Cinta Tanpa Tapi
Cinta Tanpa Tapi
Author: Jana Indria
1. Izin

"Aku ingin menikah lagi." Sore itu sepulang kerja, Rizal mengutarakan keinginannya pada Ratna, dengan mengulurkan sejumlah uang yang ia letakkan di atas meja, tepat di depan tangan sang istri yang sedang memegang ponsel. 

"Aku sudah tahu, dan aku siap?" jawab Ratna, dengan wajah tenang. Bahkan tanpa memandang wajah suaminya yang baru saja pulang kerja.

"Apa maksudmu?" tanya Rizal yang tak menyangka istrinya akan setenang itu. Dahinya mengernyit, seolah sedang berpikir tentang sikap yang istrinya tampakkan.

"Aku siap kau ceraikan."

"Tidak, aku tidak ingin kita bercerai, aku janji akan bersikap adil." Rizal sedikit kaget dengan keputusan yang diambil Ratna, di luar perkiraannya.

"Adil? Kau tak akan bisa? Aku tahu berapa uang yang sudah kau berikan pada perempuan itu tiap bulannya, dua kali lipat dari yang kau berikan padaku."

Rizal sedikit tersentak, tak mengira kalau Ratna bisa tahu apa yang dia lakukan. 

"Dia seorang janda, beranak satu, tentu saja dia lebih banyak membutuhkan uang, bukan?!" jawab Rizal, seolah tanpa beban.

Baguslah kalau tanpa Rizal cerita, Ratna sudah paham dengan keadaan yang ia alami saat ini.

"Ini, kau ambillah uangmu kembali, dan belikan saja keperluan rumah ini sesuai dengan kebutuhanmu." Ratna menjauhkan uang yang tadi Rizal sodorkan padanya, hingga kini berada dekat dengan suaminya.

"Kenapa? Apa kau tak bisa mengelolanya?" sindir Rizal, bibirnya menyunggingkan senyum menyindir. Tangannya kembali mengambil uang yang di sodorkan oleh istrinya.

"Ya, aku tidak bisa, uang satu jutamu setiap bulan membuatku meronta setiap malam," sinis Ratna. Sudah lama ia ingin melakukannya. Namun, sekarang baru terlaksana.

"Kau bukan saja tak sanggup membuatku mempunyai keturunan, tapi juga tak bisa membuat hidup ini tenang." Rizal tampak gusar, apalagi tak ada guratan kecewa di wajah perempuan yang telah lima tahun menjadi istrinya itu 

"Jadi apa yang membuatmu tidak segera menceraikanku, segera lakukan, aku akan menandatanganinya sekarang juga." Kali ini Ratna menatap lekat wajah Rizal, tetap dengan suara dan wajah yang sangat tenang.

Alasan dirinya yang belum juga hamil sudah sering kali di alamatkan Rizal untuk membuatnya pasrah, tapi kini tidak lagi! Ratna harus kuat.

"Sudah aku bilang, aku tak akan menceraikanmu." Rizal berkata setengah berteriak.

"Apa kau ingin aku yang melakukannya?" Ratna menantang Rizal.

"Kau pikir cerai nggak butuh biaya? Dapat uang dari mana kamu?" Rizal sengaja berlindung di balik kata uang. Karena dia paham benar, seorang Ratna yang sudah yatim piatu itu hanya bisa hidup karena belas kasihannya.

"Sudahlah, suami tak butuh ijin dari istrinya untuk menikah lagi, dan aku akan melakukannya." ujarnya lagi, dengan mengibaskan tangannya yang masih menggenggam uang, ke arah Ratna. 

"Terus kenapa kau sekarang seperti meminta ijinku? dasar lelaki aneh !"

"Aku hanya ingin kau bersiap siap untuk melamarkan istri baruku nanti, aku tak mau masyarakat me-capku sebagai lelaki yang tak mempunyai perasaan."

Seperti tanpa beban Rizal mengatakan maksudnya pada Ratna.

"Aku tidak mau." Ratna meletakkan ponselnya, dan kini fokus pada suaminya. Tampaknya dia sudah siap dengan perkataan Rizal yang seenaknya saja. 

"Harus! Atau kau mau-" 

"Jangan pernah memukulku lagi! Sekali saja tanganmu menyentuh ku dengan kasar. Aku akan penjarakan kamu!" jawab Ratna, saat melihat Rizal sudah mengangkat tangannya. 

Kebiasaan yang selalu Rizal lakukan bila Ratna tak mau melakukan apa yang dia mau.

"Kau pikir urusan seperti itu tidak butuh uang?" Lagi! Berlindung di bawah ketiak uang.

"Uang bisa di cari, kau pikir aku tak tahu kalau kau juga mempunyai tanggungan bank dengan memalsukan tanda tanganku?" jawab Ratna masih dengan sangat tenangnya.

Rizal hanya bisa menatap tak percaya dengan sikap yang ditunjukkan Ratna, tangannya yang sudah melayang ke atas hanya bisa ia turunkan dengan terkepal.

Wanita yang berada di depannya seperti perempuan lain. Dia berbeda, bukan seperti istrinya. 

"Aku tak akan melakukannya, jika saja kau bisa memberikanku keturunan." Kini, Rizal menurunkan uratnya, agar Ratna mau melakukan apa yang dia inginkan. 

"Kau selalu menyalahkanku tentang ini, kenapa tidak kau datangi saja yang punya hidup, dan protes pada-Nya. Apa kau berani?" Lagi dan lagi, Ratna menantang Rizal.

Rizal mendengus kasar, dia bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar meninggalkan Ratna yang kini tersenyum samar.

"Mana kopiku ...!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status