author-banner
Rik_Da
Rik_Da
Author

Novels by Rik_Da

Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran

Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran

Di sebuah desa terpencil bernama Ashvale, dia hanyalah Kael, seorang anak miskin yang dicap sebagai anak haram. Nama aslinya adalah Kaelan, satu-satunya pewaris Kerajaan Aetherion, sekaligus pemilik Tulang Dewa Kuno, sebuah kekuatan yang telah menghapus seluruh ingatannya. Ketika dunia berusaha menginjak-injaknya, naluri seorang penguasa mulai bangkit dalam dirinya. Dengan kekuatan yang mampu menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya dan kecerdasan yang melampaui pemahaman manusia, dia mengubah setiap penghinaan menjadi kekaguman. Dari seorang anak yang tak pernah dianggap berharga, Kaelan bangkit menjadi sosok yang bahkan mampu membuat para raja berlutut di hadapannya.
Read
Chapter: Chapter 21
Felicia masih gemetar hebat. Napasnya tersengal. Dia mengangguk pelan, tapi kemudian menyadari sesuatu. Jaket dan kemejanya robek besar di bagian bahu dan punggung akibat tersangkut tadi, memperlihatkan kulit dan tali pakaian dalamnya. Felicia refleks menyilangkan tangan menutupi dadanya, wajahnya merah padam karena malu dan takut. Tanpa banyak bicara, Kaelan berdiri. Dia menarik ujung kaos hitamnya. Kaelan melepas kaosnya. Seketika, mata semua orang, terutama para siswi dan guru membelalak. Di balik kaos lusuh itu, tersimpan tubuh yang bagaikan karya seni pahatan Michelangelo. Tubuh Kaelan tidak kurus kering seperti dugaan mereka. Tubuhnya tegap, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, simetris, dan padat. Tidak berlebihan seperti binaragawan, tapi atletis sempurna. Dan yang paling mengejutkan adalah kulitnya. Kulit Kaelan putih bersih, mulus tanpa cacat sedikit pun. Tidak ada noda, tidak ada ruam, tidak ada bekas luka goresan ranting, dan tidak ada tanda-tanda kerja kasar.
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Chapter 20
Kaelan berjongkok di tepi tebing yang agak curam, tangannya memetik sebatang tumbuhan paku yang tumbuh subur di sela bebatuan. "Ini Diplazium esculentum, atau orang sini menyebutnya pakis sayur," jelas Kaelan sambil menunjukkan daun mudanya yang menggulung. "Lihat ujungnya yang melingkar ini? Ini bagian yang paling enak dan kaya serat. Tapi hati-hati, jangan tertukar dengan pakis palem atau Cycas rumphii, karena itu beracun kalau tidak diolah benar." Felicia mengangguk antusias, tangannya sibuk mencatat di papan jalan. "Kamu sangat hebat, Kael. Kamu hafal semuanya." "Hanya pengetahuan dasar bertahan hidup," jawab Kaelan rendah hati. Namun, kedamaian diskusi ilmiah itu pecah. KRESAK! Telinga Kaelan yang tajam mendengar suara langkah kaki mengendap-endap. Tapi sebelum Kaelan sempat bereaksi, Felicia yang posisinya menghadap ke belakang sudah melihatnya lebih dulu. Dia melihat Kevin dan tiga temannya muncul dari balik semak-semak dengan wajah bengis, memegang balok kayu, siap memu
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Chapter 19
Pagi harinya, kabut tipis masih menyelimuti area perkemahan. Setelah sarapan roti dan susu, rombongan study tour itu bersiap melakukan kegiatan inti: observasi alam. Mereka membawa papan jalan, kertas kerja, dan alat tulis. Tugas mereka adalah meneliti ekosistem di sekitar Air Terjun Bridal, mencatat jenis flora, fauna, dan karakteristik bebatuan. Suasana pagi itu terasa canggung. Siswa-siswi yang semalam mengejek Kaelan kini menatapnya dengan pandangan segan, namun gengsi mereka terlalu tinggi untuk meminta maaf. Mereka hanya berbisik-bisik sambil melirik ke arah pemuda yang sedang berdiri tenang di dekat pohon pinus itu. Bella, si ketua geng cantik, merapikan rambutnya. Dia berjalan menghampiri Kaelan dengan dagu diangkat tinggi, diikuti dua dayangnya. “Heh, Kael,” panggil Bella dengan nada ketus yang dipaksakan. Kaelan menoleh pelan. “Ya?” Bella berdeham, mencoba terlihat berwibawa meski matanya mencuri pandang ke arah jari-jari tangan Kaelan yang semalam memainkan gitar deng
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Chapter 18
