LOGINDekapan hangat Devan perlahan mengendur, menyisakan jarak beberapa sentimeter saja di antara tubuh kami yang masih terperangkap keheningan. Pria itu menatapku lekat-lekat. Ibu jarinya yang besar bergerak lembut menghapus sisa air mata di pipiku dengan usapan perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak aku terikat kontrak, mata pria itu tidak memancarkan arogansi yang menyebalkan, melainkan sebuah perlindungan mutlak yang membuat hatiku sedikit berdesir aneh oleh perasaan asing.Langkah tegap Devan berhenti kaku tepat tiga langkah setelah melewati ambang pintu. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung mengunci posisiku yang masih duduk berdampingan dengan Biya di atas sofa. Ada kerutan samar yang mendadak muncul di dahinya yang kokoh. Udara di dalam kamar sayap barat ini seketika mendingin drastis, menjerat sisa tawa jenaka yang beberapa detik lalu sempat menghidupkan ruangan.Biya yang menyadari kehadiran sang penguasa mansion langsung bangkit berdiri dengan gerakan panik. Wajah manisnya pucat pasi, menunduk dalam-dalam hingga nampan di tangannya sedikit bergetar. "M-Maaf, Tuan Devan. Saya... saya sedang melayani keperluan Nona Aletta."Devan tidak langsung menjawab. Dia hanya diam menatapku lekat-lekat. Di dalam benak pria red flag gila kendali itu, ada gejolak asing yang mendadak berkecamuk hebat. Dadanya terasa berdenyut aneh, memicu rasa cemburu posesif yang mendadak membakar egonya.'Kenapa dia bisa tertawa lepas begitu sa
Biya baru saja berbalik untuk melangkah keluar ketika aku memanggilnya pelan. "Biya, tunggu."Gadis pelayan itu menghentikan langkah kakinya taktis. Dia menoleh dengan sepasang mata jernihnya yang mengerjap heran. "Iya, Nona Aletta? Ada yang bisa Biya bantu lagi?""Lo... ada kerjaan padat banget nggak setelah ini?" tanyaku ragu, meremas ujung gaun tidur satinku. "Kalau nggak keberatan, nemenin gue ngobrol di sini bentar, mau?"Biya sempat tertegun selama dua detik. Dia melirik cemas ke arah pintu digital yang terkunci, takut melanggar aturan ketat Devan. Namun, melihat tatapan mataku yang teramat kesepian, dia akhirnya tersenyum ramah dan mengangguk patuh. "Boleh, Nona. Kebetulan tugas Biya sore ini memang cuma fokus melayani keperluan Nona saja."Dia melangkah mendekat, lalu mendudukkan dirinya dengan sopan di atas karpet bulu tepat di dekat sofa tempatku meringkuk."Jangan duduk di bawah, Biya. Sini, naik ke sofa aja," ujarku sambil men
Mobil SUV baja yang memboyong kami akhirnya membelah gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi di kawasan perumahan elit elite Jakarta Selatan. Mansion utama keluarga Raditya berdiri kokoh bagaikan benteng abad pertengahan yang angkuh di atas tanah seluas dua hektar. Pengamanan di sini jauh lebih ekstrem daripada penthouse Kuningan; barisan pria berjas hitam bersenjata lengkap tampak siaga di setiap sudut pekarangan, murni demi mengunci seluruh celah dari ancaman luar.Begitu melangkah masuk melewati pintu kayu ek raksasa, Devan langsung melepaskan rangkulannya di pinggangku dengan gerakan taktis. Wajah tampan pahatannya terlihat luar biasa tegang, dipenuhi oleh urat leher yang menyembul kaku."Hendra, kumpulin seluruh kepala divisi keamanan dan tim IT utama di ruang rapat bawah tanah sekarang juga. Jangan ada yang telat satu menit pun," perintah Devan. Suara baritonnya yang berat bergema dingin, memotong habis keheningan lobi mansion yang megah."Baik, T
Dekapan erat Devan di tubuhku malam itu terasa begitu posesif, seolah mencengkeram seluruh napasku agar tidak terlepas ke udara bebas. Di luar tirai kaca butik eksklusif kawasan Menteng ini, suara sirine mobil keamanan Raditya Group mulai terdengar bersahut-sahut memecah keheningan pagi. Langkah kaki puluhan pengawal bersenjata yang berderap masuk ke dalam lobi membuat atmosfer di dalam ruangan menjadi teramat pekat."Hendra! Pindahin Aletta ke mobil baja sekarang!" bentak Devan tanpa melepaskan rangkulannya di pinggangku. Mata elangnya berkilat tajam, menatap ke arah pintu darurat butik yang baru saja terbuka sedikit. "Suruh tim siber sisir CCTV radius satu kilometer dari titik ini. Gue mau tahu siapa kurir yang masukin aster keparat itu!""Baik, Tuan Devan. Mobil antipeluru sudah siap di lobi depan," jawab Hendra taktis sembari membukakan jalan dengan tubuh tegapnya.Aku hanya bisa pasrah membiarkan tubuh mungilku dituntun paksa keluar dari butik mewah t
Keesokan harinya, tirai kaca kamar penthouse dibuka paksa oleh pelayan tepat pukul delapan pagi. Aku tidak diberikan waktu sedikit pun untuk memikirkan potongan foto masa kecil itu. Devan dengan sifat gila kendalinya langsung memboyongku ke salah satu butik pengantin paling eksklusif di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.Hari ini adalah jadwal fitting gaun pertunangan resmi pertama kami.Aku melangkah masuk ke dalam butik bernuansa klasik Eropa tersebut dengan pengawalan ketat tiga pria berbadan tegap di belakangku. Devan berjalan di sampingku, mengenakan kemeja kasual hitam yang lengannya digulung rapi. Wajah tampannya tetap datar, namun mata elangnya terus-menerus menyapu setiap sudut ruangan, memastikan tidak ada celah keamanan yang bocor."Ganti baju lo. Desainernya udah nunggu di dalam," ketus Devan sambil mendudukkan diri di sofa beludru ruang tunggu utama, melipat kaki kirinya dengan pose angkuh.Aku menghela napas panjang, melangkah mengekor
Aku duduk meringkuk di atas sofa beludru, menatap kosong ke arah layar televisi raksasa yang menayangkan berita tentang kasus hukum finansial keluarga besar Selena Radenka.Kartu ucapan aster dengan goresan inisial 'R' itu terus menari liar di dalam benakku, memicu rasa takut sekaligus kebingungan yang mendalam.'R... siapa sebenarnya lo? Kenapa lo bisa tahu nama panggilan masa kecil gue dan memanggil gue Letta?' batin kecilku menjerit penuh tekanan. Cklek.Suara pintu utama berlapis baja milik penthouse yang terbuka otomatis memecah keheningan malam di kawasan Kuningan. Aku langsung menoleh. Sosok tegap menjulang milik Devan melangkah masuk dengan langkah tegas.Pria itu sudah melepas jas abu-abu gelapnya, menyisakan kemeja hitam formal dengan beberapa kancing teratas yang sengaja dibuka acuh tak acuh. Wajah tampannya terlihat luar biasa dingin tanpa ekspresi emosi manusia biasa.Di belakang tubuh tegapnya, tampak mengekor Hen







