Roman (sa) Arunika
Roman (sa) Arunika
Author: Nayla Salmonella
Episode 1 Tahun-tahun Penuh Kesakitan

Januari 2017

            Hujan tak pernah jemu mengguyur tanah Jakarta sejak pagi. Menambah dingin hawa di sekitarku. Sesekali kuelus kening yang lebam karena sebuah tonjokan, terasa sakit dan ngilu. Saat aku melihatnya di kaca, ada bercak kemerahan di sana. Pasti bekas lemparan botol kaca parfum.

Namun, lagi-lagi aku diam dan menyerah. Sekarang bahkan hanya bisa menatap bulir air di kaca jendela kamar dengan perasaan kosong. Terasa sudah mati rasa, karena luka ini bukan sekali dua kali mampir. Berkali-kali sudah.

            Kutundukkan kepala ke atas meja belajar, terasa berat dan letih. Sebab baru menangis hampir setengah jam karena luka batin. Ditambah pukulan yang cukup keras tadi membuatku kesakitan. Sesekali menyesap kenyataan bahwa aku baru saja mengalami kesakitan lagi dari orang yang sama. Darinya, ibu kandungku sendiri.

Brak!

            Suara pintu yang terbuka kasar kemudian menghantam tembok. Aku melirik tipis, langkah kaki itu cepat dipacu. Derapnya cepat menuju posisiku duduk. Lantas kupejamkan mata, tatkala tarikan tangan kuat itu mendarat di rambutku.

“Aw, sakit, Bu!” rintihku kesakitan karena ibu menjambak rambutku.

            Rambutku dijambak dengan sekuat tenaga. Lantas ditariknya aku dan dibanting ke kasur. Lalu, dengan membabi buta ibu membuka lemari pakaian dan melempar barisan pertama isinya. Melempar tas di bagian bawah dan memasukkan bajuku dengan kasar.

“Pergi kamu! Aku nggak sudi lihat wajahmu!” usir kasar ibu dengan mata membara.

Kutahan sakit dan tangisan, “kenapa Ibu nggak percaya padaku? Aku beneran lihat mbak Vanya pakai uang sekolah buat beli baju,” uraiku jujur dengan suara bergetar.

Sebuah tendangan mendarat di kaki kecilku. “Diam kamu anak durhaka! Terus saja kamu tuduh Mbakmu, ya! Kamu iri sama dia, ‘kan?” tuding Ibu dengan mata sinis.

Kukibaskan kedua tangan di depan dada sebagai tanda menolak. “Enggak, Bu, sumpah!” aku menggeleng kuat sambil mendesis kesakitan.

Mata Ibu makin menyala. “Kamu memang pantas diginikan!” Ibu menampar pipiku keras, sakit sekali. “Enak saja memfitnah kakakmu supaya Ibu benci dia. Dasar tukang adu domba kamu, ya! Kecil-kecil brengsek!” kutuknya sambil mendorongku ke lantai.

            Aku terjatuh cukup keras, lalu menangis tergugu. Hanya bisa terdiam dan pasrah. Kalah tenaga, kalah omongan, dan takut dosa. Aku takut sekali pada Ibu

Tak selesai sampai di situ. Dengan mendesis dan membabi buta, Ibu melempar semua botol bedak dan teman-temannya ke badan ringkihku, mengenai tepat di muka dan kepala. Berulang-ulang dia mengutukku, “anak setan, anak iblis, durhaka!” dan lain sebagainya.

Sakitnya berlapis-lapis, sakit hati dan raga.

Sampai sebuah suara datang dari ambang pintu. Biasalah pembelaku datang terlambat. “Ibu!” pecah suara Mbak Vanya dari ambang pintu lantas mendatangi kami. “Jangan sakitin Adik, Bu. Benar katanya, aku pakai uang untuk beli baju olahraga. Bukan untuk belikan Adik,” lerai Mbak Vanya dengan mata penuh tangisan sambil berlutut pada Ibu.

