LOGIN[M] Akibat kejadian kelam di masa lalu, sedikit banyak telah membentuk kepribadian Diara Alifa. Entah mengapa ia merasa bahagia jika menjalin hubungan dengan lelaki milik wanita lain. Menurutnya itu sangat menantang dan menyenangkan.
View More"YOU ARE ONE WEEK PREGNANT."
When I confirmed that my suspicions were correct, the doctor's words rang in my ears. Tears streamed down my cheeks as I stood in front of my boyfriend's house, unsure whether I should continue or retreat. I was terrified... There are so many possibilities that my mind is jumbled, and I feel as if I'm going insane.
What if my boyfriend deny about our future baby? What will be my parents reaction?
It's been a week since we attended a debut party. I am not aware of what happened… All I can remember is the loud music accompanied by loud shouts from different peoples. Then I got drunk and so on…
I messed up my hair and frustratedly looked up at the house. I let out a deep breath… and using my trembling hand, I knocked twice.
I close my eyes when no one responds. "Please… Love, please…" I whispered hopefully. I bit my lower lip to stop it from trembling, even my vision was blurred by the incessant tears.
I knocked again. Sequential.
I exhaled a sigh of relief because someone had already opened the door this time. Aunt Eloisa, my boyfriend's mother, greeted me with an irritated expression that was quickly replaced by concern when she saw how I looked. She quickly grabbed both of my arms.
"Hailey… What happened to you? Why are you crying?" She wiped the tears from my cheeks as she was confused and didn't know what to do.
"Liam… Where is he?"
She guided me into the house and I drifted off. My chest was pounding with excitement.
"Liam! Get down there!" Tita Eloisa shouted and hurried up the stairs.
Liam's sister, who was now sitting next to me, looked away, distracting herself with her phone.
I quickly noticed Liam coming down the stairs. I was able to sit up when our gazes met. His brows drew together immediately, irritated by my presence. As he got closer to me, his step became heavier.
"What the hell, Hailey?!"
"Liam! That's rude!" Aunt Eloisa warned him.
I immediately stood up and adjusted myself. I wiped away my tears before approaching him and pulled into their kitchen. I made sure that no one would follow us. Liam didn't complain even though there were traces of irritation on his face.
"L-Liam…" I muttered.
His jaw cleched. "Can't you speak without stuttering?" he asked aloud.
I took a deep breath. "I'm pregnant."
He was stunned.
He was silent for a few seconds but after a while, I was surprised when he suddenly pulled my left arm and held it tightly. I complained of pain and tried to escape.
"Hey! I-it hurts!"
"Bitch, what did you say?!" he asked, enraged. His face began to redden signs of fury. "YOU'RE PREGNANT?!"
I couldn't open my mouth because my throat getting dry. I was expecting this reaction from him, but I'm still taken aback. I knew he wouldn't like it, but I'm hoping there's still a chance... that he'll change and this will be good news for him.
"Fuck, you can't get pregnant! What are you planning? You'll entrust me that trash?!" He pointed my tummy—I could the disgust on him.
My heart beats faster with fear. I could do nothing but keep quiet because he might get even angrier.
"L-Liam… It's yours…"
“No! I didn't get you pregnant! I am not the father of that child!" He released me violently and if I hadn't just held on to the dining table, I would have almost fallen over. When I turned my gaze back to him, it was the sharp stare I met. "Why are you so careless?! You have a lot of men, don't you? I am not the fucking father!"
"Don't you dare accuse me like that!" I screamed, holding back my cry. I clasped my hands and tearfully met his gaze. "You know how I value my self. Why can't you accept it?! I am pregnant and you'll be a father!"
"I said I'm not the father!" He slapped me hard.
I fell to the floor and cried as I caressed my numb cheek. My breath became heavier.
Even before I could recover, he pulled me upright and forcibly dragged me out. I tried to stop him but he was so strong to the point that I can't even move. I just heard Aunt's scream who looked surprised and also tried to suppress him.
"Stop! Be careful, I'm pregnant!" I begged while crying.
