Beranda / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Tabir yang tersingkap

Share

Tabir yang tersingkap

Penulis: Aisyah Ahmad
last update Tanggal publikasi: 2026-01-06 10:16:13

"Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?"

'PLAAAKKK!!!'

"GILA KAMU MAS !!!"

"Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka kesini dan memblokir nomor aku, ha ? Kamu sengaja kan ? Dimana mereka sekarang ?" Kali ini sudah habis kesabaran Zahra.

"Wow wow wow... Chill... mereka ada kok. Dan mereka baik-baik saja."

"Ya udah. Ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Madu Suamiku   buah manis

    "Nduuk… ibuk njaluk ngapura yo… tenan, ibuk nyesel karo kelakuane Dimas. Ibuk kroso gagal ngedidik anak dewe. Isin ibuk karo kowe, nduk…" "Ibuk... ibuk, hei.. ampun... sudah... sudah terjadi. Lagipula kelakuan Mas Dimas itu tanggung jawabnya Mas dimas sendiri, Bu. Ibik sudah benar kok. Ibuk todak salah mendidik Mas Dimas. Kalaupun pada akhirnya Mas Dimas seperti itu, itu ya pilihannya Mas Dimas sendiri. Dia udah gede bu. Udah tua, harusnya dia tau mana yang salah dan mana yang benar.""Iyo... tapi kan,""Sssst. Sudah. Ayo, kita balik ke rumah Zahra dulu. Ibuk pasti capek kan."Dengan tulus, Zahra dan Zean menuntun Bu Sukma kembali ke rumah Zahra. Disana suasana sudah sepi dari keributan sebelumnya."Bu Nindi… nyuwun ngapunten nggih… mergo anakku, acarane dadi kaco ngene. Aku isin tenan, Bu. Nek Bu Nindi nuntut ganti rugi, nggak popo… aku siap. Mengko tak jalukno Dinda ngedol cincinku… mung iku sing isih ana.""Bu Sukma... sudah, nggak popo. Sudah terjadi juga. Yang penting kedepannya

  • Madu Suamiku   Hukuman

    "Sini... ikut ibuk !!!" Bu Sukma mensrik tangan Dimas dengan emosi. Seperti seorang ibu yang menarik tangan anak kecilnya karena melakukan kesalahan fatal."Apa sih! Buk ! Kemana ?" Bu sukma tidak menjawab. Bu Sukma terus menarik dengan sisa tenaganya. Walaupun mungkin Dimas bisa aja melepaskan diri. Tapi aira ibunya membuatnya tunduk. Ia terus berjalan mengikuti ibunya yang berjalan cepat.Zahra dan Zean saling pandang. Lalu mereka segera bergegas mengikuti bu Sukma dan Dimas.Sementara anak-anak di gandeng bu Nindi juga mengikiti mereka."Mau kemana sih! Buk ?""Diam kamu ! Kamu harus menerima hukuman setimpal !!!"Bu Sukma berhenti tepat di pos satpam di posko keamanan perumahan Zahra."Pak, tolong. Saya mau melaporkan ada penjahat ! Segera lapor polisi !""Ibuk ! Apa-apaan sih. Kok ibi tega ngelaporin anaknya sendiri ke polisi. Aku ini anakmu loh bu.""Lhaaa kamu saja tega kok mukuli Rayan sama Zahwa. Mereka itu yo anakmu lho.""Buuuuk, kan aku...""Hooop. Cepetan pak, lapor poli

  • Madu Suamiku   Tidak terima

    Zahwa terdiam. Tak menjawab, tapi matanya seolah ketakutan sembari memandangi kakaknya."Zahwa sayang, kenapa nak, hem ?" tanya Zahra lagi. "Rayan. Kenapa adek kamu ini ?" tanya Zahra ke Rayyan saat menyadari dua anaknya sedang saling pandang."Apa Ayah kalian yang melakukannya ?" tanya bu Sukma dengan hati-hati."Zean, itu... kamu ambilkan minyak oles dulu cepetan. Kasihan itu sampai biru-biru begitu, ya ampun," ucap Bu Nindi menyela. Zean tersentak lalu segera berlalu untuk ambil minyak oles.Sementara Zahra, Bu Sukma, dan Bu Ninda masih fokus ke Rayyan dan Zahwa."Kamu nggak usah takut, Zahwa ngomong aja. Rayyan, coba kamu yang jawab. Ada apa itu sama punggung adek kamu ? Jatuh atau gimana, atau ada yang jahatin kalian ?"Rayyan masih diam. Tapi alih-alih tak menjawab, ia langsung menggulung sedikit lengannya dan memperlihatkan lebam yang sama di lengan Rayyan. "Astagfirullah ! Kamu juga ? Coba sini, bilang ! Sebenarnya ini ada apa ?" tanya Zahra lagi dan kali ini, lebih tegas. A

