Chapter: Bab 60 - Ke Rumah Orang TuamuRoda mobil membedah jalanan aspal Bandung yang berkelok, namun dinginnya udara pegunungan tak mampu menembus kabut tebal yang menyelimuti kabin. Shaz mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Sesekali, ia melirik kursi di sebelahnya. Di sana, Alyssa tampak seperti bayangan; matanya kosong, menatap deretan pohon pinus yang berlalu tanpa benar-benar melihatnya."Alyssa," bisik Shaz, suaranya parau, pecah oleh keheningan yang menyesakkan. "Katakan sesuatu. Marahi aku, pukul aku... tapi jangan diam seperti ini."Alyssa tidak menoleh. Ia hanya menarik napas panjang, sebuah helaan yang terdengar seperti patahan ranting kering. Shaz merasakan dadanya berdenyut perih. Rasa bersalah itu merayap seperti racun, mengingatkannya bahwa wanita di sampingnya ini kini hanyalah raga yang ia ikat dengan paksa."Kita hampir sampai," lanjut Shaz, suaranya gemetar. "Aku akan melakukan segalanya dengan benar hari ini. Aku berjanji."Tetap tidak ada jawaban. Alyssa hanya mengeratkan pelukan pada
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 59 - Miliku SelamanyaCahaya subuh merayap masuk, membelai kamar dengan warna madu keemasan. Alyssa terbangun bukan oleh suara, melainkan oleh sensasi—sebuah kesadaran hangat dan dalam yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia menyadari Shaz telah memulai upacara paginya; ia mengklaim tubuhnya yang masih terombang-ambing antara mimpi dan realitas.Sebuah desahan panjang terlepas dari jiwanya saat Shaz, merasakan bahwa wanitanya telah berlayar dari tidur, memperdalam sentuhannya. Shaz memandang Alyssa dari atas, matanya memancarkan api pengabdian dan kerakusan, seolah ia sedang menatap sebuah peta harta karun yang baru ia kuasai.Perlahan, Shaz bergerak turun, meninggalkan area hatinya. Ia membentangkan jalur baru di tubuh Alyssa, lalu, dalam keintiman yang sakral, menenggelamkan wajahnya di tempat yang paling tersembunyi. Sentuhan hidungnya yang tajam di atas permata terlarang itu memicu getaran yang tak tertahankan.Alyssa tersentak, dan sebuah luapan pelepasan emosi yang hangat mengalir darinya, diikuti desa
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 58 - Menikah atau Hamil“Mau apa kau ke rumahku?”Suara Alysaa bergetar—bukan lemah, tapi menahan amarah yang sudah mencapai batas.Shaz menatapnya tanpa berkedip. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, seolah seluruh dunia telah berkonspirasi melawan satu-satunya hal yang ingin ia genggam.“Pergi,” ucap Alysaa tegas. “Sekarang.”Shaz tidak menjawab."Pergi! Aku bilang, pergi sekarang!" Suaranya bergetar, memecah kesunyian tebal di antara mereka.Shaz berdiri terpaku, rahangnya mengeras, seolah kata-kata itu menembus pertahanannya. Namun, alih-alih berbalik, ia perlahan melangkah mundur, matanya tak lepas dari wajah Alyssa yang memerah.Alyssa mengira ia menang, mengira pertempuran emosional ini akan usai. Namun, saat Shaz mencapai pintu, gerakannya berubah cepat dan tegas.Sebuah bunyi klik yang dingin dan mematikan memenuhi ruangan. Shaz telah mengunci pintu.Napas Alyssa tercekat. "Apa yang kau—"Sebelum ia selesai bicara, Shaz mengeluarkan kunci pintu itu dan dengan gerakan ringan yang mengerikan, melempark
Last Updated: 2025-12-15
