LOGINShanala Arunika adalah gadis dengan hidup yang mengerikan. Di balik senyum ramahnya tersimpan pikiran yang kusut dan rumit. Dia tak akrab dengan ibu kandungnya. Sang ibu membencinya, lebih sayang pada kakaknya. Dia dapat trauma fisik dan mental semenjak kecil. Dia mencoba baik-baik saja meski hatinya runtuh setelah diusir sang ibu di usia 18 tahun. Dia hidup menyambung napas dari hari ke hari. Saat usianya 19 tahun, dia berhasil menjadi pramugari maskapai nasional, Nusantara Airlines. Hidupnya mulai terasa indah dan bermakna. Bahkan, dia memiliki kekasih seorang pilot bernama Ganta. Namun, semua berubah saat orang-orang dari masa lalunya mulai muncul lagi. Sang kekasihpun mulai berubah. Sanggupkah dia tertabrak badai kedua kehidupannya? Seberapa kusut dan mengerikannya hidup Shanala? Bagaimana jati dirinya sampai sang ibu membenci Nala mati-matian? Adakah seseorang yang menolongnya? Adakah pahlawan yang akan mengentaskan kesedihannya?
View More“Kalau kamu mau tinggal di sini, beresin nih barang-barang kami. Ingat, ya, Mbak. Kamu itu di sini Cuma numpang!” bisik Sandy---adik pertama dari Mas Wisnu. Dia mendorong koper miliknya ke arahku. Sandy Hutama namanya. Selangit gayanya. Kadang aku heran. Bisa-bisanya orang sebaik Mas Wisnu harus berada di tengah-tengah keluarga dengan tabiat yang luar biasa.
“Eh, San … dy … sekarang, aku ini Mbak kamu, ya! Istri sah dari Mas Wisnu Hutama. Bukan pem-ban-tu.” Aku menarik ujung kaos Sandy yang kekecilan itu. Sepertinya harus kutatar gadis ini agar bisa memilih baju yang elok dipandang. Harus kuajarkan bagaimana bicara pada orang yang lebih tua dan dituakkan. “Maria! Lihat, nih! Mbak diserang orang udik!” Tanpa kusangka, dia berteriak, meminta tolong pada adiknya. Iparku yang kedua. “Astagaaa! Mbak Nika, kamu apain Mbak Sandy. Harus tahu diri, ya, jadi perempuan! Kamu itu di sini Cuma num-pang.” Keduanya kini saling berkacak pinggang dan memandangku penuh kebencian. Aku mengusap wajah. “Rupanya di sini sarang biawak, baiklah biar nanti saja kalian kenalannya. Saat ini, kalian gak usah tahu dulu, aku ini siapa. Aku ini bukan serigala berbulu domba lagi, tapi harimau berbulu kelinci. Aku pastikan perlahan tapi pasti, kalian tak akan bisa semena-mena lagi di rumah ini. Aku janji … akan membalaskan rasa sakit hatinya selama ini.” Aku bergeming. Senyum pada bibirku tersungging. Kumenunduk dalam karena tahu ada siapa yang datang. “Sandy! Maria! Gak baik bersikap seperti itu! Arunika itu kakak kalian!” Papa Hutama yang baru datang langsung buka suara. Aku pura-pura memasang wajah sedih. Menunduk dengan senyum disembunyikan. “Awas, ya, kalian! Kalau berani sama Mbak Nika, Mas gak kasih lagi uang jajan!” Mas Wisnu yang datang bersama Papa Mertuaku, menyahuti juga dan terdengar kesal. Ya iyalah, istri kesayangannya tampak tertindas. Dia pasti pasang badan. Kulihat bibir Mama Rida bergetar. Sorot matanya menahan kesal. Hanya saja, aku tahu, dia tak akan segegabah dua anak perempuannya. Dia adalah ular, bahkan lebih licin dari pada belut. Aktingnya memang layak dianugerahi piala Oscar. “Sandy, Maria … minta maaf … gimanapun, Mbak Nika itu, mulai hari ini adalah keluarga kita.” Aku melirik sekilas. Wajahnya masih ditekuk, tapi bisa ya, intonasi suaranya begitu lembut, hebat. Dia berdiri agak ke belakang, jadi dipastikan Mas Wisnu maupuan Papa Hutama tak bisa melihat wajahnya yang arogan itu. Mas Wisnu mendekat, lalu mengusap punggungku sambil bicara begitu lembut, “Maafin mereka, Sayang. Maklum, mereka masih labil.” Aku mendongak dan menatapnya sambil tersenyum, “Iya, Mas. Gak apa. Aku juga maklum.” “Sandy, Maria, minta maaf ….” Suara Mas Wisnu terdengar penuh wibawa. Kedua anak perempuan itu saling menyiku. Namun tak urung juga menghadap lalu minta maaf. “Maaf.” Lalu keduanya memutar tubuh dan meninggalkanku. Wajahnya ditekuk. Mama Rida pun bergegas mengikuti mereka. Sementara itu, Mas Wisnu menggandeng lenganku. Lelaki yang sudah tiga hari ini resmi menjadi suamiku itu mengajakku beranjak ke lantai dua. Katanya di sanalah kamar yang akan kutempati bersamanya. Aku berdecak ketika anak tangga satu per satu kulewati. Tangga yang megah dan kokoh ini menghubungkan dua lantai rumah yang luas dan megah. Tiba-tiba saja ada rasa nyeri yang menelusup. Mengingat posisi yang kini bersanding sebagai Nyonya Hutama itu siapa. Perempuan yang bermuka dua yang rela menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya, Rida Rusita. “Maafin adik-adik Mas, ya. Mereka memang gak dewasa-dewasa. Mama sama Papa terlalu memanjakkannya.” Mas Wisnu bicara lembut. “Iya, Mas.” Aku mengangguk dan tersenyum. Kutatap matanya yang memiliki pupil hitam pekat itu. Tampak ada ketulusan yang terpancar. “Andai almarhumah mami masih ada, dia pasti bangga, Sayang. Mas kini sudah menikah dan punya istri secantik kamu,” tukasnya sambil menghela napas. “Almarhumah … jadi, ini alasan Mas Wisnu tak pernah mencari tahu keberadaan perempuan yang pernah melahirkannya?” batinku. Namun, aku tetap mengulas senyum pada bibir ini agar dia tak curiga. Bagaimanapun, Mas Wisnu ini adalah anak Papa Hutama. Lelaki yang sudah memberinya hidup dengan gelimang kemewahan. “Memangnya mami Mas Wisnu sejak kapan berpulangnya?” tanyaku hati-hati. Selama kami saling mengenal, aku tak terlalu berani bertanya hal-hal pribadi. Apalagi dia selalu tampak murung setiap kali membahas hal ini. “Sudah lama, Sayang. Kata Papi, waktu usia Mas masih dua tahun. Mami meninggal karena kecelakaan. Untung ada Mami Rida yang mau mengurusi Mas hingga sekarang.” Aku menghela napas lalu kutatap manik hitam yang selalu tampak sendu itu sambil bicara pelan, “Aku sekarang sudah resmi jadi istrimu, Mas. Aku ingin Mas cerita padaku. Apa … Mas ingin bertemu dengan Ibu kandung, Mas?” tanyaku hati-hati.Blak! Sebuah pintu kayu dibanting dengan kuat oleh dua buah tangan yang gemetaran. Bibir wanita ayu bermata lentik itu bergetar, berusaha dikatupkan erat, dan digigit kuat-kuat. Dia jua menempelkan punggungnya kuat-kuat pada pintu pembatas antara kamar dan ruang tengah rumah dinas itu. Matanya yang lentik perlahan menelurkan bulir bening tiga kali. Kini ada sebuah aliran air mata yang seperti sungai di pipi tembam itu. Wanita ayu itu sedang menangis. Pagi ini sebuah harapannya dipatahkan oleh sebuah kenyataan pahit. Dia kira anak bayi itu adalah sosok yang menyenangkan bila di dekatnya. Nyatanya, wanita ayu bernama Shanala itu merasa salah besar. Justru dia merasa tertekan saat harus menghadapi bayinya yang menangis keras. Suara tangisnya tetap tembus kendat
Pagi baru saja mendatangi hari saat aku tercenung sendiri di kamar mandi. Dari kejauhan terdengar merdu suara azan Subuh yang menentramkan hati. Saking syahdunya, air mata satu tetes jatuh di pipi. Apalagi pemandangan alat kecil di atas ubin kamar mandi itu sejenak menimbulkan haru. Dua garis merah nan terang, positif. Aku sedang mengandung buah hati mas Kava. Tentu saja napasku tertahan tak percaya. Untung saja terantisipasi dengan hasil dari alat yang satunya. Aku menoleh ke gelas satunya dan mendapati hasil yang sama. Dua bahkan lima alat kecil pipih itu tetap bergaris dua merah terang. Aku hamil. Jadi, inilah
Jika bekerja di udara yang penuh risiko itu seperti tidur, maka berkumpul dengan keluarga seperti mimpi yang indah. Setelah menikmati pekerjaan yang menyenangkan itu, serasa mimpi bisa berkumpul dengan bapak, mamak, dan juga dia, Mas Kava. Sekarang kami berempat duduk di meja makan bulat. Sedang menikmati ikan kuah kuning, nasi beras merah, ikan bakar, dan juga kerupuk bawang. Tak lupa mamak memotong buah semangka merah dan kuning. Bapak memecah beberapa kelapa muda dan dibuat es kuwut bali. Makan sederhana seperti ini sudah membuatku sangat bahagia. Mereka lebih mahal dari makanan restoran super mewah. Sebab tak setiap hari aku menikmatinya. “Non, makan yang banyak. Kenapa ko pu badan makin kurus ka?” Mamak membelai pipiku lembut. (Kenapa badanm
Dini hari pukul 1 sudah menyapa langit Makassar. Burung besi itu sedang mengarungi langit setinggi 37.000 kaki dengan kecepatan sekitar 600 kilometer/jam. Udara kabin terasa dingin menusuk, sebab udara ketinggian bisa di suhu minus derajat. Rerata penumpang NA-990 sedang terlelap meski di tengah desing mesin jet. Namun, ada sebuah suara yang berbeda dan terasa sedikit mengganggu suasana bising itu. Berisik di tengah kebisingan. Tangis bayi berusia lima bulan terasa menyayat sebagian hati, sebagian lagi memilih tak peduli. Namun, ada jua yang merasa sangat terganggu hingga menoleh ke kursi belakang – tempat si bayi berusaha ditenangkan. Ada si ibu yang frustrasi sebab bayi mungilnya tak henti menangis. Entah karena apa, si ibu sedang menerka-nerka. Mana






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore