Kubiarkan Istriku Mengerjaiku
Kubiarkan Istriku Mengerjaiku
Author: romeo
Sesampainya di Apartemen

“Hey..ini gimana caranya? Kok susah dibuka ya?” tanya Devi kepada Hendra yang terlihat kesulitan membuka pintu mobil Hendra. Ketika itu mereka baru saja sampai di parkiran basement apartemen Devi. Pengaruh 3 botol wine yang tadi diminumnya di café bersama Hendra, tampaknya lumayan mengurangi konsentrasi Devi ketika itu hanya untuk sekedar membuka pintu mobil. Hendra yang berada di kursi kemudi, kemudian mencoba membantu Devi membuka pintu itu dengan tangan kanannya sehingga membuat wajah mereka kini saling berhadapan. Dalam situasi seperti itu, wajah Devi makin memperlihatkan kecantikannya. Hendra memang sudah terpesona melihat kecantikan Devi sejak awal perjumpaan mereka di kafe tadi. Ditambah situasi lampu penerangan area parkir basement yang agak gelap membuat wajah Devi terlihat menggairahkan dari jarak yang lebih dekat seperti itu..

‘Ciptaan Tuhan ini memang begitu sempurna..’ begitu gumam Hendra dalam hatinya di tengah situasi wajah mereka yang masih berhadapan. Sesaat, mata mereka saling menatap. Hendra kemudian memberanikan diri untuk mengecup bibir Devi, yang terlihat begitu menantang di tengah samarnya lampu penerangan parkir basement itu. Lagu “Stuck On You - Lionel Richie” yang terputar dari radio di mobil Hendra, menambah suasana romantis yang tak sengaja tercipta. Devi yang juga merasa tertarik dengan ketampanan Hendra sejak pandangan pertama di kafe tadi menjadi larut dalam suasana lagu romantis yang terdengar pas mengiringi situasi mereka yang memang baru saja saling mengenal.

Tak disangka, Devi pun menyambut kecupan Hendra dengan sedikit membuka bibirnya. Aroma wine yang tadi mereka minum, menyeruak diantara nafas mereka. Hendra yang merasa mendapat lampu hijau dari Devi, tidak ingin kehilangan kesempatan. Ia kemudian makin memberanikan diri untuk mencium Devi lebih dalam. Dalam menit berikutnya, bibir mereka sudah saling berlomba memberi hisapan dan jilatan lidah. Nafas mereka terdengar mulai menderu tak karuan seiring nafsu mereka yang mulai muncul. Pengaruh alkohol dari wine yang tadi mereka minum, tampaknya membuat mereka hampir lupa kalau mereka masih berada di area parkir basement apartemen Devi.  Tangan kanan Hendra yang sedari tadi berada di pintu mobil, sekarang sudah terlihat sibuk membelai rambut Devi yang malam itu dibiarkan terurai bebas. Wajah Devi yang halus pun tak luput dari belaian tangan Hendra dengan penuh kelembutan. 

"Hhhaahhh.." tanpa disadarinya, desahan nafas lembut keluar dari bibir Devi ketika Hendra mulai turun menciumi leher jenjangnya, sesaat setelah melepas ciuman panas pada bibir  mereka. Wangi parfum Devi di seputaran lehernya, seakan menghipnotis Hendra. Wangi yang mengalahkan aroma wine yang sedari tadi keluar dari bibir mereka, membuat Hendra semakin bernafsu bermain di salah satu area sensitif tubuh Devi itu. Ciuman, jilatan dan gigitan kecil dari bibir Hendra membuat kedua tangan Devi kini mulai merangkul kepala dan meremas rambut Hendra. Permainan mereka terlihat makin memanas di dalam mobil Hendra yang mesinnya masih terdengar hidup itu. Akan tetapi, ketika tangan Hendra mulai turun dan mencoba untuk memasuki gaun merah yang dipakai Devi, Hendra mendapat penolakan. Keinginan Hendra untuk meremas payudara Devi itu menjadi terhenti.

