Partager

Chapter 18

Auteur: Rik_Da
last update Date de publication: 2026-10-03 13:56:50

Malam turun menyelimuti area perkemahan di pinggir hutan Curug Pengantin. Udara dingin pegunungan mulai menusuk tulang, namun api unggun besar yang dinyalakan di tengah lapangan memberikan kehangatan yang cukup.

Puluhan siswa-siswi elit ibu kota itu duduk melingkar. Mereka tertawa, memanggang marshmallow, dan bernyanyi-nyanyi riang diiringi petikan gitar salah satu siswa. Suasana sangat meriah, penuh canda tawa khas remaja kota yang sedang lepas dari beban sekolah.

Di luar lingkaran cahaya a
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 21

    Felicia masih gemetar hebat. Napasnya tersengal. Dia mengangguk pelan, tapi kemudian menyadari sesuatu. Jaket dan kemejanya robek besar di bagian bahu dan punggung akibat tersangkut tadi, memperlihatkan kulit dan tali pakaian dalamnya. Felicia refleks menyilangkan tangan menutupi dadanya, wajahnya merah padam karena malu dan takut. Tanpa banyak bicara, Kaelan berdiri. Dia menarik ujung kaos hitamnya. Kaelan melepas kaosnya. Seketika, mata semua orang, terutama para siswi dan guru membelalak. Di balik kaos lusuh itu, tersimpan tubuh yang bagaikan karya seni pahatan Michelangelo. Tubuh Kaelan tidak kurus kering seperti dugaan mereka. Tubuhnya tegap, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna, simetris, dan padat. Tidak berlebihan seperti binaragawan, tapi atletis sempurna. Dan yang paling mengejutkan adalah kulitnya. Kulit Kaelan putih bersih, mulus tanpa cacat sedikit pun. Tidak ada noda, tidak ada ruam, tidak ada bekas luka goresan ranting, dan tidak ada tanda-tanda kerja kasar.

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 20

    Kaelan berjongkok di tepi tebing yang agak curam, tangannya memetik sebatang tumbuhan paku yang tumbuh subur di sela bebatuan. "Ini Diplazium esculentum, atau orang sini menyebutnya pakis sayur," jelas Kaelan sambil menunjukkan daun mudanya yang menggulung. "Lihat ujungnya yang melingkar ini? Ini bagian yang paling enak dan kaya serat. Tapi hati-hati, jangan tertukar dengan pakis palem atau Cycas rumphii, karena itu beracun kalau tidak diolah benar." Felicia mengangguk antusias, tangannya sibuk mencatat di papan jalan. "Kamu sangat hebat, Kael. Kamu hafal semuanya." "Hanya pengetahuan dasar bertahan hidup," jawab Kaelan rendah hati. Namun, kedamaian diskusi ilmiah itu pecah. KRESAK! Telinga Kaelan yang tajam mendengar suara langkah kaki mengendap-endap. Tapi sebelum Kaelan sempat bereaksi, Felicia yang posisinya menghadap ke belakang sudah melihatnya lebih dulu. Dia melihat Kevin dan tiga temannya muncul dari balik semak-semak dengan wajah bengis, memegang balok kayu, siap memu

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 19

    Pagi harinya, kabut tipis masih menyelimuti area perkemahan. Setelah sarapan roti dan susu, rombongan study tour itu bersiap melakukan kegiatan inti: observasi alam. Mereka membawa papan jalan, kertas kerja, dan alat tulis. Tugas mereka adalah meneliti ekosistem di sekitar Air Terjun Bridal, mencatat jenis flora, fauna, dan karakteristik bebatuan. Suasana pagi itu terasa canggung. Siswa-siswi yang semalam mengejek Kaelan kini menatapnya dengan pandangan segan, namun gengsi mereka terlalu tinggi untuk meminta maaf. Mereka hanya berbisik-bisik sambil melirik ke arah pemuda yang sedang berdiri tenang di dekat pohon pinus itu. Bella, si ketua geng cantik, merapikan rambutnya. Dia berjalan menghampiri Kaelan dengan dagu diangkat tinggi, diikuti dua dayangnya. “Heh, Kael,” panggil Bella dengan nada ketus yang dipaksakan. Kaelan menoleh pelan. “Ya?” Bella berdeham, mencoba terlihat berwibawa meski matanya mencuri pandang ke arah jari-jari tangan Kaelan yang semalam memainkan gitar deng

