Share

12. Arlan dan Zara

Arlan melirik jam tangannya menunjukan pukul Pukul 12.00.

"Waktunya makan siang," Seru Arlan.

Ia langsung menyusun semua buku, dan berkas di meja kerjanya, kemudian bergegas untuk makan siang di rumah bersama Zara.

"Di mana, ya!" Arlan lupa di mana menaruh kunci mobilnya.

Arlan memeriksa berkali-kali saku celananya, tetapi ia tidak menemukannya.

"Apa ketinggalan di kelas, ya!" gumam Arlan pada dirinya sendiri.

Sekarang ia beralih memeriksa tas punggungnya yang penuh dengan buku. Kening Arlan mulai berkerut karena ia sama sekali tidak ingat di mana menaruh kunci mobilnya.

"Bapak cari ini?" Renata datang dengan memegang kunci mobil Arlan.

"Kamu?" Arlan yang grasak -grusuk mencari kunci, berbalik badan mendengar suara Renata.

"Kenapa bisa ada padamu?" tanya

Arlan meraih kunci mobilnya yang ada pada tangan Renata.

"Eh, tunggu dulu!" Renata menyembunyikan kunci mobil Arlan di balik badannya.

"Kamu jangan main-main! Saya lagi terburu-buru!" Sungut Arlan ketus.

"Siapa yang main-main, Pak. Untung saya selamatkan kunci mobil Bapak yang ditinggal begitu saja di atas meja," Renata menaikan salah satu bibirnya hingga mebentuk senyuman usil.

"Iya terima kasih, tetapi saya harus pergi sekarang,  Jadi berikan kucinya!" guratan di dahi arlan terlihat berlipat.

"Baik, tapi ada syaratnya!"

"Jangan membuang waktu saya, istri saya sudah menunggu di rumah!" air muka Arlan memerah.

"Tipe lelaki sayang istri ternyata. Sangat cocok," ucap Renata.

Arlan terus melirik jam tangan. Waktunya semakin sedikit. Nanti jam dua dia ada kelas lagi.

"Zara pasti sudah sangat kelaparan sekarang," pikir Arlan.

"Tolong jangan membuang waktu saya!" pinta Arlan.

"Saya sudah bilang. Ada syaratnya kalau bapak mau kunci ini," Renata terkekeh.

"Apa syaratnya?"

"Jangan bertele-tele," sungut Arlan.

"Jadilah pacar saya," cetus Renata tanpa beripikir.

"Jangan meminta yang aneh-aneh, saya telah punya istri," seringai dingin Arlan.

"Salah Bapak! Kenapa mencuri hati saya?" goda Renata dengan memainkan kunci mobil Arlan.

Arlan menarik tubuh gadis itu untuk mendapatkan kunci mobilnya. Renata terperanjak ketika Arlan merapat padanya, mencoba mendapatkan kunci mobil. Tedengar samar-samar detak jantung Renata ketika Arlan meraih tangannya.

"Jangan pernah ganggu saya!"

"Saya sangat mencintai istri saya!" Ucap Arlan lugas.

Renata hanya terdiam memandangi punggung Arlan yang menarik tas punggungnya dan berjalan keluar kantor.

"Bagaimana kalau hanya makan siang," teriak Renata yang diabaikan Arlan.

"Di sini banyak canteen. Kenapa harus pulang makan dengan istrinya," sungut Renat kesal.

Foto Arlan dan Zara yang ada di meja Arlan, menarik perhatian Renata.

"Jadi ini istrinya my future husband," Renata mengambil foto berbingkai klasik itu dari meja Arlan.

"Kenapa bisa bucin banget, toh istrinya kampuangan. Cantikan aku," umpat Renata melihat foto Arlan dan Zara.

Arlan memencet kunci mobilnya setiba ia di pakiran, dan melangkah kasar, kemudian membuka pintu mobil berwarna silver itu. Arlan memacu mobil dengan kencang, membelah jalanan, kemudian ia melihat Rumah makan dan berhenti sesaat di sana untuk membeli makanan.

Arlan melirk banyak lauk yang terpajang, ia bingung sendiri memilih lauk apa yang akan dia beli.

"Lauk apa yang di sukai, Zara!" pikir Arlan karena ia sama sekali tidak tahu apa yang disukai dan tidak di sukai Zara yang sekarang.

"Dulu ketika kami masih kecil, Zara suka dengan Ikan air tawar," gumam Arlan.

"Uda pesan nasi dua bungkus, lauknya gulai ikan." Arlan telah menjatuhkan pilihan pada gulai ikan.

"Baik, Mas!" jawab pelayan, langsung menyiapkan pesanan Arlan.

Setelah mendapatkan pesanannya, Arlan langsung melaju kembali mobilnya sembari melirik jam di tangannya.

"Sepertinya aku harus segara mendapatkan seorang pembantu di rumah, agar Zara tidak kesepian, dan Zara tidak harus kelaparan, menungguku pulang dulu baru bisa makan," pikir Arlan yang sedang menyetir.

Sampai di rumah Arlan langsung memutar seklar lampu dan membuka pintu rumah.