He pushed me out and opened the door. Fortunately, aunt Eloisa intervened right away, otherwise I would have fallen again. Crying, I took a step back, trembling with fear. He might kill our future baby, which I don't want to happen.
Liam's face was still red from his rage as he stared at me. His shoulder was also moving quickly as a result of his deep breathing. I understand that having a child is a threat to him because he still has many dreams to fulfill on his own... And the baby in my womb has the potential to ruin them.
"Y-You are pregnant?" Aunt Eloisa asked, looking incredulous at what she heard.
I looked at Liam first before nodding my head slowly.
We immediately heard the loud crashing of trash cans as a result of Liam's kick. I took another step back.
"That's not mine! Nothing is happening to us yet! Are you trying to trick me?! Huh? You slut!"
My eyes widened. "What are you saying?!" I shouted.
I looked at Aunt Eloisa when she slowly released me, a trace of confusion in her expression.
"Why? Isn't it true?! Nothing really happen, right? Now, tell me, who got you pregnant?!"
"Have you forgotten about the party last week?! We made love!"
"Love your face! Ha! Me? I guess you're with someone else that time. You were drunk then, weren't you? Don't fucking trick me, Hailey!"
I shook my head. He's lying… I'm sure he is and he's just making a way to escape his responsibility.
"Hailey, are you sure it's my son?" Auntie asked, doubtfully.
My lips parted out of frustration, I tried not to cry.
"Of course, Auntie! Yes, I'm drunk! But I am aware— "
"Aware?! Stop lying to my face! Get out!" he shouted. He turned to his mother and pulled her away. "Mom, let's go in." He slammed the door shut.
I wanted to follow and stop them but I couldn’t move my body. I just sat on the floor and did nothing, still unable to accept the consequence.
Dugaan Diara salah, harapannya musnah, sudah. Dan hanya berakhir menjadi angan-angan saja. Diara kira malam itu menjadi awal mula untuk terus memadu kasih bersama Zaenal di depan Echa, ternyata itu menjadi momen pertama sekaligus yang terakhir. Diara pikir ketika Echa mengamuk dan menuntut bercerai, seperti biasa Zaenal hanya akan memberikan janji-janji palsu--hanya untuk membujuk saja, setelahnya akan ingkar seperti yang sudah-sudah. Namun Diara tak menyangka, Zaenal sungguh-sungguh menepati janjinya tersebut. Dan itu terbukti benar dengan penolakan tegas yang diberikan Zaenal acapkali Diara menggodanya untuk melakukan lagi. Agaknya laki-laki itu sangat mencintai istri pertamanya dan sangat takut kehilangan sehingga lebih memilih menahan diri dan mengabaikan istri keduanya. Pengabaian yang dilakukan Zaenal pada Diara nyatanya tidak hanya sampai di situ saja. Hal itu terus berlanjut dan semakin parah dari waktu ke waktu, sampai-sampai tidak sadar Zaenal telah mengabaikan Diara hi
"Dira. Kenapa kamu ada di sini?" Zaenal bersuara berbisik seraya sedikit mengangkat tubuhnya, ia melirik was-was ke arah Echa yang masih begitu terlelap di tempatnya. "Aku kangen kamu Mas. Aku udah gak tahan." Diara sengaja membuat suaranya begitu seksual sembari terus memijat dengan seduktif benda sensitif milik Zaenal yang ia favoritkan. Netra Zaenal terpejam, ia mendesis samar merasakan desiran gairah akibat ulah yang istri mudanya lakukan. Diara merasakan benda itu berkedut-kedut, mulai menegang. Ia tersenyum menyeringai karena berhasil memantik gairah suaminya tersebut. "A-ayo pindah. Uh! Pindah ke kamarmu." Susah payah Zaenal menyusun kalimatnya. Ia meminta Diara untuk pindah--melakukannya di kamar sang istri kedua. Namun jelas saja Diara memberikan gelengan kepala. Ia menginginkan berhubungan intim di kamar itu, dan di lihat oleh kakak madunya. Itu sudah menjadi keinginannya sejak awal. "Kenapa harus pindah? Di sini saja Mas. Bukannya Mas juga sudah gak tahan?" "J-jangan.
