Scarlet
Scarlet
Author: Cristi Rottie
Beauty that kills

    Tap ... tap ... tap ...

    Langkah kaki yang anggun, lekukan badan yang indah berbalut gaun mini berwarna hitam yang menonjolkan lekukan tubuh mungil yang berbentuk layaknya gitar spanyol, berjalan dengan gemulainya di sepanjang koridor kamar hotel.

    Wajah yang cantik dengan bibir merah yang terbentuk sempurna tersenyum saat langkah kakinya berjalan dengan anggun.

    Tsst ... tssstt ... 

    “Scar? Apa kau mendengarku?” 

    “Diamlah bos, aku bisa bekerja sendiri,” ucap Scarlet memegang alat pendengar yang di selipkan di telinganya.

    “Scar, aku ini bosmu kau harus mendengarkan perintahku. Setelah kau membunuhnya kau harus cepat keluar dari sana.”

    “Maaf bos suaramu seperti lebah, aku tidak bisa mendengarmu. Tenang saja, aku bisa menyelesaikan semuanya, sampai jumpa,” Scarlet tersenyum kecil, berpura-pura tidak mendengar suara dari alat pendengar itu.

    Dengan cepat Scarlet melepaskan alat itu dari telinganya lalu melemparkannya di dalam vas bunga yang ada di sampingnya saat sedang berjalan. 

    Scarlet meneruskan perjalanannya. Dari jauh dia melihat kedua lelaki berbadan besar yang berdiri di depan pintu dengan sigap. Scarlet mendekati mereka dan tersenyum dengan manisnya ke arah kedua lelaki itu.

    “Ada keperluan apa?” tanya seorang lelaki menghadang Scarlet untuk mendekati pintu yang mereka jaga. 

    “Tuan-tuan, aku adalah hadiah yang dinantikan oleh bos kalian. Biarkan aku masuk,” ucap Scarlet dengan suara yang lembut.

    Kedua lelaki itu mendekati Scarlet dan mulai menyentuh tubuhnya untuk memeriksa jika ada sesuatu yang dia bawa. Mereka mulai menyentuh pinggang kecilnya, belakangnya, sampai ke bawa kakinya untuk memastikan tidak ada senjata ataupun barang tajam yang di sembunyikan. Langkah terakhir mereka menyentuh bagian telinganya. Scarlet merentangkan tangannya dan membiarkan kedua lelaki itu menyentuh tubuhnya sampai mereka puas memeriksa.

    “Buka mulutmu!” ucap seorang lelaki itu.

   “Mulut? ... oh baiklah. Aaaa ....” 

  Scarlet di periksa dengan sangat teliti. Alasan mereka memeriksa bagian dalam mulut Scarlet adalah untuk memastikan tidak ada sesuatu yang di sembunyikan di dalam mulutnya.

   Saat mereka selesai memeriksa Scarlet, pintu kamar yang ada di depannya terbuka. Seorang lelaki tersenyum nakal memperhatikan wanita yang ada di depannya.

    “Tuan, apa kau mau hadiahmu berdiri lama di depan pintu? Kedua lelaki ini dengan santainya menyentuh hadiahmu,” ucap Scarlet merengek di depan lelaki yang berdiri di ambang pintu.

    “Maaf Tuan, kami hanya memastikan kalau tidak ada sesuatu yang mencurigakan.”

    “Dasar bodoh! Tidakkah kalian lihat hadiahku sedang ketakutan,” ucap lelaki itu dengan nada yang tinggi.

    Scarlet tersenyum manis mendekati lelaki yang berdiri di ambang pintu itu, dan menjatuhkan dirinya ke dalam rangkulan lelaki itu.

    “Ah Tuan, aku takut dengan kedua lelaki ini,” lanjut Scarlet dengan wajah tatapan yang sayu.

    “Tidak apa-apa, mereka tidak akan melukaimu. Ayo, aku akan membuatmu senang hari ini,” balas lelaki itu menutup pintu kamarnya lalu membawa Scarlet berjalan masuk ke dalam kamar dengan merangkulnya.

    Saat Berada di samping ranjang, Scarlet dengan cepat mendorong lelaki itu hingga tertidur di atas ranjang.

    “Oh, ternyata kamu adalah wanita yang sedikit kasar juga. Baik, aku akan membiarkanmu bermain denganku di atas ranjang ini. Ayo, tunjukkan kehebatanmu. Aku akan memberikan hadiah yang sangat besar jika kau berhasil menyenangkanku,” ucap lelaki itu tersenyum, memandang Scarlet dengan tatapan sayu.

    Scarlet perlahan mendekati lelaki yang ada di depannya dan duduk di atas lelaki itu. Dia tersenyum kecil menjalankan jemari tangannya di atas bidang datar lelaki itu. Sementara tangan lelaki itu dengan lancarnya menyentuh pangkal kaki mulus Scarlet dan perlahan mengarah ke bagian pinggang kecilnya.

    Scarlet meneruskan aksinya dengan perlahan membuka kancing kemejanya dan membuka simpul dasi yang masih mengalung di kerah kemejanya. Namun dengan cepat lelaki itu menjatuhkan Scarlet ke bawah dan mengubah posisi Scarlet yang tadinya berada di atasnya sekarang telah terbaring di bawah lelaki itu. Tatapan mata lelaki itu menunjukkan betapa inginnya dia untuk menikmati hadiahnya yang telah ditindihnya.

    Saat simpul dasinya telah terlepas, Scarlet dengan cepat mengalungkan dasi yang dia pegang ke leher lelaki itu lalu menjatuhkan lelaki itu ke sampingnya. Scarlet berada di posisi semula, duduk di atas perut lelaki itu dengan tangannya yang menarik kuat kedua ujung dasi sehingga membuat lelaki yang ada di bawahnya tercekik oleh dasi yang telah di tarik Scarlet. 

    Lelaki itu berusaha menarik simpul dasi yang telah mengalung di lehernya. Wajahnya menjadi merah padam, urat nadi di dahinya terlihat begitu jelas.

    “Si-siapa Kamu? Si- sapa yang menyuruhmu?” tanya lelaki itiu dengan suara pelan yang tercekik.

    “Agen C-17, Scarlet. Malaikat pencabut nyawamu,” ucap Scarlet dengan tatapan tajam dan nada yang menekan.

    Lelaki itu merontah-rontah dengan kaki dan tangannya, berusaha melepaskan dasi yang telah mencekik batang lehernya. Namun Scarlet dengan wajahnya yang dingin semakin kuat menarik dasi itu hingga akhirnya lelaki yang ada di depannya melemas dan membiru. 

    Setelah Tak ada lagi gerakan dari lelaki itu, Scarlet melepaskan dasi yang dia pegang dan berdiri menjauh dari lelaki itu.

    Dia dengan cepat berjalan ke samping jendela kaca yang besar lalu melepaskan gaun mininya. Dalaman lateks  berwarna hitam yang tipis, dengan model setelan mini. Scarlet menengok keluar, melihat di luar ketinggian itu. Dia memperhatikan bagian luar dinding jendela kaca yang menyisakan beberapa senti dinding yang menonjol keluar, Scarlet menarik nafas panjangnya dan segera keluar dari jendela kaca itu dengan mengandalkan kekuatan jemari tangannya untuk berpegang pada bagian dinding jendela yang memiliki sedikit ruang dinding. Dengan jari-jarinya Scarlet berusaha menahan berat badannya agar tidak terjatuh di ketinggian itu.

    Scarlet menggantung di dinding luar hotel itu. Dia menengok ke bawahnya. Ketinggian yang bisa meremukkan semua tulangnya jika sampai jemarinya tidak bisa menahan berat badannya. Namun hal itu hanyalah masalah kecil, karena sudah di bekali dengan latihan yang sangat kejam sejak ia kecil. Bahkan ratusan bahaya pun bisa dia lewati demi misi yang diberikan padanya meskipun harus mencelakai dirinya sendiri.

