5. Perjuangan Cinta

Tante Sofia sedang menyiapkan makan siang di meja makan, sedangkan Paman Radit menemui Arlan yang sedari tadi telah menunggunya.

"Perkenalkan paman, saya Arlan sujibto teman masa kecil Zara." Arlan mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya pada Paman Radit yang memang untuk pertama kalinya ia jumpai.

"Sujibto?" Paman Radit tidak asing dengan nama belakang Arlan.

"Iya, saya anaknya Burhan sujibto dari kampung hilir."

"Ah, iya yang punya toko klontong yang cukup besar dikampung hilir itu, ya!" Paman Radit menyadari ia mengenal Bapaknya Arlan.

"Iya, Paman!"

"Kamu Anak Burhan yang kuliah di luar negeri itu, ya. Kapan sampainya di Indonesia?"

"Iya Paman! Saya sampai baru tadi subuh dan langsung ke desa ini."

Setelah bersalaman, Radit mempesihlakan kembali Arlan duduk.

"Silahkan duduk!"

Mereka pun duduk bersamaan. Sekilas Radit terlihat begitu ramah, dan sangat sopan dalam bertutur kata tidak tampak dari raut wajahnya, ia adalah seorang paman yang tega memasung Zara.

"Begini Paman maksud saya datang kesini tidak lain adalah untuk meminta izin kepada Pamah untuk menikahi, Zara." Arlan membuka pembicaraan langsung pada intinya.

Suasana pun hening sesaat. "Zara, tidak di dalam kondisi yang layak untuk dinikahi," jawab Paman Radit dengan raut wajah sangat tenang, tetapi meisyaratkan gelombang.

"Saya sudah mengetahui kondisi Zara, dan saya akan tetap menikahinya," tegas Arlan.

"Hahaha, apa kamu bercanda?" wajah Paman Radit berubah memerah.

"Saya sangat serius dengan apa yang saya ucapkan."

Radit layak srigala berbulu domba di luar  terlihat begitu baik dan tipe seseorang yang sayang pada keluarga, tetapi faktanya Radit adalah orang yang begitu kejam ketika ia ingin mendapatkan apapun yang ia inginkan.

"Kamu lebih baik menikahi wanita lain yang pantas untukmu, Bukan wanita gila seperti keponakanku," nasehat Paman Radit dengan nada suaranya yang lembut, tetapi menohok runcing seakan meintimidasi Arlan secara tidak langsung.

"Kenapa Paman begitu kejam pada Zara, keponakan Paman sendiri?"

"Kejam?"

"Pasungan itu hal terbaik yang saya lakukan untuk Zara, dari pada ia dibakar oleh warga desa," ucap Paman Radit santai tanpa berdosa.

Arlan yang pintar mengatur emosi, dan kemarahannya  terdiam sejenak, dan menyedu teh yang tersisa di gelas.

"Monster seperti apa yang ada di depanku ini," gumam Arlan di dalam hati.

"Tidak bisakah paman melakukan pengobatan terhadap Zara bagaimana pun dia keponakan paman. Tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak ada obatnya." Arlan merapatkan gigi menahan emosinya.

"Aku sayang pada keponakanku itu, tetapi aku tidak mau membuang-buang uangku untuk sesuatu yang telah rusak." Paman Radit dengan nada suara biasa, tetapi isi kata-katanya menikam mati hati Arlan.

"Sesuatu yang rusak?"

"Bisa-bisanya paman berkata seperti itu tentang Zara." Arlan mengepal tangannya.

di tengah pembicaraan Radit bercerita kenapa ia dan masyarakat desa memasung Zara. Diawal gangguan kejiwaan yang diderita Zara, ia pernah mengamuk dan mengacau di desa, ia melempari rumah warga dengan batu, dan kotoran kerbau. Zara pernah juga hampir melukai Radit dengan golok. Menurut Radit memasung Zara adalah pilhan terbaik.

"Tetap saja semua itu tidak manusiawi Paman!" bentak Arlan

"Zara itu manusia, tetapi diperlukan lebih buruk dari pada binatang. Apa dengan memasung Zara dapat mengobatinya?" Arlan dengan emosi meluap.

"Tidak! Semua itu, memperburuk keadaanya," tambah Arlan mulai menstabilkan nada bicaranya.

"Itu sudah nasibnya, ia sudah terbuang ...," jawab singkat Paman Radit santai.

"Terbuang ...." Arlan tertawa kecil.

"Dia bukan barang yang bisa dibuang. Biar saya yang akan merawatnya, jadi serahkan kunci pasungannya, dan biarkan saya menikahinya!"  tegas Arlan.

"Apa ini yang kau dapatkan sekolah jauh-jauh ke eropa, keong lebih pintar darimu." Paman Radit dengan nada suara rendah, dan tetap menikam lawan bicaranya.

