Bab 0.9

"Bimo, kamu ini, ngomong apa sih? Om Doni terlalu dewasa buat Mbak, lagian dia juga udah punya calon istri, dia kan Om kita, aneh kamu!"

"Tapi Mbak, kalau Om Doni belum punya calon gimana, Mbak mau sama dia?"

Aku menggaruk tengkuk yang tentunya tak gatal, aku mengalungkan tangan di leher bocah kelas empat SD ini.

"Bim, kamu tu ya kalau ngomong, fikir dulu dong sedikit! Usia Mbak sekarang tujuh belas tahun, menginjak delapan belas. Sementara Om Doni sudah tiga puluh tahun. Mbak mentargetkan untuk menikah di usia dua lima, kalau ketemu jodohnya," seloroh ku.

 "Jadi kalau sama Om Doni, ya... ketua'an, buat mbak," lanjut ku.

"Oh, kalau Mbak nanti nikahnya sama aku gimana? Mau gak? Apa ke muda'an aku nya, buat mbak," celetuk Bimo.

Aku tertegun jantung ku seakan mencelos sesa'at ingin ku jitak kepala ini bocah, tapi aku ingat dia anak yatim-piatu, kata teman-teman, gak boleh jitak anak seperti Bimo nanti dosa, dan kualat.

"Mau enggak Mbak, Kamu sama aku?" ucap Bimo begitu polos.

Haduuh... aku tepok jidat, bisa-bisa nya ini anak, ngomong nya ngelantur, jangan-jangan dia ke sambet mahluk halus yang nangkring di pohon beringin depan gedung sekolahan.

 Apa perlu di rukiyah nanti sore si Bimo, selepas pulang sekolah, sama pak ustadz, agar fikirannya netral kembali seperti halnya bocah ingusan. 

"Hah." Ku tarik nafas dalam-dalam, dan hanya bisa geleng-geleng kepala, mulai migrain kepalaku ini mendengar ucapan dari bibir mungilnya yang ranum kaya buah lobi-lobi.

"Jawab dulu Mbak!" ucap Bimo di susul senyum Close up bukan Pepsodent lagi.

"Bimo, udah ah, jangan ngoceh mulu! Kepala Mbak bisa pecah, dengerin omongan kamu, belum waktunya kamu bicara seperti itu, di sunat aja baru sebulan yang lalu, udah ngomongin nikah,"

"Hehe." Dia ketawa lagi.

"Apa? Ada yang lucu," balasku sembari mencebik bibir dengan sedikit menggerakan kepala membuang wajah.

"Ih Mbak, sensi? Iya kan, aku ngomong nya buat nanti, di masa depan, gak ada yang salah kok?"

Ya Tuhan, aku bisa diabetes lama-lama nanggepin ucapan bocah ingusan ini.

"Hallaah, udah Kita turun yuk, sarapan pagi dulu! Nanti Om Doni marah loh sama kita! Kalau telat,"

"Mbak, Om Doni, berani marahnya sama aku, bukan sama Mbak, dia mah pilih kasih!"

"Berisik, yuk keburu siang!"

 Aku menggandeng pundak Bimo, tinggi badannya kini kuping ku, sekitar seratus empat puluh lima centimeter kurang lebih, cukup tinggi untuk anak usia sembilan tahun delapan bulan.

Fostur tubuhnya tinggi seperti Ayah, namun badannya agak gemuk karena terlalu banyak ngemil kali.

"Oke!" jawabnya.

Kami berjalan menuruni tangga melewati ruang tengah temboknya terhubung dengan ruang makan.

 Om Doni sudah On Time menunggu kami di ruang makan, dia duduk di kursi satu tangannya di lipat di atas meja, dan tangannya yang lain memegang ponsel.

Tatapannya begitu serius ke layar benda pipih yang berada di genggamannya, menurut asumsi ku dia kiranya sedang mengirim pesan kepada calon istinya, atau siapalah, aku tak tau.

Om Doni mengangkat wajahnya sekilas menatap pada kami, lalu menaruh ponselnya lagi di meja samping piring berisi nasi goreng.

"Eh, kalian, sini makan bareng!" ucap Om Doni seraya mengulas senyuman. "Bimo, tadi kamu kenapa lari ke kamar, di panggil gak nyahut? Lagi ngambek sama siapa, hm?" Om Doni menaikan alisnya.

"Eum," jawab Bimo menggeleng kecil sambil mencebik bibirnya, lalu dia duduk di seberang pria berkemeja putih dan celana bahan warna hitam.

"Om... Bimo tuh lagi galau, tapi aku gak tau, dia galau mikirin apa?" timpal ku. Sambil menggeser kursi untuk ku duduk.

"Galau." Om Doni tersenyum seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Hm. Anak kecil juga bisa galau ya," cetus Om Doni.

Bimo memutar bola matanya dan menarik nafas panjang. "Males ah, jadi gak nafsu makan," ucap Bimo bangkit. 

Ku tarik lengannya menahan dia agar tidak pergi. ku tatap wajah lekat-lekat imutnya yang di tekuk. 

"Dek." Aku mengangguk memberi isyarat agar dia duduk kembali, akhirnya Bimo pun menurut meski terpaksa.

 Sarapan pagi pun di mulai suap demi suap masuk ke mulut kami hingga nasi di piring habis tak tersisa, dan di akhiri minum segelas susu putih.

"Om, enak banget nasgornya," pujiku pada Om Doni. Sambil melempar senyuman termanis dari bibirku yang di poles lipbalm.

"Masa," jawab Om Doni singkat. 

"Bener, enak banget loh Om, Om Doni tuh emang paling juara, jago dalam segala hal," pujiku lagi sambil mengacungkan satu jempolku.

 Om Doni hanya balas dengan senyuman, lalu ku menoleh pada adik kecilku. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status