Mag-log inAku melangkah mundur dengan tubuh yang lemas seutuhnya. Punggungku menempel pada dinding marmer yang dingin, menahan bobot tubuhku agar tidak jatuh luruh ke lantai. Aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat, meredam isak tangis keputusasaan yang hampir meledak dari tenggorokanku.
'Biya... tega lo lakuin ini sama gue? Setelah semua cerita perjuangan kita yang sama, setelah sup buah yang lo buatin... lo ternyata monster yang mau seret gue ke neraka?' pekik batTiga bulan setelah badai konspirasi berdarah di ibu kota mereda, aku memilih untuk mengubur seluruh nama besar keluarga Bramasta maupun Raditya di dasar bumi. Uang warisan triliunan rupiah itu sepenuhnya kuserahkan kepada Pak Hendra untuk dialokasikan menjadi yayasan medis gratis atas nama almarhum Arsen. Aku melarikan diri, mencari kedamaian yang sesungguhnya di sudut kota Yogyakarta, tempat di mana hiruk-pikuk politik korporat tidak akan pernah bisa menjangkau jiwaku lagi.Sore itu, aroma biji kopi yang dipanggang memenuhi kedai kopi kecil berdesain kayu klasik milikku di kawasan Sleman. Aku berdiri di balik konter marmer sederhana, mengelap beberapa cangkir porselen putih dengan senyuman tipis yang akhirnya bisa kembali terbit di wajahku.Cring...Suara gemerincing lonceng angin di atas pintu masuk kedai mendadak memutus kesibukanku. Aku mendongak perlahan, berniat menyapa pelanggan baru yang datang menjelang matahari tenggelam. Namun, detik berikutnya,
Brak!Pintu kayu ek tebal ruang kerja eksekutif itu didorong paksa hingga menghantam dinding marmer dengan bunyi dentuman yang teramat nyaring. Langkah kaki pelayanku melangkah taktis membelah ruangan, mengabaikan seluruh perimeter steril yang selama ini diagungkan oleh dinasti Raditya.Devan dan Pak Hendra yang sedang memeriksa dokumen perak di atas meja marmer hitam seketika tersentak kaku. Sepasang mata elang milik sang miliarder langsung mendongak tajam, mengunci posisiku dengan kilatan posesif akut yang berkelindan dengan rasa terkejut yang luar biasa pekat."Aletta?! Siapa yang izinin lo masuk ke ruangan gue jam segini?!" bentak Devan. Suara baritonnya yang berat menggelegar rendah, memancarkan dominasi mutlak yang biasanya sanggup membungkam siapa saja di kota Jakarta."Gue gak butuh izin dari lo, Devan Raditya!" pekikku dengan nada suara yang pecah dan bergetar hebat penuh luapan emosi. Aku melangkah tegap, lalu dengan satu sentakan kasar
Devan mengendurkan pelukan kokohnya secara perlahan, namun sepasang mata elangnya yang tajam dan pekat tetap mengunci wajah pucatku. Pria red flag gila kendali itu berbalik tegap menatap Pak Hendra yang masih berdiri kaku di ambang pintu ruang makan, memegang map dokumen perak dengan logo hukum internasional."Bawa berkas itu ke ruang kerja gue sekarang, Hendra," perintah Devan, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan dingin, memotong habis keheningan pagi."Baik, Tuan Devan. Pihak notaris hukum juga sudah menunggu di ruang rapat utama," jawab Pak Hendra taktis sembari membungkuk hormat penuh kepatuhan.Aku menghapus sisa air mata di pipiku dengan gerakan kasar menggunakan punggung tangan, menatap penuh selidik ke arah map perak tersebut. Rasa curiga yang sejak beberapa hari lalu kupendam mendadak kembali mencuat naik ke permukaan, memicu intuisi pelayanku yang tajam. "Berkas apa itu, Devan? Kenapa bawa-bawa nama almarhum Bapak gue?!"
Pagi harinya, siksaan isolasi mandiri yang kubangun dengan susah payah di dalam kamar sayap barat runtuh berantakan. Dua pelayan pria berbadan tegap masuk tanpa mengetuk pintu atas perintah mutlak Devan, menuntun paksa tubuh lemasku menuruni undakan tangga marmer menuju ruang makan utama mansion. Di ujung meja marmer panjang yang megah, Devan Raditya sudah duduk berwibawa dengan setelan kemeja formal putih tanpa jas, memancarkan dominasi yang mencekik udara pagi."Duduk," perintah Devan singkat. Suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan dingin, tidak menerima bantahan apa pun.Aku hanya bisa duduk pasrah di kursi berukir klasik tepat di seberangnya, menatap kosong ke arah piring porselen berisi roti panggang dan selai cokelat pekat yang terletak di hadapanku. Lidahku kaku sewarna linen kusam, enggan mengeluarkan sepotong kata pun untuk merespons keberadaannya di ruangan ini."Hendra bilang lo gak menyentuh makanan sama sekali sejak kemarin,"
Satu minggu berlalu sejak malam jahanam di atas pembatas balkon sayap barat mansion Raditya. Waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar megah ini, berubah menjadi genangan keheningan yang teramat pekat. Pintu kaca raksasa menuju balkon luar kini sudah dikunci rapat secara digital atas perintah protektif Devan, sementara tirai sutra tebal berwarna kelabu selalu kubiarkan tertutup rapat tanpa celah.Aku menghabiskan siang dan malam hanya dengan duduk meringkuk pasrah di sudut tempat tidur king-size yang luas. Kedua lenganku memeluk erat bantal beludru abu-abu, menatap kosong ke arah dinding marmer di hadapanku dengan sepasang mata yang bengkak. Kehilangan Arsen telah merampas seluruh daya sangga fisik dan batinku seutuhnya, meninggalkan raga pelayanku yang kini resmi menjadi hiasan bisu di dalam sangkar emas milik sang miliarder red flag.Tok... tok... tok...Suara ketukan pintu yang teramat halus memutus kesunyian kamar tidurku yang dingin. Itu adalah ke
Cklek.Pintu kaca geser balkon ditutup rapat oleh Devan menggunakan kaki panjangnya, memblokade kepungan angin malam yang dingin jahanam. Pria red flag gila kendali itu sama sekali tidak melepaskan cengkeraman posesifnya pada tubuh kecilku. Dia memboyongku masuk kembali ke dalam kehangatan kamar sayap barat. Tubuh mungilku diletakkan dengan teramat hati-hati di atas permukaan kasur king-size yang berantakan, disusul oleh tubuh tegap menjulangnya yang ikut luruh di sampingku."Lepas, Devan... gue mau sendiri..." bisikku dengan sisa tenaga yang teramat rapuh. Bibirku kaku sewarna linen kusam, sementara kelopak mataku terasa sangat berat karena terkuras habis oleh histeria keputusasaan."Diem, Aletta. Lo gak bakal ke mana-mana malam ini," ketus Devan rendah tepat di atas keningku.Suara baritonnya kembali memancarkan dominasi yang mutlak, namun sepasang lengan kekarnya melingkar protektif membungkus pinggang piyamaku, mengunci seluruh pergerakanku ta