Malam turun menyelimuti area perkemahan di pinggir hutan Curug Pengantin. Udara dingin pegunungan mulai menusuk tulang, namun api unggun besar yang dinyalakan di tengah lapangan memberikan kehangatan yang cukup. Puluhan siswa-siswi elit ibu kota itu duduk melingkar. Mereka tertawa, memanggang marshmallow, dan bernyanyi-nyanyi riang diiringi petikan gitar salah satu siswa. Suasana sangat meriah, penuh canda tawa khas remaja kota yang sedang lepas dari beban sekolah. Di luar lingkaran cahaya api unggun, Kaelan dan Brad berdiri di kegelapan, bersandar pada batang pohon pinus. Tugas mereka sebagai pemandu masih berlaku: menjaga keamanan sampai anak-anak ini tidur. “Enak banget ya jadi orang kaya, Bos,” bisik Brad sambil mengunyah sisa roti yang tadi diberikan Felicia. “Hidup kayak nggak ada beban. Nyanyi-nyanyi doang.” Kaelan hanya diam, matanya menatap nyalang ke arah api unggun. Dia tidak iri. Dia hanya merasa asing dengan konsep "bahagia tanpa beban" itu. Tiba-tiba, suara tawa di
Last Updated: 2026-10-03
Chapter: Chapter 18
Saat melewati sebuah turunan curam yang berbatu licin. Sepatu boots milik Felicia menginjak lumut basah. “Ah!” Felicia memekik kaget. Tubuhnya oleng ke samping. Di sebelahnya adalah lereng terjal yang penuh semak berduri. Teman-temannya yang lain sibuk main HP, tidak ada yang sigap. GRAB. Refleks tubuh Kaelan bekerja lebih cepat dari pikirannya. Tangan kirinya mencengkeram lengan atas Felicia dengan kuat. Sangat kuat. Felicia membuka mata. Dia melihat Kaelan. Bocah kampung yang sedari tadi dihina itu entah bagaimana sudah berada di sampingnya dalam sekejap mata, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Felicia melihat mata Kaelan dari jarak dekat. Mata itu ... aneh. Bukan mata anak kampung yang minder. Itu mata yang sangat tenang, seolah situasi bahaya ini bukan apa-apa baginya. “Hati-hati. Pijak batu yang warnanya abu-abu, jangan yang hijau. Yang hijau licin,” ucap Kaelan datar, memberi instruksi praktis. Dia menarik Felicia kem
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Chapter 17
Keesokan paginya, sinar matahari baru saja menyapu kabut di Desa Ashvale ketika deru mesin diesel memecah keheningan. Bukan truk tentara, melainkan lima bus pariwisata ber-AC yang mengkilap. Kaca-kacanya gelap, bodinya mulus tanpa goresan, kontras sekali dengan jalanan desa yang berdebu. Itu adalah rombongan *Study Tour* dari sebuah High School Internasional elit di ibu kota. Karena liburan semester, mereka memilih destinasi alam yang sedang hits di media sosial: Air Terjun 'Curug Pengantin' di Ashvale. Namun, begitu bus terdepan hendak masuk ke area parkir wisata, mereka dihadang oleh palang besi dan dua orang tentara bersenjata lengkap. Pihak sekolah sempat panik, namun akhirnya diizinkan masuk dengan syarat harus menyewa pemandu warga lokal demi keamanan. Berita itu menyebar cepat ke telinga Brad. “Bos! Bos Kael!” Brad berlari menghampiri Kaelan yang sedang duduk di teras rumah. “Ada mangsa empuk! Anak-anak kota datang lima bus! Kita disuruh Mr. Arthur jadi pemandu. Bayar
Last Updated: 2026-10-02
PEMBALASAN RAJA ARADORN

PEMBALASAN RAJA ARADORN

Raja muda Herley tidak pernah menyangka pengkhianatan akan datang dari dua orang yang paling dia percayai: permaisuri yang dia cintai dan jenderal yang dia anggap sebagai saudara. Tubuhnya yang tidak sadarkan diri dilempar ke jurang, diharapkan mati dimangsa binatang buas. Namun, takdir berkata lain. Herley terbangun di zaman modern, terpisah jauh dari kerajaannya. Saat menyelamatkan miliarder Leo dan Calista dari kecelakaan, nasibnya berubah. Calista, terkesan dengan kekuatannya, menjadikannya bodyguard pribadi. Namun, kenyamanan hidup baru mereka terguncang saat pesta di kapal pesiar berubah menjadi mimpi buruk. Mereka terdampar di pulau misterius yang dihuni monster raksasa. Di tengah perjuangan bertahan hidup di pulau penuh bahaya, ingatan Herley mulai kembali. Dia teringat pengkhianatan permaisurinya dan bertekad untuk membalas dendam. Namun, sebelum itu, dia harus mencari jalan keluar dari pulau yang penuh dengan makhluk buas. "Pembalasan Raja Aradorn" adalah kisah epik tentang pengkhianatan, balas dendam, dan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia yang penuh bahaya. Temukan bagaimana Herley, mengklaim kembali takdirnya dalam petualangan yang menegangkan dan penuh aksi ini.