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 18

    Malam turun menyelimuti area perkemahan di pinggir hutan Curug Pengantin. Udara dingin pegunungan mulai menusuk tulang, namun api unggun besar yang dinyalakan di tengah lapangan memberikan kehangatan yang cukup. Puluhan siswa-siswi elit ibu kota itu duduk melingkar. Mereka tertawa, memanggang marshmallow, dan bernyanyi-nyanyi riang diiringi petikan gitar salah satu siswa. Suasana sangat meriah, penuh canda tawa khas remaja kota yang sedang lepas dari beban sekolah. Di luar lingkaran cahaya api unggun, Kaelan dan Brad berdiri di kegelapan, bersandar pada batang pohon pinus. Tugas mereka sebagai pemandu masih berlaku: menjaga keamanan sampai anak-anak ini tidur. “Enak banget ya jadi orang kaya, Bos,” bisik Brad sambil mengunyah sisa roti yang tadi diberikan Felicia. “Hidup kayak nggak ada beban. Nyanyi-nyanyi doang.” Kaelan hanya diam, matanya menatap nyalang ke arah api unggun. Dia tidak iri. Dia hanya merasa asing dengan konsep "bahagia tanpa beban" itu. Tiba-tiba, suara tawa di

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 18

    Saat melewati sebuah turunan curam yang berbatu licin. Sepatu boots milik Felicia menginjak lumut basah. “Ah!” Felicia memekik kaget. Tubuhnya oleng ke samping. Di sebelahnya adalah lereng terjal yang penuh semak berduri. Teman-temannya yang lain sibuk main HP, tidak ada yang sigap. GRAB. Refleks tubuh Kaelan bekerja lebih cepat dari pikirannya. Tangan kirinya mencengkeram lengan atas Felicia dengan kuat. Sangat kuat. Felicia membuka mata. Dia melihat Kaelan. Bocah kampung yang sedari tadi dihina itu entah bagaimana sudah berada di sampingnya dalam sekejap mata, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Felicia melihat mata Kaelan dari jarak dekat. Mata itu ... aneh. Bukan mata anak kampung yang minder. Itu mata yang sangat tenang, seolah situasi bahaya ini bukan apa-apa baginya. “Hati-hati. Pijak batu yang warnanya abu-abu, jangan yang hijau. Yang hijau licin,” ucap Kaelan datar, memberi instruksi praktis. Dia menarik Felicia kem

  • Tulang Dewa Kuno di Tubuh Pangeran   Chapter 17

    Keesokan paginya, sinar matahari baru saja menyapu kabut di Desa Ashvale ketika deru mesin diesel memecah keheningan. Bukan truk tentara, melainkan lima bus pariwisata ber-AC yang mengkilap. Kaca-kacanya gelap, bodinya mulus tanpa goresan, kontras sekali dengan jalanan desa yang berdebu. Itu adalah rombongan *Study Tour* dari sebuah High School Internasional elit di ibu kota. Karena liburan semester, mereka memilih destinasi alam yang sedang hits di media sosial: Air Terjun 'Curug Pengantin' di Ashvale. Namun, begitu bus terdepan hendak masuk ke area parkir wisata, mereka dihadang oleh palang besi dan dua orang tentara bersenjata lengkap. Pihak sekolah sempat panik, namun akhirnya diizinkan masuk dengan syarat harus menyewa pemandu warga lokal demi keamanan. Berita itu menyebar cepat ke telinga Brad. “Bos! Bos Kael!” Brad berlari menghampiri Kaelan yang sedang duduk di teras rumah. “Ada mangsa empuk! Anak-anak kota datang lima bus! Kita disuruh Mr. Arthur jadi pemandu. Bayar

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status