Chapter 2: Meet A Handsome Devil

Hallo again :) Apakah di bab ini akan ada lebih dari 10 komen di paragraf? 

Jika ya, next chapter bakal segera publish hari ini :*

(Cara komen di paragraf tinggal tekan lama di bagian paragraf yang dimau)

Enjoy!

-----

Sebuah Cadillac Escalade hitam melaju mulus di tengah jalanan kota Madison. Sinar terik matahari telah perlahan redup, demi menyambut langit senja yang siap menjadi pengiring mobil tersebut. 

Di dalam kabin belakang mobil berinterior mewah serta berdominasi warna cream itu tengah duduk Liora dan wanita muda lain yang bertugas menjadi babysitter. Liora duduk dengan menjelujurkan kakinya pada penyangga kaki di bagian bawah kursi.

Senyum di wajah Liora terlukis lembut nan hangat bersama mata peraknya yang berkilau pada sang bayi di gendongannya. Sebuah senyuman yang hanya akan ditemui kala Liora sedang bersama bayinya atau dengan keluarga di New York.

Bayi perempuan itu sedang menyusu, meski matanya terpejam karena kantuk. Tak ada yang lebih menyejukkan hati Liora selain melihat wajah damai malaikat kecilnya.

Midi dress berwarna blush yang berpotongan scoop di bagian leher itu justru semakin membuat Liora terlihat anggun kala sedang menyusui seperti ini. Meski satu bagian tali di pundak itu harus turun menemui lengan. Ia mengenakan midi dress itu untuk memenuhi janji pada Daniel seperti beberapa hari yang lalu.

"Mengapa kau cepat sekali tumbuh besar, Sayang?" gumam Liora geli yang segera mendapatkan kekehan sang babysitter

"Vierra pasti akan menjadi anak yang cantik seperti Anda, Nyonya," ujar Anna riang, khas energi mudanya, mengingat Anna baru saja menginjak usia dua puluh tahun beberapa minggu lalu. 

Liora menoleh pada babysitter bayinya yang duduk di samping. Senyum di wajah itu berubah tipis sesaat. "Tentu ia akan menjadi anak yang cantik sekaligus kuat." 

Mata perak Liora kemudian kembali pada sang anak. Punggung jari-jarinya mengusap pipi kemerahan sehalus sutra tersebut. "Kelak kau harus menjadi anak yang kuat," bisiknya lembut, tetapi getir.

Pandangan wanita itu lalu meredup kala ingatan membawanya pada ayah sang anak, Alex. Kesedihan bercampur amarah yang berbalut kekecewaan segera menyelimuti kembali relung hati Liora.  

Napas kasar pun segera terbuang dari bibir indah itu. Seperti dirinya yang kembali membuang wajah pria tampan itu dari bayangan otaknya. Sudah setahun ia mencari keberadaan Alex, tetapi sampai saat ini ia belum menemukan pria itu. Seakan Alex hilang ditelan bumi. 

"Kau memiliki bentuk hidung yang sama seperti dirinya. Begitu juga dengan senyummu, Sayang," lirih Liora kembali getir pada sang bayi.

Liora kemudian menutup bagian dadanya setelah tahu Vierra telah terlelap. Ia lalu mengecup kening bayi mungilnya tersebut. "Aku akan membawanya untuk menemuimu. Aku berjanji," bisik Liora dengan hatinya yang terasa tergerus lara.

Anna yang mampu mendengar segala perkataan Liora hanya mampu menunduk. Tak berani berkata apa pun dan hanya mampu merasakan kesakitan hati majikannya.

Tak berselang lama, mobil Cadillac Escalade hitam itu pun berhenti tepat di depan restoran Italia yang menjadi tujuan Liora. Anna segera mengambil alih Vierra dalam gendongannya sebelum akhirnya Liora keluar dari mobil.

Sepatu stiletto berwarna blush yang dikenakan Liora pun segera menapaki jalan. Kepalanya mendongak tinggi bersama pandangan yang mengamati nama restoran bertuliskan 'Ristorante di Gloria' yang begitu megah, semegah arsitektur restoran tersebut. 

Seorang pelayan segera menyambut Liora ketika ia baru saja memasuki restoran dengan pencahayaan kekuningan itu. Pelayan pria tersebut membimbingnya menuju meja yang rupanya telah dipersiapkan. 

Sepanjang menuju meja itu, mata Liora menyapu pada interior elegan klasik yang begitu melekat kental pada restoran ini. Pigura-pigura dengan lukisan abad pertengahan bernilai tinggi tampak menghiasi sepanjang dinding. Chandelier turut mengisi beberapa dinding bercat gelap dan langit-langit. Sedang sofa beledu merah memenuhi lantai dengan meja melingkar yang mewah.

Beberapa kali Liora bersalaman dan berbincang singkat dengan beberapa rekan bisnis yang rupanya turut hadir pada pembukaan restoran Italia ini, sebelum akhirnya ia menjatuhkan bokong pada sofa beledu yang empuk. Masing-masing dari meja di sekitar Liora terisi oleh orang-orang yang berpasangan dan berkelompok, tetapi Liora tak terusik sama sekali dengan kesendiriannya di meja ini.

