Mag-log in[M] Akibat kejadian kelam di masa lalu, sedikit banyak telah membentuk kepribadian Diara Alifa. Entah mengapa ia merasa bahagia jika menjalin hubungan dengan lelaki milik wanita lain. Menurutnya itu sangat menantang dan menyenangkan.
view more"BAJINGAN!"
"Laki-laki biadab!" "Dan kamu pelacar muruhan. Rasakan ini!" "Aahh ... Lepaskan! Dasar perempuan tua tidak berguna. Lepaskan tanganmu dari rambutku!" "Lepaskan tanganmu Ratih! Sudahlah terima saja nasibmu. Aku sudah bosan denganmu!" "Tidak! Aku tidak akan lepaskan. Wanita murahan ini harus merasakan rasa sakitku!" "Ahhh mas kepalaku sakit." "Kubilang lepaskan!" "TIDAK!" "Mas. Hiks ... Tolong." Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita paruh baya itu. Seketika jambakannya pada rambut wanita muda yang merupakan selingkuhan dari sang suami terlepas. Sontak perempuan itu berlari ke arah lelakinya. "Mas kepalaku sakit." Adunya dengan manja. "Maaf ya sayang." Sambil mengelus lembut kepala selingkuhannya. Melihat hal tersebut membuat sang istri menatap tak percaya dengan air mata yang sudah menganak sungai. "Kamu membelanya dan menamparku?" "Itu memang pantas untukmu!" Ucapnya tanpa rasa bersalah, Kemudian lelaki itu pergi membawa serta wanita mudanya meninggalkan sang istri. "ARRGGH LELAKI BIADAB! KURANG AJAR KAMU MAS!! HIKS... " Diara Alifa terbangun dari tidur dengan napas terengah. Sepenggal ingatan kelam itu kembali menghantuinya. Teriakan frustasi ibunya, bentakkan sang ayah serta suara manja dari wanita perebut ayahnya; terus silih berganti berdengung di telinga. Diara ingin mengenyahkan kejadian buruk itu dari ingatan. Kejadian yang telah merubah dan menghancurkan hidupnya dengan seketika. Tapi mengapa semakin ia ingin melupakan malah semakin sering ia mengingatnya. Mengingat di mana saat malam itu ayahnya pergi dan tidak pernah kembali, meninggalkan dirinya beserta sang ibu demi wanita murahan itu. Hari demi hari setelahnya ia lewati dengan sulit. Ibunya depresi karena ulah ayah. Diara harus berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Ia yang saat itu masih berumur sembilan tahun, harus terpaksa membanting tulang demi sesuap nasi untuk dirinya dan sang ibu makan. Tidak sampai disitu penderitaan yang Diara alami. Sebab, dua bulan setelah kejadian itu, ibunya ditemukan gantung diri di kamar. Mendapati wanita yang sangat ia sayangi dalam keadaan menggantung tidak bernyawa, sontak saja membuat tubuhnya melemas seketika. Ia berteriak histeris memanggil-manggil sang ibu. Sempat terbesit dalam benaknya untuk menyusul sang ibu. Mengikuti jejaknya untuk mengakhiri hidup. Tapi hal itu urung Diara lakukan, karena secercah cahaya harapan yang datang. Iya. Kala itu Bibi Yeni; adik ibunya, saudari satu-satunya ibu--yang tinggal berbeda kota; datang. Ia merengkuh Diara dan kemudian membawanya pergi untuk tinggal bersama. Diara merasakan bahagia karena sang bibi memperlakukannya dengan sangat baik. Yeni menganggap Diara seperti anaknya sendiri, Yeni juga menyekolahkan Diara lagi. Yeni tidak pernah sama sekali membeda-bedakan Diara dengan anak kandungnya. Tapi sayangnya, kebahagian yang Diara rasakan tidak berlangsung lama. Sebab, saat usianya menginjak angka empat belas tahun, hal yang paling buruk dan mengerikan terjadi dalam hidupnya. Herman, pamannya, suami Yeni, melecehkan Diara. Ia merenggut harta