Share

Frustasi

"Hei bro!! tumben lo baru nyampek. Biasanya lo udah di sini duluan sebelum kita kita" kata salah satu temen tongkrongan Anta.

"Iya lagi banyak urusan hari ini" jawab Anta sekenanya.

Anta memang memiliki teman nongkrong, mereka temen sekolahnya dulu waktu SMP. Nama mereka Soni, Ronald, Gerry, dan Dimas. Mereka teman yang selalu menemani Anta saat suka maupun duka. Selama ini mereka yang selalu membuat Anta bangkit, saat dia merasa terpuruk.

Mereka dulu teman sekelas Anta saat SMP, tapi sekarang cuma Ronald dan Dimas yang satu sekolah. Cuma mereka tidak satu kelas. Memang di sayangkan tapi Anta masih berusaha membuat teman temannya sekelas lagi dengannya

"Halah palingan juga abis jalan sama cewek barunya" ejek Dimas.

"Wei bro, lo punya cewek baru tapi gak dikenalin sama kita kita" kata Soni.

"Cewek baru dari mana, percaya bener  ama Dimas tau sendiri ni orang tukang tipu" kata Anta.

"La trus yang bolos bareng lo, sama lo gendong muter muter sekolah tadi siapa. Dan jangan lupa lo juga nganterin dia pulang tadi. Itu siapa Nta?" tanya Ronald telak.

"Kalo itu sih si Lexa." kata Anta mencoba santai.

"Kenapa gak lo pacarin aja dia Nta. Menurut gue dia lumayan cantik" kata si Dimas. Dia membayangkan Lexa dengan mengetuk ngetukkan jari telunjuknya di dagu.

"Entah kenapa gue ngerasa gak tega buat nyakitin dia. Gue ngerasa ada yang beda sama dia. Dia juga gak ngeliatin ketertarikannya sama gue. Malah dia bilang sama gue kalo dia suka sama kakak kelas" kata Anta menjelaskan.

"Pfft beneran bro, gila kali tu cewek sampe gak suka sama lo" kata Gerry, sambil nahan ketawanya.

"Hahaha, baru kali ini gue denger ada cewek yang bisa nolak pesona lo bro. Hahaha!!" kata Soni ketawa terbahak bahak.

"Beneran bro si Lexa gak suka sama lo. Padahal gue liat doi lumayan cantik lo" kata si Dimas.

“Dia emang cantik Dim, dan gue sekarang malah udah sahabatan sama doi” kata Anta.

"Wihh, hebat juga tu cewek sampe bisa nolak pesona lo yang cetar membahana ini bro!" kata Ronald.

Semua yang mendengar kata kata Ronald langsung ketawa terbahak bahak. Kecuali Anta yang memasang muka masam.

"Pala lo tu cetar membahana, emangnya lo kira gue apa'an? Syahrini!!" kata Anta kesal, lalu menjitak dahi Ronald.

Semuanya menjadi tambah keras ketawanya. Sedangkan Ronald mengusap usap dahinya yang terkena jitakan maut Anta.

"Ketawa aja terus, sampe sukses kalo bisa. Dalam hitungan tiga lo semua gak diem ni sepatu masuk ke mulut lo semua!!!!" kata Anta sakarstik. Mereka langsung diem semua, dan menatap horor Anta.

"Baperan ama lo Nta! Maaf lah ini!" kata mereka semua serentak.

Anta hanya mengganguk tanda bahwa dia sudah memaafkan teman temannya. Bagaimana bisa dia marah dengan sahabatnya. Yang selama ini selalu ada di sisinya, dan lagi pula Anta sudah menganggap mereka semua keluarganya.

Anta merasa benar benar hidup jika bersama mereka. Tidak seperti jika dia bersama keluarganya, dia merasa di neraka. Karena dia dan daddynya tak pernah akur selama ini. Dan juga Lano yang lebih memilih meninggalkannya sendirian dirumah yang sudah seperti neraka itu.

"Hmm, kita hari ini mau kemana?" tanya Anta.

"Tadi sih ada yang nantang lo balapan. Nanti malem di tempat biasa, sekitar jam 11 malem. Lumayan bro hadiahnya 10 juta" kata Gerry.

"Oke gue ambil, nanti malem gue dateng. Sekarang gue mau pulang dulu, gue mau tidur. Ngantuk gue, mana kaki gue pegel pegel gara gara ngegendong Lexa tadi" kata Anta.

"Yaudah bro nanti malem kita tunggu di tempat biasa" kata dimas.

"Hmm gue pulang dulu, awas di kejar banci kaleng lo pada. Bye ati ati ya lo semua" goda Anta. Mereka semua bergidik ngeri membayangkan perkataaan Anta.

"Lo juga hati hati bro, awas nabrak. Jangan mikirin Lexa mulu!" goda Ronald.

"Oke, buat apa juga gue mikirin Lexa. Hahaha ada ada aja lo Nald" kata Anta sekenanya, dan tertawa garing.

"Ya kali kali nanti lo bengong mikirin Lexa. Trus lo kesambet lagi kan gak lucu, lo tiba tiba ngamuk ngamuk gak jelas" kata Ronald.

"Yeh ni anak, candaan lo garing asli" kata Soni.

“Eh sebodo amat, suka suka gue” kata Ronald.

"Yaudah lah bro gue balik, iye Nald gue gak bakalan mikirin Lexa" kata Anta. Lalu Anta melajukan motornya menuju rumah. Dan dengan kecepatan yang di atas rata rata.