Ibu memapahnya berdiri dan pandangan itu … dibentuk penuh sayang. “Vanya, jangan percaya sama anak satu ini! Dia ini anak durhaka, suka bohong! Dia ini banyak dosa, jangan percaya adikmu!” balas Ibu tanpa ampun sambil menunjuk-nunjuk wajahku.

Kuremas tanganku kuat-kuat karena sudah tak tahan. Aku menatap ibu tajam. “Berhenti, Bu! Berhenti bilang saya anak durhaka! Jangan sakiti saya lagi, sakit, Bu …!” lawanku menguatkan suara.

Ibu melotot tajam padaku, lantas mendatangiku lagi, “diam kamu! Mulutmu yang suka bohong ini pantas dihukum!” Ibu meremas mulutku hingga panas dan merah.

            Ibu lalu menarikku ke dapur. Mendudukkanku secara paksa di depan kulkas. Aku berusaha berontak, tapi tak kuasa. Tenaganya terlalu kuat karena amarah. Sehingga aku hanya bisa pasrah saat Ibu meremas cabai merah di mulutku. Pedas, panas, dan … sakit.

            Aku hanya bisa menangis.

“Sekali lagi kamu bicara, pergi dari rumah ini! Bawa semua barangmu! Aku nggak sudi punya anak sepertimu!” ancam Ibu sambil berlalu.

            Kutatap punggung wanita yang kupanggil ibu itu semakin jauh. Smentara itu, aku kembali tergugu, meresapi suara tangisku yang menderu pelan. Semakin ketakutan karena ibu kembali ke dapur dan melempar setumpuk koran. Mungkin dia merasa jengah dengan tangis kesakitanku. Mungkin dia juga takut kalau tangisanku didengar tetangga kanan kiri. Biasalah, menjaga nama baik di depan orang asing adalah hobi ibuku.

Sementara itu, Mbak Vanya tiba-tiba menyusulku ke dapur. Anak kesayangan ibu ini hanya bisa memelukku. Sama dalam tangis. Namun, tak sesakit aku sebab dia adalah kesayangan Ibu.

            Perkenalkan, namaku Shanala Arunika, usia tujuh belas tahun. Aku seorang korban KDRT ibu kandungku sendiri sejak usia lima tahun. Dan inilah ceritaku ….

---

Suatu Hari yang Hujan di 2018, Tanah Jakarta.

            Mataku memandang dari kejauhan rumah bernuansa putih dengan pagar yang tinggi. Dari balik payung kuning, hatiku sedang tak karuan. Aku tidak seperti manusia lain yang biasanya pulang ke rumah dengan hati bahagia hendak melepas letih. Justru hatiku sudah letih karena memikirkan seribu cara supaya tak diamuk ibu.

            Rumah adalah tempat menyenangkan bagi jiwa-jiwa lelah untuk pulang, tapi tidak berlaku untukku.

Hari ini aku lulus SMA. Tawa banggaku ke mana-mana karena peringkat satu paralel. Nilaiku bagus dan berharap bisa untuk modal meneruskan kuliah. Inginku kuliah ke kedokteran seperti Mbak Vanya, tapi terlalu mimpi. Ibu jelas tidak merestuiku.

Setengah hati ingin mengatakan pencapaian terbesarku ini. Namun, semua terganjal ketakutan lain akan tidak direstuinya mimpi-mimpiku. Pun rasa-rasanya juara macam ini biasa saja bagi ibuku. Prestasiku tak ubahnya seperti bukti aku tlah menghabiskan banyak uang untuk sekolah.

Tak masalah, aku tetap punya mimpi yang tinggi. Mungkin saja mimpi itu menjadi nyata. Mimpi saja ‘kan tidak dilarang. Sah-sah saja kugantungkan asa setinggi bintang di langit. Siapa tahu kalau jadi orang sukses, ibu tak lagi membenciku.

