Part 5

Ivy kembali pada hobi lamanya, yaitu mengintip, dan sasarannya pun sama, siapa lagi kalau bukan Abraham? ckckck.

Dengan teropongnya Ivy bisa leluasa melihat Abraham di kamarnya, terlihat sekali jika Abraham sedang duduk bersandar di ranjang, sebuah buku di tangannya dan kacamata yang dipakainya.

"Ckck, membosankan sekali." keluh Ivy menyudahi acara mengintipnya, dan melemparkan teropongnya ke ranjang.

Drrrrtt... drrrttt...

Suara ponsel Ivy yang bergetar, dengan malas Ivy mengambilnya, satu pesan dari seseorang, dan seseorang itu adalah Abraham.

Abraham : sudah selesai mengintip om sayang :)

Ivy menutup mulutnya tak percaya, bagaimana mungkin Abraham bisa tahu? "apakah dia seorang cenayang?!" gumam Ivy.

Ivy melirik ke kanan dan ke kiri, ia mencari sesuatu hal yang aneh di kamarnya.

"Apakah dia memasang CCTV di kamar ku?" Ivy pun mulai mencari benda tersebut.

"Tidak ada apa pun yang mencurigakan," keluh Ivy kesal.

notifikasi pesan dari Abraham lagi.

Abraham : ciyeee, lagi nyariin om ya, i miss you.

Ivy mual membacanya, ia menyumpah serapahi Abraham yang semakin lama makin gila, lantas Ivy pun membalas pesan dari Abraham.

Ivy : rumah sakit jiwa penuh, jangan nambah jadi korban :p

Abraham tergelak membaca isi pesan dari Ivy, gadisnya semakin hari makin ketus dan jutek. tapi Abraham sangat suka itu, Abraham jadi semakin suka menggodanya.

Abraham : om rela jadi pasiennya, asalkan Ivy dokternya hihi.

Rasanya Ivy kesal membaca balasan pesan dari Abraham, ingin rasanya Ivy menenggelamkan orang itu.

Ivy : dasar gila

Abraham : gila karena kamu.

Ivy : sinting.

Abraham : apa? keriting?

Ivy : iyain aja, kesiaaann!

Abraham : hahahaha.

Ivy tidak membalas lagi pesan dari Abraham, rasanya percuma saja bagi Ivy untuk membalas, kegilaan Abraham makin menjadi.

Ivy menepuk jidatnya karena lupa, ia lupa bertanya tentang Abraham, yang kenapa bisa tahu kalau Ivy mengintipnya.

Ivy ingin mengirim pesan lagi, dan mengetikkan kata pertanyaan itu untuk Abraham, namun ia urungkan kembali dan meletakkan ponselnya lagi.

Sementara Abraham menunggu balasan dari Ivy, tapi tak kunjung ivy membalasnya, Abraham pikir mungkin Ivy sudah tidur.

Ia menatap foto-foto Ivy di ponselnya, Ivynya sangat cantik, Abraham sudah begitu tergila-gila pada Ivy dari umur gadis itu 10 tahun.

Bayangkan saja, Abraham seperti seorang pedofil yang sudah mencintai bocah umur 10 tahun. perbedaan umur mereka yang berjarak 11 tahun, Abraham terkekeh jika mengingat itu.

❤️❤️❤️❤️❤️

Hari Minggu saat yang paling di sukai Ivy, ia terbebas dari segala aktivitas. teman-teman Ivy mengajaknya untuk nonton, tentu saja Ivy mengiyakan ajakan mereka.

Ivy sudah bersiap dengan pakaian hangoutnya, Ivy kaget sekali saat membuka pintu, Abraham berdiri di depan pintu rumahnya.

"Astaga om! ngaggetin banget sih." omel Ivy kesal, ia pun memegang dadanya yang masih terasa syok.

"Lebay!" Ivy memutar bola matanya jengah.

