Share

P E S O N A -20-

"Martabak kacangnya satu pak, dibungkus."

"Baik, Neng."

Setelah sampai ke tempat tujuan yaitu penjual martabak, Nandini langsung memesan dan penjualnya pun merespon pesanannya dengan baik. Ia pun memutuskan untuk duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu sampai pesanannya sudah selesai. 

Jika wanita lain atau bahkan suaminya sendiri jijik dengan tempat ini, tapi tidak dengan Nandini. Meskipun terlahir kaya sejak dalam kandungan namun dia selalu diajarkan hidup sederhana oleh mamanya karena bagi mamanya hidup kaya dan miskin tidak akan mengubah kedudukan manusia di depan Sang Pencipta hingga Nandini tak pernah takut membeli makanan pinggir jalan yang kata orang tak sehat. Menurutnya makanan cepat saji dan makanan pinggir jalan, lebih sehat pinggir jalan.

Sambil menunggu pesanan datang, Nandini membuka ponselnya dan tak ada notifikasi satu pun. Suara seseorang memanggil namanya membuat Nandini mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat siapa pria itu.<

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status