LOGINSiapa yang menyangka bahwa pengacara wanita yang semalam berhasil meruntuhkan dominasi Bramantyo di panggung gala dinner, pagi ini justru tidak berdaya di bawah pelukan erat suaminya sendiri?Zahra mengerjapkan matanya yang masih terasa berat, hanya untuk mendapati wajah tampan Zean berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Sebelah tangan Zean melingkar posesif di pinggangnya di balik selimut tebal, seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu sedikit saja, wanita luar biasa di hadapannya ini akan menghilang."Sudah bangun, Sayang?" bisik Zean. Senyumnya langsung terkembang begitu melihat semburat merah muda mendadak terbit di kedua pipi polos Zahra yang tanpa riasan.Meningkatnya detak jantung Zahra membuat ingatan tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu hingga dini hari tadi berputar kembali. Refleks, ia menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi separuh wajahnya. Namun, kekehan geli Zean justru terdengar semakin dekat, disusul oleh kecupan lembut yang mendarat tepa
"Maaas, bisaa nggak sih kitaa pulang duluuuu. Capeek aku tuh. Udah terkuras habis tenagaku inii," protes Zahra sembari mengerucutkan bibirnya kesal,Zean terkekeh geli. Ketegangan yang sejak kemarin malam mencengkeram dadanya seketika runtuh melihat kemanjaan istrinya yang telah kembali. Ia mengulurkan tangan kirinya, mengusap puncak kepala Zahra dengan lembut."Iya iya, Sayang. Ya udah ayo kita pulang dulu. Nanti saja ceritanya di rumah kalau udah nggak capek," ucapnya halus, penuh rasa bersalah sekaligus lega.Mobil itu kembali melaju santai membelah keheningan malam, melewati rimbunnya pepohonan di sepanjang Jalan Besar Ijen yang ikonik, lalu berbelok menuju kawasan perumahan tenang di sudut Malang Kota. Udara malam yang sejuk khas Malang perlahan merayap masuk, membuat suasana di dalam kabin mobil terasa semakin hangat dan intim.Tak lama kemudian, mobil mereka berbelok memasuki pekarangan rumah. Begitu melangkah masuk ke dalam kehangatan rumah yang sunyi, mereka berdua melepas
Prok... prok... prok... Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seolah sedang mengejek kedangkalan berpikir wanita di hadapannya."Kamu... salah cari lawan, Melisa!" tegas Zahra, sorot matanya seketika berubah setajam silet. "Menghadapi orang seperti kamu... itu bukan hal yang sulit buat aku."Keadaan ballroom benar-benar sunyi. Ratusan hadirin, termasuk para kolega hukum senior dan CEO kakap, tampak melongo. Mereka yang tadinya mengira akan menyaksikan drama kehancuran rumah tangga, kini justru disuguhi pemandangan seorang istri sah yang begitu dominan dan mengendalikan situasi.Zahra mengangkat tangan kirinya yang memegang sebuah gawai pintar, lalu menekan satu tombol. Detik itu juga, layar LED raksasa di belakang Melisa kembali berkedip."Para hadirin yang terhormat, maaf atas interupsi yang tidak nyaman ini," ucap Zahra, berbalik sekilas menyapa para tamu dengan gestur profesional yang amat anggun. "Namun, sebagai orang hukum, kita semua tahu bahwa sebuah tuduhan tanpa vali
Acara pun bergulir dengan khidmat. Sesi demi sesi dilewati, mulai dari makan malam mewah hingga sesi bincang-bincang santai antar-klien kakap. Namun bagi Bramantyo dan Melisa, setiap menit yang berlalu terasa seperti siksaan yang membakar dada.Bramantyo terus menatap jam tangannya, otaknya yang licik kembali berputar cepat. Ia tidak mau menyerah begitu saja. Gagal lewat jalur operator digital, berarti ia harus menggunakan rencana cadangan yang jauh lebih nekat. Ia melirik Melisa yang masih berdiri gelisah di dekatnya."Gunakan rencana kedua," bisik Bramantyo dingin, nyaris tak terdengar. "Bawa dokumen cetak pelanggaran kode etik itu sekarang. Begitu giliran kakakku naik ke podium untuk memberikan pidato penutup, kamu langsung terobos panggung. Bawa mikrofon cadangan, bongkar semuanya secara lisan, lalu lempar dokumen itu ke meja para klien utama. Mengerti?"Melisa menelan ludah, matanya berkilat nekat. Rasa malunya karena gagal tadi berubah menjadi ambisi gelap yang berbahaya. "Ba
