LOGINLia sudah lima tahun menikah dengan Yuan, tapi rumah tangga mereka dingin dan kering. Lia mendambakan kasih sayang namun yang ia dapat hanya penolakan, tuduhan, dan luka hati. Saat kariernya di puncak, justru cinta datang dari arah yang tak terduga. Seorang anak magang berusia 23 tahun yang berani memperjuangkannya. Di tengah tekanan rumah tangga dan godaan cinta terlarang, Lia harus memilih, mempertahankan pernikahan yang retak, atau merelakan dirinya hanyut dalam kenikmatan baru yang menghidupkan lagi hatinya.
View MoreDengan rambut setengah basah, aku menyambut kepulangan suamiku. Aku langsung merebut tas yang ia bawa, dan menuntunnya menuju meja makan. Wajah lelahnya membuatku prihatin.
"Mas... Gimana kerjanya hari ini?" Aku melontarkan pertanyaan pertama yang selalu aku tanyakan. Ketika aku menyentuh pundak suamiku, dan hendak memijatnya, ia dengan kasar mendepak tanganku. Aku mengerutkan kening. "Ada masalah di kantor?" tanyaku, khawatir. Suamiku, yang kerap aku panggil Mas Yuan, menggelengkan kepala sebagai jawaban. Aku memilih duduk di dekatnya. Aku memperhatikan suamiku dengan seksama. Senyumku merekah saat menyadari bahwa Mas Yuan tetap terlihat tampan di usianya yang sudah menginjak kepala empat. "Mas... Kalau ada masalah, cerita dong... Kita 'kan sudah menikah selama lima tahun. Masak kamu masih nggak mau berbagi?" Aku merayunya. Nada suaraku sengaja aku buat lembut agar Mas Yuan nyaman, dan mau menyalurkan keluh kesahnya padaku. Tapi, sepertinya aku belum bisa meluluhkan hatinya yang keras. Mas Yuan lebih memilih beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kamar. Aku hanya bisa menghela napas dengan sikap suamiku yang kian hari kian dingin. Padahal, di awal pernikahan kami, Mas Yuan sering menunjukkan cintanya padaku, meski ia selalu menutup rapat urusan pribadinya dariku. Mataku menatap gelas berisi teh hangat yang tidak disentuh oleh suamiku. "Mas Yuan kenapa, sih?" Aku tak mau ambil pusing. Aku menyusul suamiku, dan langsung memeluknya dari belakang ketika ia sedang memilih baju di depan lemari. "Mas... Aku pengen nih. Yuk... Kita basah-basahan di atas kasur," ajakku, mengeratkan pelukanku. Mas Yuan menghembuskan napas berat. Bukannya menerima ajakanku, beliau justru menarik lenganku dengan sekali hentak. Responsnya yang kasar, dan tak terduga itu membuatku terhuyung. Aku hampir jatuh jika saja aku tidak bisa mempertahankan keseimbanganku. "Mas Yuan?" Dengan mata terbelalak, aku menuntut penjelasan. Mas Yuan memijat batang hidungnya. "Lia, maaf. Banyak hal yang aku pikirkan. Aku mandi dulu ya," ucapnya. Mas Yuan sempat mengelus pundakku sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Dengan kesal, aku duduk di ranjang sembari berusaha mengerti keadaan suamiku. Nanti, aku akan mencoba untuk bertanya secara pelan-pelan. Sebagai istri, aku juga ingin ikut terlibat dalam urusan pribadi suamiku. Setelah menunggu beberapa menit, suamiku keluar dari kamar mandi. Aku memberinya tatapan genit. Aku yang tadi sudah mengganti baju tidurku dengan lingeri super seksi, kini bergerak-gerak gelisah di hadapannya. "Mas... Aku kangen sentuhanmu. Sudah lama kita tidak melakukan hubungan suami-istri. Masak kamu tega anggurin lubangku sih?" Aku sungguh malu saat mengatakannya, tapi... Aku harus! Karena aku memang menginginkannya. "Aku capek." Dengan dinginnya Mas Yuan menolakku. Dia melenggang melewatiku. Walaupun agak sakit hati. Aku tidak akan menyerah! Malam ini, aku harus membuatnya menumpahkan cairannya di dalam rahimku! Aku buru-buru menyusul suamiku yang rebahan di atas ranjang. Saat aku hendak naik ke atas tubuhnya, ia mendorongku, membuatku terjatuh di atas lantai yang dingin. Aku meringis kesakitan sambil mengelus pergelangan kakiku yang terkilir. Sedangkan Mas Yuan hanya melihatku tanpa belas kasih, seolah aku ini hanya selembar tisu yang terhempas. "Mas Yuan, kamu