Pembullyan Sekolah

The Magic of Friddenlux

Episode 9

Kringg...

Suara dering dari jam weker.

Suara nyaring membuat Andrew dan Audrey terbangun. Andrew yang sama sekali tidak tidur dengan benar. Ia tidur dalam posisi duduk, mulai membuka mata dan melihat cahaya matahari.

"Andrew, kau tidur seperti ini semalaman?" tanya Audrey.

Andrew pun menganggukan kepalanya. Kini ia memijat lehernya karena pegal, tidur dengan posisi duduk semalaman. Dengan leher yang selalu menunduk, tentu saja itu membuat leher pegal.

"Kau ini, jangan seperti itu," kata Audrey langsung menarik tangan adiknya agar duduk di depannya.

Audrey pun sebagai kakak yang baik, ia tidak tega melihat adiknya yang harus merasakan tidak nyaman karena lehernya pegal. Ia memijat leher Andrew dengan sangat lembut tapi sangat terasa.

"Pijatan ini seperti pijatan tangan nenek," kata Andrew.

"Oia ngomong-ngomong tentang nenek. Tadi malam aku bermimpi nenek mendatangiku lagi," ujar Audrey.

"Oia? Nenek mengatakan apa padamu? Kau cerita tentang semua yang kita alami?" tanya Andrew.

"Iya, aku sudah cerita tentang semua yang kita alami. Lalu nenek menyuruh kita untuk mencari seseorang dari Friddenlux," jawab Audrey.

"Friddenlux? Apa itu sebuah kota? Negara? Atau tempat? Aku tidak pernah mendengar nama itu di negera kita. Atau mungkin itu adalah kota dari luar negeri?" tanya Andrew yang langsung berbelok menghadap Audrey.

"Aku pun tidak tahu. Tapi kata nenek, kita harus segera menemukan mereka," jawab Audrey.

"Audrey, apa ini benar? Semua yang kita alami? Kejadian zombie, hantu dan sesuatu yang berwarna di otak kita ini saling berkaitan?" tanya Andrew sambil berdiri.

"Sepertinya begitu. Saat ku bertanya kepada nenek, nenek langsung menghilang. Sepertinya kekuatan nenek itu ada batasannya," jawab Audrey.

"Sekarang aku siap-siap duluan ya ke sekolah. Mungkin nanti kita coba cari tahu tentang itu semua di perpustakaan sekolah dulu," ujar Andrew sambil berjalan ke arah kamarnya.

"Baiklah kalau begitu, aku akan siapkan sarapan lebih dulu," ucap Audrey sambil berjalan menuju dapur.

Andrew pergi ke kamarnya untuk berganti baju dan menyikat giginya. Sedangkan Audrey menyiapkan sarapan berupa roti bakar dan telur ceplok. Audrey juga sambil melakukan panggilan telepon kepada Nail. Ia ingin izin bahwa tidak dapat masuk bekerja malam ini dan Nail mengizinkannya.

Setelah sarapan, Audrey dan Andrew pun segera berangkat ke sekolah. Hari kian hari, masalah mereka mulai menampakkan benang merahnya.

Setelah ini mereka pasti bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan mereka. Mengapa zombie itu mengejar mereka? Benda apa yang ada di otak mereka? Dimana Friddenlux berada? Siapa orang-orang dari Friddenlux yang harus ditemukan oleh Audrey dan Andrew? Semua pertanyaan itu selalu muncul di dalam kepala Audrey dan Andrew.

Setibanya mereka di sekolah. Suasana koridor sekolah menjadi aneh. Setiap langkah kaki Audrey dan Andrew, nereka selalu diomongi oleh orang-orang.

"Owh jadi Audrey ini yang kemarin di tolak Julian."

"Pantas saja lah dia ditolak oleh Julian. Lihat saja penampilannya."

"Dia kan antisosial, hanya bisa mencari perhatian dari guru."

"Kau jangan bikin masalah dengan mereka. Sekarang kan mereka anak beasiswa, kalau kau bikin masalah dengan mereka, bisa-bisa beasiswa mereka akan dicabut, kan kasihan."

Bisik-bisik semua siswa yang sangat terdengar jelas oleh Audrey dan Andrew. Mereka semua berbisik-bisik tapi menggunakan suara yang bisa terdengar oleh orang lain. Dan itu membuat Andrew muak.