Kakiku melangkah ragu saat membuka pintu pagar. Antara hendak masuk atau tidak. Maka kuputuskan untuk masuk saja. Dengan pelan kuputar kenop pintu hingga terbuka, tidak dikunci. Sambil celingukan aku mengeringkan badan sebelum masuk rumah, sebab kalau basah pasti ibu marah.

Setelah dirasa layak masuk rumah, aku kembali mengedarkan mata ke sekeliling. Suasana lengang, entah, mungkin ibu sedang tidur siang. Tanpa mengucap salam, aku langsung masuk ke dapur. Tenggorokanku amat kering karena terlalu banyak tertawa bersama teman-teman saat perayaan kelulusan tadi. Tenang, aku tidak mencoreti bajuku kok. Sudah diwanti-wanti sama ibu sejak masuk SMA dulu.

            Prang!

Suara benda pecah membuatku menoleh. Gelas langsung kutaruh pelan di atas meja. Baru saja aku pulang sekolah dan ternyata disambut oleh sebuah piring beling yang dilempar di dekat kakiku. Tentu aku langsung terperanjat kaget saat melihat pecahan-pecahan benda tajam itu. Apalagi salah satunya dekat dengan telapak kakiku, hampir saja menggores.

Makin kaget saat Ibu mendatangiku dengan mata menyala, beringas penuh amarah. Derap kakinya cepat seperti sedang bersepatu roda. Tangannya terkepal diremas berulang-ulang dengan mulut bersiap menelurkan rutukan. Benar saja, aku dijatuhkannya ke dekat beling itu. Telapak tanganku menggores pecahan itu dan berdarah. Mulutku langsung meringis kesakitan.

“Apa sih, Bu?” tanyaku bingung sesekali mendesis kesakitan karena beling berhasil melukaiku.

Ibu mendorong kepalaku dengan telunjuk. “Kamu, dasar kamu anak durhaka! Mau sampai kapan kamu bikin ibumu ini marah, hah? Aku gak sudi punya anak macam kamu!” ujar sang ibu keras sambil melayangkan tendangan pada tangan lebamku.

Lebam dari luka – bekas dipukul ibu dengan cobek batu minggu lalu – belum sembuh.

            Tiba-tiba, Mbak Vanya keluar dari kamar, menyongsongku dan Ibu yang sedang bersitegang. Wajahnya penuh selidik. “Ya Allah, ada apa lagi sih, Bu?” Ibu hanya diam.

Aku berusaha bangkit dan tidak lepas menatap ibu dengan tak percaya. “Ada apa, Bu? Bisakah kita bicara baik-baik?” tanyaku sabar sambil menatap aliran darah di telapak tangan. Sepertinya luka cukup dalam.

Mbak Vanya menggangguk sabar dan menyentuh lengan Ibu. “Benar, Bu. Ada apa?” Mbak Vanya berusaha memisah tangan Ibu dari badanku.

Pandangan tajam Ibu belum tumpul. Masih saja berusaha menusukku dengan matanya itu. “Buat apa kamu daftar ke kedokteran, hah! Kamu tahu biayanya mahal! Ibu cuma sanggup menyekolahkan kakakmu!” bentak Ibu tajam.

“Nala hanya coba-coba, Bu. Siapa tahu rezeki,” aku menghela napas yang sesak karena ketakutan.

Kenapa mimpi indahku mendadak rusak karena ketahuan ibu? Bagaimana bisa aku membiarkan ibu mencium wanginya impian yang seharusnya tersimpan? Seharusnya aku berusaha sendiri tanpa merepotkan ibu. Namun, semua tak berlaku saat surat panggilan wawancara dari kampus itu datang ke rumah dengan manisnya tanpa sepengetahuanku.

Nahas, dibaca ibu dan sekarang beliau marah besar padaku.

Ibu kembali mendorong pelipisku hingga pusing. “Sudah Ibu bilang, bekerja saja sana! Tidak usah kuliah kamu! Mbakmu saja belum mentas, kamu udah masuk!” Suaranya meninggi penuh emosi.

