Dangerous Lies [Bahasa Indonesia]
Dangerous Lies [Bahasa Indonesia]
Author: Nis
bab 01

Dua remaja SMP berlawanan jenis tengah berada di sebuah kamar minimalis. Si remaja perempuan yang sedang di dalam toilet, sedangkan si remaja laki-laki yang menunggu di depan pintu toilet.

Wajah mereka berdua sama-sama cemas. Resah dan gelisah melanda di setiap perasaan mereka masing-masing.

Lima belas menit berlalu ...

Remaja perempuan yang masih memakai seragam putih biru keluar. Remaja SMP yang bernama Jeslyn Putri ini tampak menahan tangis. 

Jeslyn menghampiri remaja lelaki yang berstatus pacarnya, Naufal. Naufal Richard Smith, kepanjangan namanya.

"Gimana hasilnya?" tanya Naufal, tidak sabar.

Jeslyn menangis. Naufal segera memeluk tubuh ringkih Jeslyn. Jeslyn melepaskan pelukan itu dengan kasar. Dia menatap Naufal dengan tatapan penuh harap.

"Ka-kamu pasti bakal tanggung jawab, kan?" tanya Jeslyn, memastikan.

"Tanggung jawab apa?" Naufal balik bertanya. "Memang ada apa?"

"Kamu pasti bakal tanggung jawab, kan, Fal?!" tanya Jeslyn, lirih.

"Jelasin, Jes. Aku nggak ngerti," ucap Naufal, lirih.

Jeslyn membiarkan air matanya yang masih menetes. Dia memberikan sebuah benda berbentuk strip kepada Naufal. Naufal menerimanya kemudian melihat dua garis merah di benda itu.

Naufal semakin tidak mengerti. Apa ini? batinnya. Dia menatap Jeslyn, meminta penjelasan. "Jelasin, Jes? Apa maksud dari benda ini? Terus kenapa ada dua garis merah?"

"I-itu testpack," jawab Jeslyn, sendu.

"Testpack?"

Jeslyn mengangguk. "Iya, testpack."

"Maksud dari benda ini?"

Jeslyn mengambil alih testpack dari genggaman Naufal. Dia mengangkat benda itu setinggi dagunya.

"Ini testpack, gunanya untuk mengecek kehamilan," jelas Jeslyn lalu menunjukkan dua garis merah di dalamnya, "dua garis merah ini berarti aku ---"

"Nggak! Pasti kamu nggak hamil, kan?" potong Naufal.

"Aku hamil, Naufal!" tegas Jeslyn lantas menangis.

Naufal menggeleng tidak percaya. "Nggak mungkin!"

"T-tapi ini yang terjadi. Kamu harus tanggung jawab, Fal." 

"Kita masih kelas tiga SMP, Jeslyn. Mana mungkin aku tanggung jawab. Kita masih bocah. Kamu urusin aja dedek bayi itu sendiri. Aku pergi." Jeslyn menatap kecewa pada Naufal. Lelaki itu sama sekali ---- tidak peduli? Bahkan karena dirinya sendiri membuat Jeslyn harus menanggung itu semua.

"Tapi kenapa, Fal?" tanya Jeslyn, menahan tangan Naufal untuk tidak lekas pergi dari kamarnya.

"Karena aku masih punya banyak impian, Jes! Cukup, ya. Kita selesai di sini."

---

Naufal mengacak-acak rambutnya. Persetan dengan sekelebat kenangan kelam yang kembali hadir. Dia menegak segelas air putih lalu menghembuskan nafas panjang. Sudah dua tahun lamanya, dia berusaha lari dari kesalahan yang menghantuinya.

Kesalahannya yang mengakitbatkan dirinya diusir mentah-mentah oleh keluarganya sendiri. Kesalahan yang juga membawa seorang Naufal Richard Smith menjadi aktor yang kerap disapa Falri. Meskipun usianya baru menginjak tujuh belas tahun, Falri sudah sangat lihai berakting di setiap film yang dinaunginya.

"Jeslyn? Lo dimana? Apa kabar lo? Gue --- sayang sama lo tapi gue nggak bisa tanggung jawab. Apa anak ki-kita masih hidup selama dua tahun terakhir ini?" monolog Falri, menyesali perbutannya. Nasi sudah menjadi bubur.

Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Falri. Dia bangkit dari kursi di balkon kamar lantas berjalan menuju pintu kamar. Falri membuka pintu kamar dan menampilkan sosok pria yang selalu menemaninya dua tahun terakhir ini.

"Eh, bang Glen." 

Glen, namanya. Tidak ada yang pernah tahu, siapa nama lengkapnya. Hanya Glen saja. Seorang pria berusia dua puluh delapan tahun yang menjadi abang angkat sekaligus manager Falri. Mereka berdua tinggal di sebuah apartemen mewah berkat kerja dan usaha Falri dan dibantu Glen.

"Hm." Glen berdehem pelan sebelum memulai ucapannya. "Guru homeschooling udah dateng. Buruan ambil peralatan sekolah. Lo cuma butuh waktu belajar tiga jam lagi. Terus lanjut ikut casting di gedung matahari."

"Iya, Bang. Gue siap-siap dulu."

Glen mengangguk lantas pergi dari hadapan Falri. Falri langsung bergegas mengambil peralatan sekolahnya. Tahun ini, Falri sudah di bangku kelas 11 SMA, akan tetapi terpaksa harus homeschooling karena kepadatan jadwal acting.

Falri menenteng ransel hitamnya seraya berjalan menuju ruang tamu. Sudah ada Kak Satya, guru homeschooling-nya. Falri menghampiri Kak Satya, kemudian duduk di hadapannya.

"Hai, Falri." Kak Satya menyapa hangat.

"Hai, Kak. Langsung aja, ya?"

Kak Satya mengangguk. "Kamu baca dan pahami materi biologi di halaman 20 sampai 23. Kalau belum paham, bisa nanya saya."

"Siap, Kak." Falri segera membaca dan memahami materi biologi yang diberikan oleh Kak Satya. Beruntung otak Falri termasuk kompoten dalam bidang akademik. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Falri memahami segala isi materi di dalam lembaran buku.

"Sudah?" tanya Kak Satya.

"Sudah, Kak." Falri menjawab dengan lugas dan mantap.

"Paham?" Falri mengangguk mantap.

Kak Satya tersenyum kecil. Dia memberikan selembaran kertas berisi dua puluh lima soal essay. "Kamu kerjakan soal-soal ini."

"Baik, Kak." Falri dengan gesit mengerjakan soal-soal.

Tangannya tidak berhenti menulis. Sedangkan otaknya tidak berhenti memutar dan bekerja, memilah pemahaman materi dari sebelum-sebelumnya. Butuh waktu tiga puluh menit bagi Falri menyelesaikan dua puluh lima soal yang memiliki anak sebanyak dua.

"Selesai, Kak." Falri melapor kepada Kak Satya yang tengah mengetik dashboard laptop.

Kak Satya mengalihkan atensinya. "Sudah? Saya koreksi dulu." Kak Satya mengambil alih kertas jawaban Falri. Kemudian, mengoreksinya dengan begitu teliti.

Falri mengetuk-ngetuk meja dan bersenandung pelan. Menunggu Kak Satya mengoreksi soal begitu lama. Sangat, membosankan!

Sepuluh menit berlalu ...

Masih belum ada tanda-tanda Kak Satya selesai.

Dua puluh menit berlalu ...

Kak Satya masih fokus mengoreksi jawaban.

Tiga puluh menit berlalu ...

Kak Satya memilah-milah jawaban yang benar dan salah.

Empat puluh menit berlalu ...

Falri sudah menguap lebar, tanda ngantuk. 

Lima puluh menit berlalu ...

Falri sudah tenang di alam mimpinya.

Satu jam berlalu ...

Kak Satya menutup bolpoinnya setelah memberikan nilai di kertas jawaban. Kak Satya menatap Falri yang tengah mendengkur halus.

Kak Satya tertawa kecil. Dia menepuk pelan pipi Falri. Falri yang ditepuk langsung tersentak bangun. "Siap, komandan!" latah Falri mengundang gelak tawa Kak Satya dan Bang Glen yang baru saja datang.

"Kebiasaan! Kalau belajar pasti tidur," cibir Bang Glen saat melihat Falri tengah mengucek mata ngantuknya. Kemudian dia duduk di salah satu bangku, agak jauh dari Falri.

"Hoaam ...." Falri menguap lebar. Glen geleng-geleng kepala sedangkan Kak Satya tersenyum tipis.

"Sudah puas tidurnya?" tanya Kak Satya.

"Baru sepuluh menit, Kak." Falri menjawab dengan mata yang memerah, menahan kantuk.

"Setelah saya koreksi, lima jawaban salah. Dua puluh jawaban sudah benar. Dapat nilai delapan puluh plus waktu tidur. Kurang baik apa saya sama kamu, Falri?"

Falri menyengir lebar. "Terima kasih, Kak. Omong-omong kalau koreksi soal jangan lama-lama, dong. Ngantuk jadinya."

"Biasanya kalau ngantuk pas belajar itu banyak setannya," ujar Glen memberi tahu. Dia bergidik ngeri seraya menatal Falri serius. "Makanya kalau udah waktunya sholat itu sholat."

"Diem, ah." Falri berdecak pelan. "Yang setannya, kan, lo."

"Enak aja!" dengus Glen. Dia menatap Satya sejenak. "Gue bawa Falri sekarang, ya, Sat? Jadwal casting dimajuin."

"Okay, gue balik dulu." 

Satya dan Glen memang bersahabat sejak SMP. Hanya saja saat kuliah mereka tidak sejurusan. Glen mengambil jurusan managemen bisnis. Sedangkan Satya mengambil jurusan pendidikan.

"Makasih, Kak." Falri mengucap dengan mata yang sudah segar karena baru saja menegak segelas kopi milik Glen.

Glen berdecak keras melihat Falri yang baru saja meminum kopinya hingga tandas. "Eh, kopi gue!" 

"Nyicip."

"Nyicip itu nggak sampai ngabisin, bego!"

"Bodo, ah."

Satya merapihkan barang-barang miliknya. Kemudian menatap Glen dan Falri secara bergantian. "Balik dulu."

Glen dan Falri mengangguk seraya berkata, "hati-hati."

Glen menatap Falri. "Buruan siap-siap. Casting dua puluh lima menit lagi dimulai. Ingat, lo harus dapat peran tokoh utama. Karena menurut kabar, peran tokoh utama perempuan itu cantik banget."

"Hm, iya-iya. Siapa sih emang?"

"Jes ---" Glen memberikan jeda. Dia mengetuk-ngetuk kepalanya, berharap bisa mengingat jelas siapa nama aktris perempuan baru itu.

Bukan Jeslyn, kan?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status