Beranda / Mafia / Menikahi Gadis Malam / akad yang tertunda

Share

akad yang tertunda

Penulis: Aisyah Ahmad
last update Tanggal publikasi: 2025-12-11 00:25:19

"Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat.

"Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat.

"Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang."

"Hah ? T-tapi..."

"Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.

Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.

Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menikahi Gadis Malam   Keributan dirumah lama

    Matahari siang menyengat tanpa ampun, memantulkan hawa panas di atas aspal jalanan menuju desa tempat Alin dibesarkan. Sebuah mobil hitam mewah yang dikendarai oleh Anton melaju tenang, membelah jalanan kampung yang berbatu. Di kursi belakang, Alin duduk dengan jemari yang bertautan erat. Di sampingnya, Sari sesekali melirik dengan tatapan cemas.​Mobil akhirnya berhenti di sebuah pekarangan luas yang gersang. Rumah kayu reyot dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini berdiri di hadapan mereka. Rumah yang dulu menjadi saksi bisu bagaimana Alin dipaksa melepas seluruh impiannya.​Alin menarik napas dalam-dalam. "Pak Anton, Mbak Sari, tunggu di mobil saja ya. Saya tidak akan lama."​"Tapi, Nyonya, Tuan Rizan berpesan agar—"​"Saya cuma menemui orang tua saya, Pak Anton. Di sini aman," potong Alin lembut namun tak terbantahkan. Ia membuka pintu mobil, melangkah turun ke atas tanah berdebu yang terasa begitu akrab sekaligus asing.​Baru saja Alin berjalan beberapa langkah menuju pintu

  • Menikahi Gadis Malam   Panggilan telphone dari Ayah

    Sari yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Alin langsung menghentikan suapannya. Ketakutan yang terpancar dari mata bening Alin terlalu nyata untuk diabaikan.​Ponsel itu masih bergetar, bergerak beberapa milimeter di atas meja, seolah mendesak untuk segera diangkat. Harapan kecil sempat membubung di dada Alin. Apakah Ibunya menelepon untuk menanyakan kabarnya? Apakah Ibunya merindukannya setelah perpisahan menyakitkan di gedung pernikahan kemarin?​Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alin menggeser layar ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinga.​"Ha—halo, Bu?"​"Alin! Akhirnya kamu angkat juga!"​Bukan. Itu bukan suara lembut Bu Hanum yang penuh kekhawatiran. Suara di seberang sana adalah suara berat, serak, dan penuh tuntutan milik Pak Rustam. Jantung Alin mencelos jatuh. Kebahagiaan semunya menguap seketika.​"Ayah...?" ucap Alin, meremas daster lembutnya di bawah meja. "Ada apa? Ini ponsel Ibu, kenapa Ayah yang—"​"Halah, tidak usah cerewet! Ibu kamu sedang

  • Menikahi Gadis Malam   Kartu Hitam untuk Alin

    Beberapa menit berlalu. Hening kembali turun. Alin masih menatap piringnya yang sudah mendingin, tanpa selera. Sendok di tangannya berhenti bergerak sejak tadi.Langkah kaki terdengar lagi.Alin mendongak pelan. Rizan kembali muncul di ambang pintu. Ia berjalan mendekat, namun tidak mengambil tempat duduknya. Ia hanya berhenti di sisi meja, berdiri tegap sambil mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya.Hitam. Polos. Berkilau.Tanpa kata-kata pembuka, kartu itu diletakkan tepat di depan Alin.“Untukmu,” ucap Rizan dingin.Alin menatap kartu itu, lalu menatap Rizan. “I-Ini… apa?”“Kamu bisa pakai itu untuk keperluanmu,” jawabnya singkat. “Apa pun yang kamu mau.”Alin terkesiap kecil. Tangannya ragu saat menyentuh kartu itu. Sebuah kartu berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Rizan melanjutkan tanpa jeda, nada suaranya tetap tenang. Tapi tak memberi ruang untuk membantah.“Kalau kamu bosan di rumah, kamu boleh keluar.”Alin mengangkat wajahnya cepat. Ada kilatan harapan

  • Menikahi Gadis Malam   Penjara Sunyi

    "Astaga ! Apa aku kesiangan ?!" Pagi datang tanpa suara. Tak ada alarm. Tak ada ketukan pintu. Hanya cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai tebal, jatuh perlahan di wajah Alin. Matanya terbuka, tapi tubuhnya masih kaku. Beberapa detik ia tak bergerak, seolah takut kenyataan akan menyergap begitu ia benar-benar sadar. Lalu ingatannya kembali utuh. Akad. Tangis. Ibu yang pergi. Dan kamar ini. Alin bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Dan... "Hah ??? Tunggu !!!" Gaun pengantinnya sudah diganti. Kini ia mengenakan daster lembut berwarna pucat. "Bukannya semalam aku... Siapa yang mengganti pakaianku ? Jangan-jangan... nggak. Nggak. Nggak mungkin lah !" Ia segera membuang pikirannya jauh-jauh. Semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu sunyi. Ia menoleh ke arah sofa. Kosong. Tak ada Rizan. Entah mengapa, perasaan yang muncul bukan lega, melainkan… asing. Seperti bangun di rumah orang lain, tanpa tahu batas mana yang boleh ia lewati. Alin berdiri, melangkah

  • Menikahi Gadis Malam   Pernikahan Sang Pewaris

    "Mas, Kamu yakin mau jadi Wali nikah Alin ?" Setelah oerdebatan yang lumayan panjang dan alot. Akhirnya Pak Rustam dan Bu Hanum kembali ke dalam gedung itu. Semua hadirin kembali menatap dua manusia yang kini berjalan mendekat ke meja akad. Sementara Alin, matanya masih berkaca-kaca sembari menatap sang ibu, seolah meminta pertolongan. “Maaf telah menunggu. Saya selaku ayah Alin, dengan ini mewakilkan hak perwalian nikah kepada Bapak Hakim.” "AYAH ???!!" Alin shok. Dia kaget Ayahnya mengatakan itu. "Ayah ? Ada apa ini ? Kenapa ? Saking tidak sayangnya kah Ayah kepada Alin, sampai Nikah pun, Ayah tidak mau jadi wali Alin ?" tanya Alin dengan suara bergetar. Awalnya, ia sedih karena espektasi Alin, ibunya membatalkan pernikahan itu, tapi lebih sedih dan kecewa lagi, Dalam pernikahan yang bukan kemauannya itu Ayahnya juga tak mau jadi wali. "Kenapa, Ayah ?" Bu Hanum segera berjalan mendekati Alin dan berusaha menenangkan Alin. "Bu, Ayah kenaoa sih bu, kalau memang kalian tidak m

  • Menikahi Gadis Malam   akad yang tertunda

    "Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat."Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat."Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang.""Hah ? T-tapi...""Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di beberapa sudut ruangan. Kesannya modern, rapi, tapi tetap punya aura dingin yang elegan. Lampu-lampu putih kebiruan dipasang redup, membuat ruangan terasa tenang dan tidak menyilaukan. Tidak ada bunga berlebihan.Hanya jajaran anggrek putih, hydrangea biru gelap, dan beberapa rangkaian mawar abu keperakan di sepanjang lorong utama. Aromanya lembut, mahal, dan tidak menusuk hidung. Musik violin mengalun pelan, seperti soundtrack film classy. Para tamu. sekitar lima puluh orang saja, berdiri rapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status