LOGINAku, seorang piatu, sejak aku dilahirkan. Aku mempunyai teman bernama Ratna. Pertemanan kami sudah lama, semenjak duduk di bangku SMP, hingga sekarang. Aku, dituntun untuk segera menikah oleh Papa, jika tidak aku akan dijodohkan. Disaat yang sama Ratna memperkenalkanku, dengan seorang pria bernama Bagas. Akhirnya aku menerima Bagas, sebagai kekasihku karena tuntutan Papa. Aku tidak mau dijodohkan dengan Andre, pilihan Papa. Karena orangnya jutek, sinis, serta sikapnya dingin seperti kutub utara. Hubungan kami pun serius, sampai mau melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi saat semuanya hampir terjadi, aku menemukan kejadian yang membuat aku urung untuk menikah dengan Bagas. Acara Pernikahan tetap digelar, hanya demi membongkar apa yang belum diketahui keluargaku, serta keluarga Bagas. Pernikahanku dengan Bagas pun gagal, terapi aku tetap menjadi seorang istri. Mau tau kisahku, baca ceritanya ya, biar nggak penasaran. Terima kasih!
View More"Iya, Nis, aku belum kebeli kasur bayinya. Soalnya, kamu tau sendiri keadaan ekonomiku sekarang ini. Mas Bagas saja bekerjanya baru sebulan, itupun karena dibantu oleh suamimu. Makanya, aku belum ada uang buat membeli perlengkapan anakku. Pakaiannya saja, kebanyakan dari kado teman-teman, serta saudaraku." Ratna panjang lebar menceritakan, tentang keadaannya."Ya sudah, insya Allah nanti aku belikan, buat anakmu ya! Kalau saja aku tau kamu belum punya kasur bayi, tadi pasti aku belikan sekalian." Aku berjanji akan membelikan kasur bayi, buat anaknya Ratna."Terima kasih, ya Nis, kamu memang terbaik. Menyesal, aku telah menyia-nyiakanmu, bahkan telah mengkhianatimu." Ratna menyesali, tentang apa yang telah dia lakukan dulu kepadaku."Iya sama sama, Ratna. Ya sudah, Ratna, maaf ya aku nggak bisa lama-lama, soalnya ini sudah malam. Ini aku bawain kado buat anakmu, semoga kamu suka. Aku permisi ya, assalamualaikum," ucapku pamit.Kami pun pamit, kepada Bu Ani dan juga Ratna. Setelah itu
"Baik, Non. Terima kasih," ucap Bi Ijah."Baiklah, kami pergi cari kado dulu ya. Kalian tunggu di sini, kalau memang tidak mau ikut," pamitku.Aku pamit, serta meminta mereka untuk menungguku. Setelah itu, aku dan Mas Andre pun pergi dari hadapan asisten serta keponakanku. Kami pergi dari resto, yang ada di swalayan ini. Aku dan Mas Bagas, pergi menuju tempat perlengkapan bayi. Aku pun memilih salah satu yang sekiranya cocok untuk aku jadikan kado untuk anaknya Ratna dan Mas Bagas. Setelah menemukan apa yang sesuai, aku segera membayarnya. Aku juga meminta untuk sekalian dibungkusnya dengan kertas kado. Setelah kado untuk anak Ratna selesai di bungkus, kami berdua pun kembali ke tempat Gio dan juga para asistenku berada. Ternyata mereka telah selesai makan dan sedang menunggu kedatangan kami."Tante, Om, kalian sudah sekesai mencari kadonya?" tanya Gio."Sudah, Gio. Bagaimana? Apa kalian juga sudah selesai makannya," tanyaku."Sudah, Tan. Gio, sudah kekenyangan ini," sahut Gio.Gio
