My Billionaire Aiden
My Billionaire Aiden
Author: arkein
Pertemuan Tidak disengaja

Suara mesin yang dihasilkan oleh sebuah mobil sport keluaran terbaru berwarna merah maroon yang mengkilap membuat semua pasang mata tertuju. Mobil seksi itu berjalan mulus di jalan beraspal dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang biasa. Banyak dari mereka yang mendecap kagum apalagi ketika mereka bisa membaca ada nama “CHAYTON” di plakat mobil.

Siapa yang tidak tahu Chayton? Sebuah keluarga yang sangat terkenal karena kekayaannya. Setiap tahun nama mereka pasti berada di urutan pertama dengan pemilik harta terbanyak sedunia. Tentu ini adalah hal yang cukup mengejutkan karena salah satu dari keluarga Chayton menginjakkan kaki di balapan liar yang diadakan tiap pergantian musim.

Di kursi kemudi sudah duduk seorang pria bermata cokelat tajam. Kakinya tak segan-segan menginjak gas yang ada di bawah. Dengan sekali putaran mobil itu berhasil mendarat dengan gerakan drift yang membuat mobil itu berputar setengah dengan sangat cantik.

Tak menunggu waktu lama, pria itu segera keluar. Sepatu hitam bertabur beberapa berlian lebih dulu terlihat, disusul dengan yang lain. Tubuh kekarnya dibalut oleh kaus hitam stretch yang mengikuti bentuk tubuh. Matanya menyapu dengan gerakan cepat ke semua orang yang memperhatikan dirinya.

Aiden Mike Chayton, sang pemilik manik cokelat terang. Sang penerus tunggal nama Chayton. Ini adalah kali pertamanya menginjakkan kaki di tempat balapan.

“Aku tidak menyangka kalau kau akan datang,” kata seorang pria yang berjalan mendekat ke arahnya.

Wajah Aiden sangat menyeramkan apalagi dibantu dengan alis hitam berbentuk rapi, seakan mempertegas bagaimana sifatnya. Dia menghela napas. “Apa kau tidak bisa menyingkirkan mereka semua? Pemandangan yang sangat menggangguku!”

“Ck. Turunkan sedikit kesombonganmu, Kawan. Ini tempat umum, siapa saja bisa datang kemari,” sahut pria itu.

“Cepatlah,” kata Aiden. Dia tidak mau berlama-lama di tempat ini. Semakin lama, semakin banyak orang yang mengerumuni tempat ini. “Aku ingin segera masuk ke dalam.”

“Sabar sedikit. Apa kau lupa dengan bodyguard keluarga Chayton, heh?” tanya pria yang memiliki nama Marvin Adams.

Hampir saja Aiden lupa dengan mereka. Biasanya Aiden tidak membawa mereka, tapi mengingat ini adalah tempat umum membuatnya harus berjaga-jaga. Banyak sekali musuh yang mengintai keluarga Chayton. Kalau satu dua orang Aiden bisa menghalaunya, tapi kalau lebih, jelas dia butuh bantuan.

Di sisi lain ...

“Ada apa ini? Kenapa mereka berkumpul seperti ini?” tanya seorang perempuan dengan nada kecil.

“Aku juga tidak tahu. Yang jelas kita harus sampai ke rumah secepatnya. Aku belum bersiap-siap sama sekali, Nancy,” kata perempuan itu gusar. Harusnya mereka menikmati waktu lebih lama di dalam sana, tapi karena telepon dari rumah membuatnya terpaksa untuk pulang cepat.

“Baiklah kalau begitu.” Nancy memegang tangan perempuan itu, menariknya mendekat ke tubuhnya. Lalu, dengan sekali gerakan, dia menerobos sekumpulan manusia. Tak jarang apa yang Nancy lakukan membuat beberapa orang marah. Senggolan demi senggolan mereka dapatkan begitu juga dengan umpatan-umpatan. Maafkan mereka kali ini.

“Huhhhh ....”

Mereka berdua menghela napas panjang sesudah bebas dari mereka. Rasanya sangat menyesakkan sekali. Belum lagi aroma tak sedap di dalam sana. Menjijikkan.

“Ayo, cepat,” kata perempuan itu yang lalu berjalan duluan meninggalkan Nancy.

Bukk

“Awkkkkhhh.” Perempuan itu meringis kesakitan. Dahinya membentur sesuatu yang sangat keras sekali.

“Apa kau tidak punya mata?”

Suara berat basah dengan penuh penekanan membawa perempuan itu membuka matanya. Deg. Dia langsung bertemu dengan pria yang rahangnya sudah terlihat mengeras. Ternyata benda keras itu adalah dada bidang pria yang sedang menatapnya dengan tajam.

“M-maafkan aku,” kata perempuan itu lemah. Rasanya dia kesulitan untuk menarik oksigen dikarenakan pria di hadapannya. Pra ini seakan bisa membuat oksigen merasa minder dengan aura tampan yang dimiliki.

