ホーム / Fantasi / Selir Ke-7 / Bab 26. Jebakan di Taman

共有

Bab 26. Jebakan di Taman

作者: Ershita
last update 公開日: 2026-10-03 15:46:19

Malam itu taman dipenuhi asap tipis, uap dari lentera bercampur bau hangus yang menempel pada batu.

Xuyue berdiri di tepi kolam, menggenggam tongkat, kalung Kaisar di lehernya mengingatkan tanggung jawab, potongan pita di tangannya menuntut jawaban.

'Ada yang memancing dari dalam,' pikirnya. 'Bukan hanya membakar bukti, mereka ingin memancing reaksi.'

Kaisar muncul, wajahnya mengeras. "Apa yang terjadi?"

"Seseorang mencoba menghancurkan bukti. Seorang pelayan menyelamatkan kotak bertanda stiker
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Selir Ke-7   Bab 26. Jebakan di Taman

    Malam itu taman dipenuhi asap tipis, uap dari lentera bercampur bau hangus yang menempel pada batu.Xuyue berdiri di tepi kolam, menggenggam tongkat, kalung Kaisar di lehernya mengingatkan tanggung jawab, potongan pita di tangannya menuntut jawaban.'Ada yang memancing dari dalam,' pikirnya. 'Bukan hanya membakar bukti, mereka ingin memancing reaksi.'Kaisar muncul, wajahnya mengeras. "Apa yang terjadi?""Seseorang mencoba menghancurkan bukti. Seorang pelayan menyelamatkan kotak bertanda stiker lingkar bercabang. Ruilan diketahui mengunjungi kolektor itu semalam.""Tangkap siapa saja yang pergi dari sana malam ini," perintah Kaisar. "Dan cari Ruilan, jangan hancurkan dia tanpa bukti, tapi kurung sampai kita tahu kebenaran."'Kaisar memilih langkah hati-hati,' batin Xuyue. Ia menelusuri pita di tangannya, merasakan jejak resin yang biasa dipakai melapisi barang sebelum dikirim. 'Ada bengkel yang meracik tanda ini.'Penggeledahan terkoordinasi dimulai. Tim Xuyue menemukan sisa tali terp

  • Selir Ke-7   Bab 25. Persahabatan Palsu Retak

    Penyelidikan ke pelabuhan barat baru dimulai ketika pagi menarik Xuyue kembali ke istana, namun beban malam sebelumnya belum juga lepas dari pundaknya.Di lehernya, kalung Kaisar bergetar samar setiap kali Jiwa Ketiadaan menyentuh nada-nada asing, pengingat, bukan pelindung mutlak.'Kepercayaan itu rapuh,' batinnya. 'Di istana ini, sebuah senyum bisa menjadi belati yang dibungkus pita.' Pikirannya tertambat pada satu nama yang paling tak ia duga, Zhao Ruilan, sahabat yang menutupi pisau dengan tepian tangan.Ruilan muncul di ambang pintu seperti biasa, anggun, mata yang selalu tampak prihatin. "Xuyue, kau terlihat lelah. Mari minum teh sebelum kau pergi."'Ia selalu tahu kapan menampakkan kebaikan,' pikir Xuyue. Ia menerima undangan bukan karena lengah, tapi karena strategi, saksi yang diawasi juga butuh jeda agar tidak jadi pusat kecurigaan. "Baik. Sebentar saja."Mereka duduk menghadap taman kecil. Ruilan menuangkan teh. "Kau melakukan pekerjaan luar biasa kemarin. Mengejutkan betap

  • Selir Ke-7   Bab 24. Bayangan Gelap

    Malam menyelimuti istana dengan kain hitam yang rapat. Angin membawa bau asin yang samar, jejak pelabuhan masih bergaung di udara.Xuyue berdiri di ambang paviliun, tangan bersandar pada tongkat tersembunyi, merasakan Jiwa Ketiadaan berdenyut menunggu isyarat. Di taman, bayangan bergerak dengan pola, dengan jarak yang diukur.'Mereka tak lagi mengincar sekadar panji,' bisiknya dalam hati. 'Mereka mencari celah yang kutup semalam, atau mencari yang baru.'Dua sosok melesat dalam sunyi di sudut taman, membawa benda berukir lingkar bercabang. Satu sosok lebih tegap, topengnya dihiasi garis merah seperti noda darah kering.Di aula, Kaisar menerima laporan terakhir, tangannya mengepal di gagang tombak. "Tingkatkan ronda di sisi selatan," perintahnya. "Jangan biarkan barang apa pun lewat tanpa pemeriksaan."Xuyue meninggalkan aula diam-diam. Di dekat kolam, sebuah bayangan meloncat dari atap, menaruh panji kecil ke sebuah pilar.Xuyue menutup jarak, bukan dengan lari, tapi dengan gerak yang