“Iya Bu, sabar. Nala akan cari kerja sambil kuliah, tapi jangan menyakiti Nala seperti ini,” pintaku memelas. Kupandang ibu meminta iba.

Ibu makin emosi dengan menjewer telingaku. “Heh, denger ya, kamu mau jadi durhaka dengan membebani Ibu terus-terusan, iya! Jangan pikirkan apapun selain kerja dan kerja. Bantu Ibu! Bantu Mbakmu, paham!” tegasnya seperti jarum tajam yang menusuk gendang telinga.

Suara ibu seperti memantul di dalam telinga dan tembus ke otak.

Mbak Vanya kembali meletakkan badannya di antara aku dan ibu. Wajahnya terlihat sedih mirip aku. “Bu, Vanya bisa cari beasiswa. Biarlah Nala …,” bujuk Mbak Vanya pias.

Ibu menatap Mbak Vanya tajam, tapi kemudian mengendur menjadi lebih sayang. Alis matanya berkerut penuh sesal karena menghardik kesayangannya. “Tidak, Vanya! Kamu yang kuliah, adikmu cukup kerja,” putus Ibu seraya menatapku sinis. “Lagian otaknya mana mampu masuk kedokteran sepertimu. Dia anak durhaka terkutuk, ‘kan?” sindirnya.

Hatiku tak dapat tertahan lagi. Kali ini sudah waktunya aku melawan, maka kubalas tatapan ibu dengan mendelik. “Hentikan, Bu! Setop sakiti saya lagi! Saya bukan anak durhaka!” pekikku dengan suara keras, tak ada lembutnya lagi.

Namun, Ibu tak mengendurkan amarahnya. Kali ini dia menarik rambut yang kukuncir dengan kasar. “Kurang ajar kamu, ya! Berani sekali kamu melawan Ibu! Lantas apa namanya seorang anak yang selalu melawan ibunya? Gak bisa diatur. Kamu itu punya apa? Apa kehebatanmu sampai kamu melawan ibumu!” ujar sang ibu emosi.

Aku berusaha menoleh ke wajahnya meski rambut ini sakitnya bukan main. “Bu, tolong ibu berpikir sejenak, mengapa saya bisa melawan ibu. Di mata ibu saya tidak pernah benar, ‘kan? Ibu selalu menyalahkan, menghukum, menyakiti, menendang, dan memukul saya! Apa pun perkataan saya tidak pernah ibu anggap. Saya juga ingin didengarkan Bu. Itulah yang membuat saya melawan Ibu selama ini” curahku lirih sesekali mendesis kesakitan.

Mungkin kalimatku berhasil mengaduk emosinya makin kalut, lalu aku pun ditarik duduk di lantai. Mata tajamnya kemudian makin menghakimiku. Kutukan demi kutukan digelontorkan dari mulut yang pernah mengajariku bicara itu.

“Apa kamu bilang? Jadi pikirmu aku ini ibu yang durhaka gitu? Goblok kamu!” ujar Ibu sambil mendorong pelipisku lagi.

Aku terdiam sampai Ibu mengoceh lagi. “Kamu itu susah dibilangi, nurutmu cuma sama bapakmu yang nggak pernah pulang itu! Kamu itu nggak kayak kakakmu yang hebat, nurut sama ibu, sayang sama ibu. Kakakmu yang bisa masuk fakultas kedokteran. Calon dokter bedah yang hebat. Bukan kayak kamu itu. Asal kamu tahu ya, kamu gak bisa masuk fakultas kedokteran juga karena kamu bodoh, suka melawan ibu, kualat kamu!” ujar Ibu makin keras dan membuatku makin geram.

Aku tak bisa tinggal diam. Kesabaran yang sudah kutahan sejak remaja semakin hilang.

Aku menggeleng kuat dengan air mata berleleran. “Nggak, Bu! Berhenti bilang saya durhaka. Saya itu cuma anak hasil didikan orang tua termasuk Ibu. Cukup sudah Ibu selalu menyakiti saya. Semua tendangan, pukulan, dan hinaan ini akan saya ingat sampai mati, Bu!” Kutatap Ibu dengan penuh emosi sambil meremas lantai dan itu tidak berguna.