Read
Chapter: Bab 30
Calista menutup mulutnya, ngeri melihat pemandangan itu. “Harley, kita tidak akan berhasil. Kita semua akan tenggelam...”Harley memutar otaknya cepat. Dia harus membuat keputusan yang tepat. “Tidak, kita masih bisa selamat. Ayo, kita menuju sekoci terakhir. Aku akan memastikan kau naik ke sana.”Dengan sigap, Harley menuntun Calista menuju sekoci terakhir yang masih ada. Penumpang lain sudah mulai memenuhi tempat itu, tetapi Harley tidak ragu. Dia mengangkat Calista ke atas sekoci, memastikan dia duduk dengan aman sebelum naik sendiri.“Kau aman di sini,” katanya sambil menggenggam tangan Calista, mencoba menenangkan wanita itu.Namun, baru saja mereka duduk, tiba-tiba ada penumpang lain yang berusaha memaksa masuk ke sekoci, mendorong dengan kasar.“Aku juga harus naik! Ini hidup dan mati!” pria itu berteriak, wajahnya penuh kepanikan.Harley segera berdiri, tubuhnya menegang. “Tenang!” serunya dengan suara tegas. “Kita semua akan turun satu per satu. Tidak ada yang harus panik.”Pr
Last Updated: 2025-02-13
Chapter: Bab 29
Kapal pesiar besar itu semakin terombang-ambing hebat di tengah badai yang mengamuk. Angin kencang dan ombak tinggi mengguncang kapal tanpa ampun, membuat semua yang ada di dalamnya panik dan berusaha menyelamatkan diri. Suara gemuruh badai bercampur dengan jeritan penumpang yang berlarian, mencoba mencari jalan keluar di tengah kekacauan yang semakin memburuk.Di sudut kapal, Harley masih memegangi Leo yang tak berdaya di bawah cengkeramannya. Leo, yang kini sudah lelah melawan, hanya bisa terengah-engah, wajahnya basah oleh keringat dan air hujan yang menetes dari atap. Harley tahu dia tidak bisa terus-menerus menahan Leo, tetapi dia juga tidak bisa membiarkannya bebas. Leo terlalu berbahaya untuk dibiarkan begitu saja, terutama setelah semua yang telah dia lakukan.“Harley, kita harus pergi sekarang, kapal ini akan tenggelam!” seru Calista, yang berdiri tidak jauh darinya, dengan suara gemetar. Tubuhnya masih bergetar ketakutan, meskipun dia berusaha keras untuk tetap tenang.Harle
Last Updated: 2025-02-13
Chapter: Bab 28: Suara Pistol yang Menakutkan
"Sudah cukup, Leo," kata pria itu dengan suara rendah tapi tegas. "Kau tak bisa mengendalikan semuanya. Badai ini akan menghancurkan kita semua, dan uangmu tak akan menyelamatkanmu kali ini."Leo menatap pria itu dengan tatapan penuh kebencian, "Diam! Kau tak tahu apa-apa! Aku akan keluar dari sini hidup-hidup! Dan tak ada yang bisa menghentikanku!"Pria itu menggeleng pelan, seolah menyayangkan kejatuhan Leo ke dalam kegilaan. "Mungkin kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri, Leo, tapi ingatlah ini. Kau akan mati sendirian."Sebelum Leo bisa membalas, pria itu berjalan menuju lemari pelampung yang masih tersisa, diikuti oleh beberapa penumpang lain yang kini lebih memilih mengikuti arahan pria tersebut daripada terjebak dalam kegilaan Leo. Namun, Leo tak peduli. Dia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, apapun caranya.Badai semakin menggila, dan kapal itu pun terus berguncang. Semua orang, termasuk Leo, kini berada di ujung tanduk, di antara hidup dan mati, tak ada yang bisa memast
Last Updated: 2024-08-25
Chapter: Bab 27: Di Ujung Kehancuran