Malam puncak perayaan hari jadi Dirgantara Law Firm yang ke-30 akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima itu telah bertransformasi menjadi ruang gala yang luar biasa megah. Lampu gantung kristal memancarkan pendar keemasan, menerangi ratusan tamu VIP yang mulai memenuhi ruangan. Para petinggi hukum, jaksa senior, hakim, hingga para CEO perusahaan multinasional yang merupakan klien-klien kakap dari Dirgantara Group tampak bercakap-cakap elegan sembari menyesap minuman mereka.Di sudut ruangan yang agak remang, terpisah dari kerumunan utama, Bramantyo berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Tatapannya dingin, lurus mengarah ke podium panggung. Tidak jauh dari sana, bersandar pada pilar marmer, Melisa berdiri dengan gaun malam berwarna merah marun berpotongan tegas.Mereka berdua sengaja tidak saling menyapa untuk menjaga jarak, namun sepasang mata mereka memancarkan kilat yang sama, penantian akan sebuah kehancuran besar. Melisa bahkan sudah tidak sabar membayangkan detik-detik
Sementara itu, Di sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Melisa berdiri tegak di samping jendela kaca raksasa. Wajahnya berseri-seri, gincu merah darahnya tampak semakin kontras dengan senyum kemenangan yang tak kunjung pudar. Di depannya, seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kulit mahoni tampak menyesap cerutu dengan sangat tenang.Itu adalah Bramantyo Dirgantara, paman Zean sekaligus salah satu pengacara senior di Dirgantara Group yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang kejayaan ayah Zean. Ia adalah rival sejati di dalam keluarga itu sendiri. Orang yang telah lama menanti momen untuk menjatuhkan kehormatan keluarga inti Dirgantara. "Semua berjalan sangat sempurna, Om Bram," ujar Melisa dengan nada suara yang melengking riang, terdengar begitu jemawa. "Tebakan kita benar. Si Zahra itu tidak ada apa-apanya. Begitu aku perlihatkan video kamar hotel dan salinan dokumen lama itu, dia langsung gemetar."Melisa terkekeh manja, mengi
Rumah Zahra sudah sunyi ketika mobil berhenti di halaman.Zahra turun pertama. Angin sore menyentuh wajahnya lembut, dan dari teras ia bisa melihat jejak pesta yang tak pernah benar-benar terjadi.Lampu-lampu kecil masih menyala.Bunga-bunga segar belum layu.Teras itu… cantik. Terlalu cantik untuk
"Zahra... kita ke rumah sakit dulu saja ya, sebelum pulang," ucap Zean."Iya, Mas. Akhu khawatir sama anak-anak. Takut kenapa-napa, terutama sama psikisnya.""Ya kamu juga, Zahra. Kamu pasti tadi shock banget kan,""Mmm... aku nggak apa-apa kok."Perjalanan ke rumah sakit cukup tegang.Mobil melaju
"Wah wah wah... ada apa nih, kamu tiba-tiba sampai disini ? Ooooh. Aku tahu. Jadi gimana ? Batal ya, pernikahannya ? Terus kamu kesini, berubah pikiran dan mau balik sama aku, ayo... sekarang ? Kita ke KUA ? Hm ?" 'PLAAAKKK!!!'"GILA KAMU MAS !!!""Dimana anak-anak ? Apa maksud kamu bawa mereka ke
Sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil berubah arah. Mobil ia kemudikan dengan kecepatan tinggi menjauhi jalanan arah menuju rumah Bunda mereka. Rayyan yang mulai oaham dengan arah jalan sempat protes tapi Dimas langsung membentaknya. Sejak itu, tiba-tiba suasana menjadi tegang dan semakin te