keterlaluan," kataku, memandangnya nyalang. "Sudah enam bulan kamu tidak menyentuhku sama sekali. Apa kekuranganku? Aku sudah tidak enak?" cecarku, sedikit meninggikan suaraku. Mas Yuan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia memiringkan kepalanya sambil membalas tatapanku dengan wajah malas dan mengantuk. "Lia, sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini, dan memulai perdebatan, tapi kali ini aku akan mengungkapkan unek-unekku," tutur Mas Yuan, terlihat serius. "Katakan semua yang pengen Mas katakan. Nggak usah ditahan-tahan. Aku nggak bakal ngajak kamu berdebat," tandasku, meyakinkan. Mas Yuan mendengus sebelum berkata, "Kita sudah menikah hampir lima tahun. Tapi kamu masih belum juga hamil. Kamu pikir itu tidak membebaniku?" Aku menunduk sedih, bibirku bungkam seribu bahasa. Tak ada kata-kata yang pas untuk menanggapi atau membalas ungkapan hati suamiku. "Untuk apa kita berhubungan intim? Toh... Kamu tak mampu memberiku keturunan. Rahimmu itu tidak berfungsi. Huh... Buang-buang tenaga saja!" ketusnya. Dia bilang apa? Buang-buang tenaga? Jujur, hatiku sakit mendengar kalimat pedas Mas Yuan. "Kayaknya kamu memang enggan memiliki keturunan, dan lebih memilih kariermu yang luar biasa itu! Atau jangan-jangan... Kamu ogah mengandung karena takut tubuhmu jadi jelek?" Mas Yuan mulai menuduhku. Aku melongo sambil menggelengkan kepalaku pelan. Aku tidak menyangka, pria yang dulu selalu mengatakan kalimat cinta padaku, kini berbalik mengatakan hal-hal buruk tentangku. "Mas Yuan, kenapa kamu ngomong kayak gitu? Aku beneran pengen punya anak dari kamu. Aku juga... Selama ini sudah berjuang agar bisa hamil. Aku harus gimana lagi, Mas?" Kali ini aku membalas. Aku tidak pernah menyerah dalam usaha memperoleh keturunan. Aku selalu rutin datang ke dokter kandungan. Melakukan progam hamil berkali-kali. Namun, jika Tuhan belum memberi, aku sebagai manusia hanya bisa pasrah, sambil terus berusaha. "Kamu yakin kalau kamu subur?" tanyanya, seakan tak percaya dengan hasil tes dari rumah sakit yang pernah aku tunjukkan. "Kamu... Tidak memalsukan surat keteranga itu 'kan?" Ia menyudutkanku. "Mas... Aku ini siapa, sampai bisa memalsukan surat penting?" balasku, berdecap kesal. "Kenapa kamu tidak melakukan tes kesuburan?" cetusku. "Lia! Kamu meragukan kesuburanku?!" sungut Mas Yuan, meninggikan suaranya. "Sudah lah, Mas... Kita istirahat saja. Besok aku harus berangkat pagi, pemilik brand dari Taiwan datang." Aku yang lelah, memilih untuk menghentikan obrolan. Bagaimana pun juga, jika diteruskan, tidak akan menemui ujung. Aku tidak ingin hubunganku dengan Mas Yuan menjadi canggung. *** Besoknya, saat aku menginjakkan kakiku di lantai satu kantor, aku dikejutkan dengan seorang pria tinggi besar yang terjatuh dari tangga pendek. Tubuhku sempat membeku, sebelum aku membantunya berdiri. "Are you okay?" tanyaku, memastikan kondisinya. "Menurutmu aku okay? Kenapa tangga di kantor ini pendek-pendek? Kamu pengen bikin kakiku patah ya? Ya ampun.... Kamu gimana sih bangunnya? Nggak ahli ya! Makan gaji buta ya!" cerocosnya. Loh, kenapa aku yang disalahkan? Bukan aku kulinya. Lagipula, dia 'kan jatuh sendiri. Aku baru datang. Apa seharusnya tadi aku cuekin dia aja ya? Pria bernama Kevin itu memarahiku, dan sialnya aku tidak bisa membantah atau membela diri karena ia merupakan salah satu pimpinan di kantor. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. "Kamu Lia! Hari ini kamu pergi ke pabrik, dan cek pengiriman. Temani pemilik brand sampai pulang!" perintahnya, seenak jidat. "Tapi... Bos-" Aku melotot saat jari telunjuknya menyentuh bibirku. Aku yang anti romantis club, langsung menepis tangannya. Apa-apaan dia? "Nggak usah banyak alasan. Kamu bisa bawa salah satu anak buahmu untuk menemanimu. Pokoknya! Hari ini aku nggak mau lihat wajah kamu!" pungkas Kevin, berlalu pergi. Kedua pundakku merosot. Aku berjalan menuju mejaku dengan lesu. Setelah menyalakan komputer, aku merapikan berkas-berkas penting milikku. "Selamat pagi, Mbak Lia," sapa Leon, karyawan magang di kantor. Dia membawa secangkir kopi untukku, dan aku menerimanya dengan suka rela. "Terima kasih...." ucapku. "Kamu nggak perlu repot-repot kayak gini. Kesannya aku bully kamu," imbuhku. "Kopi ini, sebagai rasa terima kasih, karena Mbak sudah sabar mengajariku," tutur Leon. Aku selalu nyaman setiap kali berinteraksi dengan Leon. Mungkin karena suara Leon selalu rendah dan dalam. "Leon, kamu sibuk nggak hari ini?" tanyaku. "Tidak terlalu, hanya input data saja," jawab Leon. Dengan semringah, aku mengajak Leon untuk pergi ke pabrik. Dan Leon sama sekali tidak keberatan. Lumayan, Leon 'kan tubuhnya berotot, pasti dia kuat mengangkat barang. Sebelum menemui Big Bos, orang yang mempercayakan brand untuk digarap di perusahaan, aku mendempulkan wajahku dulu. Bagiku, make up sudah menjadi bagian terpenting dari hidupku. "The original beauty of Mbak Lia," puji Leon, yang sedari tadi memperhatikanku. Ya ampun, Leon ini, walaupun wajahnya kayak bad boy, tapi aslinya sweet banget. Doyan memujiku, dan super perhatian. Kalau saja aku tidak memiliki suami, sudah aku jadikan pacar. Aku menggelengkan kepalaku, bisa-bisanya otakku berkhayal seperti itu. Aku harus ingat! Leon masih berusia dua puluh tiga tahun. Dia saja belum lulus kuliah. Bagiku yang kini menginjak usia tiga puluh lima tahun, Leon termasuk anak ingusan. Aku harus menjaga pikiran kotorku. Setelah selesai berdandan, aku membereskan alat riasku. Sebelum berangkat ke pabrik, aku menitipkan pekerjaanku di kantor pada asistenku. "Susul Big Bos dulu, dong! Beliau sudah ada di ruangan Direktur!" Aku bersyukur, asistenku mengingatkanku. Aku pun meminta Leon untuk menyiapkan mobil. Leon itu menurut tanpa protes. Benar-benar anak baik. Aku buru-buru menuju ruangan Pak Direktur. Dan orang pertama yang menyambutku adalah Kevin. Si keparat itu menyambutku dengan ramah. Cih, pasti pura-pura belaka. "Di mana Big Bos?" tanyaku, tidak sudih berbasa-basi dengan Kevin. "Ouh... Dia sudah meluncur ke pabrik. Kamu lemot banget kayak siput," ledeknya, membuatku muak. Dengan kesal aku keluar ruangan Direktur. Aku bertanya-tanya, kenapa aku bisa memiliki Direktur menyebalkan macam Kevin? Orang Jerman itu suka sekali bikin aku menderita. *** Sampainya di pabrik, aku langsung meluncur ke kantor yang berada di sebelah pabrik. Namun... Belum sempat aku membuka pintu kantor, seorang wanita berpakaian mandor menghampiriku. "Haduh... Big Bos marah-marah nggak jelas! Untung Mbak Lia datang tepat waktu! Ayo!" Wanita itu menyeretku. Leon menahan tangan wanita itu, dan meminta wanita itu untuk melepaskan genggamannya pada tanganku. "Bisa jalan pelan-pelan. Tidak perlu menarik Mbak Lia," kata Leon, sedikit mengintimidasi wanita itu. "Ehh? Kamu ganteng banget... Kamu pacar Mbak Lia ya?" Bersambung...Besoknya, Intan dan Kevin mengajakku ke taman kota untuk menghadiri pameran buku. Tentu aku tak menolak.Kami berempat berkeliling, mengunjungi berbagai kios buku yang menurut kami menarik. Leon membeli beberapa buku. Dia memang suka membaca. Koleksi bukunya saja segunung. "Suamimu maniak buku. Nyebelin banget!" Intan mengomentari Leon sambil menggerutu. "Kevin juga sama. Ngapain protes?" balasku, geregetan. Intan tertawa canggung, ia mengajakku mengunjungi kios makanan ringan. Kami memesan dua porsi. Saat sedang menunggu, aku dikejutkan dengan Mas Yuan yang membagikan brosur padaku. "Mas Yuan?" Mas Yuan mungkin malu bertemu denganku, ia buru-buru kabur. Aku yang penasaran, berusaha mengejar. Untungnya Mas Yuan berhenti di depan kedai sederhana di seberang taman. Aku menghampiri Mas Yuan, mengajaknya mengobrol. Awalnya Mas Yuan enggan, tapi aku terus memaksa, sehingga dengan berat hat
