Terjerat Hasrat
Terjerat Hasrat
Author: Frank R
1. Tertarik

Sedan hitam berjalan pelan memasuki halaman sebuah rumah yang tampak asri. Tidak terlalu besar, tetapi terlihat mewah. Seorang lelaki tampan turun dari mobil itu. Dialah Arya Wibisana, seorang arsitek berumur tiga puluh lima tahun.

Langkah-langkah kakinya yang panjang menapaki ruangan yang tampak sunyi. Tak seorang pun terlihat di sana. Arya membawa langkahnya menuju kamar tidurnya.

Tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja di kantor. Selain bekerja pada sebuah konsultan arsitektur besar, Arya juga memiliki sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang yang sama, arsitektur. Dia menjalankan perusahaannya di sebuah studio yang terletak di sebelah rumahnya.

Sepulang dari kantor, Arya biasanya mampir ke studionya. Memeriksa pekerjaan yang dilakukan para karyawannya. Memang dia tidak seharian berada di studionya. Para karyawannya bisa diandalkan untuk menangani berbagai pekerjaan desain rumah tinggal atau gedung-gedung kecil lainnya.

Begitulah kesehariannya. Bekerja pagi hari sampai sore di perusahaan tempatnya bekerja, lalu pulangnya mampir ke studionya untuk memeriksa pekerjaan di perusahaannya sendiri. Sejauh ini, semua pekerjaan berjalan dengan lancar. Meskipun tak banyak proyek yang ditangani perusahaan kecilnya, tetapi boleh dibilang selalu ada proyek sepanjang tahun.

Arya melihat jam dinding di kamarnya, pukul enam lewat sepuluh menit. Semula dia menduga Vina, istrinya, ada di sana. Ternyata dugaannya salah. Mungkin lagi di dapur menyiapkan makan malam, pikir Arya sambil meletakkan tas kerjanya di meja kerja dalam kamarnya.

Kamar itu cukup luas. Biasanya, ruangan itu juga dijadikan Arya tempat untuk menghabiskan waktu saat sedang tidak ada kegiatan. Dia biasa menonton acara televisi di smart tv atau menonton berbagai video dari Youtube. Kadang dia juga bekerja di meja kerjanya atau main gitar kalau mood seninya sedang muncul.

Arya tak sabar ingin menyegarkan tubuhnya. Tak lama, dia sudah menikmati kucuran air hangat dari shower yang mengguyur tubuhnya. Perlahan-lahan dia sabuni sekujur tubuhnya. Sensasi aroma sabun lelaki cukup semerbak di dalam kamar mandinya. Setiap lekuk tubuhnya tak lepas dari usapan tangannya sambil menggosok halus kulitnya dengan sabun cair. Ada sensasi berbeda ketika tangannya tiba pada bagian selangkangannya. Usapan lembut di bagian itu membuat hasratnya sedikit terbawa yang membuatnya betah menyabuninya agak lama.

Fantasi bermain nakal di pikirannya. Membayangkan seolah jemari Vera yang sedang bermain di sana. Terbayang Vera sahabat lama Vina yang tadi pagi sempat mampir ke rumahnya dan baru diperkenalkan Vina karena Vera memang baru dua minggu pindah ke kota ini.

Bayangan perempuan manis yang sedikit lebih montok dari Vina itu menggoda hasrat kelelakiannya. Perempuan dengan tinggi badan sedang dengan dada agak membusung yang sedikit lebih besar dari punya Vina. Kulitnya yang putih bersih dan senyumnya yang manis beberapa kali mampir dalam pikiran Arya seharian ini.

Arya memukul pelan kepalanya. Dia tak mau terhanyut lebih lama dan berakhir dengan masturbasi. Dia lanjutkan dengan menuangkan sampo secukupnya di telapak tangannya lalu melumuri rambutnya sambil mengurut-urut kulit kepalanya perlahan.

Aliran darah di kepalanya terasa lebih lancar dan ketegangan yang sempat terpicu di bagian tengah tubuhnya tadi teralihkan. Selanjutnya, dia menikmati kucuran air hangat dari shower ke kepalanya lalu turun ke bagian tubuh lainnya. Setelah tak lupa menggosok giginya, dia keringkan tubuhnya dengan handuk putih yang sudah tersedia di kamar mandi lalu dia melilitkan handuk menutupi pinggangnya ke bawah sampai dengkul.  

Arya mendesah pelan saat keluar dari kamar mandi. Udara sejuk AC di kamarnya membuat tubuhnya yang tadi hangat menjadi agak terasa dingin. Arya mencari celana dalam di dalam lemari, mengenakannya, lalu mengambil celana pendek berbahan kaus dan t-shirt. Dia mengenakannya di depan kaca sambil memandangi tubuh sedangnya yang hanya berbalut celana dalam.