“Jangan disini Ndra, ini tempat parkir..” bisik Devi sesaat setelah menyadari keberadaan mereka saat ini. Hendra yang mendengar perkataan Devi itu seketika menghentikan permainannya di leher Devi dan terkekeh, “Hehe..maaf, aku terbawa suasana..” sahutnya kepada Devi yang menjadi tersipu mendengar jawaban itu. Walau sedikit kecewa, ia menjadi tersenyum ketika melihat wajah Devi yang sudah memerah, menandakan nafsunya yang sudah mulai memanas, Hanya saja, Devi masih menyadari bahwa mereka sedang berada di dalam mobil parkiran basement apartemennya dan ia pun segera beranjak untuk keluar dari mobil Hendra. Hendra mengerti akan maksud Devi dan kemudian menyusulnya keluar dari mobilnya, sesaat setelah mematikan mesin mobil tersebut.

Lelaki mana yang tidak terpesona dengan penampilan Devi malam itu? Gadis yang bertinggi kira-kira 165 centimeter itu mengenakan gaun merah super ketat tanpa lengan yang memperlihatkan belahan dadanya dengan sangat jelas. Gaun yang panjangnya hanya beberapa centimeter di atas lututnya, menampilkan pemandangan kaki dengan liukan pada betisnya yang putih mulus dan terlihat sangat terawat. Ditambah penggunaan high heels, memberi kesan perpaduan yang sempurna pada setiap langkahnya. Hendra yang sedang berjalan mengikuti di belakangnya, disajikan pemandangan yang makin membangkitkan hasrat kejantanannya. Bagaimana tidak, gaun super ketat itu juga memperlihatkan pantat Devi yang meliak liuk naik turun mengikuti iringan langkahnya. Pantat yang terlihat begitu padat dan berisi itu seakan menantang Hendra untuk meremasnya. Rambut Devi yang sengaja dibiarkan terurai menutupi punggungnya yang memang setengah terlihat karena model gaun yang backless, menambah kesan seksi penampilannya dari belakang.

Devi terlihat mempercepat langkahnya menuju lift parkiran yang terbuka setelah baru saja seorang pria terlihat keluar dari sana. Hendra pun mengiringi langkah cepat Devi untuk kemudian ikut memasuki lift itu. Setelah menekan tombol angka lantai, pintu lift itu kemudian tertutup dan mengantarkan mereka ke lantai paling atas apartemen itu.

“Kamu tinggal sama siapa di sini?” Tanya Hendra mencoba membuka percakapan.

“Sendirian..” sahut Devi seperlunya begitu mereka sampai di lantai yang dituju dan pintu lift terbuka.

Tangan kiri Hendra pun ditarik Devi seakan mengatakan kepada Hendra untuk mempercepat langkahnya menuju unit apartemennya. Hendra merasa Devi sudah tidak sabar melanjutkan permainan mereka yang barusan mulai memanas dan sempat terhenti di dalam mobil. Hendra mengikuti langkah cepat Devi yang sekarang membuatnya berjalan sejajar di samping kanan gadis yang baru dikenalnya itu. Ia melepaskan tangan kiri yang berada di genggaman Devi untuk kemudian melingkarkannya ke arah bahu Devi. Dari sudut ini, Hendra bisa melihat belahan dada Devi yang sempat membuatnya penasaran ketika ia akan merabanya tadi di dalam mobil. Devi pun mengerti kemauan Hendra yang juga merespon dengan melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Hendra. Posisi seperti itu, membuat Devi memiringkan kepalanya di pundak kiri Hendra seakan memberi kode untuk berciuman. Hendra pun menyambut bibir merah Devi yang lagi-lagi kali ini sudah tampak sedikit menganga. Tinggi badan yang hampir sama, membuat mereka terlihat sangat nyaman saling melumat bibir sambil berjalan meuju ke unit apartemen Devi. Lorong apartemen yang nampak sunyi di tengah malam yang sudah larut, seakan memberikan ijin kepada kedua insan yang sedang dimabuk nafsu itu. Pantauan kamera CCTV di ujung lorong, tidak menyurutkan niatan mereka melanjutkan kegiatan di dalam mobil Hendra tadi yang sempat terhenti.

Ciuman panas mereka kemudian terhenti ketika Devi akan membuka pintu sesampainya mereka di depan  unit apartemennya. “Mau minum apa?” Tanya Devi sesaat setelah memasuki ruang utama unit apartemennya dan mengambil remote yang terletak di sebelah pintu masuk untuk kemudian menghidupkan pendingin ruangan tersebut. “Basa-basi aja…Aku mau minum kamu…hehe” Hendra membalas pertanyaan Devi yang dianggapnya basa-basi itu. Dengan segera, tangan kanan Hendra menarik tangan Devi yang sudah berjalan untuk memasuki unit apartemennya lebih dulu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status