"Iya, setidaknya saya punya hati nurani!"

"Bukan berarti jika kau punya hati nurani, kau harus menikahi wanita gangguan jiwa!" Paman Radit mengusap dagu dengan tangan.

"Berikan saja kunci pasungannya pada saya, dan pembicaraan kita selesai sampai di sini!" pinta Arlan.

"Saya tidak bisa memberikanya padamu," tolak Paman Radit.

"Kenapa? Bukankah kau tadi berkata kau telah membuang, Zara!"

"Saya hanya tidak ingin ...."

"Saya akan membayar berapa pun yang Paman minta jika Paman memberikan kunci pasungan itu." Arlan memberikan tawaran menarik untuk Paman Radit.

"Apakah saya terlihat kekurangan uang," tolak halus Radit.

"Jadi apa yang paman inginkan?"

"Saya ingin dia tetap di sana, dan kamu pulang ke rumahmu." Radit tersenyum lagi dengan senyum srigala berbulu domba.

"Kenapa paman bisa begitu kejam pada Zara!" nada suara Arlan naik.

"Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi pada Zara sebelum dia menjadi gila, jadi jangan buang waktumu untuknya. Dia sudah rusak ...."

"Saya ini orang yang baik! Saya tidak ingin masa depanmu hancur karena Zara," tambah Paman Radit.

Nasehat Radit yang terdengar begitu baik memiliki makna yang lain. Ia adalah tipe orang yang diam tak hanya menghanyutkan tapi menenggelamkan.

"Orang seperti apa Pamannya Zara ini ...," gumam Arlan kesal.

"Pulanglah, jangan buang waktumu untuk keponakanku yang malang itu!"

"Iya, wanita malang, dan gila itulah yang melahirkan Zayn." Arlan melirik Paman Radit, mengeluarkan kartu As-nya.

"Jaga bicaramu!" bentak Paman Radit, seketika wajahnya yang sangat tenang berubah muram.

"Jangan pernah melibatkan Zayn dengan Zara!" Paman Radit terlihat sedikit panik.

"Zayn adalah Anak saya tidak ada hubunganya dengan wanita ganguan mental itu," tambah Paman Radit.

"Saya tidak akan mengusik Keluarga Paman yang sangat bahagia ini. Asalkan Paman memberikan kunci pasungan Zara dan melepaskan tanggung jawab paman sebagai wali Zara kepada saya," tegas Arlan dengan kerutan di kening.

"Apakah kamu mengacam saya?" mata sinis Radit menatap Arlan.

"Maaf saya tidak berbakat soal ancam-mengancam. Lagi pula tidak ada ruginya bagi paman memberikan  kunci pasungan itu, bukankah Paman telah membuang Zara," tegas Arlan.

Radit masuk kekamar sebentar mengambil kunci pasungan Zara, dan melemparnya ke meja.

"Itu kuncinya! Bawa wanita itu, jauh-jauh dari anak dan keluarga saya." Paman Radit melempar kunci dengan tangan kiri sembari tangan kanan di dalam saku.

Arlan meringis melihat sikap Radit, tetapi ia tidak peduli dengan hal itu, dipikirannya sekarang hanya bagaimana melepaskan pasungan Zara. Arlan langsung mengambil kunci yang dilempar Radit dan bergegas pergi.

"Saya harap sebagai satu-satunya keluarga Zara. Paman menghadiri pernikahan kami." Arlan yang berjalan menuju pintu keluar memunggungi Radit, sedikit menolehkan kepalanya kebelakang.

Radit mendengar ucapan Arlan tersenyum geli sembari bersandar di sofa.

"Arlan udah mau pergi aja, tidak makan siang dulu di sini," tawar Tante Sofia yang keluar dari dapur menghampiri Arlan.

"Iya Tante maaf, Zara sudah lama menunggu. Saya harus melepaskan pasungan Zara dulu. Lain kali Tante mampirlah kerumah kami setelah saya dan Zara menikah. Saya akan memberikan alamat rumah saya di Yogyakarta kepada Pak sholeh, jangan lupa bawa Zayn juga," ucap Arlan, membuat Tante Sofia sangat terkejut hingga gelas yang ia pegang jatuh pecah berderai.

"Apa?" Tante Sofia menutup mulut dengan tangan yang gemetar, sejari matanya melirik Arlan, dan suaminya.

"Papa apa maksud Arlan barusan?" Tante Sofia menghampiri Paman Radit yang ada di sofa.

"Bukankah mereka sangat cocok mempelai wanitanya gangguan jiwa dan mempelai lelakinya tidak waras." Paman Radit tertawa geli.

***

Terimakasih udah mampir mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan cerita ini hanya fiktif dan imajinasi penulis🤗

love you see ya...🥰🥰🥰

ig @writer_in_box

@gadis pecinta mendung

kumpulan puisi writer in box in chanel youtube writer in box.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status