DOOR! Pria berbadan besar itu tergeletak di lantai dek, darah menyembur dari luka tembak di kepalanya. Tubuh yang tadinya penuh tenaga, kini hanya seonggok daging tak bernyawa di bawah kaki Leo. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terdiam sejenak, seolah tak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Leo menatap tubuh tak bernyawa itu dengan tatapan dingin, lalu memutar pistolnya, memastikan tidak ada lagi yang mencoba mengambil apa yang menjadi miliknya. “Dengar baik-baik!” Leo berteriak, suaranya menggema di tengah raungan badai. “Tak ada seorang pun yang boleh merebut milikku! Apapun yang ada di kapal pesiar ini adalah milikku! Dan aku akan mempertahankannya sampai mati!” Para penumpang yang masih bertahan memandangnya dengan ketakutan, tak ada yang berani mendekat. Mereka tahu, di bawah tekanan dan ketakutan, Leo sudah kehilangan kendali. Dia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya sendiri, termasuk mengorbankan nyawa orang lain. Tiba-tiba, suara teriakan lain
Last Updated: 2024-08-25
Chapter: Bab 26: Pertikaian Pelampung
Dengan satu gerakan cepat, Herley menarik Dario ke atas dek, menyelamatkannya dari maut. Pria itu terkapar di lantai dek, tubuhnya basah kuyup dan gemetar. Ia mencoba bangkit, tapi lututnya lemas, membuatnya tersungkur lagi. Herley berdiri di hadapannya, bayangannya menjulang seperti sosok malaikat kematian yang siap menuntut balas."Kau tahu," suara Herley terdengar tenang, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan ancaman dingin, "orang-orang seperti kau selalu merasa di atas segalanya. Uang, kekuasaan, dan status sosial yang kau punya membuatmu merasa tak tersentuh. Tapi lihatlah dirimu sekarang. Tak ada satu pun dari itu yang bisa menyelamatkanmu dari badai ini. Atau dari aku."Dario menelan ludah, napasnya tersengal-sengal. "Aku... aku minta maaf, sungguh... aku benar-benar menyesal..."Herley menggeleng pelan, tatapannya penuh penghinaan. "Kata-kata itu, tak ada artinya bagiku. Penyesalanmu hanya muncul saat kau berada di ujung kematian. Kalau badai ini tak perna
Last Updated: 2024-08-22
Chapter: Bab 25: Tak Ada Ampunan!
Dua pengawal yang tadinya hendak mendorong Herley ke laut kini berusaha keras bertahan dari badai yang semakin menggila. Mereka terpental ke samping, jatuh menabrak pagar dek. Tali yang mengikat Herley mulai longgar karena guncangan yang tak terkendali. Dengan gerakan cepat, pria itu menggoyangkan tubuhnya, melepaskan diri dari lilitan tali kapal yang keras. Setelah itu, ia berdiri tegak di tengah dek, di mana angin dan ombak seolah enggan menyentuhnya.Dario yang masih berusaha berdiri, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ini tidak mungkin!" teriaknya, matanya melotot ke arah Herley yang kini bebas dari ikatan. "Kau seharusnya tidak bisa lolos!"Herley melangkah perlahan ke arah Dario, setiap langkahnya stabil meski kapal berguncang hebat. "Kalian pikir bisa mengendalikan segalanya dengan uang dan kekuasaan," kata Herley dengan suara yang tenang namun penuh ancaman. "Tapi kalian lupa satu hal... alam tidak bisa dibeli."Dario yang mulai ketakutan, mundur sambil meraba-raba paga
Last Updated: 2024-08-22
You May Also Like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status