Bahkan ia hanya melirik dingin pada beberapa pria yang terang-terangan menatapnya dengan mata mendamba. Tentu saja, hanya pria yang tak tertarik pada wanita saja yang akan melewatkan pandangan begitu saja jika melihat ada sosok cantik nan anggun seperti Liora. 

Bagi para pria, Liora adalah figur sempurna dari mimpi basah dan fantasi liar mereka. Tua maupun muda. Sayangnya, Liora tak sedikit pun tertarik atau tergoda bermain-main untuk membuat semua itu nyata. Terlebih setelah hatinya mati seperti saat ini.

Seorang pria berparas latin sudah akan menghampiri meja Liora, tetapi pria itu segera mundur, menguburkan niatnya ketika pria lain turut mendekati meja itu. Liora mendongakkan pandangan dan mata peraknya segera bertabrakan dengan sepasang mata sapphire yang tajam. Anehnya, meski dari sekali melihat Liora dapat merasakan aura berbahaya dari pancaran mata itu, tetapi Liora juga menemukan dirinya mengagumi cahaya mata di sana.

"Miss Quinton." 

Senyum di wajah pria percampuran ras itu menerpa mata perak Liora, bersamaan dengan sebuah suara asing yang berat, dalam dan sedikit serak tersebut. Suara itu melesat begitu cepat, menyusuri lorong pendengaran Liora dan menciptakan sebuah getaran yang mengusik dada.

"Sebuah kehormatan Anda bersedia datang kemari." Senyum itu terus bertahan bersama suara asing bernada penuh wibawa dan kuasa yang membuat mata Liora mengerjap pedih, semakin terusik.

Namun, iris perak Liora seakan terpatri pada sosok pria bertubuh tinggi tegap itu. Liora memperkirakan bahwa usia mereka tak berbeda jauh.

Setelan jas berwarna kelabu tampak membungkus tubuh pria itu dengan sempurna. Sedang bulu kasar nan tipis mengitari sepanjang garis rahang tegas di wajah sana. 

Sementara mata sebiru sapphire itu terbingkai dengan alis tebal yang justru menyempurnakan bahaya dan ketajaman mata tersebut. Rambut gelap bergelombang di atas sana tertata begitu rapi dan menampilkan semburat warna chesnut ketika cahaya lampu menerpanya.

"Saya orang yang menepati janji."

Liora bangkit dari duduknya setelah menepis getaran yang terus menderu di dadanya. Pria di depannya ini pasti bos sekaligus pemilik restoran yang dimaksudkan Daniel.

"Tentu saja, saya meyakini itu."

Suara berat itu mengalun begitu tenang, tetapi meresahkan lorong pendengaran Liora terus-menerus. Liora tak mampu menampik bahwa pria itu memiliki suara paling seksi yang pernah ia dengar selama ini.

"Gavriel Arvezio." Sang pemilik suara berat itu mengulurkan tangannya.

Pupil Liora seketika melebar mendengar nama pria itu. Getaran di dadanya pun sirna dalam waktu sekejap. Ia mengira bos yang dimaksudkan oleh Daniel adalah CEO dari GStrom Company dan menurut data yang ia baca, CEO perusahaan itu bukan bernama Gavriel Arvezio. 

Liora tahu siapa Gavriel Arvezio, meski ini adalah kali pertama pertemuan mereka. Terlebih nama belakang pria itu. Arvezio adalah sebuah nama yang tak asing dikalangan banyak orang, termasuk pebisnis seperti Liora. Namun, nama itu bukanlah nama yang dikenal baik. Mungkin sebagian orang tak akan sependapat dengan itu, tetapi tidak jika di mata Liora.

Itu karena Arvezio adalah nama keluarga dari sebuah kelompok mafia Italia-Amerika terbesar dan terkuat di Amerika yang biasa dikenal dengan nama Prospero. Bahkan ketika masing-masing bos Five New York Families, lima keluarga besar mafia terkenal di Amerika itu tumbang dan dipenjara pada tahun 90-an, Prospero tetap berdiri kokoh dan tak tersentuh hingga saat ini.

Terlebih banyak rumor yang mengatakan bahwa Prospero memiliki kedekatan dengan keluarga terkaya di dunia, Crossleight. Liora sudah mampu membayangkan seperti apa kekuasaan keduanya saat bersanding.

"Liora Quinton," sambut Liora kemudian. 

Kedua tangan mereka saling menjabat dan jemari Liora seketika tenggelam dalam telapak tangan lebar Gavriel. Sekejap, Liora terkejut merasakan hangatnya tangan yang menyelimutinya itu.

Mata perak Liora mengamati kedua tangan mereka, lalu merangkak pada wajah Gavriel yang tersenyum ramah sekaligus penuh wibawa. Jadi ... inikah sosok sang bos mafia Prospero?

...To Be Continued...

Makasi banyak sudah baca. Apa komentarmu tentang bab ini? 

Info dan Visual cek

di IG @saltedcaramely_

Comments (8)
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
akhirnyq 🤣
goodnovel comment avatar
Demigoddess
akhirnya mrk bertemu..
goodnovel comment avatar
Saltedcaramel
hmm mnurut kak yella? 🤔
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status