THE SON OF DESTINY
THE SON OF DESTINY
Author: Amelia Siauw
Prologue

   “Kalian telah kalah. Menyerahlah dan berlututlah menerima Kaisar Wen Xing sebagai Kepala Negara kalian yang baru.”

     Sang Jenderal menatap tajam Kaisar Chang. Kaisar tua yang nampak semakin tua karena rasa frustasi yang amat sangat itu menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan rasa pedih luar biasa yang sebetulnya bisa membuatnya jatuh pingsan saat itu juga. Bagaimanapun, ia harus menunjukkan sikap tenang. Jangan sampai keluarganya, yang tengah merepet ketakutan di belakangnya, bertambah khawatir dan kacau. Di sinilah ia harus menunjukkan wibawa seorang Putera Langit, walau pula sebagai seorang Putera Langit yang telah kalah.

     Kaisar Chang lantas menjatuhkan dirinya ke lantai, berujar parau. Seluruh keluarga kekaisaran mengikutinya. “Kami mengakui Kaisar Wen Xing sebagai Kepala negeri kami”

     Tiba-tiba Puteri Kedua menjerit, “Apa yang hendak kalian lakukan?!?”

     Semua orang segera menoleh ke arah sang puteri, yang kini tengah berjuang keras melepaskan dirinya dari tarikan paksa seorang prajurit. Tidak rela melihat puteri kesayangannya diperlakukan semena-mena oleh prajurit penakluk negerinya, Kaisar Chang serta merta berseru, “Kami sudah rela menyerah pada kalian, mengapa kalian masih tega berlaku semena-mena?!”

     “Yang Mulia, tidak tahukah Anda bahwa seorang dari negeri yang kalah harus mengikuti wewenang penguasa barunya dan tidak berhak melawan?” Jenderal Wei bertanya dingin. “Perdana Menteri Kang menyukai Puteri Anda. Seharusnya Anda berbahagia karenanya.”

     Permaisuri langsung terisak, yang lainnya menunduk lesu. Mereka sudah tahu, Perdana Menteri Kang yang dimaksud sudah sangat tua namun masih amat gemar daun muda, terutama yang seperti Puteri Ketujuh mereka yang masih berusia tujuh belas tahun.

     “Kau juga ikut!” Prajurit lain menarik tangan Puteri Keenam. Sang puteri dengan ketus menukas, “Tapi aku sudah menikah!”

     “Kau bisa bercerai! Lagipula suamimu hanya berstatus pegawai istana, tidak sebanding dengan Pangeran Paman Ketiga Kaisar yang berminat mempersuntingmu!”

     Puteri Keenam otomatis mengernyit jijik, tetapi saat melihat tatapan Jenderal Wei yang dingin serta tampak siap menyiksa, ia hanya bisa menundukkan kepala, menggigit bibir menahan air matanya yang nyaris keluar.

     “Ambil semua harta benda Negeri Chang dan angkut semuanya ke negeri kita!” Jenderal Wei mengerling tajam ke arah keluarga kekaisaran yang tersisa, “Kalian, ikut aku! Kalian harus pindah ke tempat lain.”

     Keluarga Kekaisaran Negeri Chang pun digiring menaiki kereta tawanan. 

     Saat kereta diarak keluar istana, Kaisar  Chang kini tiba-tiba jatuh pingsan. Permaisuri panik setengah mati. Diguncang-guncangkannya tubuh suaminya. “Yang Mulia, bangun!... Oh Yang Mulia, bangunlah jangan Anda buat saya khawatir.”

     Kaisar Chang tidak tahan melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya. Ia terlalu mencintai negeri dan rakyatnya, termasuk prajuritnya. Dan sekarang, ia melihat mayat-mayat para prajurit negerinya bergelimpangan tragis, bahkan banyak yang sudah kehilangan sebagian besar tubuhnya, ada yang hangus terbakar, yang lainnya terbalut oleh lautan darah. Dan yang terparah, tidak ada dari mereka yang tersisa dalam keadaan hidup.

***

     “Mereka semua tak berguna dan tak berkompeten.  Membiarkan mereka hidup hanya menambah beban kita saja,” Jenderal Wei mengelak membela diri. Tidak terima ia disebut penjagal tak berperikemanusiaan oleh sekretaris negara yang dianggapnya sok tahu itu. 

     Sekretaris Li masih berusaha memprotes, “Mereka mungkin tidak berguna hanya di mata Anda, tetapi bagi pihak lain, mereka berguna bahkan jauh melebihi orang-orang lainnya…” Ia berpaling menghadap Kaisar Wen Xing, “Yang Mulia, bagaimana pendapat Anda?”

     “Aku sependapat dengan Jenderal Wei,” jawab sang Kaisar muda tak acuh.

     Sekretaris Li menundukkan kepala, dalam hati ia merutuk. Seharusnya ia sudah tahu jawaban beginilah yang bakal diterimanya. Ia semestinya menyadari, Kaisar junjungannya ini tidak akan punya hati nurani sebaik itu. Ia tidak akan menjunjung tinggi nyawa manusia lain kalau ia tidak membutuhkan sesuatu dari mereka. Ia sendiripun masih dibiarkan menyampaikan pendapat dengan bebas karena Kaisar menghargai kepandaiannya, kalau tidak, ia tidak yakin ia tetap dibiarkan hidup di dunia ini.

     “Ohya Sekretaris Li, bagaimana perkembangan Panglima Chun?”

     “Panglima melaporkan, berkat politik pecah belah Negara Ming telah masuk dalam jebakan kita. Hanya tinggal menunggu waktu  negeri itu dapat kita kuasai.”

     “Bagus sekali,” Kaisar Wen Xing, Han Ming Shi, tersenyum penuh kepuasan. “Berarti hanya tinggal Yeong-Shan, Qi dan Khanate saja yang belum berhasil kita taklukkan untuk saat ini. Hanya tinggal menunggu sebentar lagi sampai mereka semua jatuh ke tanganku, dan membuat Kekaisaran ini menguasai seluruh dunia.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status