"Waw, ini kamarnya lebih bagus, dari kamar Gio yang kemarin, Om. Terima kasih, ya Om Andre, Tante Anisa, kalian berdua memang is the best." Gio begitu senang, saat melihat kamar baru untuknya."Syukurlah, kalau Gio menyukai kamarnya," ucapku."Iya, Tante, Gio seneng banget," sahutnya.Setelah itu, aku membantu Gio membereskan pakaiannya. Aku memasukan baju Gio ke lemari pakaian, yang ada di kamar itu. Sedangkan, Mas Andre membantu membereskan perabotan dari rumah lamanya, yang akan disimpan di rumah ini. Sedangkan, sebagian perabotannya akan disimpan di apartemen. Seusai membereskan pakaian Gio, aku mengajak Gio makan, kebetulan aku telah memesan makanan. Karena aku kasihan, jika harus menyuruh Bi Ijah dan Bi Asih, buat memasak. Sepertinya mereka juga kecapean, setelah membantu pindahan tadi. Jadi biar kali ini aku memesan masakan dari rumah makan padang untuk makan kami semua."Gio, ayo kita makan dulu," ajakku."Iya, Tan," sahut Gio."Mas, ayo kita makan dulu," ajakku, saat melewa
"Iya, Den," sahut Bi Asih serta Bi Ijah serempak."Bibi, sini," ajakku.Mereka berdua pun menghampiriku, sedangkan Bi Asih datang menghimpiriku, sambil menarik kopernya."Non, banyak betul orang yang mengangkut barangnya ya." Bi Ijah berkomentar, tentang pengangkut barang."Iya, Bi, Mas Andre bilang, supaya barangnya cepet selesai diangkutnya. Kalau barangnya sudah selesai diangkut, rumahnya mau sekalian dibersihkan, serta dirapikan sama mereka. Soalnya lusa Mas Wira dan keluarganya akan datang untuk menempatinya." Aku menjelaskan kepada Bi Ijah, alasan Mas Andre sampai meminta banyak orang untuk mengangkut barangnya tersebut."Oh, jadi begitu, ya Non," sahut Bi Ijah.Ia baru mengerti, dengan apa yang aku sampaikan."Iya, Bi, seperti itu," sahutku."Pasti rumah ini di kontraknya mahal ya, Non? Soalnya rumahnya saja semewah dan sebesar ini," tanya Bi Asih.Ia menanyakan soal harga sewa rumah orang tua Mas Andre tersebut."Lumayanlah, Bi, buat tabungannya Gio. Mas Wira, mengontak rumah
"Ini namanya, Mas Arya, Bi. Dia tetangga apartemennya Mas Andre," terangku memberitahu Bi Ijah."Oh ... begitu, ya Non. Mas, kenapa tidak langsung ke kantornya Den Andre saja. Soalnya 'kan kalau jam segini, Den Andrenya kerja, Mas!" Bi Ijah memberitahu Mas Arya, kalau Mas Andre tidak ada dirumah. "Iy
Papaku mengusir Mbak Maya dan Mbak Sonia, supaya segera pergi dari rumahku dengan alasan, kalau aku harus beristirahat."Iya, Pak, kami akan pulang. Kalau begitu kami permisi, assalamualaikum," pamit Mbak Maya."Waalaikumsalam," sahut kami bertiga serempak.Mereka berdua sepertinya merasa segan, jika h
"Jadi begini, Maya, sesungguhnya aku memang bukanlah pemilik rumah ini! Aku hanya sedang menghayal, andaikan aku bisa memiliki rumah seperti ini. Aku ingin bisa punya setengah ini, makanya aku mengaku kalau rumah ini milikku," terang Mbak Sindi, kini ia berkata jujur kalau dia bukanlah pemilik ruma
"Maafkan, Mas ya, Nis! Mas, telat datang, dikira Mas, tidak akan terjadi hal seperti ini." Mas Andre meminta maaf kepadaku."Iya, Mas! Lagian, semua ini juga bukan karena salah Mas kok. Ini semua salah teman-temanku, yang memang sangat suka membullyku, dari dulu sampai sekarang." Aku memberikan maaf,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore