LOGINPasvaati. Pusaka Ajaib tersimpan di Tanapura sejak ratusan tahun silam, menunggu kemunculan Sang Pewaris dengan bakat 'Jiwa Murni'. Taja menelusuri jejak tidak asing. Sepenggal mimpi, ingatan yang patah, Sosok Tak Kasat Mata dan Pusaka Legenda, menghimpun teka-teki kehidupan dirinya. Terbentuklah regu Ksatria Pemanah, kemudian bersama-sama mengerahkan 'Senjata Pamungkas' ke angkasa. * * *
View MoreMia
My phone vibrated in my pocket while I was wiping down the last table in the ballroom.
I froze, the cloth still in my hand, my heart pounding hard against my ribs. Mrs. Betty never called me this late unless something was wrong with Lior.
I glanced around. The ballroom was nearly empty now, just the four of us finishing the cleanup.
Keeping it with me was against hotel policy. If the supervisor caught me, I could lose the job I desperately needed. But rules didn’t matter when your five-year-old son had been born with a hole in his heart.
Lior had been weaker these past few months. He got tired easily. Even playing with his toys sometimes left him breathless.
So tonight, like every night I worked, my neighbor Mrs. Betty was watching him. She lived two houses down and loved Lior like her own grandson.
And right now something had clearly gone wrong.
Jane noticed my expression immediately.
“Go answer it,” she murmured. “I’ll cover for you.”
Jane was the only person at work who knew about Lior’s condition.
“Thank you,” I said, already moving.
The hallway outside the ballroom was empty. I hurried into the stairwell and answered the call with shaking hands.
“Hello?”
“Mia!” Mrs. Betty sounded terrified. “We’re at the hospital.”
The world seemed to tilt beneath my feet.
“What happened?”
“Lior collapsed. He fainted and wouldn’t wake up. I called an ambulance. They took him in right away–”
“I’m coming.”
I hung up and ran for the door.
Tears blurred my vision as I drove through the night, wiping them away angrily. Losing control of the car wouldn’t help my son.
When I burst through the emergency entrance, Mrs. Betty hurried toward me.
“Oh Mia, thank God you’re here.”
“Where is he?” My voice trembled.
“They took him inside. The doctor wants to speak with you.”
Dr. Dean had been Lior’s cardiologist since the day he was born.
I pushed open the door to his office.
He was sitting behind his desk, Lior’s file open in front of him. The look on his face made my stomach drop.
“Mia,” he said gently. “Please sit.”
I shook my head. “I’d rather stand. Just tell me what’s happening with my son.”
He sighed quietly.
“Lior’s condition has worsened. His heart can’t keep up anymore. He needs surgery.”
The room suddenly felt too small.
“For the best chance of recovery, it should be done as soon as possible.”
“How soon?”
“Within a week.”
“God… please,” I whispered.
“And the total cost,” he continued gently, “will be approximately three hundred thousand dollars.”
My knees nearly buckled.
“Three hundred thousand?” My voice cracked. “Doctor… I don’t have that kind of money.”
“I understand how overwhelming that sounds,” he said softly. “But the sooner we operate, the better his chances.”
The next thing I remember, I was standing beside Lior’s hospital bed.
My little boy lay still beneath the white sheets, his small hand wrapped in tape from the IV.
I brushed my fingers through his soft hair.
“My brave boy,” I whispered.
Fear pressed heavily against my chest, but I forced myself to breathe and hold it together. This wasn’t the time to fall apart.
If three hundred thousand dollars was what it took to save my son, I would find it.
The only person I knew who could easily afford that kind of money was my husband, Ruben.
I drove home as fast as I could.
The house was quiet when I stepped inside, but I didn’t stop. I went straight upstairs and pushed open the bedroom door.
Ruben stood beside the bed with a woman wrapped around him, their mouths locked together.
The woman looked startled when she saw me.
A new one. They always looked like that the first time. Later, once Ruben made it clear I meant nothing in this house, they usually started treating me the same way.
In the first few months of our marriage, things like this used to break me.
I would lie in bed and cry quietly into my pillow, especially on the nights Ruben made me change the sheets after them or serve food like I was part of the staff.
But after a while it became impossible to pretend the marriage was anything else. Ruben had married me to punish me.
Once I understood that, I stopped expecting anything different.
The only thing I tried to do was keep Lior away from it all.
“Ruben.”
He pulled away from the woman, irritation flashing across his face.
“Can’t you see I’m busy?”
“I need to talk to you.”
Something in my voice must have caught his attention, because he sighed and waved toward the door.
“Wait in the living room.”
A moment later he joined me, buttoning his shirt.
“What is it?”
“Lior collapsed tonight,” I said quickly. “He’s in the hospital. The doctor says he needs surgery.”
Ruben stared at me without emotion.
“The surgery costs three hundred thousand dollars,” I continued. “I need you to help me borrow the money.”
“Borrow it from where?” he laughed.
“Your company. Your family. Anyone,” I said. “Please.”
His expression hardened. “You expect me to take money from my business for that?”
“For your son.”
“Don’t say that.”
“He calls you Daddy, Ruben.”
“Stop.” His voice turned cold. “Don’t you dare call him mine. You know he isn’t.”
“Please,” I whispered. “I’ll pay you back. Every cent. Just help me save him.”
Ruben looked at me with complete indifference.
“Then go find his real father.”
The last bit of hope I had brought into this house was gone.
He waved a hand dismissively.
“Or let the boy die and save everyone the trouble.”
JAWATA KINGDOMVolume 1. Judul: Pusaka Ajaib. Genre: Fantasi laga, pembaca usia 13+, laki-laki dan perempuan.TEMPAT & WAKTUKisah fantasi epik pada era 10.000 tahun lalu, kehidupan spiritual berbaur teknologi cahaya dan alih materi. Pedang dan sihir. Kanuragan dan senjata. Mitos dan legenda. Menyajikan kisah para ksatria dan keajaibannya. Manusia-manusia berkekuatan magis bertemu laga.PROTAGONISLima peran utama saling terhubung: Radhittama, Taja, Tajura, Raojhin, dan Lorr En, disebut Lima Bersaudara.Peran-peran pendukung: Ketua Sujinsha, Paduka Raghapati, Paduka Pan Vanna, Shaninka, Putri Alingga, Sekar Wening, Shiji Wungsu Sabha, Karitta Satvya, Braja Setta, Sekar Harum, Adhigeni Sasenka, Nivan, Ratu Shachini, Ki Ageng Mukti, Newaja Amangkurat, Pasukan Bayangan, Puan Kinya, Raghil putra Lumeru. Nevkhadda Bhama, Purrawecha Sanggiri. Ditambah sekumpulan orang-orang Adhiwangsa dan orang-orang Sangkanaya._________RADHITTAMA MUARRALINTANGArti Nama: "Putra kesayangan berhati bersih,
Pagi menyingsing bersama embun menyelimuti. Sang Surya bersemu jingga, mengintip dari balik ufuk timur. Wajahnya malu-malu perlahan mulai tampak."Jangan libatkan mereka."Seseorang menyampaikan pesan itu dari mulut Lorr En, dan sekarang diucapkan kembali oleh seorang pemantau. Ia menuturkan laporannya pada Ketua Sujinsha."Dia bertekuk lutut. Kedua kaki dan tangan terikat. Kedua matanya tertutup kain. Ia mengatakan itu kepada pimpinan musuh sehingga melepaskan kami untuk menyampaikan hal ini kepada Tuan."Pemantau dari sekumpulan Pasukan Bayangan. Sekembalinya dari penyisiran sekitar perbatasan, sempat bertemu musuh. Ia ditangkap, kemudian sengaja dilepaskan untuk menyampaikan pesan itu kepada Ketua Sujinsha. Tujuannya agar Pasukan Bayangan menyerahkan diri dan mengembalikan Raojhin kepada pihak musuh.Pemantau itu melaporkan informasi sepenuhnya kepada Ketua Sujinsha tentang tertangkapnya Lorr En, tentu membuat cemas Pasukan Bayangan.Ketua Sujinsha tertegun sebentar. Tegang dalam p