paling berharga dan satu-satunya yang gadis malang itu punya. Diara merasa hancur, takut, bahkan jijik pada dirinya sendiri. Tapi Diara tidak bisa melakukan apa-apa. Herman menekan dan mengancam agar Diara tidak mengadu pada Yeni. Bisa kau bayangkan, gadis berusia empat balas tahun dilecehkan lalu diancam. Apa yang bisa Diara lakukan saat itu? Tidak ada! Ia hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan Herman. Juga harus terus melayani nafsu bejadnya. Hingga satu tahun berlalu, mereka selalu melakukan perbuatan menjijikkan itu di belakang Yeni dan Zahra (anaknya) Entah mungkin karena sudah terbiasa bercinta dengan Herman selama kurun waktu satu tahun. Sehingga Diara mulai rasakan perasaan yang berbeda pada suami dari bibinya itu. Diara tidak mengerti apa itu perasaan cinta atau sejenisnya? Yang jelas saat itu ia merasa nyaman dan juga bahagia. Herman juga tidak pernah melakukannya dengan kasar kecuali saat malam pertama ia merenggut kesuciannya. Namun lagi dan lagi nasib malang menimpa Diara. Hubungan gelapnya dengan Herman akhirnya ketahuan. Yeni marah besar pada keduanya. Yeni memaki, menampar, menjambak bahkan mencakarnya. Untung saja saat itu Herman berusaha untuk menghalanginya, walaupun sebenarnya Herman juga tak luput dari amukkan Yeni. Pil pahit harus kembali Diara telan. Yeni mengusirnya dari rumah. Diara bingung harus pergi ke mana? Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain bibinya. Sejak dulu Diara memang tidak mengenal keluarga dari ayah, yang ia tahu hanya keluarga dari ibu saja. Ibu hanya memiliki satu orang adik yaitu yeni, sedangkan kakek neneknya dari ibu, sudah lama meninggal dunia. Saat itu Diara melangkahkan kaki dengan berat, meninggalkan rumah Yeni. Tanpa arah dan tujuan, ia hanya mengikuti ke mana kakinya ingin pergi. Ia juga tidak punya uang sama sekali, yang ia bawa dari rumah Yeni hanya beberapa pasang baju. "Diara!" Tiba-tiba saja suara seseorang yang amat Diara kenal terdengar memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang, ke arah suara itu berasal. Ia tersenyum senang melihat presensi laki-laki tinggi berusia tiga puluhan yang berlari mendekatinya. 'Itu paman Herman. Dia menyusulku? Apa dia berubah pikiran dan ingin meninggalkan Bibi Yeni lalu lebih memilih hidup bersamaku?' Entah mengapa Diara merasa bahagia, lengkungan senyum manis seketika tercetak di bibirnya. Ini terdengar sangat jahat memang. Tapi ia juga menyayangi atau bahkan saat itu ia telah mencintai Herman. Ia juga ingin memilikinya. Tapi sayang dugaannya salah besar, karena nyatanya Herman mengerjar karena lelaki itu hanya ingin memberikan beberapa lembar uang untuk bekal Diara hidup di luar. Mungkin lelaki itu merasa iba pada Diara. Gadis itu sempat meminta Herman untuk memilihnya dan hidup bersamanya. Namun lelaki itu menolak mentah-mentah. Herman bilang masih sangat mencintai Yeni dan lelaki itu juga tidak bisa jauh dari anaknya. Dan satu hal lagi yang membuat hati Diara serasa seolah disayat-sayat pisau yang begitu tajam, saat Herman berkata bahwa 'kebersamaannya' selama satu tahun tidak lebih dari sekedar pemuas nafsu. Lagi-lagi Diara merasakan kehancuran itu, lagi-lagi Diara merasakan kehampaan dan sendirian. Satu tahun Diara hidup terlunta-lunta di jalanan. Ia ingin pulang ke kota kelahirannya--menempati rumahnya yang dulu. Tapi uang