Happiness is Unwanted
Happiness is Unwanted
Author: Pooja
Chapter 1 Happiness

Jika dalam film atau cerita novel, memiliki ibu tiri yang seumuran dengan kita, pasti respon kita akan membenci mereka. Tapi tidak dengan Audy Stephanie, gadis yang mempunyai wajah semanis gula itu sangat mencintai ibu tirinya. Bagi Audy, ibu tirinya sudah seperti kakaknya sendiri.

Audy tidak pernah tahu dari mana Ayahnya, Hendra Gunawan yang kini berusia 49 tahun bisa menemukan wanita yang berusia 25 tahun, lantas menjadikannya seorang istri. Namun, Audy tidak pernah mempermasalahkan. Bagi Audy, kebahagiaan ayah adalah yang utama. Hal itu karena semenjak kepergian istrinya lima tahun yang lalu, Hendra nampak begitu murung dan hidupnya seperti kain kusut yang tidak pernah kena panasnya setrikaan.

"Pagi Del." Sapa Audy yang melihat Della sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Sayang, panggil dia Bunda. Jangan namanya begitu, kamu nggak sopan." Sahut Hendra yang baru turun dari lantai dua. 

"Baik, Ayahku tersayang," ucap Audy.

Audy memang selalu menggoda Hendra, dengan memanggil istri mudanya hanya dengan sebutan nama. Bukan karena benci, tapi karena sudah dekat dengan Della yang seperti kakaknya sendiri. Di belakang Hendra, Della meminta Audy untuk memanggil namanya, bukan dengan sebutan Bunda.  

"Sudahlah Yah ... biarkan saja Audy memanggilku seperti itu. Kita itu memang seumuran jadi nggak enak kalau manggil dengan sebutan bunda," ucap Della. 

Della Puspita, wanita yang mirip seperti bintang film India Katrina Kaif. Wajah yang cantik dan tanpa cacat menjadi nilai plus untuknya sebagai seorang wanita.

"Bunda memang terbaik deh." Ucap Audy sambil memeluk dan menciumnya. 

"Audy ... Jangan seperti itu. Dia istriku!"

"Aku tahu Ayah, aku tak akan merebutnya darimu." Ucap Audy sambil mengerucutkan bibir.

Hendra begitu mencintai Della, melebihi cintanya pada Audy. Namun, semua itu tak mempengaruhi Audy. Menurut Audy, dia tetap anak satu-satunya di keluarga Gunawan. Selain sama-sama cantik, Audy dan Della juga mempunyai kesamaan sifat yaitu, mudah tersenyum dan ramah pada semua orang. Namun, ada beberapa yang membedakan mereka, Audy lebih manja dan ceroboh sedangkan Della mandiri dan pelupa.

"Ya sudah ayo sarapan," perintah Della.

Audy mengambil tempat duduk berhadapan dengan Della, sedangkan Hendra duduk sebagai pemimpin.

"Ayah, Bunda..." Ucap Audy disela sela mereka menikmati sarapan pagi.

"Iya ... " 

"Kalau Audy, mau ngajak teman dekat Audy kesini boleh?" tanya Audy hati-hati, karena selama ini Audy tidak pernah berpacaran.

"Hai ... apa kamu sudah punya pacar?kenapa tidak pernah cerita?" sahut Della yang nampak penasaran.

"Bun..." panggil Hendra membuat Della terdiam. 

"Siapa dia? Sudah berapa lama kamu pacaran dengannya?" cecar Hendra.

Inilah yang Audy takutkan, jika sudah berbicara teman dekat apalagi seorang laki-laki yang bisa dianggap boyfriend.

"Audy nggak mau jawab Yah, biar Ayah saja nanti kenalan langsung dengannya. Audy berangkat dulu ya, ingat nanti malam Audy akan mengenalkannya pada kalian." Jawab Audy buru-buru lalu menyambar tasnya dan berpamitan. 

"Anak itu benar-benar ... "gerutu Hendra

"Sabar Yah..." sahut Della menenangkan suaminya.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

"Gerald!!" Teriakan nyaring Audy memangil pacarnya yang kini sedang memarkirkan motornya, membuat mahasiswa yang lain merasa iri dengan pasangan the best couple itu.

Gerald melihat ke arah Audy dan sekali lagi membuat para penggemar Gerald, merasa iri dengan keberuntungan yang dimiliki Audy, sedangkan Gerald menatap jengah dengan kelakuan pacarnya yang kini menghampirinya dengan tersenyum lebar.

"Gerald, malam ini aku ingin mengundangmu ikut makan malam di rumah. Aku sudah bicara pada ayah dan bunda." Ucap Audy yang sudah berada di depan Gerald, laki-laki yang sudah enam bulan menjadi kekasihnya. 

