Chapter 4

Tidak bisa kupungkiri bahwa setiap perasaan menyedihkan yang datang padaku adalah atas dasar keinginanku sendiri. Namun,aku tidak bisa mengendalikannya. Setiap kali aku memikirkan alur hidupku, rasanya ingin sekali melawan kehendak Tuhan yang begitu kejam. Skenario yang disusun-Nya memanglah bukan tanpa alasan, tetapi aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berat untuk orang sepertiku. Bahkan, jika boleh kukatakan, aku sama sekali tidak ingin ada tangan yang menyeretku saat aku berjalan.

Sayangnya, semua itu hanyalah asa. Bahwasannya takdir yang kujalani memanglah ulah sang pencipta. Bisakah aku membenci-Nya barang sedetik saja? Nyatanya, aku urung karena sadar itu akan menambah beban drama yang Ia ujikan.

Mobil yang membawaku tengah melaju pelan di antara guyuran gerimis. Suasana macet masih saja mengitari kota, membuat perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam beberapa menit kini menjadi jauh lebih lama.

Jarak stasiun tidak terlalu jauh. Mungkin hanya tinggal tiga kilometer lagi kami akan sampai. Kenan yang tengah menyetir tampak tenang memperhatikan jalanan, mengira-ngira jarak aman antar kendaraan agat tidak bergesekan. Matahari yang terik membuat butiran air yang jatuh tampak semakin jelas menghantam kaca mobil.

Suara notifikasi bertubi-tubi menghantui jemari Ester yang duduk di jok belakang, membuat lelaki itu terus mengeluh karena beberapa klien studio kami terus mempertanyakan kenapa aku berhenti mengoperasikannya. Ia terus mengomel tanpa henti dengan kalimat-kalimat yang seolah menodongku untuk berkata sesuatu yang sedikit pedas. Sesekali aku mendengkus saat melihatnya tampak gusar memikirkan balasan yang tepat untuk orang-orang kepo yang menerornya. Bagaimanapun juga, mereka rekan penting yang sudah menunjang karir kami berdua. Suatu ketika, mungkin aku juga akan membutuhkan mereka kembali untuk menapaki karir baru.

"Mbak, Pak Adhitama terus-terusan minta kita buat enggak berhenti, nih. Bahkan dia nawarin investasi yang besar buat kita."

Untung aku mematikan ponselku.

Aku mengembuskan napas perlahan, mengambil ponsel yang disodorkan Ester ke sampingku, kemudian membaca pesan yang tertera dalam aplikasi Whatsapp dengan mode malamnya yang gelap.

"Bagaimana dengan gedung pinjaman? Tidak perlu menyewa. Ini bentuk kerjasama kita yang cukup baik selama ini. Anggap saja apresiasi dari saya."

Aku menyodorkan kembali benda pipih itu pada Ester, kemudian menyandarkan kepalaku pada jok mobil. "Bilang aja kita bakal mikirin dulu. Seenggaknya selama beberapa bulan ke depan kami ingin hiatus."

"Mbak yakin?"

Aku memejamkan mata, kembali mengembuskan napas. Kali ini sedikit lebih kasar. "Enggak. Mangkanya kita ulur waktu terus buat dia."

Kenan yang tengah fokus menyetir kini menatapku. Tangannya terus memutar roda kendali untuk berbelok ke arah halaman stasiun yang saat ini tengah ramai. Tebak, apakah masih ada sisa kursi untuk kami di ruang tunggu?

"Bukannya ini kesempatan? Kamu bisa minta waktu ke beliau sampai kamu kembali nanti, 'kan?"

Aku tersenyum, menatap pria yang tidak pernah bosan mendampingiku, bahkan di saat aku tampak tidak serius baginya.

"Aku masih belum yakin dengan kebangkitan studio itu lagi. Rasanya kayak ada kenangan buruk yang datang karena terlalu banyak konsep manipulatif yang kuciptain buat para kreator kita."

"Apa karena niatmu sudah berubah?"

Mobil berhenti dan aku tertegun. Ucapan kenan mampu menusuk satu-satunya harapanku untuk menolak berkata, "Ya," pada diriku sendiri. Ini tidak adil. Terus menerus aku dihadapkan pada masalah, dan semakin dalam aku terjebak, semakin keras pula usahaku untuk kabur.

"Apa aku tampak serakah?"

Kenan mendengkus, kemudian melepaskan sabuk pengaman dan memutar tubuhnya untuk menghadapku. "Aku enggak bilang, loh."

"Udah, udah. Jangan berdebat! Ini aku udah minta uluran waktu buat mikir ke beliau. Aku enggak mungkin bohong kalau kondisi Mbak lagi enggak baik." Ester menyahut dari belakang.

Aku menoleh, mendapati wajah tegasnya dengan tangan menyilang di dada. Aku tidak punya kuasa untuk melawannya. Aku tahu apa yang dilakukan Ester adalah sesuatu yang tepat. Memang.

Kembali lelaki itu berkata, "Pak Adhinata itu satu-satunya klien yang loyal banget ke kita, loh, Mbak. Jangan disia-siain!"

Kenan mengelus kepalaku. "Benar apa yang Ester bilang, Lun?"

Aku mengangguk mantap, mengingat apa yang dilakukan penyumbang investasi terbesar usahaku itu3 membuatku selalu merasa optimis akan ekspektasi-ekspektasi pencapaian yang kuingingkan. Dia pula yg merekomendasikan unit perumahan yang bisa kusewa dengan harga murah dua tahun yang lalu, mengenalkanku pada platform dan juga penerbit yang cukup ternama untuk memublikasikan karya orang-orang yang kurangkul untuk terus berkarya. Terakhir kalinya kami bertemu, dia menawarkan satu lantai penuh gedung miliknya untuk kutenpati sebagai kantor baru. Tentu saja aku menolak karena berkarya dalam ruang kecil dan nyaman lebih penting ketimbang berada dalam lingkup menakjubkan tapi penuh keseganan.

Jasanya cukup banyak untuk membuatku berdiri cukup lama, menopang beberapa orang yang saat ini tengah kukecewakan nasibnya. Nyatanya kali ini apa yang terjadi berbanding terbalik dengan asaku.

Semuanya tenggelam, sirna. Tampak seperti atlantis akibat menerima kemarahan Dewa Zeus.

"Lumayan, karena dia juga tergiur dengan keuntungan yang kami dapatkan di awal kerjasama."

Kenan mengerenyitkan alis, menatapku penuh selidik. Bola mata dengan iris cokelat itu seolah mengintimidasi, membuatku tidak berkutik untuk mengatakan apa pun. "Kalau cuma karena keuntungan materi sepertinya dia enggak akan perlu repot-repot untuk narik kamu lagi ke sesuatu yang udah kamu tinggalin, 'kan? Apalagi udah jelas dia juga ikut merugi."

"Apa maksud kamu?"

"Mbak, Mas Kenan kayaknya nyium bau-bau penikungan, deh."

Aku tertegun. Sekali lagi aku mengembuskan napas, berharap tidak ada perdebatan yang membuat rasa pusing karena terlalu berlebihan berpikir datang lagi. Aku tahu akibat yang akan timbul jika aku kembali didera rasa cemas, maka keberangkatanku untuk menuju pengasingan akan ditunda.

Sepertinya aku takut Kenan marah padaku.

"Ter, mulutmu mending diam aja, deh. Aku enggak mau ada yang salah sangka dan malah bikin aku enggak jadi pergi."

Ester menjadi benar-benar diam. Ia menunjukkan ekspresi kesal dengan tangan yang bergerak seolah-olah menarik resleting di mulutnya.

Tidak ada yang bicara setelahnya, hingga aku dan Kenan secara bersamaan mengembuskan napas yang cukup panjang. Kami berdua saling tatap selama beberapa detik.

Perasaan enggan terpisah kini menerpa benakku. Seolah aku lupa bagaimana semangatnya aku untuk segera meninggalkan hingar-bingar kota dan membiarkan diriku hidup dalam kesunyian perkampungan di pesisir selatan. Tidak banyak hal yang kubawa, kecuali rasa penyesalan dan kebencian yang menumpuk terhadap nasib. Aku bersiap mengumpulkan seluruh keberanianku untuk memprotes Tuhan di sana.

Dengan keberanian yang cukup nekat, tanpa adanya pemikiran matang maupun basa-basi sesaat, aku memajukan wajahku, memperpendek jarak di antra kami berdua. Kupejamkan mata untuk lalu mengecup bibirnya perlahan. Aku hanya berusaha memberikan sedikit ketenangan untuk Kenan agar tidak memikirkan sesuatu yang mubazir untuk waktunya. Senyuman itu muncul, merekah dengan cepat ketika tatapan kami bertemu.

"Aku mengerti."

Hanya satu kecupan ringan di sudut bibirnya yang lembut, membuatnya seketika luluh. Bahkan, dengan kecepatan yang tidak bisa tertangkap oleh mata, kedua tangannya berhasil menangkup pipiku, kemudian menariknya hingga mempertemukan kembali hasrat kami. Kali ini cukup dalam dan intens, membuatku sedikit kewalahan.

Terlalu fokus dengan keenganan untuk berjarak, membuat kami lupa dengan seseorang yang berada di jok belakang. Suara deheman keras yang terdengar seperti batuk yang dibuat-buat menggema, memenuhi seisi mobil yang tidak terlalu luas ini.

"Jangan lupa masih ada aku di sini. Sadar tempat, please!"

Seketika, tautan bibir kami terlepas, menyebabkan gema tawa menyebar, menggantikan perasaan canggung atas kejadian barusan. Kepergok dengan sengaja.

"Oke, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik."

Aku bergegas keluar dari kendaraan yang dikemudikan Kenan, berjalan perlahan menghampiri Ester yang baru saja mengikuti apa yang kulakukan, kemudian berjalan ke bagasi untuk mengambil koper milik kami.

Kecanggungan antara aku dan Kenan benar-benar menghilang akibat ulah pria yang lebih muda dariku tersebut.

Sekali lagi, Kenan merengkuh pundakku, menarikku ke dalam dekapannya, menyalurkan rasa khawatir yang luar biasa bisa kurasakan dalam detak jantungnya. Kenyamanan ini terasa sedikit lebih dingin daripada biasanya.

"Jangan lupa kabari aku kalau udah sampai," ucapnya sembari melepaskan pelukan kami, membiarkan aku berjalan pergi menyeret setumpuk bahan untuk berkontemplasi dan menyelesaikan pertarungan dengan diriku sendiri.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status