Chapter: Bab 57 - Bertemu di Rumah AlysaaShaz tidak perlu membuka peta.Kakinya—lebih tepatnya, ingatannya—menuntunnya dengan sendirinya menuju sebuah kompleks perumahan yang tenang di sudut kota Bandung. Jalanannya tidak terlalu lebar, dipagari pepohonan kecil yang ditanam rapi, rumah-rumah minimalis berjajar dengan desain yang serupa namun tetap menyimpan keunikan masing-masing.Sebuah papan kecil di tepi jalan bertuliskan:Komplek Aruna Pratama Residence.Shaz memperlambat laju mobilnya.Ia tahu tempat ini. Terlalu tahu.Hari itu Sabtu. Langit Bandung cerah, udara sejuk—hari yang sempurna untuk tinggal di rumah. Dan Shaz tahu satu hal tentang Alysaa: ia tidak suka keluar jika tidak perlu. Akhir pekan baginya adalah waktu paling setia untuk rumah, buku, dan keheningan.Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah bercat krem muda dengan pagar hitam sederhana. Tidak besar. Tidak mewah. Namun bersih, rapi, dan hangat—seperti pemiliknya.Shaz mematikan mesin.Dadanya terasa mengencang saat pandangannya menyapu halaman kecil
Last Updated: 2025-12-15
Chapter: Bab 56 - Menemukanmu“Alysaa…”Nama itu keluar begitu saja, nyaris seperti refleks. Begitu suara Shaz terdengar di seberang, dunia Alysaa seakan berhenti berputar. Ia tidak menjawab. Napasnya tertahan di dada, jari-jarinya membeku di layar ponsel.Di sisi lain, Shaz menelan ludah.Diamnya terlalu sunyi. Terlalu menusuk.“Sayang…” suaranya bergetar, lebih pelan dari yang ia rencanakan. “Aku tahu kamu pasti kaget. Aku—”Tak ada jawaban.Namun Shaz tetap bicara, seolah takut jika ia berhenti, kesempatan itu akan lenyap selamanya.“Aku akan ke Bandung malam ini,” katanya cepat, nyaris terburu-buru. “Aku akan ke rumahmu. Aku perlu bicara langsung sama kamu.”Alysaa masih diam.Diam yang bukan karena tak mendengar—melainkan karena terlalu banyak yang ia dengar.“Sayang, aku nggak bisa hidup—”Klik.Nada sambung terputus.Shaz terpaku. Layar ponsel kembali gelap, memantulkan wajahnya sendiri—pucat, mata berkabut, seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu untuk kedua, atau mungkin ketiga kalinya.“Al…?”
Last Updated: 2025-12-15
Chapter: Bab 55 - TersambungIngatan sering kali bekerja seperti kompas yang rusak—tak selalu menunjukkan arah, tapi cukup memberi keyakinan untuk melangkah. Dengan keyakinan itulah Shaz meninggalkan apartemennya sore itu, berjalan menyusuri trotoar Jakarta Pusat yang masih basah oleh sisa hujan tadi siang.Ia berhenti di depan sebuah bangunan cukup besar dengan kaca lebar dan papan nama sederhana:Senja Raya Rent Car.Tidak mencolok. Tapi tenang. Seperti tempat yang tepat untuk memulai perjalanan panjang.Begitu pintu dibuka, suara bel kecil berdenting pelan. Di balik meja resepsionis, seorang perempuan berhijab krem mendongak. Wajahnya bersih, sorot matanya hangat—jenis tatapan yang membuat seseorang merasa diperhatikan, bukan dinilai.“Selamat sore, Mr,” ucapnya ramah.Shaz mengangguk. “Sore.” Shaz membalasnya dengan bahasa inggris yang cukup membuat perempuan itu mengerti bahwa ia harus menggunakan bahasa inggris saat berbicara dengan Shaz.Perempuan itu berdiri, mengambil tablet dari meja. “Mau sewa mobil?”
Last Updated: 2025-12-15
Terjerat Pesona Istriku
Sherine Souad Ahlam, wanita dengan simbol kecantikan yang sempurna, memiliki darah Lebanon dan Rusia menambah kecantikannya yang tidak biasa. Sebagai supervisor di perusahaan skincare ternama, Moonsky, sekaligus influencer dengan jutaan pengikut, ia tampak memiliki segalanya. Wajah menawan, karier cemerlang, dan kehidupan glamor yang diidamkan banyak orang. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan rahasia kelam. Ia terlilit utang hampir 400 juta rupiah akibat gaya hidup borosnya.
Dihantui ketakutan, ia tak berani meminta bantuan keluarganya dan memilih menanggung semuanya sendiri. Hingga di titik terendah, ketika tak ada lagi jalan keluar, sebuah tawaran datang dari pria misterius yang merupakan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Solusi atas seluruh beban yang mengikatnya ada di tangan pria itu, namun dengan syarat yang tak biasa.
Apakah Sherine akan menerima tawaran tersebut? Dan berapa harga yang harus ia bayar demi kebebasannya?
Read
Chapter: 41. Rahasia Yang TerbongkarPintu kamar Sherine tertutup pelan.Begitu ia masuk, suasana sunyi langsung menyelimuti ruangan itu. Sunyi yang terasa terlalu berat.Sherine berjalan menuju meja kecil di dekat jendela.Tangannya membuka laci perlahan.Di dalamnya tersimpan sebuah map cokelat yang selama ini hampir tidak pernah ia sentuh lagi.Map itu berisi sesuatu yang dulu mereka tanda tangani dengan kepala dingin.Perjanjian pernikahan.Sherine menariknya keluar.Jemarinya sedikit gemetar saat membuka halaman demi halaman dokumen itu.Tulisan-tulisan formal yang dulu terasa begitu masuk akal kini terlihat seperti ironi.Matanya berhenti pada salah satu pasal.Pasal yang dulu mereka sepakati tanpa perdebatan panjang.Tidak akan ada hubungan suami istri selama masa kontrak pernikahan berlangsung.Sherine menatap kalimat itu lama.Terlalu lama.Perlahan bibirnya bergetar.“Lucu sekali…” gumamnya lirih.Ia tertawa kecil, namun tawa itu terasa pahit.Dewa yang melanggarnya.Dewa yang melampaui batas yang mereka buat se
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: 40. Sendiri Di Rumah SendiriMalam itu terasa panjang.Terlalu panjang bagi dua orang yang sama-sama terjaga dalam kesunyian.Di kamar utama, lampu sudah dimatikan sejak lama. Hanya cahaya bulan yang menembus tirai tipis, jatuh lembut di atas ranjang besar.Dewa berbaring kaku menatap langit-langit.Di sampingnya, Veneza tertidur sambil memeluk lengannya erat, seolah takut lelaki itu menghilang jika ia melepaskannya.Napas Veneza terdengar teratur.Namun bagi Dewa… tidur terasa mustahil.Kata-kata Sherine terus terngiang di kepalanya.“Jangan sentuh aku, Pak Dewa.”“Kita hanya perlu kembali ke kesepakatan awal, bukan?”Dan yang paling menyakitkan—kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri.Profesional.Ia memejamkan mata sebentar, tetapi bayangan wajah Sherine yang sembab justru semakin jelas.Rasa bersalah menekan dadanya.Ia tahu ia telah menyakitinya.Namun yang membuatnya semakin gelisah adalah kenyataan bahwa untuk pertama kalinya… ia tidak tahan melihat Sherine terluka.Di sampingnya, Veneza bergerak sedi
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: 39. Kesalahan DewaSetelah gunting itu jatuh ke lantai, ketegangan di kamar perlahan mereda.Veneza masih terisak. Napasnya tersengal-sengal seolah baru saja melewati badai besar.Dewa berdiri di hadapannya dengan wajah tegang.Beberapa detik berlalu dalam diam.Tiba-tiba Veneza melangkah maju.Tanpa memberi kesempatan Dewa bereaksi, ia langsung memeluknya erat.“Aku sangat merindukanmu, Dewa…” bisiknya dengan suara yang masih bergetar.Tubuhnya menempel erat di dada lelaki itu.Dewa tidak langsung membalas pelukan itu.Tangannya hanya menggantung di sisi tubuhnya.Ada rasa bersalah yang menghantamnya—rasa bersalah karena ia tahu sebagian dari semua ini memang kesalahannya.“Tidurlah malam ini di sini,” lanjut Veneza pelan, wajahnya masih bersandar di dada Dewa. “Aku tidak ingin sendirian.”Dewa memejamkan mata sebentar.Pikirannya kacau.Ia tahu kalau ia menolak sekarang… Veneza bisa melakukan hal bodoh lagi.Namun ada satu orang lain di rumah ini.Sherine.“Aku harus ke kamar Sherine dulu,” ucap Dewa
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: 38. Dua Wanita Dalam Satu Atap“Keluar.”Suara Dewa dingin. Tegas. Tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang, rahangnya mengeras menahan emosi yang tiba-tiba membuncah.“Aku tidak akan mengulanginya lagi, Veneza. Keluar dari kamar ini sekarang.”Namun Veneza tidak bergerak.Ia hanya menatap Dewa dengan mata yang mulai memerah, napasnya naik turun tidak stabil.“Jadi sekarang kamu benar-benar mengusirku?”Nada suaranya bergetar.“Setelah semua yang kita lalui… kamu bahkan tidak bisa membiarkanku tinggal satu malam di rumah ini?”“Ini bukan rumahku sendiri lagi,” jawab Dewa keras. “Ini rumahku dan istriku.”Kata istri itu seperti pisau yang menusuk tepat ke dada Veneza.Ekspresinya berubah.Matanya membesar… lalu perlahan dipenuhi air mata.“Istri?” ia tertawa kecil, tapi suaranya retak. “Kamu bahkan berani mengatakannya seperti itu sekarang?”Dewa menghela napas berat. Ia tidak ingin bertengkar, tapi situasinya sudah melewati batas.“Ven, cukup. Kamu tidak bisa datang begit
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: 37. Aroma Yang SalahTanpa menoleh lagi pada Sherine, Veneza menggenggam gagang kopernya dan mulai menyeretnya menuju tangga.Suara roda koper bergesekan dengan lantai marmer terdengar jelas di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sunyi.“Nona… tunggu…” Una mencoba menahan.Namun Veneza bahkan tidak melambat.“Aku tahu kamar Dewa di mana,” katanya santai.Ia menaiki tangga satu per satu, seolah ia tidak pernah pergi dari rumah itu. Seolah langkah-langkahnya masih hafal setiap sudut rumah besar tersebut.Bi Lilis dan Una saling memandang dengan wajah cemas.Sementara Sherine hanya berdiri diam di bawah tangga.Tangannya mengepal pelan.Dadanya terasa perih… sangat perih.Beberapa menit kemudian suara pintu kamar utama yang merupakan kamar Dewa sejak awal di lantai dua tertutup.Veneza benar-benar masuk ke kamar Dewa.Rumah itu terasa berubah dalam sekejap.Sherine berdiri beberapa detik lagi sebelum akhirnya berjalan perlahan ke kamarnya sendiri—kamar yang sekarang ia gunakan bersama Dewa.Begitu pintu tertutu
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: 36. Hanya Pernikahan KontrakLangkah Sherine terdengar pelan namun tegas menuruni anak tangga.Dari lantai dua ia sudah melihat semuanya—koper besar, Una dan Bi Lilis yang kebingungan, dan seorang perempuan yang berdiri seolah rumah itu adalah miliknya.Veneza.Ketika Sherine sampai di anak tangga terakhir, suara langkahnya membuat semua orang menoleh.Una dan Bi Lilis langsung tampak lega.“Bu Sherine…”Namun sebelum mereka sempat berkata apa-apa, Veneza sudah lebih dulu melihatnya.Sesaat—hanya sesaat—wajahnya membeku.Matanya menyapu sosok Sherine dari ujung kepala hingga kaki.Gaun rumah sederhana yang elegan, rambut panjang yang jatuh lembut di bahu, wajah yang begitu bersih tanpa perlu banyak riasan.Cantik.Bahkan lebih cantik dari yang ia bayangkan dari foto.Ada getaran kecil di dada Veneza. Tapi hanya sekejap. Ia terlalu sombong untuk menunjukkannya.Ia menyunggingkan senyum tipis.“Oh… jadi kamu Sherine.”Nada suaranya ringan, seolah mereka hanya dua perempuan yang kebetulan bertemu di sebuah pesta.Sh
