FAZER LOGINSuasana malam di kediaman keluarga Raynar kembali diliputi oleh keheningan yang menenangkan selepas badai besar yang menghantam hari itu. Mobil sedan mewah hitam yang membawa Arvin Raynar dan Nawa Kirana melaju mulus memasuki gerbang utama kompleks kediaman, melewati deretan pohon mahoni yang diterangi lampu jalanan. Keberhasilan membongkar fitnah licik Clarissa di hadapan publik elite dalam perjamuan bisnis tadi sore telah membawa perasaan lapang dan lega yang tak terhingga bagi pasangan suami istri tersebut. Nama baik Nawa sebagai konsultan arsitek lanskap independen tidak hanya pulih sepenuhnya secara publik, melainkan kini makin melambung tinggi dan dihormati oleh jajaran petinggi korporasi pengembang properti papan atas. Setibanya di paviliun barat, kehangatan kompleks bangunan semi-mandiri itu menyambut kepulangan mereka. Lorong kaca beratap transparan yang menghubungkan paviliun dengan kediaman utama tampak diterangi lampu dinding kekuningan yang lembut. Arvin mengoperas
Suasana di ballroom utama hotel bintang lima yang menjadi tempat diselenggarakannya perjamuan bisnis tahunan asosiasi pengembang properti nasional terasa begitu megah, glamor, dan riuh. Lampu-lampu kristal raksasa membiaskan cahaya keemasan yang mewah di atas lantai marmer mengkilap, sementara alunan instrumen musik chamber orchestra mengiringi percakapan hangat dari ratusan tamu elit yang terdiri dari para pengusaha papan atas, investor asing, pejabat pemerintah, serta sosialita kota. Namun, di salah satu sudut ballroom yang dikelilingi oleh jajaran direksi Nirwana Resort dan kolega bisnis elite, Clarissa Danoediredja tampak memimpin pembicaraan dengan raut wajah yang memancarkan keangkuhan dan rasa kemenangan mutlak. Mengenakan gaun malam berwarna merah menyala dengan perhiasan berlian berkilauan di lehernya, Clarissa berdiri berdampingan dengan Julian, tunangannya yang kaya raya. "Sangat disayangkan memang," tutur Clarissa dengan suara beracun yang sengaja dikeraskan agar me
Matahari baru saja naik sepenggalah, tetapi menyebarkan kehangatan yang menembus jendela kaca besar taman kaca di paviliun barat kediaman keluarga Raynar. Nawa Kirana duduk fokus di depan meja kayu besar yang tertata rapi. Jemari lentiknya menari lincah di atas papan ketik laptop. Ia sedang melakukan penyempurnaan terakhir pada berkas laporan dan spesifikasi teknis proyek lanskap resort and spa mewah di Bali yang akan segera diserahkan kepada pihak pengembang Nirwana Resort. Di seberang meja kayu itu, Arvin Raynar duduk tegap di atas kursi roda otomatis barunya. Tampak mendampingi sang istri tercinta sambil membaca dokumen laporan korporasi triwulanan Raynar Group. Keharmonisan pagi itu mengalir begitu damai, memancarkan kebahagiaan rumah tangga yang baru saja menemukan bentuk sempurnanya. Namun, kedamaian tersebut mendadak terusik ketika layar ponsel cerdas di atas meja Nawa berdering nyaring. Suaranya memecah keheningan ruangan dengan nada panggilan yang mendesak. Nawa mel
Kabar mengenai kembalinya Arvin Raynar ke kursi kepemimpinan Raynar Group menyebar bagaikan kilat di kalangan elite korporasi metropolitan. Tidak hanya itu, rumor mengenai kebangkitan sang Dirut yang kini tampil begitu bugar, berwibawa, dan didampingi oleh seorang wanita muda berparas anggun nan berkelas menjadi topik hangat yang paling banyak dibicarakan di pesta-pesta minum teh para sosialita papan atas. Namun, di sebuah penthouse mewah berlantai marmer impor di kawasan bisnis terpadu ibu kota, kabar tersebut disambut dengan aura yang jauh dari kata hangat. Clarissa Danoediredja berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menghadap ke lanskap kota. Wanita bergaun desainer warna merah hati itu menggenggam erat segelas champagne di tangan kanan hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menyipit tajam menatap pantulan dirinya di kaca, dipenuhi oleh campuran emosi yang membakar. Rasa malu atas kekalahan verbalnya di gala dinner, harga diri yang tercabik-cabik, serta kejengkelan yang
Mentari baru saja merayap naik, menebarkan kehangatan yang melingkupi kediaman Raynar. Pintu kaca geser yang mengarah ke balkon sengaja dibiarkan terbuka lebar. Begitu pula dengan jendela besarnya. Tirainya tersingkap ke samping dengan rapi. Suatu hal yang tidak pernah dilakukan selama tiga tahun belakangan karena penghuninya memilih tenggelam dalam kegelapan dan keputusasaan. Semerbak wangi mawar merah di taman samping paviliun langsung menguar begitu angin berembus hingga menyusup masuk ke dalam kamar utama. Membawa kedamaian serta kehidupan baru di tempat yang selama tiga tahun ini seperti tak berpenghuni. Di dalam kamar utama, Arvin Raynar menikmati kenyamanan pagi pertamanya pasca perayaan ulang tahun yang begitu berkesan. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu sudah mengenakan kaos berkerah berwarna krem yang dipadukan dengan celana katun kasual berpotongan rapi. Arvin duduk tegap di atas kursi roda otomatis canggih hadiah sang nenek. Ia sedang menatap rumput di halaman
Malam di dalam kamar utama paviliun barat kediaman keluarga Raynar merambat semakin larut, membawa serta keheningan yang menenangkan ke seluruh sudut ruangan. Cahaya lampu tidur berwarna kuning keemasan memancarkan kehangatan yang lembut, menyinari Arvin yang kini tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. Mata hazel-nya terus terpaku pada pintu kamar mandi yang sejak sepuluh menit lalu tertutup rapat. Dari dalam kamar terdengar gemercik air sebelum akhirnya berhenti. Jantung Arvin Raynar berdegup kencang, bukan karena ketakutan atau kecanggungan seperti malam-malam pertama mereka berbagi kamar, melainkan karena gelombang kebahagiaan dan keharuan yang meluap-luap di dalam dadanya. Syal rajutan hadiah istimewa dari Nawa tergeletak rapi di nakas samping ranjang. Ia menatap benda itu dengan senyum yang kembali terkembang sempurna. Arvin menundakkan kepalanya perlahan, menatap kedua kakinya yang mati rasa. Ada begitu banyak rasa syukur yang mengendap dalam dada karena Nawa mau meneri







