Mag-log in"Nduuk… ibuk njaluk ngapura yo… tenan, ibuk nyesel karo kelakuane Dimas. Ibuk kroso gagal ngedidik anak dewe. Isin ibuk karo kowe, nduk…" "Ibuk... ibuk, hei.. ampun... sudah... sudah terjadi. Lagipula kelakuan Mas Dimas itu tanggung jawabnya Mas dimas sendiri, Bu. Ibik sudah benar kok. Ibuk todak salah mendidik Mas Dimas. Kalaupun pada akhirnya Mas Dimas seperti itu, itu ya pilihannya Mas Dimas sendiri. Dia udah gede bu. Udah tua, harusnya dia tau mana yang salah dan mana yang benar.""Iyo... tapi kan,""Sssst. Sudah. Ayo, kita balik ke rumah Zahra dulu. Ibuk pasti capek kan."Dengan tulus, Zahra dan Zean menuntun Bu Sukma kembali ke rumah Zahra. Disana suasana sudah sepi dari keributan sebelumnya."Bu Nindi… nyuwun ngapunten nggih… mergo anakku, acarane dadi kaco ngene. Aku isin tenan, Bu. Nek Bu Nindi nuntut ganti rugi, nggak popo… aku siap. Mengko tak jalukno Dinda ngedol cincinku… mung iku sing isih ana.""Bu Sukma... sudah, nggak popo. Sudah terjadi juga. Yang penting kedepannya
"Sini... ikut ibuk !!!" Bu Sukma mensrik tangan Dimas dengan emosi. Seperti seorang ibu yang menarik tangan anak kecilnya karena melakukan kesalahan fatal."Apa sih! Buk ! Kemana ?" Bu sukma tidak menjawab. Bu Sukma terus menarik dengan sisa tenaganya. Walaupun mungkin Dimas bisa aja melepaskan diri. Tapi aira ibunya membuatnya tunduk. Ia terus berjalan mengikuti ibunya yang berjalan cepat.Zahra dan Zean saling pandang. Lalu mereka segera bergegas mengikuti bu Sukma dan Dimas.Sementara anak-anak di gandeng bu Nindi juga mengikiti mereka."Mau kemana sih! Buk ?""Diam kamu ! Kamu harus menerima hukuman setimpal !!!"Bu Sukma berhenti tepat di pos satpam di posko keamanan perumahan Zahra."Pak, tolong. Saya mau melaporkan ada penjahat ! Segera lapor polisi !""Ibuk ! Apa-apaan sih. Kok ibi tega ngelaporin anaknya sendiri ke polisi. Aku ini anakmu loh bu.""Lhaaa kamu saja tega kok mukuli Rayan sama Zahwa. Mereka itu yo anakmu lho.""Buuuuk, kan aku...""Hooop. Cepetan pak, lapor poli
Zahwa terdiam. Tak menjawab, tapi matanya seolah ketakutan sembari memandangi kakaknya."Zahwa sayang, kenapa nak, hem ?" tanya Zahra lagi. "Rayan. Kenapa adek kamu ini ?" tanya Zahra ke Rayyan saat menyadari dua anaknya sedang saling pandang."Apa Ayah kalian yang melakukannya ?" tanya bu Sukma dengan hati-hati."Zean, itu... kamu ambilkan minyak oles dulu cepetan. Kasihan itu sampai biru-biru begitu, ya ampun," ucap Bu Nindi menyela. Zean tersentak lalu segera berlalu untuk ambil minyak oles.Sementara Zahra, Bu Sukma, dan Bu Ninda masih fokus ke Rayyan dan Zahwa."Kamu nggak usah takut, Zahwa ngomong aja. Rayyan, coba kamu yang jawab. Ada apa itu sama punggung adek kamu ? Jatuh atau gimana, atau ada yang jahatin kalian ?"Rayyan masih diam. Tapi alih-alih tak menjawab, ia langsung menggulung sedikit lengannya dan memperlihatkan lebam yang sama di lengan Rayyan. "Astagfirullah ! Kamu juga ? Coba sini, bilang ! Sebenarnya ini ada apa ?" tanya Zahra lagi dan kali ini, lebih tegas. A
Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman. Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi. Lampu-lampu kecil masih menyala. Bunga-bunga segar belum layu. Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk hari yang seharusnya sempurna, tapi malah berantakan. Zahra berdiri diam. Ia mengembuskan napas, lalu tersenyum kecil sambil menggeleng. Begini caranya hidup bercanda, batinnya. Ia melangkah masuk. Di dalam, kursi pelaminan masih berjajar megah. Background floral-nya tetap berdiri gagah. Tenda catering masih terisi hampir penuh. mungkin para tetangga pulang terburu-buru, mungkin juga tidak ada yang tega menyentuhnya, saat kehebohan tadi pagi terjadi. Zahra menyentuh gaun pengantin yang ia pakai. Kain putih itu masih sempurna. Sayangnya, gaunnya tidak pernah mendapat giliran berada di tengah keramaian. Sunyi. Tapi bukan sunyi yang menyedihkan. lebih seperti... jeda. Ze
"Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju membelah jalanan yang mulai ramai. Udara terasa berat, bukan karena panas, melainkan karena perasaan yang tak terucap. Zahra menatap lurus ke depan, jemarinya saling bertaut di pangkuan, sesekali menghela napas pendek. Di luar, deretan masjid mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. suara merdu yang saling bersahutan, menggema dari pengeras suara, menandai waktu yang kian mendekati sholat Jumat.Lantunan itu seharusnya menenangkan, namun justru menambah rasa tegang yang menggantung di dalam mobil. Seolah setiap ayat membawa doa, juga kegelisahan yang berlapis. Rayyan duduk diam, sembari sesekali memperhatikan wajah bundanya. Sementara Zahwa terlelap di pangkuan bundanya, belum sepenuhnya terba
"Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka kesini dan memblokir nomor aku, ha ? Kamu sengaja kan ? Dimana mereka sekarang ?" Kali ini sudah habis kesabaran Zahra. "Wow wow wow... Chill... mereka ada kok. Dan mereka baik-baik saja.""Ya udah. Mana mereka ? Biar aku bawa mereka sekarang." Zahra mau langsung menerobos untuk nyari anak-anak, tapi di hadang lagi oleh Dimas. "NO ! kuncinya sama aku." ucap Dimas sembari mengacungkan kunci seolah mengejek Zahra. "Kamu kunci mereka, Mas ? Gila kamu Mas ! Siniin kuncinya. Pasti merkeka ketakutan sekarang. Bener-bener gila kamu !" "Eits. Enggak ! Nggak akan aku serahkan sebelum kamu mau balik lagi sama aku ! Menikah sama aku lagi, dan aku akan kembalikan mereka. Kalau tidak, Nggak akan !" "
Zahra menoleh ke belakang memandangi Bu Sukma yang duduk berjejer dengan Dinda dan saling berangkulan. Tatapannya itu mengisyaratkan sebuah makna yang dalam. Sebagaimana seorang ibu yang takut akan kehilangan anaknya. Lalu Zahra juga memandangi Dinda yang menunduk sedari tadi seperti sedang merapal
"Ya sama kita lah,""Aduh, Res. Aku nggak tega, masalahnya Rayyan itu udah peka banget. Aku nggak mau menciptakan memori itu di otak nya.""Ya udah kita nunggunya di luar aja, kan bisa... Aku antarin kamu sampai depan, terus aku sama anak anak jalan jalan, gitu.""Eum... Ya udah deh.""Naaah, gitu
"Pakai nomor baru lagi.""Astaga, curang. Ngapain lagi sih dia ? Mau bikin ribut apalagi?""Nih. Tapi ya... Aku juga sih yang salah. Ucapan dia nggak salah kok,"Resti membaca sebuah pesan itu yang membuatnya geleng-geleng kepala."Bener bener nggak ada otaknya ya dia. Kalau ngomong itu lo nggak ad
"Takut itu," tunjuknya ke arah Dimas. Dimas sempat menoleh ke belakang sebelum sadar dirinya lah yang di tunjuk oleh Zahwa. "Nggak ada apa-apa Zahwa sayang. Coba deh lihat."Zahwa menengok ke depan dan lagi-lagi menjerit takut. "Enggak, Zahwa takut! Takut!""Kenapa sih Neng, ada apa?" tanya Dimas







