Accueil / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Akad yang tertunda

Share

Akad yang tertunda

Auteur: Aisyah Ahmad
last update Date de publication: 2026-01-02 15:40:11

Langit Malang Jum'at pagi itu sedikit di hiasi dengan awan hitam yang menggantung disisi barat. Di teras itu, Zahra sedang berdiri sembari memandang cemas ke arah jalanan. Matanya tak luput dari beberapa motor dan mobil yang lewat begitu saja tanpa henti.

"Ck. Ya Allah... mana nih mereka, kenapa belum datang sampai jam segini" ucapnya cemas. Beberapa kali ia juga menengok mesin waktu yang menggantung di atas dinding teras. Meskipun teras itu di hiasi dengan dekorasi pernikahan, tapi masih terli
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Madu Suamiku   buah manis

    "Nduuk… ibuk njaluk ngapura yo… tenan, ibuk nyesel karo kelakuane Dimas. Ibuk kroso gagal ngedidik anak dewe. Isin ibuk karo kowe, nduk…" "Ibuk... ibuk, hei.. ampun... sudah... sudah terjadi. Lagipula kelakuan Mas Dimas itu tanggung jawabnya Mas dimas sendiri, Bu. Ibik sudah benar kok. Ibuk todak salah mendidik Mas Dimas. Kalaupun pada akhirnya Mas Dimas seperti itu, itu ya pilihannya Mas Dimas sendiri. Dia udah gede bu. Udah tua, harusnya dia tau mana yang salah dan mana yang benar.""Iyo... tapi kan,""Sssst. Sudah. Ayo, kita balik ke rumah Zahra dulu. Ibuk pasti capek kan."Dengan tulus, Zahra dan Zean menuntun Bu Sukma kembali ke rumah Zahra. Disana suasana sudah sepi dari keributan sebelumnya."Bu Nindi… nyuwun ngapunten nggih… mergo anakku, acarane dadi kaco ngene. Aku isin tenan, Bu. Nek Bu Nindi nuntut ganti rugi, nggak popo… aku siap. Mengko tak jalukno Dinda ngedol cincinku… mung iku sing isih ana.""Bu Sukma... sudah, nggak popo. Sudah terjadi juga. Yang penting kedepannya

  • Madu Suamiku   Hukuman

    "Sini... ikut ibuk !!!" Bu Sukma mensrik tangan Dimas dengan emosi. Seperti seorang ibu yang menarik tangan anak kecilnya karena melakukan kesalahan fatal."Apa sih! Buk ! Kemana ?" Bu sukma tidak menjawab. Bu Sukma terus menarik dengan sisa tenaganya. Walaupun mungkin Dimas bisa aja melepaskan diri. Tapi aira ibunya membuatnya tunduk. Ia terus berjalan mengikuti ibunya yang berjalan cepat.Zahra dan Zean saling pandang. Lalu mereka segera bergegas mengikuti bu Sukma dan Dimas.Sementara anak-anak di gandeng bu Nindi juga mengikiti mereka."Mau kemana sih! Buk ?""Diam kamu ! Kamu harus menerima hukuman setimpal !!!"Bu Sukma berhenti tepat di pos satpam di posko keamanan perumahan Zahra."Pak, tolong. Saya mau melaporkan ada penjahat ! Segera lapor polisi !""Ibuk ! Apa-apaan sih. Kok ibi tega ngelaporin anaknya sendiri ke polisi. Aku ini anakmu loh bu.""Lhaaa kamu saja tega kok mukuli Rayan sama Zahwa. Mereka itu yo anakmu lho.""Buuuuk, kan aku...""Hooop. Cepetan pak, lapor poli

  • Madu Suamiku   Tidak terima

    Zahwa terdiam. Tak menjawab, tapi matanya seolah ketakutan sembari memandangi kakaknya."Zahwa sayang, kenapa nak, hem ?" tanya Zahra lagi. "Rayan. Kenapa adek kamu ini ?" tanya Zahra ke Rayyan saat menyadari dua anaknya sedang saling pandang."Apa Ayah kalian yang melakukannya ?" tanya bu Sukma dengan hati-hati."Zean, itu... kamu ambilkan minyak oles dulu cepetan. Kasihan itu sampai biru-biru begitu, ya ampun," ucap Bu Nindi menyela. Zean tersentak lalu segera berlalu untuk ambil minyak oles.Sementara Zahra, Bu Sukma, dan Bu Ninda masih fokus ke Rayyan dan Zahwa."Kamu nggak usah takut, Zahwa ngomong aja. Rayyan, coba kamu yang jawab. Ada apa itu sama punggung adek kamu ? Jatuh atau gimana, atau ada yang jahatin kalian ?"Rayyan masih diam. Tapi alih-alih tak menjawab, ia langsung menggulung sedikit lengannya dan memperlihatkan lebam yang sama di lengan Rayyan. "Astagfirullah ! Kamu juga ? Coba sini, bilang ! Sebenarnya ini ada apa ?" tanya Zahra lagi dan kali ini, lebih tegas. A