Satu orang kembali. Justru satu lagi menghilang. Seakan hanya bertukar saja.________"Jaga gudang mayat!"Teriakan penjaga menjadi petunjuk tempat Raojhin disembunyikan. Orang-orang saling melempar tugas. Hiruk pikuk situasi di kawasan pangkalan Pasukan Pembantai. Masing-masing pemimpin sibuk mengumpulkan sejumlah pasukan untuk dikerahkan ke luar pangkalan.Sesosok makhluk dari tanah, tersembul ke permukaan dan meluncur dalam pusaran pasir. Kemudian gesit wujudnya menjelma gumpalan tanah pasir menggelinding."Hup!" tubuh itu menggelinding sampai ke sisi bayang-bayang tenda dan terhenti.Rupanya manusia yang meringkuk dari gumpalan tanah pasir. Tak lain adalah Taja. Selimut tanah pasir, luruh dari tubuhnya. Sembari kebas seluruh baju, Taja memasang waspada, tatap matanya sekeliling arah. Tampak lenggang keadaan sekitar.Di tengah-tengah situasi tak menentu, akibat makhluk pasir bekerja secara efektif. Berhasil mengalihkan seisi pangkalan pembantai dan mengacaukan suasana. Taja berhasi
Hantu Pasir. Penghuni gaib Perbatasan Tengkorak. Makhluk penghisap siapapun yang hidup di permukaan tanah.________Deru pasir debu menyatu.Langit malam kian larut. Kantuk mengendap dalam penat orang-orang sedang berjaga-jaga di setiap titik kawasan pangkalan. Sejengkal pun tidak ada yang luput dari pengawasan mata regu pemantau, sibuk mengawasi penjuru arah dari tiang-tiang tinggi.Pangkalan pembantai tak pernah mengenal tidur. Kawasan merah dengan rona kobaran api. Sejauh mata menangkap kegelapan, titik-titik bara bersumber api unggun. Udara menerbangkan abu pijar dari bara meredup.Barisan regu giliran jaga malam bertukar tugas. Pasukan Pembantai dalam naungan gelap malam, tampak lebih waspada dan sangar wajah mereka.Pemimpin-pemimpinnya memasang erat penutup kepala bertanduk. Gading-gading gajah dipasang tegak lurus ujung lancipnya menghadap ke atas. Pertanda pemimpin baling berkuasa sedang berada di antara pasukan berkumpul.Beberapa orang tampak lalu lalang, tergesa-gesa dalam
Batu menjerit dan bergerak. Wujud semula bongkahan, ternyata jubah kamuflase menyerupai batu, menyingkap sesuatu tersembunyi di baliknya.________Elang Pembantai.Jenis pasukan terbang pembantai. Semakin banyak jumlahnya, berdatangan ke tempat itu. Menggantikan pasukan pembantai berkuda yang sudah kal
Senja berlalu. Langit mulai gelap. Pasukan Pembantai telah tewas dalam amukan tebas pedang. ________ Pasukan Pembantai baris ke-dua, tegang menyaksikan barisan pertama berjatuhan. Tubuh remuk patah tulang manusia dan kuda. Tak berkutik, terkapar di tanah, orang-orang dan kuda kesakitan akibat pata
Perkebunan cempaka putih sedang mekar-mekarnya. Bunga-bunga sekeranjang dikumpulkan para petani bunga. Sekuntum cempaka putih di tangan.________Pasukan berkuda mengibarkan panji-panji hijau bersimbol Elang Emas, melaju kecepatan penuh. Tiada henti seharian menempuh jarak jauh. Hingga sore hari, Pasu
Pasukan Pembantai sedang gencar-gencarnya memburu Bocah Malapetaka. Kebetulan kamu mirip dengan dia.________"Jalur menuju Lembah Arwah, ke sana ...," kata Ki Ratma, menunjuk ke satu arah berlawanan dari yang ditemukan jejak rerumputan."Mereka mengecoh jejak," lanjut Ki Ratma. Taja dan Lorr En terper






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore