Daniel And Callista (INDONESIA)
Daniel And Callista (INDONESIA)
Author: Abigail Kusuma
Bab 1 Meet Stranger

Los Angeles – California

Sebuah club mewah di Los Angeles ini menjadi salah satu tempat yang sering didatangi oleh para artis dan kalangan atas. Bootsy Bellows, club mewah yang berada di Los Angeles ini tidak pernah sepi. Setiap harinya selalu ramai dengan para pengunjung. Kehidupan malam di Los Angeles memang sudah terkenal.

Tampak dua wanita cantik yang tengah duduk di mejanya seraya meminum wine terus menjadi pusat perhatian para pria di sana. Beberapa kali pria berusaha mendekati dua wanita itu namun kenyataanya tidak ada satupun yang berhasil mendekatinya.

“Callista, apa kau tidak ingin berdansa? Sejak tadi para pria berusaha mendekatimu. Tapi kau selalu menolaknya,” tukas Olivia seraya menegak wine di tangannya hingga tandas.

Callista tertawa pelan. “Kau menasihatiku seoalah kau tidak melakukan hal yang sama. Bukannya sejak tadi para pria juga berusaha mendekatimu? Tapi tidak ada satupun yang kau terima.”

Olivia mendengus kesal. “Sudahlah, lebih baik kau diam. Menyebalkan sekali. Aku memang tidak tertarik menjalin hubungan.”

Callista mengangkat sebelah bahunya tak acuh. “Sepertinya kita harus meminum wine yang beralkohol. Aku ingin sekali menenangkan pikiranku.”

“Jangan macam-macam, Callista. Aku tidak ingin mengangkut tubuhmu kalau kau mabuk. Kau itu lemah alcohol. Sudah nikmati saja wine mu tanpa alcohol itu,” tukas Olivia mengingatkan.

“Well, aku hanya sedang merasa bosan.” Callista menggerakan gelas sloki ditangannya berirama. Wajahnya terlihat tampak begitu muram.

Olivia mendesah pelan. “Kau bosan kenapa? Apa karena keluargamu masih melarangmu menjadi seorang Dokter? Sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan ayahmu. Padahal harusnya mereka bangga diusia muda kau sudah menjadi Dokter.”

“Ayahku masih menginginkanku memimpin perusahaannya,” jawab Callista dengan helaan napas berat. “Padahal aku memiliki kakak yang bisa memimpin perusahaan keluargaku. Harusnya mereka tidak perlu mengharapkanku. Karena mereka tahu jawabannya akan tetap sama. Aku tidak akan meninggalkan pekerjaanku hanya karena permintaan ayahku yang menginginkan aku mempin perusahaannya.”

Ya, Callista Hutumo, seorang wanita cantik berdarah Inonesia-California ini memiliki profesi sebagai Dokter Bedah Jantung di salah satu rumah sakit ternama di Los Angeles harus rela melarikan diri dari rumah karena keluarganya selalu melarang apa yang menjadi mimpinya. Sejak dulu, Michael, ayahnya menginginkan Callista memimpin perusahaannya. Namun, tentu Callista selalu menolaknya. Karena memang, memimpin perusahaan bukanlah impian Callista.

Malam ini, Callista bersama dengan Olivia mengunjungi salah satu klub yang biasa mereka datangi. Merasa jenuh dengan pekerjaan. Callsta selalu memilih untuk bersantai sejenak bersama Olivia.

“Nona Callista.” Suara bariton memanggil nama Callista dengan cukup keras, hingga membuat Callista mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu. Seketika kening Callista berkerut, menatap empat sosok pria berpakaian hitam yang berdiri di hadapannya.

“Callista? Kau mengenal mereka?” Olivia berbisik dengan suara pelan di telinga Callista.

Callista membuang napas kasar. “Mereka anak buah ayahku,” jawabnya dingin.

Olivia tersentak. Raut wajahnya berubah menjadi panik dan ketakutan. “Callista, mereka anak bauh ayahmu?” tanyanya memastikan.

Callista menggguk singkat.

“Astaga, apa yang mereka lakukan di sini?” tanya Olivia lagi dengan raut wajah yang semakin panik dan cemas.

Tanpa menjawab perkataan Olivia, Callista langsung mengalihkan pandangannya menatap anak buah ayahnya itu yang berdiri tepat di hadapannya. “Apa yang ingin kalian lakukan? Kenapa kalian di sini?”

“Nona, Tuan Besar Michael meminta anda untuk segera pulang. Saya mohon, Nona untuk segera ikut kami,” ujar pengawal itu.

“Lebih baik kalian pulang. Aku tidak ingin kalian datang menggangguku,” tukas Callista dingin dengan tatapan penuh peringatan.

“Nona kami tidak akan pergi jika belum membawa anda. Itu pesan dari Tuan Michael. Kami tidak akan bisa pergi tanpa anda ikut dengan kami,” jawab pengawal itu. “Kami mohon, agar Nona tidak mempersulit kami.”

“Apa kalian ini tuli? Aku minta kalian pergi dari sini! Jangan pernah menggangguku!” seru Callista dengan suara yang meninggi.

“Maaf Nona, kalau begitu kami harus memaksa anda.” Pengawal itu mulai menarik paksa tangan Callista. Dengan satu kali hentakan, Callista berhasil menepisnya. Tatapan Callista kini semakin menajam kala pengawal ayahnya berani menyentuh tangannya.

“Sialan! Beraninya kau menyentuhku!” bentak Callista keras.

“Kami minta maaf, Nona. Tapi kami melakukan ini karena anda tidak bisa diajak kerja sama,” jawab salah satu pengawal lainnya.

“Alright, kalau begitu lawan aku. Tunjukan kemampuan kalian,” tantang Callista dengan sorot mata yang kian menajam.

Tanpa lagi menjawab, pengawal itu langsung menerjang Callista mengunci pergerakan tangannya. Dengan sigap, Callista membalikan tubuh pria yang berusaha mengunci pergerakannya. Callista memukul dan menendang pria itu hingga membuat pria itu tersungkur di lantai.

Suasana klub malam menjadi gaduh akibat perkelahian Callista dan para pengawal ayahnya itu. Para pengawal itu, kembali mencoba mengunci pergerakan Callista namun rupanya mereka terpaksa harus membalas pukulan Callista.

Braakkkkk

Callista tersungkur ke lantai ketika ada yang melawannya dari belakang. Olivia menjerit saat melihat Callista tersungkur di lantai. Olivia menggigit bibir bawahnya, wajahnya penuh dengan kecemasan dan ketakutan.

“Shit!” umpat Callista saat dirinya tersungkur di lantai akibat serangan dari arah belakang. Callista berusaha bangkit berdiri dan kembali melawan. Namun saat dirinya merasakan ada yang ingin menyerangnya dari arah belakang, dia merasa ada seseorang yang membantunya. Callista membalikan tubuhnya lalu menatap sosok pria tampan dengan tubuh tegap melawan anak buah ayahnya dari belakang.

“Jika kalian berani, jangan melawan seorang wanita!” desis pria itu saat mengunci pergerakan dari anak buah Michael.

Callista terkesiap melihat ada sosok pria yang membantunya. Rasanya dia ingin menolak bantuan itu tapi tidak mungkin. Akhirnya Callista membiarkan pria itu membantunya melawan pengawal ayahnya.

Callista kembali melawan pengawal dari ayahnya, hingga mereka tersungkur di lantai dan meninggalkan Callista.

“Terima kasih,” ucap Callista pada pria di hadapanya itu. Namun pria itu tidak menjawab saat Callista mengucapkan terima kasih.

Olivia mulai membuka matanya, sejak tadi saat Callista berkelahi dia terus memejamkan matanya karena tidak berani menatap sahabatnya. Saat Olivia melihat pengawal yang di kirim ayahnya Callista sudah tidak ada, dengan cepat Olivia langsung berlari menghampiri Callista. “Kau tidak apa-apa, Callista? Kau tidak terluka, kan?” Olivia memegang bahu Callista, memeriksa sahabatnya itu memiliki terluka atau tidak.

“Aku baik-baik saja,” balas Callista.

“Maaf Nona, anda harus mengganti kerusakan ini,” kata sang manager yang kini menghampiri Callista.

“Sialan!” umpat Callista. Jika bukan karena ulah ayahnya, tidak mungkin dia harus menngganti kerusakan ini.

“Biar aku yang membayar.” Pria yang tadi membantu Callista menyerahkan black card miliknya pada sang manager untuk membayar semua kerusakan.

Callista tersentak saat pria itu langsung memberikan black card pada manager klub malam itu. “Tuan? Tunggu kenapa anda membayarnya? Aku bisa membayarnya, Tuan.”

***

-To Be Continued

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status