yang diberi oleh Herman--saat terakhir pertemuan, tidak seberapa, hanya cukup untuk biaya makan beberapa hari saja. Akhirnya Diara mencoba bertahan hidup dengan cara apapun. Semua pekerjaan ia lakoni; dari mulai memulung, membawakan barang belanjaan orang di pasar, menyemir sepatu, sampai akhirnya ia bertemu dengan pemilik warung nasi sederhana bernama Rosidah. Wanita paruhbaya itu sangat baik hati. Beliau memberikan Diara pekerjaan yang lebih layak yaitu membantu di warung nasi. Beliau juga mengajarkan Diara memasak dan beliau memberinya tempat tinggal. Sampai pada saat usia Diara menginjak delapan belas tahun. Rosidah menyarankannya untuk mengikuti pelatihan menjadi asisten rumah tangga. Beliau bilang agar Diara memiliki gaji tetap dan bisa mempunyai hidup lebih baik lagi. Diara menurut, ia mengikuti pelatihan itu. Berkat skil memasak yang Rosidah pernah ajarkan padanya dan juga karena ia memang sudah biasa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak membutuhkan waktu lama, Diara mendapatkan majikan pertamanya. Sepasang pasutri muda yang baru saja mempunyai satu orang anak berusia lima tahun. Nadia dan Bima. Mereka sangat baik padanya. Diara di gaji cukup besar, sekitar dua juta lima ratus rupiah setiap bulannya. Diara senang sekali dengan hidupnya yang sekarang dan semua itu berkat Rosidah. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah melupakan kebaikannya. Bersambung...."Mas .. kamu .. kamu memberikan bunga kesukaanku ke wanita murahan itu?" "Echa... Mas ..." Air wajah Zaenal yang tadi menyiratkan kebahagian, kini hilang sudah tergantikan oleh raut sendu menatap istri pertamanya. Kemungkinan ia merasa bersalah karena hal yang baru saya dilakukan pada istri kedua. Diara tersenyum sinis--dalam benaknya mempertanyakan, mengapa Zaenal harus merasa bersalah begitu? Memangnya salah jika seorang suami memberikan bunga pada istrinya? Apa istri pertama suaminya itu lupa kalau Diara juga istri suaminya? Seharusnya Echa tidak perlu membuat ekspresi wajah begitu, seolah-olah seperti orang yang terzolimi dan membuat Zaenal jadi serba salah dan tidak enak. Dasar berlebihan! Echa menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya juga sudah berkaca. Huh lebay sekali. "Kamu jahat sekali Mas. Itu 'kan bunga kusukaanku! Kenapa kamu memberikan bunga itu padanya?!" Setelah mengatakan kalimat tersebut, dengan cepat Echa melangkah mendekati Diara--ia berusaha ingin merebut bung
Untung saja Diara cepat menyadari keanehan penampilan sang suami, kalau tidak? Zaenal pasti akan menahan malu ke luar rumah dalam keadaan seperti itu. Tingkah Zaenal tersebut membuat Diara tidak berhenti menggelengkan kepala dan mengudarakan tawa. Bagaimana tidak? Ini merupakan kali pertama baginya mengetahui tingkah konyol sang suami. Seperti yang kau tahu, selama ini Zaenal selalu tampak cool di setiap penampilannya dan prilakunya. Tapi walaupun Diara baru mengatahui sisi lain Zaenal, tapi ia sama sekali tidak merasa ilfeel, justru yang ada ia malah senang karena menjadi salah satu orang yang mengetahui sisi lain tersebut. Sssttt kau tahu? Zaenal itu sangat menjaga image sekali orangnya. Sekarang ini Diara sedang ada di ruang televisi, sengaja menunggu Zaenal di sana karena perut sudah sangat lapar dan ingin langsung makan. Sedari tadi matanya menyorot ke arah televisi yang sedang menampilkan siaran berita perselingkuhan antara menantu dan mertua. Ish ish ish miris sekali, masa
"Apa-apaan sih kalian berdua, Hah?!" Zaenal tampak gusar mendapati kedua istrinya sedang bertengkar sampai jambak-jambakan. Ia juga kesal karena tidurnya terganggu oleh suara-suara teriakan yang dihasilkan. Mata Zaenal melotot melihat ke arah Diara dan Echa bergantian. Sangat mengerikan sekali, jujur baru kali ini Diara melihatnya. Memang wajar sih, siapa juga yang tidak kesal apabila sedang enak-enaknya tidur lalu diganggu dengan suara teriakan nyaring. Jangankan Zaenal, Diara sendiri pasti kesal jika diganggu seperti itu. Apalagi Diara tahu kondisi Zaenal yang sedang dalam keadaan lelah karena pertempuran mereka Tidak ingin kena marah, lantas Diara mengambil start lebih dulu mendekatinya, lalu mengadukan apa yang dilakukan Echa sampai mereka berdua berakhir seperti ini, tidak lupa sembari diberikan sedikit bumbu-bumbu agar Echa terlihat bersalah. Namun terlebih dulu, Diara membuat air wajahnya menjadi sendu--seperti teraniaya. "Mbak Echa duluan yang cari gara-gara, Mas!" "Heh
Ada dua hal yang kini membuat Diara merasa sangat bahagia yaitu; satu karena pernikahannya sudah dipublikasikan, walaupun hanya pada Pak RT, tapi tidak mengapa yang penting Diara sudah diakui dan membuatnya bisa bergerak bebas di kawasan perumahan ini. Lalu yang kedua, tadi pagi, Diara dan Zaenal pergi ke dokter kandungan untuk mengecek sekaligus mengontrol keadaan kehamilannya, dan hasilnya dokter bilang kalau kandungan Diara sudah kuat, dokter tersebut juga mengizinkan mereka untuk berhubungan intim kembali ketika mereka bertanya perihal tersebut. Jelas saja Diara dan Zaenal tidak ingin membuang-buang kesempatan. Begitu sampai rumah, mereka langsung melakukannya. mereka memang sangat merindukannya. Walau mereka melakukannya harus dengan hati-hati seperti pesan dokter. Tapi tidak apa-apa yang penting rasa rindu itu sudah tersalurkan. Dan kini setelah berjam-jam bergumul, Diara merasa lapar, energinya terkuras habis karena percintaan yang meraka lakukan. "Laper banget." Gumam Diar
Jadi apa kata yang tepat untuk Diara berikan pada Echa, hm? Munafik 'kah? Ah ya, sepertinya kata itu cukup cocok untuknya.Echa memang munafik! Mengapa Diara bisa berkata demikian? Karena apa yang diucapkan olehnya sangat berbeda jauh dengan apa yang ia lakukan. Echa berucap kukuh ingin bercerai, t
Ternyata benar apa yang dipikirkan Diara. Kamar yang menjadi tempat istirahat sementarnnya merupakan kamar yang diperuntukkan untuk pembantu. Dari letaknya yang berada paling belakang saja Diara sudah dapat menebaknya, apalagi ketika ia sudah berada di dalamnya. Luasnya, isinya, semuanya sangat miri
"Dasar wanita mandul menyebalkan!" Diara menggerutu pasalnya Echa tidak mau bertukar kamar dengannya. Wanita itu terus mendebat Zaenal hingga membuat suami mereka pusing dan akhirnya memilih mengalah. Diara tidak terima keinginannya tidak terpenuhi, lantas wanita itu ikut merajut yang membuat Zaenal
Perlahan Diara membuka mata, hal pertama yang ia lihat setelah matanya terbuka dengan lebar adalah presensi Zaenal dengan wajah panik.Zaenal sudah melontarkan tanya, mengenai keadaan sang istri, namun alih-alih mendapat jawab, istrinya itu justru tidak mengindahkan dan malah mengedarkan pandangan--m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.