“Kau tidak bisa kabur begitu saja,” jelas pria itu, Aiden, yang mencekal tangan perempuan itu sesaat dia ingin pergi. Semuanya mendadak membisu. Temannya, Marvin, bahkan tidak bisa melakukan apapun. Inilah Aiden. Ketika dia marah, maka pelakunya harus menerima segala konsekuensi yang dibuat.

“K-kau mau apa?” tanyanya dengan penuh ketakutan.

“Maafkan kami.” Suara itu membuat mereka berdua menoleh bersamaan. Nancy sudah berada di samping temannya. Jelas Nancy tahu siapa itu Aiden. Dia sangat kenal sekali bagaimana pengaruh dia dan keluarganya di negara ini. “Ini adalah sebuah kesalahan. Tolong maafkan kami.”

“Alex,” panggil Aiden.

Alex yang dipanggil pun segera berjalan mendekat dari arah belakang. Pria yang menggunakan jas hitam itu menunduk hormat ke arah Aiden.

“Bawa wanita ini. Beri dia pelajaran.”

Pelajaran? Sontak saja dua pasang mata itu membola, merasa terkejut akan apa yang didengar. Karena Nancy tahu kalau mereka akan mendapatkan hal buruk jika berlama-lama di sini, segera saja dia menginjak dengan keras kaki Aiden.

“Akhhh.”

Aiden meringis kesakitan disaat heels tajam itu menekan keras sepatunya, membuat kakinya merasakan sakit. Karena tidak siaga, akhirnya cekalan di tangan perempuan itu dilepas.

“Sekali lagi maafkan kami,” kata Nancy yang lalu pergi sambil menggenggam pergelangan tangan temannya. Mereka berlari dengan sangat cepat. Syukurlah dua perempuan itu dibekali dengan teknik berlari yang cepat.

“Tidak perlu mengejar mereka,” usul Marvin sesaat Aiden ingin membuka suara. Dia tahu apa jalan pikiran Aiden. Lagi pula, ini hanya ketidak sengajaan. Untuk apa dipermasalahkan, bukan? “Lebih baik kita masuk. Kau tidak mau melewatkan kesempatan ini, bukan?”

***

“Astaga, Stephanie, untung saja kita bisa melarikan diri. Aku rasa hidup kita tidak akan tenang jika kita tidak bisa pergi dari sana.” Nancy berbicara panjang lebar.

Stephanie yang sedang berada di depan kaca hanya bisa menanggapinya dengan gumaman. Rasanya sangat malas sekali. Berada di mansion ini seperti penjara baginya. Sekarang malah dua kali lipat dikarenakan para pelayan sedang mendandani dirinya.

Stephanie menyukai make up, tapi tidak seperti ini caranya. Mengingat apa tujuan mereka mendandani dirinya bahkan membuat moodnya semakin berantakan.

“Lebih baik kita tinggal saja di sana, Nancy. Aku menyesal pulang dengan cepat,” sahut Stephanie. Para pelayan yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Mereka tidak punya kuasa untuk menjawab Stephanie.

“Apa kau tidak tahu siapa pria itu?” tanya Nancy tak menyangka.

“Aku tidak tahu dan tidak ingin mengetahuinya,” sahut Stephanie malas.

Nancy menunduk sedih. “Maafkan aku yang tidak bisa membantumu. Posisiku di sini hanyalah anak dari seorang pelayan ... aku tidak bisa berbuat apapun,” tutur Nancy yang tersenyum masam. Beberapa pelayan tak jarang menatapnya dengan rasa tidak suka dikarenakan hanya dialah yang bisa bersikap seperti seorang teman kepada Stephanie.

Stephanie menyukai Nancy. Sejak kecil, mereka sudah selalu bersama. Karena Stephanie jugalah akhirnya Nancy bersekolah di sekolah elite bersama dengan Stephanie. Hanya saja mereka terpisah di perguruan tinggi.

“Nancy?” Stephanie menatap Nancy dengan tatapan penuh memohon. Tersirat juga disana apa yang Stephanie maksud.

Nancy jelas mengerti. Dia memberikan gelengan. “Aku tidak bisa. Itu terlalu berisiko,” tolak Nancy. Bayangkan saja Stephanie menyuruh untuk membawa kabur dirinya. Kalau ini rumah kecil itu bisa dibicarakan, tapi masalahnya ini mansion dengan luas tanah berhektar-hektar. Belum lagi dengan ketatnya keamanan. Sungguh berisiko. “Tolong minta hal yang memang bisa kulakukan. Ehm ... bagaimana kalau aku akan membuatkan brownies cokelat untukmu setelah pulang makan malam biasa nanti?”

Stephanie mendesah. “Makan malam biasa? Tentu bukan. Ini adalah makan malam yang juga membahas perjodohan memuakkan. Sungguh aku tidak menyukainya. Ini bukan zaman kerajaan.”