“Oh, baguslah. Mati saja sana. Dasar anak durhaka, dungu, tak berguna! Pergi saja sana ke neraka,” ujar ibu dengan suara tinggi sambil melayangkan tinjuan keras ke tubuh ringkihku.

Mbak Vanya tak sanggup lagi melerai kami. Dia hanya menangis sambil memandangiku. Panggilan lembutnya tak bisa menahanku untuk berlari ke kamar, mengemasi semua barang dalam satu tas yang telah lama kusiapkan. Kemudian mengangkat tas besar dan kecil untuk segera angkat kaki dari rumah ini dengan langkah gontai. Keputusanku sudah bulat, ingin pergi dari sini. Tinggal menunggu waktu saja pikirku, dan mungkin sekarang telah tiba.

Aku tak ingin mati sia-sia atau jadi gila menghadapi kelakuan ibu yang makin tak masuk akal setiap harinya.

Tangan Mbak Vanya menahanku saat kaki ini sampai di beranda rumah. “Dik, jangan pergi! Kamu mau pergi ke mana?” tahan Mbak Vanya dengan tangisan sendu.

Kusentuh lengan kecilnya juga dengan tangisan sesak. “Mbak, ini bukan tempatku lagi.”

Ibu datang dari dalam tanpa wajah sesal. Tangan kuatnya itu memisahkan tangan mbak Vanya dari tubuhku. “Biar saja, Nak! Biar anak terkutuk ini pergi! Ibu menyesal pernah melahirkan dia!”

Mata seorang ibu yang katanya lembut itu sama sekali tak pernah kusaksikan dari mata Ibu. Dari semenjak aku mengenal bahwa dia adalah ibuku, perlakuan seperti inilah yang kudapat setiap harinya. Maka tak ada keraguan lagi pergi dari tempat ini.

Dengan cepat kutegakkan lagi badanku. “Terima kasih telah membuat status bagi Nala, Bu. Mulai sekarang Nala pergi!” Kupandang Ibu dengan pongah.

Ibu makin marah. “Pergi sana! Aku nggak peduli. Mau kamu diperkosa bajingan di luar sana atau apa, bukan urusanku!” teriaknya menjadi-jadi.

“Ibu …!” cegah Mbak Vanya tidak kuasa mendengar kutukan mengerikan itu.

Tak menunggu waktu lama lagi, aku segera berbalik badan dan melangkah ke luar. Tak peduli hari sedang hujan atau petir seperti sekarang, alam lebih bisa memelukku. Ia lebih bisa menerimaku dibanding rumah ini.

“Tuhan, kuatkan aku …,” gumamku lirih sekali sambil mengangkat benda-benda berat itu.

“Bu! Jangan seperti itu pada adikku! Jangan, Bu! Nala masih anak Ibu …,” Mbak Vanya masih berusaha membujuk Ibu.

“Sudah bukan, Nak. Udahlah, Ibu nggak rugi kehilangan dia!” putus Ibu tanpa menyesal. Nada suaranya ringan sekali.

            Tanpa pikir dua tiga kali, kuangkat kaki dari rumah ini. Rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang, nyatanya tidak bagiku. Rumah adalah tempat penyiksaan, mirip rumah jagal.

Mbak Vanya masih mengekoriku meski dirantau hujan. Tangis menyayat calon dokter ini pun tak mampu menahanku. “Dik, jangan pergi, ya? Mbak sama siapa, Dik?”

Aku menghentikan langkah sejenak dan memandangnya hancur. “Ini bukan rumahku lagi, Mbak. Udah lama aku ingin pergi,” curahku sembari meminum air hujan yang deras.

Mbak Vanya menahan kedua lenganku.“Kalian cuma saling emosi saja. Pikirkan lagi, ya?” bujuknya.

Kutatap Mbak Vanya, berpandangan dalam rintikan hujan deras. “Emosi? Sejak kapan Ibu nggak emosi sama aku, Mbak?” sindirku.

Kutunjuk dada dengan kuat. “Sejak aku mengenal dunia, Ibu tak pernah sekali pun lembut padaku. Buat apa aku hidup bersama Ibu, kalau aku cuma beban? Delapan belas tahun aku berusaha jadi anak yang baik bagi ibu, nyatanya apa?” tanyaku menantangnya.

Mbak Vanya hanya menatapku. Mulut ini tak ada hentinya membeo. “Nggak berguna, Mbak. Aku tetaplah pelampiasan ibu, tak ubah sebuah samsak,” pungkasku.

Dia melepas tangannya sambil menunduk. Pundaknya naik turun karena napasnya terlalu sesak. Mbak Vanya kemudian memandangku makin iba. “Tunggu bentar aja, Mbak ambil P3K. Mbak obatin lukamu dulu, ya?” pintanya sambil membelai keningku yang lebam serta tanganku yang darahnya makin deras akibat pecahan beling tadi.

Aku menggeleng dan menunjuk dada. “Luka yang ini mudah sembuhnya, yang ini tidak, Mbak!”

“Aku pergi,” pungkasku pelan sambil meninggalkannya yang masih terdiam.

Langkahku makin jauh dari kakak semata wayangku ini. Anak penuh kasih sayang seperti dia mana tahu rasanya di posisiku. Buktinya, ada seseorang tak rela melihatnya dirantau hujan meskipun aku ada di sini. Aku sudah bak makhluk tidak kasatmata.

“Vanya, masuklah! Nanti kamu sakit kalau kehujanan.”

            Adalah kata terakhir yang kudengar dari mulut manis Ibu pada Mbak Vanya. Teramat sayang Ibu padanya, hingga tak ada yang perlu kukhawatirkan lagi. Ibu dan mbak Vanya akan tetap hidup dan baik-baik saja dengan atau tanpa aku. Bagiku, hidup di jalanan mungkin lebih baik daripada di rumah bagus yang tak nyaman sama sekali.

---

            Berbekal sisa uang tabungan di dompet yang tinggal dua ratus ribu, aku berjalan menyusuri kota. Berharap hujan reda karena tubuhku mulai dingin, tanpa payung. Sesekali berteduh di bawah pohon rindang dan berdoa supaya tak ada petir yang menyambar.

            Memang, aku pernah ingin mengakhiri hidup dengan menegak obat nyamuk. Mungkin Ibu akan berhenti menyiksaku dan iba. Namun, urung karena takut masih dosa. Sampai kini, aku hidup berbekal rangkaian semangat yang sekeping-keping.

            Kutatap kendaraan yang lalu lalang dengan mata buram karena hujan terlalu deras mengguyur. Dari sekian banyak mobil, tak ada satu pun yang kenal denganku. Tak ada yang menyelamatkanku dari mimpi buruk ini. Yah, kini aku sendirian di dunia ini. Kurasa itu, sampai sebuah sentuhan mengembalikan ingatanku ke dunia.

“Nala!” Sebuah suara lembut mampir ke telingaku. Payung itu menaungiku dengan erat.

“Jihan?” balasku sambil tersenyum setelah menoleh lemah.

Aku ingat masih punya satu teman yang baik. Dia sahabatku satu-satunya bernama Jihan. Wajahnya sangat cemas saat ini.

“Ya Tuhan!” pekiknya cemas sambil meneliti wajah dan tanganku. “Lukamu parah sekali, Na! Ayo kita ke rumah sakit!” ajaknya cepat-cepat.

Aku menggeleng. “Aku nggak apa-apa, Han. Udahlah, nggak apa-apa,” tolakku kuat-kuat sambil memegang kedua tangannya dengan tanganku yang membeku.

Dia menggeleng kuat, apalagi setelah merasakan betapa dinginnya badanku saat ini. “Ini nggak bisa dibiarin lagi, Na! Udah masuk ke penganiayaan fisik, kamu harus lapor polisi!” tegasnya emosi.