"Kamu mau kemana?" tanya Abraham yang melihat penampilan Ivy.

"Mau hangout bareng teman-teman lah." jawab Ivy angkuh.

"Cowok atau cewek?"

"Cowok cewek lah."

"Berapa orang." tanya Abraham lagi.

"Berapa orang ya? bentar ngitung dulu." jawab Ivy menghitung dengan jarinya.

"Kamu gak boleh pergi!" perintah Abraham tegas.

"Loh loh, kenapa gak boleh?!" tanya Ivy heran.

"Ya karena om gak ngasih."

"Please deh om, jangan lebay gitu." pembicaraan ini membuat Ivy mual.

"Saya serius Ivy!"

"Aku 2 rius om."

"Pokoknya gak boleh, titik." perintah Abraham final.

"Pokoknya aku mau pergi koma," lagi Ivy membantah perintah Abraham.

"Bandel banget sih?"

"Om itu yang gila." ucap Ivy dan. Berjalan keluar.

Abraham mencekal lengan Ivy, membuatnya meringis kesakitan. "Apaan sih om, lepas!" bukannya terlepas, cekalan di tangannya makin kuat.

"Om bilang jangan pergi, ya jangan! apa kamu tuli?" Ivy melongo heran.

"Kenapa om melarang ku? kenapa juga om yang mengatur diriku? memang om siapa ku hah?" tanya Ivy berurutan.

"Om ini ya calon suami kamu lah!" Ivy melotot sempurna.

"Astaga! ternyata om masih belum waras."

"Saya serius Ivy!" Ivy terdiam mendengar kata serius.

Abraham melepaskan cekalan tangannya, dan berbalik pergi ke rumah. "tunggu!" cegah Ivy, otomatis langkah Abraham berhenti.

"Apa maksud dari ucapan om?!" Abraham tersenyum.

"Kamu ini memang pura-pura gak tau, atau memang bego?" tanya Abraham.

"Menyebalkan!"

"Kamu milikku!" 2 kata yang terucap dari Abraham. apa Ivy tidak salah dengar? dia... dia milik om Bram?

Tiba-tiba saja Abraham menggendong Ivy, dan membawanya masuk ke rumahnya. "lepas om!" ucap Ivy berontak dalam gendongannya.

"Akan saya tunjukkan padamu, bahwa kamu itu milliku!"

"Whaaatt!!"

Abraham menaruh Ivy di ranjangnya, dengan sengaja Abraham mengunci pintu kamarnya, Ivy ketakutan.

"Om sadar, om kesurupan ini." dengan gerakan slow motion, Abraham membuka bajunya.

Baju terlepas dan menampilkan tubuh berototnya, Ivy menahan nafasnya, ia kaget namun juga terkagum melihat pemandangan indah yang tersaji di hadapannya.

Abraham mendekatinya perlahan, Ivy mundur ke belakang ranjang. Ivy mentok ke sandaran ranjang hingga tak bisa mundur lagi, Abraham semakin mendekat.

Brugghh

Karena hal ini Ivy sampai terjatuh dari ranjang. "Aw, aduhh!" ucap Ivy kesakitan, Abraham pun ikut panik.

"Kamu gak apa-apa sayang?" tanya Abraham menyentuh tubuh Ivy.

"Jangan sentuh aku!" Ivy mengingatkan Abraham.

Abraham tersenyum geli melihat sikap galak Ivy, Ivy bangkit dan merasakan pinggang dan bokongnya nyeri, ia pun meringis berjalan seperti orang yang encok.

"Kalau seperti ini kan dia tidak jadi pergi, hehehehe." ucap batin Abraham.

Ivy membanting pintu rumah Abraham, masa bodoh jika pintunya rusak maupun jebol, Ivy menatap sengit rumah Abraham, tak lupa pula menyumpah serapahi pemilik rumahnya.

"Arrrrrgggggghhhhhhh!" teriak Ivy.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status