Saat Anta sudah sampai rumah, rencananya dia akan tidur. Tapi setiap dia menutup mata wajah Lexa muncul. Hingga Anta frustasi sendiri, dan dia bingung sebernarnya apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa dia jadi memikirkan Lexa.

"Argh!! kenapa malah wajah Lexa sih yang muncul. Manis sih tapi sayang tukang nyubit, pedes banget lagi cubitannya. Ehhh kenapa gue jadi mikirin Lexa. gak enggak, pergi lo dari fikiran gue Lex" kata Anta bingung sendiri. Tak sadar tangan Anta ngacak ngacak rambutnya frustasi. Dia bingung sebernarnya di kenapa.

'Gila! Lexa keluar dari fikiran gue!!' batin Anta berteriak.

Karena Anta memang benar benar mengantuk. Ahirnya Anta menutup kepalanya menggunkan bantal. Tak lama Anta bisa tidur juga, dan pergi ke alam mimpi. Anta bangun sekitar pukul 9 malam, lalu dia langsung mandi siap siap untuk pergi balapan. Setelah selesai Anta turun, lalu dia tancap gas menuju tempat balapan.

Disana Dimas, Ronald, Soni, dan Gerry sudah menunggunya. Tapi karena balapan mulai sekitar satu jam lagi. Ahirnya mereka memutuskan untuk makan di restoran terdekat. Apalagi Anta tadi belum sempat makan malam.

“Bro kita makn dulu yok, laper gue belum smpet makan tadi” ajak Anta.

“Yaudahlah, masih lama juga kok mulainya. Daripada lo nanti gak fokus, mending sekarang lo isi dulu perut karet lo itu” ejek Gerry.

“Kayak situ kagak aja, padahal mah sama” kata Anta mencibir.

“Yo amit lo!! Kita semuakan sehati, ya gak! ya gak!” seru Gerry.

“Lo aja kali, kita mah kagak” kata Dimas. Lalu mereka semua tertawa terbahak bahak.

“Mampus lo Ger, kalah telak kan lo” ejek Anta.

Mereka ahirnya, mengendaria motor masing masing menuju restoran terdekat. Setelah sampai mereka memarkirkan motor mereka. Dan lalu mereka mencari tempat yang kosong untuk memesan makanan.

Anta memakan makanannya dengan lahap seperti babi, karena keterlaluan lahapnya. Makanan milik Gerry pun dimakannya. Jadi tak heran bila teman temannya menyebut Anta perut karet. Karena makannya itu banyak, dan tak jarang dia mengambil makanan milik teman temannya.

“Eh udah yok, balik lagi ke tempat balapan. Gue udah keyang ni” kata Anta.

“Gimana lo gak keyang, makanan gue lo embat juga” kata Gerry kesal.

“Sorry mas bro” kata Anta sambil nyengir.

Setelah itu mereka meminta bil, lalu mereka kembali ke tempat balapan. Anta sudah bersiap di garis start. Dan saat berdera di kibarkan tanda pertandingan di mulai.

Anta langsung menancap gasnya, saat di tikungan dia hampir saja jatuh. Karena lawan curang dengan menendang kaki bagian kirinya.

Untung dia dapat mempertahankan keseimbangannnya, lalu dia menancap gasnya lebih dalam lagi. Kecepatannya sekitar 140 km/jam, dia lalu melewati lawannya dengan mudah. Dan ahirnya Anta lah yang sampai garis finish terlebih dulu.

“Selamat bro, lo menang lagi kali ini. Ini hadiah lo bro” kata Dimas. Menyerahkan amplop berisi uang hasil kemenangan Anta.

“Kayak biasa, uangnya buat kalian aja. Kaliankan tau, gue ikut balapan cuma nyalurin hobi doang. Hadiahnya buat kalian aja, siapa tau kalian butuh. Kalo gitu gue pulang dulu mau tidur. Bye bro” kata Anta.

Teman temannya hanya mengangguk saja. Dan seperti itulah Anta, dia memeng di cap seorang bad boy. Tapi siapa yang tau, sesungguhnya dia adalah lelaki yang sangat derwaman. Dia menolong siapapun yang membutuhkan, tanpa menilai dari kalangan apa mereka berasal.

“Gue salut sama Anta, dia itu kekurangan kasih sayang orang tua. Di benci sama kakaknya sendiri, tapi kenapa dia itu baik banget” kata Ronald.

“Sebenernya gue juga heran, kenapa dia selalu tau saat kita perlu pertolongan. Dan dia tanpa fikir panjang pasti langsung nolong kita” sambung Soni.

“Tapi banyak orang yang salah paham sama dia. Nganggep dia itu buruk, padahal hatinya itu kayak malaikat” kata Dimas.

“Ya itulah sahabat kita Anta, yang gak pernah mau terlihat lemah. Walaupun dia hancur, dan dia juga selalu nolong orang tampa pamrih dan pandang bulu. Cuma fikiran orang orang yang hanya liat dari depannya aja. Sampai banyak yang salah perpeksi” kata Gerry.

“Jadi bener ya kata pepatah ‘Don’t judge book from the cover’ karena buku yang terlihat buruk di luar. Belum tentu buruk juga dalamnya” kata Ronald bijak.

“Udahlah mending kita pulang, besok sekolah” kata Soni.

Lalu mereka pergi ke rumah masing masing. Dan malam itu adalah salah satu saksi, dari sekian banyak perbuatan baik Anta. Seorang bad boy yang gak punya aturan. Yang hobbynya telat dan bolos di sekoalah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status