“Nggak mungkin aku laporin ibuku sendiri,” ucapku lirih sambil memandangnya nanar.

            Jihan terdiam dan tak bisa berkomentar apa pun lagi.

Jihan menghela napasnya menjadi lebih lega. “Ya udah, sekarang kamu ikut aku aja, ya! Meskipun kamar kosku kecil, tapi cukup kok buat kita.” Dia menggandengku erat dan merampas tas besar dari tanganku.

Aku memandangnya hangat dengan senyum samar. “Badanku basah lho, Han. Lagian kamu kok bisa menemukanku, terbaik memang!” candaku masih berusaha ceria.

Jihan memandangku iba. “Mana mungkin aku biarin kamu kehujanan, Na. Kamu temanku satu-satunya,” ungkapnya sambil merangkulku.

            Kami berbalas senyum. Berjalan pelan menuju kos-kosannya yang tak jauh dari tempat berteduh tadi sambil melempar candaan bernada sedih. Menata pikiran sembari menatap langit yang makin gelap.

Mulai detik ini, hidupku akan dimulai dari nol. Dengan melangkah di atas kakiku sendiri. Aku pasti bisa, yakin bisa hidup meski tanpa dukungan siapa-siapa. Aku bisa kok kuat, masih ada sisa semangatku di sudut terdalam.

“Sakit?” tanya Jihan karena aku mendesis beberapa kali.

            Sesampainya di kos Jihan, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Jihan memberiku teh hangat untuk sekedar mengganjal perut dan mengusir angin yang masuk. Tugasnya belum selesai, sekarang dia sedang mengobati lukaku dengan obat merah dan alat seadanya.

Aku tersenyum kosong. “Sakitnya nggak seberapa dibanding hatiku, Han,” jawabku datar tanpa melihat wajahnya.

Jihan membelai rambutku lembut. “Sudahlah, lupakan semua ini, ya? Sekarang kamu udah bebas, mau kuliah atau bekerja, mari kita lakukan bersama, hem?” tekadnya sabar.

Aku menatapnya bak ayam sakit. “Aku nggak tahu mau apa lagi, Han. Aku takut, kayaknya aku nggak bisa jadi manusia yang berguna,” ucapku putus asa.

“Nala, kamu bicara apa sih?” tegurnya tak suka. “Kamu harusnya bersyukur bisa keluar dari rumah itu. Nggak ada yang nyakitin kamu lagi,” ucapnya yakin sambil menepuk lenganku kuat.

Aku menatap Jihan dengan buram. “Kalau aku nggak ada, siapa yang bersihkan rumah? Ibu suka sakit punggung kalau kecapaian. Siapa yang nyuci piring? Tangan ibuku gampang pecah-pecah. Siapa yang nyuci baju? Ibu lebih suka bajunya dicuci pakai tangan,” racauku kacau seperti orang gila kambuh.

“Nala!” Jihan menangis dengan suara keras. “Kamu kenapa sih? Hatimu dari apa sih? Berhentilah mengkhawatirkan orang yang menyakitimu! Kamu harus mulai memikirkan dirimu sendiri!” suruhnya sakit hati.

Jihan kemudian menunjuk kening, tangan, kaki, dan telapak tanganku dengan gemas. “Kamu lihat semua ini! Apa kamu nggak kasihan lihat tubuhmu? Nala … sadarlah ….”

Aku menatapnya dengan alis berkerut dan tatapan kacau. “Tapi aku masih sayang ibuku, Han. Apa aku kembali saja ke rumah itu?” ujarku melantur.

“Nalaaa!” Tangis Jihan makin seru, dia memelukku rapuh.

“Aku nggak akan biarin kamu kembali ke sana lagi!” pungkasnya lirih di dekat telingaku. Dia makin rapat memeluk tubuh kurusku.

            Ada yang salah dari kalimatku?

            Sesakit apa pun luka yang ditoreh Ibu, seorang anak akan selalu menyayangi ibunya.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status