Share

Bab 3 Masuk Perangkap

“Ayo Ran, nyanyi!” seru teman-teman yang lain.

“Ayo nyanyi Ran!”

“Nyanyi!”

Ran kali ini tidak bisa menolak. Ia ditarik oleh beberapa teman-teman perempuannya untuk naik ke atas panggung. Padahal mood-nya sedang tidak bagus. Kalau bukan karena menjaga images, Ran pasti akan pergi pulang sekarang juga.

Begitu tiba di atas panggung, Ran merasa pandangannya mengabur. Kepalanya terasa melayang.

“Sisi, aku rasanya pusing,” ungkap Ran pada Sisi.

“Kamu jangan cari alasan deh, Ran.” Sisi tidak percaya dengan apa yang Ran katakan. Ia pikir temannya itu hanya beralasan supaya tidak jadi bernyanyi. Namun, Ran benar-benar merasakan pusing dan pandangannya sudah mengabur.

“Aku nggak bisa berdiri, bantu aku duduk, Si.” Ran memegang tangan Sisi. Lalu, ia bersandar pada gadis bertubuh berisi itu.

Hera yang berada di bawah panggung pun bergegas menghampiri. Ia menunjukkan ekspresi khawatir.

“Ran kenapa?” tanya Hera pada Sisi dengan mata yang fokus menatap Ran.

“Nggak tahu, tiba-tiba dia bilang pusing,” jelas Sisi.

“Ya sudah, aku bawa dia turun, ya. Kamu tetap di sini,” ujar Hera pada Sisi.

“Oke Her, jaga Ran baik-baik, ya.”

Ran dipapah turun oleh Hera. Hingga tiba di tempat duduk, Ran meminta Hera untuk mengantarkannya pulang. Ia tidak tahan dengan suara musik yang keras dan orang-orang yang bersenda gurau. Semua ini membuat kepalanya semakin sakit.

“Antarin aku pulang, ya Her.”

“Duh, aku mau aja antar kamu pulang, tapi pacar aku bakalan datang. Kalau aku tinggal dia sendiri di sini, jadinya siapa yang nemani dia, dong?” elak Hera menolak permintaan Ran untuk mengantarnya pulang.

“Ran kenapa?” tanya seorang laki-laki datang ke tempat Ran dan Hera duduk.

“Joan,” ucap Hera menyebut nama laki-laki yang berkulit sawo matang itu. Wajahnya terlihat cukup tampan. Alis matanya tebal, rambutnya ditata seperti model kekinian, dan ada kumis tipis membuatnya terlihat maskulin.

“Hera, Ran kenapa?” tanya Joan karena ia melihat Ran seperti menahan rasa sakit.

“Nggak tahu, mungkin Ran sakit. Dia ingin pulang, tapi aku nggak bisa antar. Apa kamu bisa antar Ran pulang?” tanya Hera pada Joan.

Ran tidak lagi mendengar ucapan orang-orang di sekitarnya dengan jelas. Semua hanya seperti dengung yang memekakkan telinga.

“Ya, biar aku yang antar. Kamu bantu Ran turun, aku bakal nunggu di mobil,” ujar Joan.

“Ran, kamu pulang sama Joan aja, ya?”

Ran menganggukkan kepalanya. Hera membantu Ran untuk keluar dari tempat pesta.

Ran terpikir sesuatu. Ia baru sadar dengan nama Joan yang akan mengantarnya pulang tersebut!

“Joan itu kan … laki-laki yang pernah aku tolak saat sekolah dulu,” batin Ran berucap.

“Kamu yakin nitipin aku sama Joan?” tanya Ran pada Hera. Entah kenapa firasat Ran berkata ini tidak baik. Ia tidak ingin dibantu oleh orang yang pernah ia tolak dan sakiti dahulu. Ia juga tidak ingin berutang budi.

“Kenapa? Joan kan baik sama kamu, Ran. Joan juga suka sama kamu, ‘kan? Kali aja kamu bisa move on kalau lo dekat sama Joan,” ujar Hera memberikan semangat untuk sahabatnya agar move on dari kekasih lama, Darell.

Tidak lama berjalan, akhirnya Ran dan Hera pun tiba di parkiran. Joan sudah menunggu di dekat mobilnya dengan bersandar di pintu mobil.

Ran dibawa masuk ke dalam mobil, kemudian saat menutup pintu, Heran dan Joan saling berpandangan.

Lelaki itu mengacungkan jempolnya kepada Hera sebagai kode kerja bagus terhadap apa yang Hera lakukan.

Good luck, Joan!” Hera berseru sambil mengacungkan jempolnya juga.

Thanks Hera. Aku bawa Ran dulu. Nggak sabar menghabiskan malam dengan Ran,” ucapnya sambil tertawa.

“Ssstt, hati-hati kalau bicara. Nanti ada yang dengar,” desis Hera pada Joan. Joan pun spontan menutup mulutnya karena ia kelepasan bicara.

“Lokasinya sesuai yang kamu bilang kemarin itu, kan?” tanya Hera sebelum pergi. Joan yang hendak membuka pintu mobil pun jadi mendadak berhenti.

“Iya. Besok kamu tunggu kabar baiknya saja,” jawab Joan sambil melayangkan senyum penuh kemenangan.

“Oke!” Hera tersenyum sangat lebar. Dalam hatinya ia sangat senang karena sebentar lagi Ran, teman dekatnya itu akan berada di jurang kehancuran. Semua hal yang dibanggakannya akan lenyap dalam semalam.

“Jangan terlalu sombong, Ran. Kamu adalah pembawa sial! Entah itu di keluarga ataupun tempan-teman, kamu selalu memberikan efek sial! Mama kamu aja mati karena melahirkanmu ke dunia ini. Aku kehilangan ketenaran karena kamu membuat semua orang-orang memusatkan perhatian sama kamu! Sekarang, semua yang ada pada dirimu akan hilang dan hanya rasa kecewa serta cemoohan orang-orang yang kamu dapatkan setelah ini. Selamat tinggal Ran yang terkenal. Masa jayamu udah habis! Sekarang adalah kejayaan untuk Hera,” ucap Hera dengan bangga.

Tidak jauh dari tempat itu ada yang mendengar ucapan Hera yang berkata demikian. Orang itu terkejut dengan apa yang terlontar dari bibir Hera. Segera ia pergi dari sana untuk mencari bantuan pada Ran.

Sekarang Ran dalam bahaya!

***

“Joan, kamu tahu rumah aku di mana, ‘kan?” tanya Ran setengah sadar. Matanya sudah berat untuk ia buka.

“Aku nggak tahu, Ran. Aku bawa nginap di hotel aja sementara, ya?”

“Hotel?” tanya Ran. Setelah mendengar kata hotel, Ran tidak tahu lagi apa yang terjadi. Kesadaran dirinya menjadi hilang sepenuhnya.

“Lebih gampang kalau kamu sudah nggak sadar, Ran,” gumam Joan sambil memperbaiki posisi kepala Ran yang miring.

Joan memperhatikan Ran yang terlelap. Ran begitu cantik. Sangat sempurna. Rambut panjang hitamnya begitu lembut, membuat dirinya tak sabar untuk bisa membelai dan menghirup aroma yang pasti sangat memabukkan untuknya.

Bibir tipis berwarna merah menyala milik Ran benar-benar menggoda dan juga terlihat sangat manis. Ingin sekali Joan mengecupinya hingga ia puas. Tidak, sepertinya ia tidak akan puas meski beribu-ribu kali melakukannya terhadap Ran.

“Malam ini kamu akan jadi milikku seutuhnya, Ran.” Joan tersenyum. Sudahlah, ia tidak peduli dengan mana yang benar dan yang salah. Rasa cinta dan obesesi pada Ran benar-benar telah membutakannya. Hingga ia berani melakukan hal seperti ini pada gadis yang masih suci tersebut.

***

Di tempat lain, seorang pria bergegas menghampiri rekannya di dalam kafe. Pria itu terengah-engah karena ia berlari supaya cepat sampai.

“Lie, aku perlu bicara sama kamu. Ini sangat penting,” bisik Rangga pada Charlie.

“Maaf Pak, saya ingin berbicara dengan Rangga sebentar,” ucap Charlie pada klien bisnisnya.

“Ya, silakan.”

Charlie dan Rangga pergi menjauh dari kerumunan para klien bisnis mereka. Sepertinya memang ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Rangga kepada Charlie.

“Ada apa?” tanya Charlie. Tidak biasanya ia melihat Rangga yang selalu berwajah datar itu tampak cemas. Ini mungkin yang pertama kalinya.

“Kamu punya adik sepupu bernama, Randu, ‘kan?” tanya Rangga.

Deg!

Sudah sangat lama Charlie tidak mendengar nama adik sepupunya itu. Kurang lebih 7 tahun ia tidak mendengar tentang Ran. Tiba-tiba dentuman yang tidak biasa itu mengguncang dadanya begitu nama Ran disebut oleh Rangga.

“Kenapa?”

“Dia dalam bahaya. Aku lihat dia dibawa sama seseorang pakai mobil. Aku takut ada niat buruk dari laki-laki itu,” jelas Rangga.

“Kamu yakin itu Ran yang dibawa?” tanya Charlie. Bisa saja itu orang lain, bukan Ran yang dimaksud oleh Rangga.

“Iya, aku sangat yakin. Dia persis seperti Aunty kamu. Tadi nggak sengaja berpapasan sama dia tadi saat masuk ke kafe ini.”

Tanpa pikir panjang, Charlie pun langsung mengelurkan ponselnya. Dengan cepat Charlie mengetik sesuatu, seperti sedang mengirimkan pesan.

“Kamu tangani semua di sini sendiri, ya. Aku pergi selamatin Ran kalau memang benar dia berada dalam bahaya,” ucap Charlie pada Rangga.

“Aman Lie. Pergilah,” suruh Rangga.

Bergegas Charlie keluar dari pintu belakang. Ia tidak ingin berpapasan dengan klien yang lain dan bertanya-tanya padanya kenapa buru-buru keluar. Charlie harus bisa mengejar orang yang membawa Ran pergi.

Ran, siapa yang berani berbuat jahat padamu? tanya Charlie membatin.

***

Bersambung—

Comments (1)
goodnovel comment avatar
meta candra
Semoga kesampaian di tolong sama Charlie.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status