  • Madu Suamiku   Memar dipunggung Zahwa

    Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman. Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi. Lampu-lampu kecil masih menyala. Bunga-bunga segar belum layu. Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk hari yang seharusnya sempurna, tapi malah berantakan. Zahra berdiri diam. Ia mengembuskan napas, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng. Begini caranya hidup bercanda, batinnya. Ia melangkah masuk. Di dalam, kursi pelaminan masih berjajar megah. Background floral-nya tetap berdiri gagah. Tenda catering masih terisi hampir penuh. mungkin para tetangga pulang terburu-buru, mungkin juga tidak ada yang tega menyentuhnya, saat kehebohan tadi pagi terjadi. Zahra menyentuh gaun pengantin yang ia pakai. Kain putih itu masih sempurna. Sayangnya, gaunnya tidak pernah mendapat giliran berada di tengah keramaian. Sunyi. Tapi bukan sunyi yang menyedihkan. lebih seperti... jeda. Ze

  • Madu Suamiku   Nahkoda kapal yang baru

    "Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju membelah jalanan yang mulai ramai. Udara terasa berat, bukan karena panas, melainkan karena perasaan yang tak terucap. Zahra menatap lurus ke depan, jemarinya saling bertaut di pangkuan, sesekali menghela napas pendek. Di luar, deretan masjid mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. suara merdu yang saling bersahutan, menggema dari pengeras suara, menandai waktu yang kian mendekati sholat Jumat.Lantunan itu seharusnya menenangkan, namun justru menambah rasa tegang yang menggantung di dalam mobil. Seolah setiap ayat membawa doa, juga kegelisahan yang berlapis. Rayyan duduk diam, sembari sesekali memperhatikan wajah bundanya. Sementara Zahwa terlelap di pangkuan bundanya, belum sepenuhnya terba

  • Madu Suamiku   Tabir yang tersingkap

    "Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka kesini dan memblokir nomor aku, ha ? Kamu sengaja kan ? Dimana mereka sekarang ?" Kali ini sudah habis kesabaran Zahra. "Wow wow wow... Chill... mereka ada kok. Dan mereka baik-baik saja.""Ya udah. Mana mereka ? Biar aku bawa mereka sekarang." Zahra mau langsung menerobos untuk nyari anak-anak, tapi di hadang lagi oleh Dimas. "NO ! kuncinya sama aku." ucap Dimas sembari mengacungkan kunci seolah mengejek Zahra. "Kamu kunci mereka, Mas ? Gila kamu Mas ! Siniin kuncinya. Pasti merkeka ketakutan sekarang. Bener-bener gila kamu !" "Eits. Enggak ! Nggak akan aku serahkan sebelum kamu mau balik lagi sama aku ! Menikah sama aku lagi, dan aku akan kembalikan mereka. Kalau tidak, Nggak akan !" "

  • Madu Suamiku   Rumah Ayah

    "Kenapa tidak?""Ya aku takut Nin, Apalagi Ayah. Dia pasti masih marah ya sama aku sejak keputusanku waktu itu? Bunda? Bunda gimana kabarnya Nin?""Bunda sudah sehat pasca operasi di Jepang. bunda udah di rumah kok 2 minggu yang lalu sudah pulang.""Alhamdulillah, aku kangen banget sama Bunda, Nin"

  • Madu Suamiku   masihkah diterima ?

    "Mas ini yang pernah tolong saya waktu di godain preman itu kan? Yang antar saya dari Malang sampai terminal Bojonegoro waktu itu.""Loh, mbak ini yang??? ""Iya Mas, saya.""Ya Allah, nggak nyangka bisa ketemu lagi ya mbak, mbak mau kemana?""Mau pulang ke Bogor Mas. Mas nya mau kemana? Kok naik B

  • Madu Suamiku   Malaikat penolong

    "Waalaikumsalam. Iya, gimana neng? Cari apa?"Nisaa tampak melihat jejeran makanan di dalam etalase tersebut sembari menelan ludah."Bu... Saya... Mau makan, tapi saya nggak ada uang. Saya anak rantau, nggak punya siapa siapa disini. Boleh nggak, saya minta dulu? Nanti gantinya saya bisa cuci pirin

  • Madu Suamiku   Day 1 Nisa Kerja

    "Memangnya bisa kamu kerja pakai, apa itu namanya... " ucap si ibu itu dengan menunjuk wajah Nisa."Cadar. Insyaallah bisa bu. Tidak akan menghalangi pekerjaan saya kok,""Ya wes, tapi kerjamu disini ndak enak lho. Yang harus kamu kerjakan cuci piring, bersih bersih sama goreng goreng. Kadang juga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status