"Aah sudah cukup! Dengar kalian semua, Audrey tidak pernah suka dengan Julian, kejadian kemarin itu karena ulahnya Rebecca," seru Andrew yang menghadap kepada mereka semua.

"Oia begitu?" terdengar suara berat dari seorang laki-laki.

"Ahh itu Julian."

"Hai Julian."

Julian pun membalas sapaan semua perempuan itu dengan senyuman yang manis. Senyuman Julian itu bisa membuat semua perempuan menjadi heboh.

Audrey melirik sinis kepada Julian. Kalau bukan Rebecca, mungkin Audrey tidak akan pernah berbicara tentang cinta kepada Julian.

"Dengarnya Jo! Aku juga tidak pernah menyukaimu dan tidak pernah menginginkanmu sebagai pacarku," seru Julian kepada Audrey dan Andrew.

"Boooo!" seru semua orang yang menyaksikan dan mendengarkan perkataan Julian kepada Audrey dan Andrew.

"Ditolak untuk kedua kalinya Ha," terdengar suara perempuan yang tidak asing bagi Audrey. Dia adalah Rebecca dalang dari semuanya.

"Kudengar kau sekarang bekerja di kedai kopi. Ternyata berita kalian sudah jadi miskin benar ya," kata Rebecca dengan sombong.

Audrey hanya berdiam tanpa ekspresi. Justru Andrew yang geram dengan semua tindakan mereka. Andrew sampai menatap dengan tajam ke arah Rebecca dan Julian sambil menggenggam tangan.

"Kalau begitu, mungkin bisa nanti aku mampir ke kedaimu dan.."

"Kau kurang sarapan ya? Atau kau tadi sarapan dengan makanan sampah? Pagi-pagi sudah menggosipkan orang," kata Audrey yang memotong pembicaraan Rebecca.

"Mulut cantikmu itu ternyata pedas juga ya, wajar saja kalau Julian menolak pernyataan cinta darimu," sambung Rebecca sambil merangkul bahu Julian

"Rebecca! Aku tidak mau menjadi korban antara hubungan kalian yang buruk ini. Kalian bahkan bukam temanku," seru Julian sambil memindahkam tangan Rebecca.

"Kalau tidak ada urusan lagi, aku dan Andrew harus pergi. Ada banyak hal yang harus kami kerjaan." ujar Audrey kepada Rebecca.

"Dan untuk tuan Julian Fang. Berterimakasih lah pada Rebecca Quill, karena berkat dia, kau jadi basa berbicara pada aku yang terkenal ini," sambung Audrey sambil meninggalkan koridor sekolah.

Andrew pun mengikuti Audrey dari belakangnya. Setelah agak sedikit jauh, Andrew memutarkan badannya dan mengeluarkan jari tengahnya sambil tersenyum sombong.

Semua orang jadi semakin heboh. Karena Andrew yang bersikap seperti itu. Mereka tahu bahwa Andrew adalah adik yang sangat peduli pada Kakaknya. Semua orang juga tahu bahwa Andrew akan melakukan apapun demi melindungi Kakaknya.

Suasana kelas Audrey pun sedikit tidak nyaman. Itu karena Audrey, Rebecca dan Julian adalah teman sekelas. Dan semua orang tahu apa yang terjadi diantara mereka bertiga.

Tapi sebenarnya, Audrey biasa saja. Ia tidak begitu memperdulikan apa yang orang lain lakukan padanya saat di sekolah. Karena ada hal yang lebih besar, sedang menuju kepada Audrey dan Andrew.

Audrey dan Andrew adalah murid yang cerdas di sekolah SMA Remeny. Mereka berdua adalah kunci dari pendidikan SMA Remeny. Jadi sekolah tidak akan mudah untuk melepas dua siswa itu.

Audrey dan Andrew sudah mengalamai pembullyan sejak hari pertama sekolah. Karena lebih dulu setahu masuk sekolah dari Andrew, Audrey yang lebih banyak mendapatkan pembullyan.

Banyak yang membenci mereka, karena mereka berparas indah, pintar di segala hal dan selalu menjadi pemenang. Hal itu membuat mereka mempunyai musuh yang banyak. 

Tapi mereka tidak pernah soal itu. Bagi mereka, memperdulikan orang yang tidak menyukai mereka akan menghambat segala urusan mereka. Begitulah yang diajarkan oleh nenek mereka, Ashley Jo.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status