Nancy menepuk bahu Stephanie. “Kalau aku bisa, aku pasti sudah membantumu. Aku rasa aku harus pergi. Mungkin Ibuku sedang membutuhkan bantuanku untuk membuat makan malam. Satu hal, jangan buat kesalahan, Stephanie. Bukan hanya namamu saja yang jelek, tapi nama belakangmu juga ... aku pergi dulu.”

***

“Kau sangat cantik, Sweetie.”

Apa yang pria katakan itu memang benar. Kali ini Stephanie terlihat jauh lebih cantik. Gaun hitam itu membalut tubuh seksinya. Terlihat sangat mewah, dibantu juga dengan berlian yang melingkar sempurna di leher. Lipstik merah gelap membuat Stephanie jauh lebih dewasa. Sekarang, dia tidak terlihat seperti gadis sekolahan. Gaya pakaian yang Stephanie gunakan membuatnya sesuai dengan umurnya sekarang, 23 tahun.

Daddy, aku rasa ini tidak perlu dilakukan. Aku tidak membutuhkan seorang pria. This queen doesn’t need a king, Dad,” jelas Stephanie.

Sang Daddy tersenyum. Dia mendekat, memegang kedua pundak yang tak dibalut apapun. “Ketika kamu kecil, Daddy selalu mengingat hal itu karena Daddy akan menjadi raja yang menjaga dirimu, Sweetie. Tapi setelah kamu beranjak besar, akhirnya Daddy sadar kalau kamu membutuhkan raja.”

Stephanie terdiam. Percuma saja. Segala penjelasan, tingkah manis, usul— tidak satupun yang berhasil. “Apa yang Daddy cari dari perjodohan ini?” tanya Stephanie. “Kita punya kuasa, Dad. Kita punya kekayaan. Lalu kenapa Daddy ingin sekali menjodohkanku dengan teman Daddy? Apa perusahaan kita bangkrut?”

“Tentu tidak,” jawab Erland. “Daddy tidak akan mungkin menjualmu hanya karena perusahaan atau harta. Daddy hanya ingin yang terbaik untukmu.”

“Sudahlah, Stephanie.” Suara lembut dari sang Mommy membuat mereka menoleh ke arah pintu. Diana tersenyum sembari mendekat. Pakaian hitam tertutupnya membuat kesan sangat anggun.

“Sudah?” Stephanie terkekeh kecil. “Ini bukan lagi zaman Mommy dan Daddy. Aku bisa percaya kalau kalian dijodohkan dan berhasil sampai sekarang. Tapi ini sudah berbeda. Aku punya kehidupan, teman ... juga pria.”

“Pria?” tanya Diana tak percaya. Diana merapikan kalung putrinya supaya lebih enak dilihat. Stephanie selalu bercerita tentang apapun. Selama ini, Diana tidak pernah mendengar ada pria yang serius kepada Stephanie. Yang ada, banyak pria yang hanya ingin bermain-main bersama Stephanie. Atau bahkan ingin merusak Stephanie. “Kau adalah putriku, Sayang. Aku jelas tahu kalau kau mewarisi sifat Daddy. Sayang sekali kau tidak punya sifatku yang playgirl.”

“Mommy,” rengek Stephanie yang berhasil membuat tawa di ruangan itu pecah seketika.

***

Aiden memilih untuk tidak menyetir saat ini. Dia juga bahkan mengganti mobilnya menjadi Alphard agar bisa duduk lebih tenang. Rasanya sungguh lelah sehabis menjalankan misinya di tempat balapan liar itu.

Menatap tangannya yang sudah memerah akibat pergulatan yang dia lakukan bersama musuhnya. Dia tersenyum melihat bukti ini. Rasanya sungguh tenang.

“Apa kau sudah tahu siapa yang akan kutemui malam ini?” Aiden bertanya ke pria yang ada di sampingnya, Alex. Alex adalah anak dari Thomson, sang tangan kanan keluarga Chayton. Alex juga mengikuti jejak sang Ayah. Dia menjadi tangan kanan keluarga Chayton, lebih tepatnya Aiden karena Alex sering bersama Aiden.

“Sudah, Tuan. Tuan besar sudah mengirim e-mail tadi sore berisi informasi lengkap tentang dirinya.”

Aiden terdiam beberapa saat. Dia tidak merasa tidak semangat sama sekali. Kalau saja orang tuanya tidak mengancam akan mencoret namanya dari keluarga, sudah pasti Aiden akan menolaknya mentah-mentah.

“Apa ada pria yang sedang dekat dengan dirinya?” tanya Aiden sebelum mengambil tablet dari tangan Alex.

“Ada, Tuan. Pria itu bernama ....” Alex menjeda kalimatnya. Dia masih tidak yakin untuk memberitahukan nama dari pria itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status