  • Selir Ke-7   Bab 23. Hadiah Kaisar

    Pagi itu istana bergerak dengan ritme yang lebih lambat dari biasanya, seolah setiap orang menahan napas agar tidak mengusik benang-benang halus yang baru saja dirapikan.Xuyue berjalan melewati koridor, tongkat ketiadaan tersembunyi di balik lengan, merasakan setiap sapuan angin seperti pesan kecil yang lewat.Pasar sudah diperiksa kembali, pengait yang terpasang dibawa, cakram-cakram yang sudah mati dihancurkan.Namun ada sesuatu yang lain, suatu dorongan dari dalam Kaisar, sebuah urgensi yang mengendap di antara kata-katanya belakangan ini.Di aula utama, lentera-lentera diletakkan lebih rapat, memberi bayangan yang rapi.Kaisar menunggu dengan wajah yang tak berubah. Di tangannya tergenggam sebuah kotak kecil berlapis beludru hitam, diikat pita tipis yang berwarna gelap hampir seperti tinta.Ketika Xuyue melangkah masuk, Kaisar berdiri, menatapnya lama dengan mata yang menyiratkan ribuan percakapan yang belum diucapkan.Di sudut ruangan, Leluhur duduk tanpa memandang, namun jemari

  • Selir Ke-7   Bab 22. Kecantikan yang Membunuh

    Cahaya hijau itu menetes perlahan dari celah kecil di langit-langit, lalu menjalar seperti tinta yang dicelup ke air.Gumpalan halus merayap menuruni udara dan menyentuh ujung rak bambu, getarannya menular, membuat serat kayu bergetar seolah ada nyawa kecil yang berjalan di antara daun.Yuan Xia menjerit, suaranya terbelah menjadi nada panik yang membuat dua komandan melesat ke depan, tetapi Xuyue mengangkat tongkat satu kali, isyarat kecil yang menahan langkah mereka.'Tenang,' batinnya. 'Semuanya bergerak sesuai rencana kecilku, namun tidak semestinya ada cahaya itu.'"Yang Mulia!" teriak salah satu komandan. "Apa itu?"Xuyue menjawab tanpa mengalihkan matanya dari pintu kecil yang terbuka. "Jangan serang dulu. Kita belum tahu apa yang keluar." Suaranya datar, dipenuhi otoritas yang tidak memaksa namun membuat ruang memilih menurutnya.Ia merasakan jejaring halus yang baru terbentuk di atas kepala, simpul-simpul kecil yang menyentuh benang-benang lain di langit-langit.'Mereka menco

  • Selir Ke-7   Bab 21. Rahasia yang Terselubung

    Pagi merayap lewat kisi-kisi jendela, mengangkat bau lembut dari batu yang basah dan kelopak plum yang jatuh. Taman telah dipulihkan, lentera diganti, jejak retakan menghilang menjadi garis tipis yang tidak menuntut perhatian.Namun udara tetap memegang sisa malam seperti memori yang enggan dilupakan. Xuyue duduk di aula kecil yang menghadap kolam teratai, jemarinya menyentuh tepi meja teh tanpa minum.'Jangan tinggalkan garis yang bisa diikuti,' batinnya. "Diam harus tetap diam."Langkah tenang terdengar dari koridor. Kaisar memasuki paviliun tanpa rombongan, hanya satu komandan berjaga di luar. Wajahnya jernih dan tegang sekaligus. Ia menatap Xuyue dan berhenti di tepi tikar."Keadaan taman sudah dipulihkan," katanya pelan."Panji disimpan di gudang inti. Simpul-simpul yang kau tanam tak terlihat oleh pengawal." Ia menarik napas tipis. "Namun ada satu hal. Dayang baru dari paviliun barat mencoba keluar sebelum fajar.""Yuan Xia," jawab Xuyue tanpa ragu.Kaisar mengangguk. "Ia ketaku

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status