10 - Aku Xander

"Kau yakin kau tak ingin mengobati lukamu?"

Pertanyaan itu membuat Starla melirik sekilas pada sosok pria yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Cahaya temaram yang berasal dari lampu membuat gadis itu sempat menerka-nerka, kali ini pria seperti apa yang mengantarkan makanannya ke ruangan ini.

Karena tidak ada jawaban yang keluar dari bibir gadis yang tengah duduk di ranjang kecil sudut ruangan, membuat pria itu tersenyum tipis. Dia meletakkan makan malam Starla di atas meja kecil yang ada di sana.

Sekilas, dia mengamati ruangan berukuran 3x3 meter tersebut. Tampak sangat menyedihkan dan suram. Bahkan dia pikir, akan lebih baik tidur di kamar para preman lantai satu. Setidaknya, kamar mereka lebih terang dan lebih lebar dari tempat ini.

Tidak ada apapun di kamar Starla melainkan hanya sebuah ranjang lengkap dengan sebuah bantal dan selimut, dan meja kecil yang menempel di tembok. Tidak ada jendela dan sirkulasi udara yang cukup, melainkan hanya sebuah lubang ventilasi kecil di atas pintu. Membuat udara di sana sedikit pengap.

Pria itu berjalan, lalu mengambil tempat duduk tepat di depan Starla. Dia bisa merasakan tubuh Starla menegang dengan aura antisipasi yang kentara. Gadis berambut hitam panjang itu menarik selimut untuk sekedar menutupi tubuh.

Lama mereka terdiam. Starla sempat merasa sangat tidak nyaman. Kenapa pria itu terus menatapnya? Kenapa dia tidak langsung pergi saja dari sini seperti pria-pria sebelumnya? Lion memang menugaskan bawahannya setiap hari untuk mengantarkan makanan ke kamar Starla. Dan Starla tidak tau apakah dia harus merasa beruntung atau tidak, sebab meski begitu tidak ada yang berani berbuat macam-macam padanya. Bahkan beberapa pria yang dia jumpai sempat menatapnya penuh nafsu saat pertama kali dia menginjakkan kaki di tempat itu. Tampaknya, Lion sudah memperingatkan mereka dengan keras.

"Bisa kamu pergi saja dari sini?" ucap Starla dengan nada dingin. Tepat saat itu juga dia akhirnya menatap pria yang masih terus melihat ke arahnya.

Dia tersenyum. Tampak tampan, jika saja dia bukan anggota dari mafia itu. Setidaknya, itulah yang Starla pikirkan.

"Kau takut padaku?" ucapnya bertanya. Sama sekali tidak melepas kuncian matanya pada Starla.

"Tidak," jawab Starla. Dia mengernyit, baru menyadari jika pria itu berbicara dengan Bahasa Inggris.

"Kau memang tidak terlihat takut," ucap pria itu membenarkan. 

Starla diam.

"Aku Xander," kenalnya kemudian. Tangannya menjabat ke depan.

Starla masih diam tidak bergerak. Hanya menatap jabatan tangan itu tidak tertarik. Lalu gadis itu memalingkan muka.

"Jika kau sudah selesai, kau boleh pergi dari sini," tukas Starla, menjawab dengan Bahasa Inggris yang fasih. Dia berpikir mungkin pria itu tidak paham apa yang dia katakan.

Xander menarik tangannya kembali. "Kau tidak merasa kesepian?"

"Bukan urusanmu!"

Entah bagian mana yang lucu tapi Xander terawa kecil. Saat Starla meliriknya tajam, pria itu cepat-cepat menutup mulutnya.

"Maaf," dehem Xander. Dia tiba-tiba merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan sebuah wadah berbentuk bulat merah dari sana.

"Biarkan aku melihat lukamu," pintanya.

Tanpa menunggu persetujuan dari Starla, Xander sudah meraih rahang kecilnya dan memeriksanya. Hal itu membuat wajah mereka saling berdekatan satu sama lain dengan jarak yang kurang dari satu jengkal.

"Mereka benar, kau memang cantik," gumam Xander tanpa sadar setelah sempat mengamati wajah Starla. Alis tipis, bulu mata lentik asli, iris mata hitam, hidung yang tidak terlalu mancung namun juga tidak pesek, bibir mungil berwarna pink pucat karena sama sekali tidak menggunakan make-up. Itu cukup membuat Xander sedikit terpesona.

Kecuali pada beberapa lebam yang membekas di wajah Starla.

Tangan Xander bergerak, meraba lebam yang ada di pipi sebelah kanan Starla. Starla meringis karena merasa sakit. Matanya terpejam.

Xander tidak berhenti di sana, pria itu mulai menyusuri lebam tersebut, terus ke bawah hingga menemukan bekas luka sobekan di sudut bibir Starla. Saat tangannya menyentuh permukaan luka tersebut, Starla refleks mendorongnya, membuat sentuhan Xander terlepas.