Gaun putih indah, berhias manik-manik berkilau. Tudung transparan yang menutupi wajah elokku. Tirai bermata berlian yang bertengger anggun di kepalaku. Tampilanku di hari pernikahanku, sungguh memukau. Nyonya Lusi benar-benar menjadikanku sebagai wanita paling cantik di seluruh penjuru dunia. "Lia? Kamu sudah siap?" tanya Nyonya Lusi, mengelus pundakku. Aku mengangguk mantap. "Iya, Ibu... Saya siap," ucapku. Nyonya Lusi tersenyum lembut. "Baguslah... Ayo kita pergi. Semua orang menunggumu di altar leluhur keluarga George."Aku mengikuti Nyonya Lusi yang menuntunku menuju tempat pernikahanku.Sebelum memasuki aula, Nyonya Lusi menyerahkanku kepada kakak angkat Leon. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya. Kakak angkat Leon tersenyum ramah. Ia memintaku menggandeng lengannya. Kami berjalan bersama di atas karpet merah, di tengah tamu undangan yang duduk manis menungguku. Selangkah demi selangkah
Aku dibuat tercengang sekaligus kagum dengan sikap gentle Kevin.Reaksi awal Intan sama sepertiku, dia tekejut. Wajahnya melongo, tingkahnya menunjukkan kegugupan. Aku mengelus pundak Intan, memberinya sebuah keberanian untuk jujur pada dirinya sendiri."Kevin... Kamu tiba-tiba banget...." ucap Intan, malu-malu."Maaf... Lain kali, aku akan mengungkapkannya secara matang," balas Kevin, merendahkan suaranya."Nggak ada lain kali! Umumkan hubungan kalian di sini!" seru Leon, bersemangat.Kevin berlutut di depan Intan. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna biru dari kantong jasnya. Lalu membuka kotak tersebut yang berisikan sebuah cincin berlian.Aku tersenyum tipis. Kevin memang selalu membawa benda itu ke mana pun ia pergi. Tak aku sangka, cinta Kevin sungguh besar."Intan... Cincin ini, cincin yang kamu pilih sendiri. Kamu... Nggak lupa, 'kan?" kata Kevin, matanya berbinar penuh harap."Mana mungkin aku
Aku menggelengkan kepala, lalu melepas pelukanku.Sambil mengusap air mataku yang membasahi pipi, aku berkata, "Intan, kamu beneran orang yang dikirim Dewa buat bantu aku. Aku beruntung banget."Sembari tersenyum lembut, Leon berkata, "Lebay deh... Emangnya aku ngapain?" kataya, menoyor keningku."Hey... Hey... Kalian berdua! Kalau sedih-sedihan, jangan di sini! Aku sudah lapar loh! Kapan kita makannya!" sela Kevin bertepuk tangan. Jelas dia mengejek kami."Lia... Ayo kita makan. Mbak Lia dan Pak Kevin yang memasak semua hidangan hari ini," ucap Leon, baru bersuara.Ah ya, ngomong-ngomong... Kenapa Leon bisa bersama Intan dan Kevin? Tidak... Tunggu... Kenapa mereka bertiga berada di tempat yang sama? Dan... Sejak kapan mereka begitu akrap? Seperti kawan lama saja.Aku terkejut ketika Kevin menarik lenganku, dan memaksaku kembali duduk di kursi."Lia... Tolong hargai aku dan Intan. Semua makanan ini, kami masak dengan sep
Mas Yuan mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah padam, menandakan jika ia benar-benar marah. "Desy! Coba, ulangi lagi perkataanmu!"Baru kali ini aku mendengar Mas Yuan membentak Desy. Pertunjukkan yang menarik. "Aku! Men-cin-tai Mas Leon! Hanya Mas Leon!" teriak
“Walaupun kamu turut andil dalam menipuku. Tapi aku bisa mengerti, kamu pasti dipaksa oleh Mas Yuan. Jadi, sangat sulit bagiku untuk membencimu,” tuturku, bersuara lembut dan penuh perhatian.Desy meletakkan kembali sendok dan garpu yang ia pegang untuk memberiku atensi.“Mbak L
Hari ini niatku datang ke kantor untuk menemui Kevin, dan melayangkan protes atas cutiku yang diperpanjang, eh... Malah bertemu dengan Desy. Kebetulan, karena Desy yang duluan mengejekku, tak ada salahnya untuk membalasnya. "Kamu kira, setelah bercerai dari pernikahan palsu, a
Besoknya, aku menemui Pak Wan di kantornya. Untungnya pria itu sedang tidak sibuk, jadi kami bisa mengobrol santai di ruangan pribadinya.Awalnya obrolan kami tampak normal dan berjalan lancar. Namun semua berubah ketika aku memberitahu Pak Wan bahwa aku telah bercerai dengan Mas Yuan.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews