekat terlihat seperti bulu elang di permukaannya dan kedua sisi tajamnya bergerigi seperti bulu yang rusak oleh angin.Benang - benang jiwa bergoyang di setiap ujung gerigi pada mata pedangnya, sementara aura kekacauan bersinar redup tipis di tengah bilahnya membuat penampilan pedangnya terlihat mengerikan. Binatang iblis spiritual menatap Liar dengan tatapan membunuh dan penuh kebencian."Manusia tidak tahu diri! dengan kekuatan kecilmu itu kau berani menantangku, maka terimalah kematianmu!"WUUUTTT!Bola energi sebesar kelapa dengan aura kekerasan melesat ke arah Liar namun Liar sama sekali tidak panik dan merentangkan kedua tangannya dengan senyum mengejek.PERTAHANAN BADAI JIWA!BOOOMM!Bola energi itu menghantam tubuh Liar dengan telak hingga menimbulkan getaran di sekitarnya disertai asap dan debu yan begi
Terakhir Diperbarui: 2024-09-15
Anda juga akan menyukai
Legenda Kaisar Beladiri
Legenda Kaisar Beladiri
Fantasi · Fanfic
26.9K Dibaca
Warisan Sang Phoenix
Warisan Sang Phoenix
Fantasi · Jimmy Chuu
26.8K Dibaca
MOIROE
MOIROE
Fantasi · Zhi
26.2K Dibaca
Ampun Tuan, Aku Lemas!
Ampun Tuan, Aku Lemas!
Fantasi · Tristar
26.2K Dibaca
Pendekar Gunung Tiga Maut
Pendekar Gunung Tiga Maut
Fantasi · Azka Taslimi
25.9K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status