6 || Kehadiran mendadak

Pagi-pagi buta Rara sudah melakukan olahraga lari. Aldebaran memang sangat menyebalkan. Dia menyuruh Rara datang menemuinya jam lima pagi. Jalanan masih tampak sepi, hanya beberapa kendaraan yang lalu-lalang. Rara bahkan tidak boleh terlambat walau satu detik pun. Pria arogan itu menunggu di taman.

Napas Rara tersengal ketika baru saja sampai. Dia memegang dadanya yang naik turun. Aldebaran memakai earphone dengan kedua mata terpejam. Tangan Rara menggapai ujung bangku, masih mengatur napasnya, serasa jantungnya hampir copot. Rara duduk sebentar dan meluruskan kakinya.

“Aku tidak menyuruhmu duduk,” ucap Aldebaran masih dengan mata terpejam.

“Istirahat sebentar, Pak. Aku berlari sejauh 700 meter untuk sampai ke sini,” keluh Rara.

“Aku tidak mendengar apa pun! Bawakan aku air. Ada di mobil. Cepat ambil!” perintah Aldebaran. Masih dengan mata terpejam. Entah lagu apa yang ia dengar.

Rara mendengus. Dia segera mengambil langkah cepat menuju mobil. Dia meraih minuman milik Aldebaran dan menutup pintu mobil dengan kesal.

“Ingin rasanya kumenangis. Apa daya hati tak kuasa.” Rara berusaha menghibur diri.

Baru saja beberapa langkah, Rara ditahan oleh pergerakan asing yang mendadak muncul dari belakang. Refleks Rara berbalik dan mengunci pergerakan orang itu dengan jurus bela diri. Hampir saja kepalan tangan Rara mendarat di pipi mulus kekasihnya—Ivan.

“Ivan!”

Ivan tersenyum. “Masih gesit juga, aku tidak perlu khawatir berlebihan padamu. Kau bisa menjaga diri!”

“Jangan remehkan aku! Tampangku saja bukan seperti perempuan pada umumnya.” Rara melebarkan senyum. Gaya jalannya saja tidak elegan. Untung cantik.

Ivan merangkul Rara. “Aku tadi membaca pesanmu. Bosmu menyuruh datang ke sini. Aku ingin lihat, pria sialan siapa yang berani-beraninya membuat kekasihku harus bekerja keras.”

Rara tersipu. Sedetik kemudian dia tersentak, melirik ke jam tangannya. Dua menit sudah berlalu, Rara menarik tangan Ivan dengan cepat.

Benar saja, Aldebaran sudah tidak ada di bangku. Rara menyapu pandangan, netra nya tidak menangkap postur tegap berotot dengan tubuh semampai. Sial, Rara pasti mendapatkan imbasnya. Dia merogoh saku celana, mengusap layar ponsel barunya. Itu pemberian Aldebaran yang diberikan padanya kemarin. Alasannya, ponsel jadul Rara tidak bisa menerima pesan chat atau menulis jadwal aktivitas Aldebaran. Mau tidak mau, Rara harus menerima. Apalagi model terbaru dari logo buah yang digigit itu, begitu sangat diinginkannya. Walau untuk pekerjaan, setidaknya Rara bisa merasakan bagaimana rasanya memakai ponsel mahal. Kapan pun Aldebaran menginginkannya, Rara akan dengan senang hati memberikan kembali.

Pria arogan itu tidak menelepon. Rara kembali memasukkan ponsel ke dalam saku.

“Kau menerima ponselnya tetapi menolak pemberian dariku. Apa karena pemberianku tidak semahal yang dia berikan?!” Ivan bersedakap dada, menatap wajah Rara dengan memicingkan mata.

“Bukan seperti itu, ini aku gunakan hanya untuk pekerjaan. Kalau dia meminta kembali, aku juga akan mengembalikannya. Lagi pula, jangan menghamburkan uangmu untuk sesuatu yang bukan kebutuhan mendesak. Kau kan harus menabung untuk masa depan kita.” Rara melingkari lengannya seraya tersenyum manis.

Ivan mencuit hidung Rara. “Apa dia pergi?” tanya Ivan ikut melihat ke sekeliling.

“Kelihatannya dia memang sudah pergi.”

Rara mendesah pelan. Menatap botol minuman kemasan yang masih tersegel.

“Siapa pria yang memperkerjakan mu? Kau tetap tidak mau memberitahukan padaku?”

“Tidak, kecuali kau melihatnya sendiri. Wajahnya juga tidak asing.

“Benarkah? Apa aku mengenalnya?” Alis Ivan bertaut. Dia merasa penasaran.