  • Madu Suamiku   Memar dipunggung Zahwa

    Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman. Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi. Lampu-lampu kecil masih menyala. Bunga-bunga segar belum layu. Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk hari yang seharusnya sempurna, tapi malah berantakan. Zahra berdiri diam. Ia mengembuskan napas, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng. Begini caranya hidup bercanda, batinnya. Ia melangkah masuk. Di dalam, kursi pelaminan masih berjajar megah. Background floral-nya tetap berdiri gagah. Tenda catering masih terisi hampir penuh. mungkin para tetangga pulang terburu-buru, mungkin juga tidak ada yang tega menyentuhnya, saat kehebohan tadi pagi terjadi. Zahra menyentuh gaun pengantin yang ia pakai. Kain putih itu masih sempurna. Sayangnya, gaunnya tidak pernah mendapat giliran berada di tengah keramaian. Sunyi. Tapi bukan sunyi yang menyedihkan. lebih seperti... jeda. Ze

  • Madu Suamiku   Nahkoda kapal yang baru

    "Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju membelah jalanan yang mulai ramai. Udara terasa berat, bukan karena panas, melainkan karena perasaan yang tak terucap. Zahra menatap lurus ke depan, jemarinya saling bertaut di pangkuan, sesekali menghela napas pendek. Di luar, deretan masjid mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. suara merdu yang saling bersahutan, menggema dari pengeras suara, menandai waktu yang kian mendekati sholat Jumat.Lantunan itu seharusnya menenangkan, namun justru menambah rasa tegang yang menggantung di dalam mobil. Seolah setiap ayat membawa doa, juga kegelisahan yang berlapis. Rayyan duduk diam, sembari sesekali memperhatikan wajah bundanya. Sementara Zahwa terlelap di pangkuan bundanya, belum sepenuhnya terba

  • Madu Suamiku   Tabir yang tersingkap

    "Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka kesini dan memblokir nomor aku, ha ? Kamu sengaja kan ? Dimana mereka sekarang ?" Kali ini sudah habis kesabaran Zahra. "Wow wow wow... Chill... mereka ada kok. Dan mereka baik-baik saja.""Ya udah. Mana mereka ? Biar aku bawa mereka sekarang." Zahra mau langsung menerobos untuk nyari anak-anak, tapi di hadang lagi oleh Dimas. "NO ! kuncinya sama aku." ucap Dimas sembari mengacungkan kunci seolah mengejek Zahra. "Kamu kunci mereka, Mas ? Gila kamu Mas ! Siniin kuncinya. Pasti merkeka ketakutan sekarang. Bener-bener gila kamu !" "Eits. Enggak ! Nggak akan aku serahkan sebelum kamu mau balik lagi sama aku ! Menikah sama aku lagi, dan aku akan kembalikan mereka. Kalau tidak, Nggak akan !" "

  • Madu Suamiku   Cafee Aurora ?

    [Dimas? Ada apa? Ada masalah kah? ][Enggak, enggak. Ya udahlah biarin. Gimana? Ada apa? Maaf ya, kerjaan aku belum kelar nih, aduuuh] ucap Zahra sembari mengusap kepalanya. Sementara Zean malah terkekeh. [Ya ampun Zahra... Kamu tuh. Udahlah, santai... Kayak kerja ikut kolonial Belanda aja. Enggak

  • Madu Suamiku   Panggilan telpon ituu lagi ???

    Mobil berhenti perlahan di depan rumah Zahra, di kompleks perumahan yang mulai teduh oleh bayang-bayang pepohonan. Sinar matahari siang yang hangat masih menyelinap di sela-sela dedaunan, memberi kesan damai dan nyaman.Zean segera turun dan bergegas membukakan pintu mobil."Ayo, sudah sampai," uca

  • Madu Suamiku   Foto bersama

    "Hahahaha. Maaas, mas. Mau sampai kapan kamu dengan harapanmu itu, Mas... Mbak Zahra bahkan udah nolak berkali-kali lho. Udah sih, Move on... Move on... ""Enak aja! Nggak bisa nggak bisa! Aku harus, dapatin dia kembali!""Kalau dia nggak mau?""Ya harus mau lah. Aku akan lakukan cara apapun. Aa ap

  • Madu Suamiku   Membujuk Zahra

    Mereka berdua kini berada di samping gedung, duduk di antara tangga yang terletak disana. Dimas agak sedikit canggung, sementara Zahra lebih memilih mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang ia bawa. "Neng...""Ada apa?"" Eum... Makasih ya, kamu udah mendidik Rayyan. Dia tumbuh menjadi anak yang

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status