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: 32. Keanehan KembaliLangit di ufuk timur perlahan mulai berubah warna, dari gelap pekat menjadi ungu keemasan. Udara pagi terasa dingin menusuk, namun semangat rombongan mulai bangkit kembali saat mereka memulai perjalanan ke puncak tepat pukul 05.00.Pak Rahman memimpin rombongan di barisan depan, diikuti oleh Zuen, Iren, Mina, dan Tara yang berjalan berdekatan di tengah, sementara Pika memilih untuk berada di barisan paling belakang. Sebagai salah satu yang paling berpengalaman dalam mendaki, Pika merasa tanggung jawabnya adalah memastikan tidak ada yang tertinggal atau mengalami masalah di perjalanan.Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin tidak tenang perasaan Pika. Bukan hanya karena medan yang semakin berat, tapi karena Tara.Pika melirik ke arah Tara yang berjalan di depan dirinya. Gerakannya terlihat lambat dan kaku, berbeda dari biasanya. Wajahnya tetap pucat, dan tatapannya kosong. Pika merasa ada sesuatu yang salah, tapi ia tidak tahu apa itu."Tara… kenapa kamu jadi seperti ini?" gumamn
Last Updated: 2025-05-29
Chapter: 32. Gangguan BerlanjutSetelah memastikan semua orang sepakat, Pika keluar dari tenda untuk menyampaikan keputusan kepada Pak Rahman.Di dalam tenda, suasana kembali hening. Tara berbaring kembali tanpa mengatakan apa-apa, sementara Mina merapikan tasnya untuk memastikan semuanya siap saat mereka harus pergi.Zuen duduk bersandar di dinding tenda, menatap ke arah pintu dengan pandangan kosong. "Aku harap keputusan ini yang terbaik," gumamnya.Iren yang duduk di sebelahnya menghela napas panjang. "Aku juga. Semoga Tara benar-benar kuat. Aku nggak mau ada yang jatuh sakit atau… sesuatu yang lebih buruk."Mina menoleh ke arah mereka berdua, wajahnya menunjukkan kepercayaan diri yang tulus. "Nggak ada yang buruk akan terjadi. Kita harus percaya, kan? Kalau kita bareng-bareng, semuanya pasti baik-baik aja."Kata-kata Mina membuat suasana sedikit lebih ringan. Zuen dan Iren tersenyum kecil, meskipun rasa gelisah masih mengintai di hati mereka.Di sudut tenda, Tara membuka matanya sedikit, mengamati Mina dalam diam
Last Updated: 2025-01-11
Chapter: 31. Keputusan PendakianDini hari suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Jam di tangan Pak Rahman menunjukkan pukul 02:00 saat ia berjalan menuju tenda Pika. Suara langkah kakinya terdengar samar di atas tanah yang lembap. Lampu senter kecil yang dibawanya menerangi jalan, menciptakan bayangan panjang yang tampak semakin menakutkan di antara pohon-pohon tinggi.Pak Rahman berhenti di depan tenda Pika dan mengetuk bagian atasnya perlahan."Pika, kamu bangun?" tanyanya dengan suara pelan namun tegas.Terdengar suara resleting tenda dibuka. Pika muncul dengan wajah setengah mengantuk, rambutnya berantakan dan tubuhnya terbungkus jaket tebal."Pak Rahman? Ada apa?" tanya Pika, suaranya serak."Saya mau tanya, apa kalian berencana melihat matahari terbit di puncak? Kalau iya, kita harus mulai perjalanan sekarang," jawab Pak Rahman sambil menunjuk ke arah jam di pergelangan tangannya.Pika menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan pikirannya yang masih kusut. Ia menoleh ke dalam tenda, tempat Nadin dan Ratn
