RANIA: PERFECT TEARS (INDONESIA)
RANIA: PERFECT TEARS (INDONESIA)
Author: Asyera Kesita
Prolog: Dewa Tampan dan Jenius

2005

"anak anda terkena leukemia stadium satu. Kami akan memberikan antibiotik sebagai tahapan awal. Kita akan menunggu perkembangan untuk pengobatan selanjutnya." dokter itu menutup map-nya dan melepas kacamatanya. Ia menatap sekilas pasien dihadapannya yang bergetar cemas dan ketakutan.

"Saya nggak mau kehilangan anak sulung saya. Berapapun akan saya berikan, asalkan dokter melakukan segala cara agar anak saya bisa sembuh" Vita pasrah, menjambak rambutnya pelan dan menyembunyikan wajahnya di pundak suaminya, Doni.

"Anak kalian sangat kuat dan semangat dalam hidupnya. Saya yakin Rania bisa melewatinya" Ucap dokter seperti biasa guna menenangkan pasiennya.

Doni menghela nafas dan menggenggam tangan istrinya itu.

______________________________

(2015)

"Indonesia tanah air ku, tanah tumpah darahku....."

Semua siswa berbaris dan hormat pada sang merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmah kecuali anak yang berada pada barisan paling belakang. Rusuh. Pengacau.

Setelah upacara selesai, siswa baru berkumpul ke aula untuk memulai Masa Orientasi Sekolah.

Rania dan sahabatnya Desfa duduk di kursi paling depan. Mereka tampak antusias untuk memulai masa putih abu-abu mereka.

"kita saksikan, Gamalio Keano. Siswa berprestasi yang menjadi bintang di sekolah kita dengan nilai rata-rata 4,0 dari 4,0 nilai rata rata maximum! Kita beri tepuk tangan yang meriah!"

Sosok yang ditunggu semua orang yang penasaran bagaimana rupa si jenius yang dimaksud. Mulai dari langkah kakinya yang terdengar, semua orang langsung menghadap ke sumber suara tersebut.

Tuk...tuk...tuk....

Sosok itu nampak megah diikuti langkah kakinya. Wajahnya bagaikan dewa surgawi yang di kelilingi cahaya. Saat memegang microphone lelaki itu bagaikan idola yang hendak bernyanyi, suaranya begitu merdu ketika mengucapkan satu per satu kata.

"Terimakasih saya ucapakan kepada.......Sekian dari saya selamat menempuh menjadi siswa putih abu-abu." ucapnya mengakhiri pembicaraannya.

Rania tak sadar kalau pembicaraan telah usai karena ia terlalu menikmati sosok yang menjadi pusat perhatian yang menjelma menjadi idola semua wanita disini.

"Pokoknya aku mau sama dia. Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?" Rania meletakan tangannya di dadanya, menghela nafas tak menyangka kalau jantungnya berdebar begitu cepat.

"Lebay!!" ledek sahabatnya itu.

Rania mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ledekan sahabatnya itu, namun tetap saja akhirnya ia tak bisa menahan tawa.

"Halo, namaku Devi. Kita satu kelas 'kan? Tadi aku perhatikan kalian keluar dari ruang kelas sepuluh A" seseorang datang memberhentikan tawa Rania yang begitu menggelegar memenuhi aula.

"Oh iya, salam kenal. Mau gabung sama kami?" tawar Rania.

Devi mengangguk dan mereka pun mengobrol bertiga dan inti pembicaraan mereka hanya mengenai cowok tampan jenius itu.

"Gamalio itu tetangga aku" ucap Devi membuat Rania dan Desfa melongo.

"Nggak salah tuh?!!" Desfa dan Rania mengucap bersamaan.

Devi menggeleng.

"Berarti kalian dekat dong!" Rania menggoyangkan kedua bahu Devi saking senangnya.

"Kalau gitu kamu harus bantuin aku supaya bisa dekat sama Gamalio Keano!!!" Teriaknya.

Desfa menyumpal mulut Rania dengan tangannya, sungguh suara Rania kini membuat nya malu. Bayangkan saja kalian adalah anak baru tetapi ke-alay-an sudah tampak dan dikenali banyak orang.

"Asin!" wajah Rania berubah masam, namun mengingat dia akan berdekatan dengan Gamalio ia tersenyum kembali.

Ketua osis datang dengan pembesar suara mengumumkan bahwa siswa harus berkumpul bersama wali kelas mereka. Untung saja Wali kelas mereka Ramah dan baik, sehingga memaklumi kelakuan Rania dan kawan kawannya yang selalu bercanda setiap menanggapi sesuatu.