“Tidak sebagai teman, tapi kau pasti mengenalnya jika sudah bertemu nanti.” Senyum Rara tersimpul, menampakkan lesung pipi yang terlihat samar di bagian sebelah kanan. Jika diperhatikan, wajah Rara seperti keturunan campuran dari Arab-Pakistan. Padahal kedua orang tuanya tidak berdarah campuran.

Ponsel Ivan tiba-tiba berdering. Ivan melihat nama penelepon, dia kembali memasukkan ke dalam saku.

“Siapa?” tanya Rara.

“Bukan siapa-siapa. Hanya nomor tidak dikenal,” dalih Ivan.

“Kita pergi saja, aku antar kau pulang.”

“Tidak perlu, aku harus ke apartemennya. Hari ini jadwal pria itu sangat banyak, aku tidak ingin dia memotong gajiku lagi.”

“Apa tidak masalah kau pergi sendiri? Aku buru-buru tidak bisa mengantarmu.”

“Kau tidak perlu khawatir. Cepat pergi, pekerjaan sudah menunggumu.” Rara menepuk pelan bahu Ivan.

“Baiklah. Hati-hati, ya, Sayang. Selamat bekerja!” Ivan mengusap pipi Rara lalu beranjak pergi.

Rara melambaikan tangan. Dia menarik napas sejenak.

“Apa sudah selesai berkencan?” Suara bariton seseorang membuat Rara terperanjat. Dia yang hendak beranjak, berbalik ke belakang dengan cepat.

Pria arogan itu berdiri dengan tatapan tidak menyenangkan. Rahangnya yang tegas, dan raut wajah  menampakkan garis-garis sinis.

“Pak Al! Sejak kapan Anda balik lagi ke taman? Aku pikir Anda sudah pergi.”

Tidak ada jawaban, tatapan dinginnya membuat Rara memilih menunduk. “Aku tidak berkencan, Pak!” kata Rara kemudian.

“Bukankah aku menyuruhmu untuk membawakan air? Kenapa malah berkencan di saat kau sedang kerja? Apa kau mau dipecat, hah?!” sentaknya.

Rara mengangkat wajahnya—menggeleng cepat. “Jangan, Pak. Aku tidak ingin dipecat.”

“Tadi aku kembali, tapi lihat Pak Al sudah tidak ada, jadi aku pikir Pak Al sudah pergi.”

“Dasar bodoh! Mana bisa aku pergi jika mobilku masih ada di sana!” Dia menunjuk dengan dagu.

Rara menggaruk pangkal telinganya, merasa kikuk sendiri. Dia merutuki otaknya yang lambat. Benar juga, kenapa Rara tidak berpikir sampai di situ. Ah, menyebalkan!

“Maaf, Pak,” ucapnya pelan.

“Percuma saja aku memberikanmu ponsel mahal tapi kau tidak tahu cara menggunakannya. Bukankah kau bisa meneleponku!” katanya dengan angkuh.

Rara tidak berani mengangkat wajah. Setidaknya itu hal yang bisa dia lakukan. Apalagi Aldebaran menuduhnya berkencan saat sedang bekerja.

“Aku memberimu satu kesempatan terakhir. Jika tidak bisa bekerja dengan baik, silakan pergi tanpa aku harus memecatmu lebih dulu!”

Aldebaran berjalan acuh menuju mobilnya.

Rara menghela napas pasrah. Dia mengikuti langkah Aldebaran. Pandangannya menunduk. Tiba-tiba, kepalanya membentur punggung Aldebaran. Rara tersentak, segera dia melangkah mundur. Baru saja ditegur, dia sudah membuat kesalahan lagi.

“Maaf, tadi aku—“ Rara menggantung ucapannya. Dia mendadak terdiam melihat Aldebaran menatap dingin pada seseorang yang berdiri di hadapannya.

Pandangan Rara mengarah pada satu tangan Aldebaran yang mengepal di balik celana. Dia menatap diam. Menyadari suasana tidak kondusif, Rara memilih menjauh. Mungkin itu urusan pribadi Aldebaran. Belum sampai satu langkah, tangan kekar Aldebaran lebih dulu menyambar tangan Rara dan menariknya pergi dengan cepat.

Rara merasa bingung dengan tingkah Aldebaran yang mendadak berubah. Namun, orang itu tidak membiarkan Aldebaran beranjak, tangannya menggapai satu tangan Aldebaran yang lain.

Suasana terasa mencekam saat mata Aldebaran dan wanita itu beradu pandang. Rara berusaha melepaskan tangan, sayangnya cengkeraman Aldebaran membuatnya tidak bisa berkutik.

“Kau masih belum berubah, Al!” ucap wanita itu akhirnya. []


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status