Tujuan Diara untuk membuat Echa menangis telah berhasil, tapi kadar kebahagiaan yang ia rasakan sedikit kurang karena Echa tidak menuruti apa yang dikatakan suaminya atas dasar perintah Diara. wanita itu malah berlari pergi ke kamarnya dengan air mata yang bercucuran. Huh padahalkan Diara ingin sekali menunjukkan pada Kakak madunya itu betapa bersemangat dan bernafsunya Zaenal saat bersamanga. tapi sudahlah, lain kali Diara akan mencobanya lagi. Dan akan ia pastikan Echa melihatnya. Gila? Yah mungkin saja kata itu cocok untuk disematkan untuk Diara, sebab entah mengapa, dan sejak kapan wanita itu merasakan ada sebuah dorongan keinginan yang begitu besar dalam benak. Ia ingin Kakak madunya itu melihat percintaannya dengan suami meraka, ia ingin melihat Echa menangis tersakiti, dan Diara akan merasa senang jika itu terjadi. Diara tidak tahu sejak kapan ada perasaan aneh seperti itu muncul? Tapi kapanpun itu, agaknya Diara tidak peduli dan tidak ingin mencari tahu, sebab yang ia pikir
"Susu yang dikasih mbak Echa gak enak, Mas." "Mas--" Zaenal kembali akan bersuara, namun Diara tidak mengizinkannya. Lantas cepat-cepat ia menukas. "Tapi aku punya susu yang lebih enak. Mas pasti suka, karena ini juga susu favorit Mas." Zaenal menautkan alisnya, mungkin ia belum paham dengan apa yang istri keduanya katakan. Diara melirik Echa, wanita itu juga masih belum memberikan reaksi apa-apa, selain menyorot dengan tatapan tidak suka. Diara tersenyum cengah. 'Tunggu sebentar lagi, aku jamin kamu akan mengamuk sekaligus menangis Echa! Mengalihkan lagi pandangan pada Zaenal, Diara merubah senyum menjadi sebuah senyuman manis, ia berucap. "Mas lebih pilih susu yang aku kasih 'kan?" Seraya membusungkan dada kehadapan wajahnya. Omong-omong sekarang ini Diara memakai kaus berwarna putih yang pas badan, dan kau tahu? Ia tidak memakai bra sehingga bagian kecilnya terlihat menonjol. Meski Diara sedang hamil, dan perutnya sudah mulai membuncit--karena usianya sudah masuk bulan ketiga,
Mata Diara terpejam, tidak berani melihat pada benda pipih panjang yang saat ini masih ia pegang.Sebuah testpack. Beberapa saat lalu, Rianti menyarankan untuk mengecek perihal hamil atau tidaknya menggunakan alat tes kehamilan dini bernama testpack yang dibeli via ojek online. Diara baru saja selesa
"Apa!" Rianti memekik tidak percaya. "Sekarang mana hape lo?"Diara menunjuk pada ponselnya yang teronggok di lantai itu--masih di posisi yang sama ketika ia lempar dengan keras. Diara tidak tahu keadaan ponsel itu pecah atau mungkin malah sudah rusak? Ia tidak peduli.Rianti me
Semestinya hari ini Diara lalui dengan bersenang-senang bersama Steno seperti hari-hari kemarin, bahkan bisa lebih dari itu karena seharusnya seharian ini Steno berada di apartemen terus.Semua rencana dan niat yang sudah Diara susun di kepala mengenai apa yang akan ia lakukan seperti berbelanja kebu
PLAK!!Bukannya jawaban yang Diara terima, malah sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri hingga membuatnya tertunduk. Siapa wanita itu? Diara tidak mengenalnya, tapi mengapa tiba-tiba menampar?Diara memegangi pipinya yang terasa panas dan perih, ia kembali mengangkat wajah dan menatapnya. "Siapa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews