6. Erangan

Negeri Salju, itulah julukan negeri Rusia yang dikenal oleh dunia. Rusia yang terkenal sebagai salah satu destinasi favorit para turis. Namun, memilih waktu terbaik untuk mengunjungi negeri berjuluk Negeri Salju ini adalah hal yang terasa sangat sulit bagi sebagian besar orang. Hal itu terjadi, karena musim sering datang atau pergi tidak tepat dengan prediksi kalender musim yang sudah ditetapkan oleh instansi yang memiliki wewenang.

Hanya saja, bagi Luna yang tidak pernah berkunjung ke luar negeri, kapan pun waktunya itu tidak masalah. Saat ini saja, Luna terlihat begitu takjub dengan apa yang ia lihat. Karena membutuhkan waktu yang lama untuk menempuh perjalanan hingga tiba di negeri asing ini, Luna sama sekali tidak memiliki waktu untuk menikmati semua pemandangan indah yang tersaji di hadapan matanya. Luna terakhir kali memilih untuk beristirahat di kamar hotel yang sudah dipersiapkan.

Sebenarnya, sebelumnya Luna sudah bersiap dengan setumpuk umpatan karena merasa begitu membenci Dominik yang bertingkah seenaknya. Dominik seenaknya mengubah jadwal penerbangan yang sebelumnya sudah disepakati. Meskipun sebenarnya Luna sama sekali tidak perlu mengurus apa pun selain barang-barang yang akan ia bawa, tetapi tetap saja Luna merasa kesal.

Saat menggerutu di dalam pesawat mewah pribadi milik Dominik, si pria misterius bernetra biru tersebut malah berkata, “Paspor dan visamu sudah selesai diurus, lalu kenapa harus membuang waktu? Lebih baik berangkat secepatnya, bukan? Ah, jangan berpikiran aneh. Aku hanya tengah bersiaga. Takutnya, anak kucing yang sudah susah payah kutangkap melarikan diri karena aku terlalu melonggarkan pengawasan.”

“Menyebalkan. Jadi dia menganggapku seperti seekor anak kucing?” tanya Luna sembari menatap keindahan kota yang selama ini menjadi salah satu pusat dari wisata di negeri Rusia ini.

Saat Luna baru saja akan melemparkan makian pada sosok bos besar tersebut, Luna mendengar dering ponsel yang terdengar asing. Luna segera beranjak menuju ranjang dan melihat ponsel mewah di atas nakas berdering. Itu bukan ponsel milik Luna, tetapi ponsel yang diberikan oleh Dominik pada Luna untuk digunakan selama bekerja sebagai sekretaris Dominik. Itu berarti, Luna hanya perlu bertahan selama tiga bulan, sesuai dengan masa magangnya. Menurut kontrak, jika dirinya mengundurkan diri di luar masa magang, hal itu diperbolehkan. Luna akan memastikan ulang pada Dominik nanti, sekarang Luna harus mengangkat telepon dari Dominik lebih dulu.

“Halo,” sapa Luna dengan suaranya yang khas di telinga Dominik.

“Bersiaplah. Lima belas menit lagi Harry akan menjemputmu,” sahut Dominik di ujung sambungan telepon.

Luna yang mendengarnya tentu saja akan berdebat. Lima belas menit mana cukup untuk menyiapkan dirinya sebaik mungkin. Apalagi, Luna memang harus menyiapkan beberapa hal. Namun, Dominik sama sekali tidak memberi ruang bagi Luna untuk membantah apa yang sudah ia perintahkan. Dominik memutuskan sambungan telepon begitu saja dan membuat Luna menutup matanya karena rasa kesal yang.

Luna menipiskan bibirnya dan bergumam, “Sabar, Luna. Sabar. Ini baru hari pertama. Kendalikan dirimu. Ini hanya berlaku untuk tiga bulan.”

Ya, Luna mencoba untuk menyuntikkan semangat pada dirinya sendiri. Meskipun ini bukan posisi yang Luna inginkan, dan sebenarnya terlalu tinggi untuknya, tetap saja Luna harus mengerahkan semua kemampuannya. Luna tidak ingin membuat kesalahan yang bisa membuat Dominik mengikatnya lebih lama. Luna harus bekerja sebaik mungkin dalam tiga bulan, dan bisa mendapatkan kebebasannya lagi.

***

Luna berulang kali mengernyitkan keningnya karena mendengar bahasa Inggris yang beraksen unik, tetapi tetap masih bisa ia mengerti. Awalnya, Luna merasa khawatir karena dirinya tidak bisa bekerja dengan baik karena perbedaan bahasa. Luna berpikir, para pekerja lain akan menggunakan bahasa asli mereka, alih-alih menggunakan bahasa Inggris. Hal yang patut Luna sykuri karena dirinya bisa mengerti dengan baik, dan melaksanakan tugasnya dengan baik di hari pertamanya ini.

Kecemasan Luna tersebut berawal karena ternyata di hari pertama Dominik langsung mengajaknya untuk ikut serta dalam rapat mengenai masalah proyek yang akan dimulai akhir bulan nanti. Tentu saja, Luna harus mencatat begitu banyak hal, dan bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang terlibat untuk mengemukakan pendapat atau ide mereka adalah bahasa Inggris, Luna setidaknya bisa menulis semua itu dengan tepat. Luna terlalu fokus dengan apa yang ia kerjakan, dan tidak menyadari jika saat ini Dominik tengah memperhatikannya dengan lekat.

Dominik merasa kagum pada Luna. Ia tahu, semua yang terjadi beberapa hari ke belakang pasti sangat mengejutkan untuk Luna. Lebih daripada itu, kini Luna harus beranjak dari rumahnya yang nyaman dan bekerja di negeri asing yang jelas tidak ia kenali. Namun sejauh ini, Dominik bisa menilai jika Luna cukup pandai dalam beradaptasi. Saat ini saja, Luna sudah larut dalam pekerjaannya dan tampak tidak merasa asing dengan lingkungan di sekitarnya yang jelas sangat berbeda daripada lingkungan yang selama ini ia tinggali.

Rapat itu pun selesai dengan cepat. Namun, Dominik, Luna dan Harry masih berada di ruang rapat. Harry dan Dominik tengah berdiskusi dengan bahasa ibu mereka, sementara Luna masih sibuk memindahkan catatan tangannya yang berantakan menjadi catatan digital pada laptop. Sayangnya, karena terlalu berkonsentrasi dengan tugasnya, Luna tidak menyadari jika kini Harry sudah beranjak dari ruangan tersebut dan meninggalkan dirinya dan Dominik di ruang rapat tersebut.

Namun, beberapa saat kemudian, karena dirinya merasa ruang tersebut terasa terlalu hening, Luna pun menghentikan jemarinya dan menatap sekeliling. Ternyata semua orang sudah pergi, tinggal Dominik yang duduk di kepala meja dengan karismanya sebagai seorang pemimpin. “Kenapa Tuan masih di sini?” tanya Luna membuat Dominik mengernyitkan keningnya.

“Apa aku tidak boleh berada di sini?” tanya bali Dominik membuat Luna ingin sekali mencubit bibir pria yang sungguh menyebalkan ini.

“Bukan seperti itu, tetapi bukannya Tuan harus kembali ke ruangan Anda dan mengerjakan tugas Anda?” Luna memperbaiki pertanyaan yang sebelumnya ia ajukan pada Dominik.

Dominik mengangguk-angguk seakan mengerti dengan apa yang ingin disampaikan oleh Luna padanya. Namun apa yang dikatakan Dominik selanjutnya malah membuat Luna ingin memukul Dominik menggunakan laptop yang berada di tangannya. Hanya saja, Luna masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan hal itu. “Aku tau. Pergilah dan buatkan aku kopi. Harry ada di depan pintu dan akan mebawamu ke pantry khusus yang hanya boleh digunakan olehku, olehmu dan Harry,” ucap Dominik.

Dengan mengetatkan rahangnya karena kecamuk emosinya, Luna pun berkata, “Baik, Tuan.”

Luna segera beranjak pergi. Perempuan satu itu tampak berbeda dengan setelan formal berupa rok span, dan kemeja panjang berwarna kuning segar. Jangan lupakan sepatu berhak lima sentimeter yang melengkapi tampilannya. Karena bantuan Harry, Luna bisa membuat kopi yang sesuai dengan selera Dominik dengan cepat dan bisa kembali ke ruang rapat tampa menghabiskan waktu yang terlalu lama.

Luna meletakkan nampan di atas meja di hadapan Dominik, dan berkata, “Silakan kopinya. Jika tidak ada yang Anda butuhkan lagi, saya pamit lebih dulu.”

“Memangnya kata siapa jika tidak ada lagi yang aku butuhkan?” tanya Dominik membuat Luna yang sedang membereskan barang-barangnya untuk kembali ke ruang kerjanya, segera menghentikan tangannya dan menatap Dominik dalam diam.

“Lalu, apa yang Tuan butuhkan sekarang?” tanya Luna dengan nada mendesak. Sungguh, Luna sangat sebal saat Dominik sudah bertingkah seperti ini.

“Kemarilah,” ucap Dominik meminta Luna untuk mendekat padanya. Tanpa berpikir, Luna pun melangkah mendekat pada Dominik yang masih duduk di kepala meja.

Sayangnya, apa yang dilakukan oleh Luna tersebut membuat Luna menyesal pada akhirnya. Hal itu terjadi karena ternyata Dominik menarik Luna hingga berakhir duduk menyamping di atas pangkuan Dominik. Tentu saja hal itu membuat Luna kesal bukan main. Luna berusaha untuk bangkit, tetapi Dominik menahannya dan membuat Luna semakin kesal saja. “Tolong jangan bertingkah seperti bajingan, Tuan,” ucap Luna dengan nada penuh peringatan.

Dominik yang mendengar perkataan tersebut terlihat tertarik untuk semakin bermain dan menggoda gadis yang berada di atas pangkuannya ini. Dominik menyeringai dan berkata, “Sepertinya aku perlu menunjukkan bagaimana bajingan yang sesungguhnya.”

Dominik mencium Luna dengan cepat. Tidak sampai di sana saja, Dominik juga melarikan salah satu tangannya untuk menyusuri paha Luna dengan gerakan sensual. Luna yang berontak dengan liar membuat cangkir kopi tersenggol dan terjatuh di atas lantai. Namun, karena ruangan yang dibuat kedap suara, Harry tidak mendengarnya dan masuk untuk menggaggu. Dominik saat ini malah menggendong Luna lalu membaringkannya di atas meja rapat yang luas. Dominik setengah menindih Luna yang melotot penuh kebencian padanya. “Dasar Bajingan!” maki Luna.

“Ya, aku memang bajingan. Karena itulah, izinkan Bajingan ini untuk melanjutkan kegiatannya,” ucap Dominik lalu menghisap kuat-kuat leher Luna yang terpampang jelas, dan membuat Luna tanpa sadar mengeluarkan erangan sensual yang membuat Dominik semakin bersemangat.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status