KELAMBU MERAH JAMBU
KELAMBU MERAH JAMBU
Author: Humairah Samudera
Kenzy Van Snoek

Menjadi isteri Kenzy bukan perkara yang mudah bagiku. Bukan hanya karena karakternya yang bertolak belakang denganku, tapi terutama dunianya yang hitam kelam. Nggak, aku nggak seputih awan di langit biru, tentu saja. Tapi setidaknya, nggak pernah menjajal apalagi sampai terjerat di dunia yang baginya surga. Sampai sekarang aku masih belum mengerti, bagaimana bisa begadang setiap malam, mabuk-mabukan, berjudi dan menghambur-hamburkan uang untuk wanita penghihur bisa disebut Surga. Bukankah Surga itu tempat yang paling nyata, indah dan suci? 

Kenzy, Kenzy! Mau sampai kapan dia begini? Nggak sadar apa, umurnya sebentar lagi sudah tiga puluh enam tahun? Apa masih belum puas, bersenang-senang di dunia hitam kelam, bagaikan langit putih yang diselimuti awan mendung. Tebal dan hitam.

Sebenarnya, kadang-kadang aku malu pada Papa dan  diri sendiri terutama,  karena masih belum berhasil merubah Kenzy. Jangankan berhasil, bisa bertahan di sini saja sudah Alhamdulillah. Ya, di sini, rumah yang dihadiahkan Papa untuk pernikahan kami. Jujur, kadang-kadang ingin pergi jauh dari Kenzy, sejauh-jauhnya. Pulang kembali ke Indonesia misalnya dan nggak pernah bertemu dengannya lagi. 

Yeaaah, andai masalahnya sesederhana itu! 

"Anya!" panggil Elize, sahabat dekatku dari belakang, mengejutkan sekaligus mengutuhkan kesadaranku. 

Kami sedang berbelanja kebutuhan bulanan di kooper mollen, seperti biasa. Nggak, tentu saja kami nggak tinggal satu rumah. Elize tinggal satu blok di belakang rumah kami. Semenjak kedatanngan kami di Leiden ini, dialah satu-satunya tetangga yang raham, baik dan peduli pada kami. Aku, terutama. 

Begitu tahu kalau dalam tubuh Kenzy mengalir darah Belanda, sama dengan dirinya, Elize semakin baik denganku. Apalagi umur kami sama-sama dua puluh tahun, hanya selisih dua bulan. Aku lahir di bulan Januari, dia di bulan November.  Tanggalnya sama, persis. Tanggal dua puluh dua.

"Elize?" sahutku sedikit gugup, "Sorry," 

"It's allright, Anya." katanya sambil memekarkan senyum tulus, "I took this one for my Mom," ujarnya sambil menunjukkan sebuah buku resep memasak aneka kue kering. 

"It's OK," sahutku, lalu mengajaknya melanjutkan acara belanja bulanan kami, "How is your shopping list, finish?" 

Dia mengangguk kecil, "Finish and you?" 

Dengan ringan, tanpa beban, aku menjelaskan kalau harus membeli keju di supermarket sebelah. Elize mengaku nggak keberatan kalau harus menemaniku ke sana. Oh ya, dia pasti tahu, kalau Kenzy nggak pernah meluangkan waktu untuk menemaniku berbelanja. Jangankan berbelanja, sedangkan membawa masuk koran pagi saja, sesuatu yang mustahil. 

"Thanks, Elize!"

"You are welcome, Anya!"

Nggak, dalam kehidupan sehari-hari Elize nggak berbahasa Inggris. Dia berbahasa Inggris hanya karena telah terbiasa menggunakannya saat bersamaku. Elize tahu persis, kalau waktu itu aku belum mengerti bahasa Belanda. Jadi, dia yang menyesuaikan diri denganku. So sweet, right? Walaupun akhirnya aku dinyatakan lulus les bahasa Belanda, kami tetap berbahasa Inggris saat sedang berdua. A friendship language, hehe. 

***

Kenzy sudah di rumah ketika aku pulang berbelanja. Wajahnya datar dan hambar seperti biasa. Menoleh sebentar ke arah pintu yang kubuka dari luar dan kembali membaca koran favoritnya, Morgen Leiden. Mungkin karena sudah terbiasa dengan sikapnya yang sedatar itu, aku pun santai. Memasukkan shopping cart dengan gembira tralala dan mengeluarkannya satu per satu. Sengaja kupisahkan semua brosur sale untuk jadwal belanja mingguan. Aku yakin, Kenzy nggak pernah tahu soal ini. Kalau tahu, dia pasti gusar dan meledak karena dipikir hanya menghambur-hamburkan uang saja. Padahal, itu sangat efektif untuk membeli kebutuhan pernak-pernikku sebagai seorang wanita. Murah meriah. Hihi.

Kadang-kadang, melihat bagaimana sikap datar dan hambar Kenzy, aku frustrasi. Tapi, di sisi yang lain aku sangat bersyukur. Karena apa? Dia nggak memaksaku lagi untuk tidur satu kamar dengannya. Artinya, dia nggak mengingkari janji yang telah kami sepakati bersama.

Satu rumah, yes! Satu kamar, No!

Iya, begitulah perjanjian yang telah kami buat dan sepakati bersama. Jujur, aku nggak mau di gede rasa karena akhirnya mau menikah dengannya. Kadang-kadang dia begitu lho dan akhirnya bersikap seenak jidat. Padahal, halooo, kami sama-sama membutuhkan, kan? Eh, maksudku, orangtua kami. Papaku membutuhkan uang papanya untuk membangun perusahaannya yang mati suri. Sedangkan papanya membutuhkan aku untuk memperbaiki hidup Kenzy. 

Wooow, amazing, kan? 

Yeaaah, begitulah hidup di dunia ini. Penuh dengan drama dan sandiwara. Satu lagi, fatamorgana. Sekali lagi, aku nggak akan pernah menikah dengan Kenzy di usia semuda ini, jika bukan demi Papa. Nggak, masa depanku nggak ikut menjadi korban kok, karena diam-diam (Hanya Elize yang tahu) aku melanjutkan kuliah di sini. Cukup masa remajaku saja yang menjadi korban. 

Aku sedang menyusun detergent dan sabun cucii piring di rak, ketika Kenzy mendekat, "Anya!" 

"Ya, Kenzy!" sahutku tanpa mengalihkan perhatian dari tumpukan detergent, "Ada apa?"

Kenzy mendesah berat lalu menghela napas, "Aku ingin makan malam di luar sama kamu?" 

'Wooow, is it a dream?' batinku antara terkejut dan senang, entah mengapa. Hemmm, kadang-kadang aku begitu, senang dengan hal-hal sederhana seperti ini. Hei, kebahagiaan itu memang sederhana, bukan? Hehe. Maaf, bukan membela diri.

"Oh ya, makan di mana?"

"Sekali-kali, kita ke Den Haag, yuk?" 

Seketika, perasaan senangku melayang-layang di udara dapur yang hangat oleh pemanas ruangan. Selama hampir tujuh bulan di Leiden, baru kali ini diajak Kenzy makan malam di luar. Di hari belanja bulanan, pula. Duh, mimpi apa ya, aku semalam? 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status