"Pergi!" seru Starla dengan tajam. Sentuhan Xander pada lukanya membuat dia mengingat kejadian menyakitkan bebapa hari yang lalu. Starla tidak ingat sudah berapa lama dia ada di sini, karena dia sama sekali tidak diijinkan keluar dari kamar. Dia dikurung, dan hanya diberi makan saat tiba waktunya. Bahkan ketika ia ingin ke kamar kecil, dia harus selalu dikawal dua orang bawahan Lion yang terus menatapnya dengan pandangan melecehkan.

Sungguh, Starla benci itu semua. Seluruh perlakuan mereka membuat harga diri Starla menjadi sangat rendah!

"Kau mengusirku?" tanya Xander seolah tidak percaya.

Starla tidak menjawab dan hanya memalingkan muka kasar. Sekali lagi, mencoba mengabaikan Xander. Tapi sepertinya Xander bukanlah orang yang gampang digertak apalagi menyerah. Bukannya pergi, dia kembali meraih rahang Starla.

Saat Starla berusaha melepasnya, pria itu justru mencengkeram rahang Starla, membuat Starka mengaduh karena luka di wajahnya.

"Kau terluka banyak dan tidak mau diobati? SUngguh, aku tidak tau jalan pikiranmu," tukasnya. Dia melepas rahang Starla dan membuka benda bulat merah yang tadi dia keluarkan. Ternyata itu adalah sebuah salep.

"Kau tenang saja, aku tidak akan berbuat apapun padamu," ucap Xander sembari mengoleskan salep tersebut ke pipi Starla, membuat gadis itu lagi-lagi meringis sakit. Detik dan beberapa menit selanjutnya, akhirnya Starla hanya menurut saja saat Xander mengoleskan salep itu pada bagian-bagian tubuh lain yang memar.

"Dia akan membunuhmu," ucap Starla dengan nada datar. Tatapannya lurus ke depan. Saat ini Xander mngoleskan salep di bagian leher. Jelas sekali terdapat bekas cekikan di sana. Pria itu sama sekali tidak mengerti bagaimana gadis bertubuh mungil ini bisa menahan memar-memarnya tanpa diobati.

Sebelum dia, sudah banyak teman-temannya yang mengantar makanan dan salep untuk memarnya atas perintah Lion, namun Starla terus menolak untuk diobati. Gadis itu bahkan hanya makan sedikit sekali. Tidak pernah menghabiskan makanan dalam piring, padahal menurut Xander porsinya sudah sangat sedikit.

"Maksudmu Lion?" tanyanya. Dia sudah selesai. Menutup obat salep itu dan meletakkannya di meja samping piring Starla.

Starla tersenyum miring. Bukan mengejek, tapi lebih ke arah membenarkan. "Dia tidak mengijinkan satu pun bawahannya menyentuhku. Dan kau baru saja melakukan itu."

Alis Xander terangkat naik. "Apa kau mencoba untuk mengancamku?" tanyanya dengan nada geli.

Starla mendengus. "Memang siapa aku berani mengancammu? Aku tidak. Tapi kau pasti tau alasan kenapa sampai sekarang tidak ada satu pun dari kalian yang berani memperkosaku, itu semua karena Lion melarangnya bukan?"

Xander diam, dia merasa gadis itu belum selesai bicara.

"Dia hanya mengancamku akan melempar tubuhku ke para preman di bawah untuk menakutiku," dengus Starla dengan nada benci yang kentara. "Alih-alih melemparkanku ke sana, dia lebih suka menggunakan kekerasan agar aku melayaninya." Pandangan Starla terlihat sangat jijik dan penuh dengan dendam membara di saat yang bersamaan, lalu berubah menjadi pandangan keputusasaan dan ketakutan yang jelas.

"Aku sangat menyesal atas apa yang terjadi padamu." Xander mengatakan hal itu dengan tulus. Sejak awal dia melihat Starla diseret paksa oleh Lion, pria itu sudah merasa buruk. Jika mampu, dia ingin menolong Starla. Tapi semua tidak akan semudah itu. Mereka mempunyai peraturan tegas yanga harus ditaati dalam organisasi.

"Jika kau menyesal, kau bisa membunuhnya untukku," sahut Starla dengan nada dingin.

Hening beberapa saat, dan dalam beberapa menit itu Xander hanya menatapnya dalam diam. Kemudian pria itu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Namun sebelum pergi, dia berhenti.

"Aku tidak akan bisa membunuhnya," ucapnya dengan nada datar. Dia menoleh ke arah Starla lalu tersenyum tipis. "Maaf."

"Lalu dia yang akan membunuhmu."

"Kenapa?"

"Karena aku akan mengatakan padanya jika kau baru saja melecehkanku."

Sebuah senyum miring terukir di bibir Xander. "Coba saja," tantangnya tidak khawatir. Hal itu membuat Starla membuang muka kasar sekali lagi. Entah kenapa semua orang di sana membuatnya muak dan benci akan kehidupannya.

"Asal kau tau saja, dia tidak akan membunuhku meskipun aku benar-benar memperkosamu saat ini," jeda sejenak. Xander membuka pintu. " ... Karena ku memiliki hak sepsial dibanding bawahannya yang lain."

Setelah itu, Xander sama sekali pergi dari sana. Dan Starla hanya mengusap wajah frustasi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status