Tak terasa waktu sudah habis. Siswa MOS harus kembali kerumah masing-masing, berbeda dengan Rania yang harus menunggu jemputan untuk pergi ke rumah sakit.

"Aku ikut ya!" rengek Desfa sahabatnya itu.

"Antre-nya lama. Kamu bosan nanti!"

"Pokoknya ikut! Aku mau nginap dirumah kamu!"

Karena paksaan akhirnya Desfa ikut bersama Rania. Beruntung sekali ia memiliki sahabat seperti Desfa, mau menemaninya agar tidak bosan berjuang dan semangat untuk sembuh.

Rania dapat nomor antrean ke 38, terkadang ia harus mendahulukan seseorang yang kondisinya lebih buruk dari-nya sehingga memakan waktu cukup lama untuk menunggu.

"nomor 38"

Huft...

Akhirnya...

Batin Rania

Rania memasuki ruangan dokter yang sudah ia kenal sejak kecil. Itulah mengapa Rania begitu akrab dengan dokter Rio.

"sejauh ini kondisi kamu masih normal dan ini sungguh keajaiban karena kamu bisa bertahan seperti ini. Saya salut!" Dokter Rio tampak membuka selembar kertas yang menunjukan grafik medis Rania.

"makasih, dok!"

"Kamu harus makan obatnya dengan teratur!"

"Oke!!"

Rania keluar dari ruangan tersebut dan berpapasan dengan seseorang yang tak asing baginya sedang mendorong kursi roda untuk wanita parubaya.

"Tunggu, kayak kenal!" Rania berbalik dan menghampiri cowok tadi dan menatapnya sebentar sampai ia benar benar membuat mulut nya menganga.

"Gama 'kan?" tunjuk Rania.

"Siapa?" lawan bicaranya menganggap aneh orang dihadapannya.

"Owalah, kita satu sekolah dan satu kelas juga. Kamu si Tampan dan Jenius jelmaan Dewa 'kan?"

Wanita yang didorong Gama tertawa menyaksikan keluguan teman anak-nya itu.

"Hai, Tante!" Rania menunduk menyapa wanita itu. Terlihat mirip dengan Gama sehingga Rania yakin kalau dia adalah Ibu Gama.

"Hai juga Cantik." jawab Ibu Gama.

"Udah sore! Rania pulang dulu ya, tante. Sampai ketemu besok Gama" Rania melesat pergi meninggalkan mereka yang terpelongo akan gadis yang penuh energi positif itu. 

Rania berjalan sambil bersenandung ria sesekali tersenyum. Tak menyangka kalau akan bertemu Gama di rumah sakit. 

"Ngapain senyum-senyum?" Desfa menggetok kepala Rania dengan harapan gadis itu waras kembali.

"Aww..." Ringis Rania.

"Makanya jangan senyum senyum!" peringat Desfa dan Rania hanya mengerucutkan bibirnya.

"kek curut!" ledeknya.

"Ihh. Jangan gitu dong!"

"iya! Hahaha!!!" tawa Desfa menggelegar merasa menang dalam hal meledek sahabatnya itu.

Mereka pun segera pulang dan di sepanjang perjalanan Rania  menceritakan tentang pertemuan tak terduganya dengan Gama. Ia menganggap pertemuan itu adalah pertanda kalau ia berjodoh dengan Gama.

"Yakin?"

"yakinlah! Kata orang kalau pertemuan nggak sengaja selama tiga kali maka orang itu jodoh kita!" jelas Rania.

"Okey. Terserah bu boss!"

Mereka sudah sampai dirumah, seperti biasa rumah sangat sepi. Hanya ada Fani dan Rino sepupunya itu. Mama dan Papa nya pergi sebentar untuk urusan bisnis mereka. Tapi tak apa, bagi Rania ini adalah usaha orang tuanya agar dapat membiayai hidup mereka. 

Rania tersenyum mengingat banyak sekali yang mencintai dirinya. Ia bersyukur kalau Tuhan memberinya kesempatan hidup sejauh ini.

___________________________________

Awal pertemuan kita sungguh menarik, sampai sekarang aku masih mengingatnya. Kenangan itu begitu manis sehingga sulit untuk memudarkannya. Kini aku menyesal mengenalmu, bukan karena aku benci tapi karena aku tak suka kata perpisahan. Ketika kita berbeda dunia, itu hanya menyadarkanku kalau kau hanya ilusi. Biarlah kau dicintai seseorang yang mencintaimu lebih dari diriku. Lupakanlah aku, karena diriku tak pasntas untuk dikenang.

---Rania Jihan--

   -----2022-----

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status