Menjadi kekasih Gerald ada kebanggaan tersendiri untuk Audy. pasalnya, Gerald merupakan laki-laki yang menjadi idola kaum hawa di kampus itu. Laki-laki yang satu tingkat dengannya dan mengambil jurusan yang sama yaitu, magister bisnis di kampus Universitas Indonesia. Meskipun hubungan mereka tak seindah yang dibayangkan orang lain. 

Gerald memutar bola matanya malas. Ini sudah kesekian kalinya Audy mengajukan pertanyaan yang sama.

"Ayolah Ger, untuk sekali ini saja. Aku sudah memberitahu pada mereka, masa kamu tega membiarkan pacarmu ini malu?" rengek Audy menggoyang-goyangkan tangan Gerald.

"Aku sibuk dan itu masalahmu." 

"Aku ini kekasihmu, tapi mengapa kau tidak pernah ada waktu untukku?" Audy menghela nafas gusar saat Gerald hanya diam menatapnya tajam.

"Sudah selesai?" tanya Gerald saat melihat bibir Audy yang terkatup rapat tanpa ada tanda-tanda membuka suara lagi. 

Audy melotot tak percaya dengan kalimat yang baru saja meluncur dari bibir tipis Gerald. 

"Gerald aku serius." Pekik Audy kesal.

"Aku malah dua rius." Sahut Gerald enteng.

"Apa kau tau? Raina bahkan sekarang sudah bertunangan." 

"Lalu?" 

"Uuuh itu artinya, kekasih Raina sudah serius bukan?"

"Lalu?"

"Iih kau ini, tidak bisakah peka sedikit."

"Jadi kau mau agar aku menghadiri interview calon menantu ayahmu?"

"Yeah tentu saja."

"Okey."

"Apah?" ulang Audy memastikan tak salah dengar.

Gerald melambaikan tangannya. Mengisyarakatkan bahwa tak ada pengulangan.

"Wah tumben kau tak membantah ku?"

"Biar cepat." Tandas Gerald tak peduli dengan raut cemberut Audy. Ia melangkah gontai menuju kantin.

Gerald tipe orang yang kaku dan mempunyai sifat yang dingin pada siapapun. Namun, karena tampangnya yang ganteng seperti aktor Indonesia Maxime Bouttier, dia tetap menjadi idola para makhluk bergincu.

Gerald adalah sosok laki-laki dengan sepasang lesung pipit yang menambah kesan manis saat tersenyum. Alisnya yang tebal, matanya yang hitam pekat serta hidung mancungnya membuat wanita manapun akan terpesona. Belum lagi tubuh atletis dan wajah manisnya yang berbingkai oval semakin membuatnya menawan.

Audy mengikuti Gerald berjalan menuju kantin dan untuk ketiga kalinya pemandangan itu membuat semua orang iri.

"Mau pesan apa?" tanya Gerald.

"Aku pesan minum saja, tadi sudah sarapan di rumah," jawab Audy.

setelah Gerald selesai makan dan Audy hanya menontonnya sambil meminum teh hangat dalam hening, kini Audy mulai membuka suara lagi.

"Ger, bagaimana tesismu?"

"Sudah mau kelar," jawab Gerald.

"O ... Kalau aku belum kelar, masih banyak yang harus dibenahi dan mencari referensi, kamu tahu dosen bimbinganku sangat teliti," keluh Audy. 

"Itu bagus." 

"Kok bagus, kamu nggak ada niat mau ngajarin aku?" 

"Tidak." 

Ya inilah hubungan yang dibilang the best couple, terasa sangat dingin. Audy memahami ini karena sudah tahu sifat Gerald yang sulit untuk membangun komunikasi. Jadi, Audy lah yang selalu seperti petasan agar hubungan mereka tidak garing. Meskipun Audy, merasa seperti wanita yang agresif. Bagi Audy, Gerald adalah cinta pertama dan berharap jadi cinta terakhirnya.

"Apa keputusanku sudah benar, untuk mengajaknya bertemu orang tuaku? Aku tahu sifanya yang dingin dan kaku. Tapi, untuk cintanya bagaimana? apa dia benar-benar tulus mencintaiku seperti aku mencintainya?" pikir Audy sedikit ragu.

"Dia benar-benar mencintaimu Audy, meskipun tidak pernah diucapkan tapi 6 bulan ini dia selalu ada untuk mu," batin Audy mulai berperang. 

"Aku, Ingin bertemu dosen." Ucap Gerald mengentikan pergulatan batin Audy. 

Audy mengangguk dan menatap punggung yang tegap dan besar itu perlahan-lahan mulai menghilang.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status