"Assalammulaiku, Zara!" Arlan memasuki rumah menuju kamarnya.

Di dalam kamar Zara masih terbaring di ranjang.

Arlan menghampiri Zara, dan duduk di tepian ranjang.

"Zara kamu masih tidur sayang," Arlan mengelus rambut Zara.

Zara yang tidak tidur tetap memunggungi Arlan.

Ia sama sekali tidak menanggapi Arlan.

"Aku tahu kamu tidak tidur," seru Arlan.

"Pergi!" teriak Zara, masih dalam keadaan memunggungi Arlan.

"Kamu masih marah kutinggal sendiri dirumah?" tanya Arlan.

"Pergi!" teriak Zara lagi.

Arlan terus mencoba membujuk Zara yang sedang merajuk padanya.

"Aku beli nasi padang untukmu sayang. Ayo kita makan siang!" ajak Arlan.

"Lauknya ikan. Bukankah istri jelekku ini suka sekali ikan," bujuk Arlan lagi.

Arlan memeluk istrinya yang sedang berbaring itu, mencoba membujuknya lagi, "Ayolah kita makan siang!"

"Menjauh!" perintah Zara yang sedang merajuk.

Arlan berdiri menjauh dari istrinya, "aku pergi, ya!"

"Benaran, nih!."

"Aku pergi!" ancam Arlan.

"Jangan panggil-panggil aku lagi, ya!" goda Arlan.

Kriuk

Kriuk

Kriuk

Suara perut Zara terdengar berbunyi. Membuat Arlan tak mampu menahan tawanya hingga muncret.

"Kayaknya ada yang sedang kelaparan, nih!" goda Arlan lagi.

Zara bangun dari baringannya, "Suami, Zara lapar!"

"Tadi ada yang ngusir!" sindir Arlan.

Zara yang cemberut terus menatap Arlan. Membuat Arlan terus menggodanya.

"Sepertinya nasi padangnya sudah habis!" Arlan berbalik badan pura-pura meninggalkan Zara.

"Suami!" pekik Zara dengan bulir-bulir air jatuh di pipinya.

Mendengar pekikan Zara. Arlan langsung menggendongnya menuju meja makan.

"Duduk!."

"Aku siapkan makananya dulu!."

Zara yang ingin meraih sendok di ujung meja makan tiba-tiba jatuh dan terduduk di lantai. Ketika Zara ingin berdiri, ia merasa kaku dan sakit di pergelangan kakinya.

"Ahhhhh!" Zara marah memukul-mukul kakinya yang tidak bisa berdiri.

Arlan yang menyadari Zara jatuh langsung mebantu Zara berdiri, tetapi tangan Arlan ditepis Zara. Raut wajah memerah tergambar jelas di wajah Zara. Ia marah-marah pada dirinya sendiri.

"Kenapa begini." gerutu Zara memukul-mukul kakinya penuh amarah.

Arlan menarik tangan Zara yang sedang terduduk di lantai, dan menghentikan tangannya yang terus memukuli kakinya.

"Kamu punya aku yang bisa menggendongmu." Arlan mencium tangan Zara yang sedang terduduk.

Zara terdiam dan memandangi suaminya. Arlan yang menyadari Zara telah tenang, menggendongnya untuk kembali duduk di kursi.

"Kamu mau aku suapi atau makan sendiri?" tanya Arlan, melihat Zara bermain dengan makanannya.

Zara menggelengkan kepalanya. Ia ingin makan sendiri. Suara dentingan piring dan sendok makin terdengar di tengah-tengah makan siang mereka.

"Kusuapi aja, ya!" tawar Arlan melihat Zara tidak berhenti memainkan makanannya.

Zara menggelengkan kepalanya lagi.

"Sini!"

"Kusuapi, aja!" Arlan pindah kesebelah Zara.

Baru satu suapan masuk ke mulut Zara, pranoid dan  delusinya kambuh.

"Aku takut!" Zara memeluk lengan Arlan.

"Kenpa takut? Ada aku di sini!" Arlan menenangkan Zara.

"Ussssst, Apa kamu dengar suara itu, suami?" tanya Zara, meletakan telunjuk di bibir seolah-olah dia mendengar sebuah suara.

"Suara apa?"

"Suara itu, aku takut!" Zara mempererat pelukannya pada Arlan.

"Kamu pasti belum minum obat!" Arlan mengelus bahu istrinya untuk menenangkannya.

"Belum," jawab Zara.

Arlan mempelonggar pelukan Zara, ia ingin mengambil obat, tapi Zara tidak memperbolehkan Arlan beranjak darinya.

"Aku ambil obat dulu sebentar!"

"Jangan aku takut..."

"Jangan tinggalkan aku!"

****

terimakasih my lovely reader udah setia baca iya, dia istriku.

Jangan lupa vote, like, love dan ikuti writer in box, biar semangat aku upnya.

Note: Salah satu akibat dari halusinasi dan delusi skizofrenia, penderitanya seolah-olah mendengar suara yang biasanya membuat mereka makin paranoid terhadap lingkungan dan orang sekitar.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status