Dipandanginya sejenak tubuh sedangnya yang tak tampak atletis. Wajar saja demikian karena Arya memang jarang sekali berolah raga. Setelah mengenakan celana pendek dan t-shirt, dia pun melangkah menuju ruang makan mencari Vina. Melihat Arya muncul di ruang makan, Vina yang baru selesai menyiapkan makan malam tersenyum lalu mendekati Arya dan menciumnya.

"Kakak mau langsung makan?" Vina membuka percakapan seperti biasanya. 

Arya mengangguk. "Iya, aku sudah lapar nih. Makan apa kita malam ini?" ujar Arya sambil mengamati makanan yang sudah tersaji di meja.

"Malbi dan sayur lodeh kesukaan kamu, Kak. Tadi, Inah yang masak."

Inah adalah seorang gadis umur sembilan belas tahun yang menjadi asisten rumah tangga mereka. Biasanya Vina menyuruh Inah pulang ketika Vina sudah pulang kerja dan semua pekerjaan Inah beres. Urusan menyiapkan makan malam memang biasa dilakukan Vina sendiri agar lebih terasa melayani suaminya meski Vina tidak masak sendiri karena seharian juga bekerja sebagai manajer pemasaran di salah satu perusahaan properti. Kalau tidak malas, atau ada acara di luar, di akhir pekan barulah Vina masak sendiri di dapur.

"Kak, tadi pagi setelah kamu pergi ke kantor, Vera masih tinggal ngobrol-ngobrol sama aku sambil aku siap-siap ke kantor. Dia bilang kapan-kapan minta kamu ke rumahnya untuk melihat proses renovasi rumah mereka." 

Vera lebih dulu pindah ke kota ini dibandingkan suaminya karena harus merenovasi dulu rumah yang baru mereka beli dan mengurus sekolah anaknya, Seno, yang baru masuk TK. Mereka pindah ke sini karena suaminya dipindahtugaskan ke sini. Kebetulan, orang tua Vera juga di kota ini dan memang Vera besar di sini sebelum menikah dan ikut suaminya bertugas di kota lain.

Vina dan Vera sudah bersahabat sejak lama karena selalu bersekolah di sekolah-sekolah yang sama. Bahkan kuliah pun di universitas yang sama hanya saja beda fakultas. Vera kuliah di Fakultas Hukum dan Vina di Fakultas Ekonomi.

Berbeda dengan Vina yang berkarier sesuai dengan latar belakang pendidikannya, Vera hanya jadi ibu rumah tangga dan mengurusi anak mereka yang baru satu orang. Vera menikah segera setelah tamat kuliah, tetapi Vina bekerja dulu sebelum menikah dengan Arya. Tiga tahun menikah, Arya dan Vina belum dikaruniai seorang anak.

"Besok sebelum ke kantor aku bisa mampir kok ke rumah Vera. Kebetulan besok tidak banyak pekerjaan," jawab Arya setelah menyelesaikan kunyahan makanan di mulutnya.

"Baguslah kalau begitu. Nanti aku minta Vera kirim lokasi rumahnya ke ponselmu, ya, Kak." Arya cuma mengangguk sambil melanjutkan kunyahan makanan di mulutnya.

"Vera itu manis dan seksi, ‘kan, Kak?" pancing Vina ingin tahu pendapat suaminya tentang Vera. Tadi pagi dia sempat memergoki Arya beberapa kali memandangi dada Vera sambil ngobrol. Vina sudah hafal selera suaminya. Tipe perempuan seperti Vera memang yang jadi selera suaminya.

"Sama manisnya sama kamu, tapi sedikit lebih montok," jawab Arya sambil tersenyum memandang istrinya.

Vina tertawa mendengar pendapat suaminya. Mereka memang biasa blak-blakan kalau ngobrol urusan begitu. Arya tak pernah menutupi pada Vina kalau dia kebetulan suka melihat seorang perempuan. Vina pun sudah maklum dan memang membebaskan Arya kalau dia suka perempuan lain bahkan sampai berhubungan intim.

Memang rasanya aneh, tetapi itu Vina lakukan karena dia sangat memahami Arya yang tak cukup dengan tubuhnya saja. Dia tahu kalau Arya memiliki hasrat seksual yang agak berlebih. Tidak sampai pada taraf hiperseks, tetapi hasratnya lebih besar dibandingkan dengan lelaki pada umumnya.

Frank R

Mohon dukungannya dengan memberi bintang dan komentar. Terima kasih.

| 12
Comments (16)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
menarik sih ceritanya.. mau follow akun sosmed nya dong kalo boleh?
goodnovel comment avatar
Ekhak Setyawan
crita bagus tp bonus dikit dan koin nya mahal
goodnovel comment avatar
Mama Bocah Cantik
cerita nya bagus tapi sayang gratis nya cuma sedikit
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status