Bab 0.6

Lantunan adzan subuh berkumandang di Masjid yang letaknya tak jauh dari kediaman kami, jaraknya sekitar tiga puluh meter dari rumah ini.

 Aku mengerjap seraya mengucek mata, ku lirik jam di atas nakas menunjukkan pukul setengah lims pagi, ku bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh muka lalu mengambil wudhu.

Setelah bersuci, ku buka lemari pakaian dan mengambil mukena yang berada di hanger, ku kenakan untuk menutupi seluruh aurat ku.

 Mukena sutra berwarna putih dengan bordir warna emas di setiap ujungnya, mukena ini peninggalan almarhumah ibu, aku selalu mengenakannya setiap aku menjalankan kewajiban yang lima waktu.

Aku menuju kamar Bimo, kamar kami berada di lantai dua letaknya berdampingan, ku buka kamar Adikku yang tak pernah di kunci sehingga aku mudah jika aku masuk ke kamarnya untuk membangunkan dia.

"Dek," ucapku sambil menekan saklar lampu, seketika ruangan itu menjadi terang.

 Matanya mengerjap karena silau dari cahaya lampu, Di tariknya selimut dan menutupi wajahnya, ku membungkuk, dan memegang pangkal dengkul Bimo seraya menggoyangkannya pelan, dengan tangan di lapisi kain putih yang membalut seluruh tubuhku.

"Dek, ayo bangun! kita solat subuh berjama'ah," seruku sambil menarik selimut yang menutupi tubuhnya.

"Emm," sahutnya bergumam.

"Bangun, kita solat subuh dulu! Nanti Mbak buatkan sarapan yang enak,"

"Bentar lagi Mbak, ini masih terlalu pagi, masih gelap,"

"Yang namanya solat subuh, ya pagi begini harus masih gelap, kalau siang namanya solat Dhuha,"

"Tapi aku masih ngantuk Mbak, duluan aja sana! Nanti aku nyusul,"

"Lah kamu, selalu itu alasannya, yang ada kamu lewatin sholatnya."

Tok, tok, tok, pintu di ketuk. Ku menoleh ke arah suara itu, ternyata Om Doni sedang berdiri di ambang pintu, dia sudah rapi dengan baju Koko putih dan sarung maroon motif batik, juga peci hitam pelengkap ibadah di kepalanya.

"Om, sini!" ucapku, melambai kecil. Om Doni menghampiri ku dengan langkah cepat.

"Iya ada apa?" sahutnya.

"Om, ini Bimo gak mau di ajak solat, dia gak bangun, katanya masih ngantuk, tolong ya Om bangunin dia!" rengek ku.

 Aku gak mau Bimo meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim, meski dia belum wajib menunaikannya karena dia belum baligh, namun ini harus di biasakan agar dia kedepannya menjadi anak yang baik dan rajin beribadah.

Aku sudah berjanji di hati ini, akan selalu membimbingnya di jalan yang benar, aku tidak mau jika dia sudah besar nanti banyak berbuat dosa dan meninggalkan kewajiban.

 Karena aku tidak mau menambah siksa'an orang tua Bimo di alam kubur, dengan menanggung dosa anaknya.

"Bimo, bangun! Kalau gak mau bangun, Om gak kasih uang jajan seminggu," tekan Om Doni dengan suara tinggi.

"Iya Om, aku bangun, bisanya ngancam mulu! sama kaya Mbak, kalian jahat sama aku!" umpatnya Bimo melepaskan selimutnya dengan kasar, dia beringsut menuju kamar mandi dengan mata memincing.

"Tia, Om tunggu di mushola ya! Kita solat berjama'ah, jangan lama-lama! Nanti keburu siang, waktunya gak banyak," ujar Om Doni, dia berlalu menuju mushola rumah kami.

"Iya Om," jawabku singkat. 

Tak lama Bimo keluar dari kamar mandi, dengan mata masih terkantuk-kantuk, meskipun wajahnya sudah basah dengan air wudhu.

"Dek, ayo kita susul Om Doni! Cepat pakai baju Kokonya, dan sarung, terus pecinya juga jangan lupa!" titah ku sambil menyodorkan benda yang di butuhkan anak polos ini.

Bimo meraih dan memakainya dengan gerak slow motion, bikin aku gemes pengen tak cubit dadanya yang menyembul akibat terlalu banyak ngemil.

"Yuk Mbak," ajaknya malas, lah dia emang malas.

Bimo berjalan di depanku dengan langkah gontai, jika di bandingkan dengan jalan kura-kura yang lambat, mungkin Bimo kalah cepat, dari hewan merayap itu.

 Dari pada kelamaan di jalan, karena terhalang langkah Bimo, bisa-bisa nanti kami kena ceramah Om Doni, lebih baik aku seret lengan bocah ini menuju ruang ibadah.

"Ayo cepetan! Jalan kok kaya putri keraton! ucapku sembari menggandeng lengan Bimo.

Kami sudah sampai di tempat yang di tuju, mushola kecil tempat ku dulu melaksanakan shalat berjama'ah dengan almarhumah ibu, pintu mushola ini berhadapan dengan kamarku.

Om Doni sudah menunggu kedatangan kami, dia duduk bersila di atas sajadah, nampaknya dia habis melaksanakan shalat sunah, ke-dua tangannya menengadah pertanda sedang berdo'a.

"Assalamualaikum?" ucapku duduk di belakangnya, berdampingan dengan Bimo.

Om Doni mengusap wajahnya, "Waalaikumsalam," sahut Om Doni, dia memutar tubuh mengadap kami. "Ayo kita mulai!" lanjutnya.

Dia melangkah ke arah kami menatap wajahku juga Bimo. "Hm." Om Doni mendehem. "Tia, itu benerin dulu mukenanya! ada anak rambut keluar di dahi kamu," ucapnya tanpa menunjuk.

"Bimo, benerin letak pecinya! agak naik ke atas, jangan sampai ada rambut, yang menutupi dahi kamu, kalau ada benda yang menutupi anggota sujud, nanti sholat kamu gak sah!"

Om Doni emang dia tau banyak hal, kadang aku kagum pada dia, eh tapi sekedar kagum ya, bukannya aku naksir, jangan salah sangka dulu. Dia beralih pandangannya ke wajahku.

"Nah, gitu Tia, cara yang benar mengenakan mukena, dahinya harus di buka lebar, tapi jangan sampai ada rambut yang keluar, aurat perempuan terbuka sedikitpun, sholatnya gak sah, berdirinya yang bener rapatkan kedua kakimu, dan jangan sampai telapak kaki terlihat sewaktu bersujud!" terangnya panjang lebar, aku makin kagum ilmu agama Om Doni tak di ragukan lagi, dia pantas jadi imam ku.

Ups, otak ku berselancar kemana-mana, itu calon laki orang Tia... Eling wey eling! Aku mengusap wajah menepis pikiran yang kurang asem.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status