    Dengan wajah yang serius, Scarlet melepaskan pegangannya di sudut dinding jendela itu dan membuat dirinya terjatuh melewati satu lantai. Scarlet berusaha meraih sudut dinding jendela kaca yang akan dia lewati. Dan benar saja, jemari kecilnya yang kuat itu berhasil menahan tubuhnya agar tidak terjatuh lebih jauh lagi. Berulang kali Scarlet melakukan hal yang sama menuruni ketinggian itu. Sesekali pegangan jari tangannya terlepas dari sudut dinding jendela kaca itu, tapi dengan kemampuannya dia berhasil mengatur kestabilan dan kekuatan jarinya agar bisa menahan tubuhnya.

    Perjuangan yang berat dan beresiko untuk turun dari ketinggian itu, namun karena sudah terbiasa melakukan hal-hal yang seperti itu Scarlet berhasil turun dengan selamat dari ketinggian hotel itu.

    Dia segera berjalan mendekati sebuah motor besar berwarna hitam yang telah terparkir tak jauh dari tempatnya mendarat. Scarlet berjalan dengan tegap lalu mengendarai motor itu dengan sangat cepat. 

    Beberapa menit kemudian Scarlet masuk ke sebuah rumah kecil yang jauh dari keramaian. Pintu bagasi terbuka secara otomatis saat Scarlet memasukinya. Motor di parkirkan, Scarlet segera turun dari motornya dan berjalan mendekati pintu lalu mendekatkan telapak tangannya ke sebuah layar kecil yang berada di samping pintu itu.

    Tiiit ...

    Suara mesin berbunyi. Pintu yang ada di depan Scarlet terbuka. Scarlet segera masuk ke dalamnya dan berdiri menunggu sesuatu terjadi. Ruangan yang kecil seperti sebuah lift membawa Scarlet turun ke bawah. Saat Lift berhenti, pintu terbuka dengan sendirinya.

    Scarlet berjalan masuk dengan santai ke dalam sebuah ruangan yang sangat besar yang hampir di penuhi dengan senjata-senjata dan alat-alat canggih untuk membantunya melewati misinya. Di dalam ruangan itu terdapat juga mini bar lengkap dengan semua minuman kelas atas yang tersusun rapi di sebuah rak.

    Scarlet mendekati mini bar itu lalu mengambil botol minuman beralkohol dan meneguknya dengan perlahan. Merasa dahaganya telah teratasi, Scarlet berjalan mendekati pintu kecil sambil memegang botol minuman di tangannya.

   Sebuah ruangan kamar mandi yang nyaman telah menantinya untuk melepaskan semua kegerahannya. Scarlet melepaskan semua pakaiannya dan memasuki Bathup, merendamkan semua tubuhnya ke dalam bathup yang telah terisi penuh oleh air yang berbusa.

    Scarlet menyandarkan kepalanya ke sisi bathup dan memejamkan matanya, sambil meneguk sekali lagi minuman yang masih di pegangnya. Setelah selesai dengan tegukan itu, Scarlet meletakkan botol minuman di sampingnya dan membiarkan matanya terpejam lama hingga akhirnya tertidur di dalam bathup itu.

    Beberapa menit kemudian, dahi Scarlet di basahi dengan keringat. Alis keningnya mulai mengerut, dan sesekali kepalanya terenyak ke samping. Scarlet terbangun dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Dia segera keluar dari bathup dan membalut dirinya dengan handuk.

    Ia berjalan keluar dari kamar mandi dan berpakaian. Dia berdiri lama menatap dirinya sendiri di sebuah cermin yang besar. Pandangan matanya tajam menatap dirinya sendiri seperti seorang musuh. 

    Tring! ....

    Bunyi yang kuat yang bergema di telinganya, membuatnya menoleh ke samping melihat sebuah alat kecil seperti sebuah speaker yang terletak di atas meja.

    “Scar? Scarlet?” 

    Dari alat kecil itu keluar suara lelaki yang tak asing di telinganya. Scarlet berjalan mendekati alat itu dan hendak menekan tombol untuk mematikannya.

    “Agen C-17! Aku tahu kau berada di sana, jangan mencoba untuk mematikannya.”

To be continue ....

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status