Last Updated: 2025-01-10
Chapter: 31. MencekamIren dan Zuen saling bertukar pandang, wajah mereka dipenuhi rasa takut. Langkah kaki itu masih terdengar, semakin jelas, seperti bergerak lebih dekat ke tenda mereka."Zuen, kamu denger itu lagi?" bisik Iren sambil mendekat ke Zuen.Zuen mengangguk, matanya tidak lepas dari pintu tenda. "Iya. Aku nggak tahu siapa atau apa itu, tapi ini nggak wajar."Mina menghela napas panjang, mencoba untuk tetap tenang. "Mungkin ini cuma pikiran kalian aja. Aku nggak denger apa-apa, beneran."Namun, suara langkah kaki itu mendadak berhenti. Keheningan yang mengikuti terasa jauh lebih mencekam daripada suara apa pun.Zuen dan Iren semakin tegang, tetapi Mina tetap tidak mendengar apa-apa. Dia memandang teman-temannya dengan rasa bingung sekaligus penasaran."Kalian berdua serius banget. Kalau ada suara itu, kenapa aku nggak denger?" tanya Mina.Zuen mengangkat bahu, suaranya pelan. "Aku juga nggak tahu. Tapi ini nyata, Min. Aku yakin."Mina kembali menoleh ke Tara, yang masih duduk diam dengan wajah
Last Updated: 2025-01-07
Chapter: 30. KembaliYang lain mengikuti, menatap Tara dengan campuran lega dan keheranan. Tara berdiri di tengah kabut, tubuhnya sedikit membungkuk, tetapi senyuman kecil terlihat di wajahnya."Aku… aku akhirnya balik," ucap Tara dengan suara pelan.Mina langsung berlari dan memeluk Tara erat-erat, air mata mengalir di pipinya. "Tara, maaf! Aku bener-bener minta maaf. Aku ninggalin kamu. Aku pikir… aku pikir kamu nggak akan balik."Tara tidak langsung menjawab, hanya menepuk punggung Mina dengan lemah. Suaranya terdengar serak. "Aku baik-baik aja, Mina. Jangan nangis, ya. Maaf aku tadi pergi gak bilang-bilang"Yang lain ikut bergabung, memeluk Tara satu per satu dengan wajah lega. Bahkan Zuen yang biasanya tenang terlihat emosional, sementara Kinan terus-menerus memastikan Tara benar-benar tidak terluka.Namun, di tengah kehangatan itu, Pak Rahman hanya berdiri di tempatnya, mengamati Tara dengan tatapan tajam. Ada sesuatu yang tidak beres. Wajah Tara terlalu pucat, lebih pucat dari orang yang hanya kehu
Last Updated: 2025-01-05
Chapter: 29. PencarianHujan masih turun, meski mulai mereda menjadi gerimis tipis. Udara di sekitar perkemahan terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang. Kabut tetap tebal, seperti selimut tak kasat mata yang menutup pandangan. Malam semakin larut, tetapi perasaan cemas di antara rombongan tak kunjung reda.Tenda yang tadinya menjadi tempat berlindung terasa seperti ruang sempit penuh beban. Semua orang duduk dalam diam, saling melirik dengan wajah lelah dan pucat. Ketakutan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, memenuhi atmosfer yang sudah mencekam sejak Tara menghilang.Pintu tenda terbuka dengan suara lirih. Pak Rahman masuk, wajahnya basah oleh air hujan, tubuhnya tampak kelelahan setelah berjam-jam mencari di tengah hutan. Semua mata tertuju padanya, berharap ia membawa kabar baik.Namun, tatapan kosong di wajahnya sudah menjawab semuanya. Ia menggeleng pelan, mengusap wajahnya dengan tangan yang gemetar. "Saya belum berhasil menemukan Tara."Kata-kata itu membuat suasana di dalam tenda lang
Last Updated: 2025-01-05